
Pemilik toko tampak murung karena kayu jimat pelarisnya telah di jual. Benar saja orang itu membeli kayu hitam afrika dari seorang dukun sihir yang katanya sakti. Jadi ia langsung berlari ke dukun itu dan meminta sarannya.
Allen tidak tahu kayu hitam ini adalah jimat, jadi ia menuju toko elektronik untuk membeli beberapa alat dan segera kembali ke kontrakan. Semua alat di taruh di atas meja, Allen segera mengeksekusinya dengan sepenuh hati.
Mula-mula ia memotong kayu berukuran 20 kali 20 centimeter, kemudian Allen mengukirnya membentuk topeng yang diinginkan. Awalnya ia mengira ini adalah pekerjaan mudah, ternyata tidak semudah yang dilihat dari video.
“Apa ini benar-benar topeng?” ucap Allen melihat topeng buatannya tidak simetris dan cenderung sangat aneh.
Allen menambahkan beberapa aksen warna emas untuk mengikuti desain yang telah dibuat. Bukannya tambah bagus, penambahan warna emas menjadi lebih konyol. Bagaimana tidak, dasar kayunya berwarna hitam tapi di tambah warna emas.
Merasa ada yang kurang, Allen mencoba menimpali warna hitam dengan biru gelap. Sayangnya itu bukan jawaban yang tepat, warna biru gelap yang di oleskan ke dasar kayu hitam menjadi lebih aneh ditambah lagi adanya warna emas di garis mata dan hidungnya.
“Aku merasa ini jadi topeng babi. Ternyata lebih sulit dari perkiraan.”
Tiga peri yang melihat kelakuan konyol Allen hanya bisa menepuk jidat, bahkan peri api yang selalu cuek tidak bisa menahan amarahnya dan keluar dari ruang bawah sadar.
“Bodoh, apa kau seonggok kotoran ayam!” teriak Peri Api mencela tingkat seni Allen.
Peri Tanah dan Peri Air juga keluar, mereka menggelengkan kepala tanpa mengatakan apa pun. Bisa dibilang tingkat kreatif Allen benar-benar parah, tapi itu bukan sesuatu yang aneh, karena setiap manusia tidak ada yang sempurna.
Allen sangat cerdas dalam pemecahan masalah dalam hal program keamanan. Bisa dibilang dia adalah jenius nomor 1 di dunia, tapi namanya tidak terlalu terkenal karena di bawah tangan William. Namun bakatnya dalam membuat karya seni sungguh parah, tidak hanya bodoh ia juga tidak mengerti dasar-dasarnya.
Mengandalkan ingatannya di kehidupan sebelumnya, Allen membuat topeng dari tutorial Yutu. Namun siapa yang mengira hasilnya sangat parah hingga tidak bisa di sebut topeng.
“Apa kalian bisa membantuku?” tanya Allen dengan suara tenang. Dia sangat tenang dan tidak marah melihat kelakuan para peri yang menghinanya, itu semua bisa terjadi karena kekuatan mentalnya.
[Mental +3]
Allen segera menoleh ke pemberitahuan sistem yang tidak masuk akal, ia mendapatkan poin mental dengan begitu mudah. Padahal sebelumnya Allen harus menahan rasa sakit dari pil kehidupan.
Tanpa terasa poin mentalnya sudah mencapai 23, Allen tidak melihat adanya peningkatan sistem untuk membantunya lebih kuat.
Peri Tanah mendekat. “Gunakan kekuatan elemen tanah untuk membentuk kayu dan kendalikan unsurnya, bentuk sesuai wajahmu dan gunakan air untuk membuatnya bersih dan padatkan unsurnya. Kemudian gunakan api untuk meningkatkan kualitasnya,” katanya dengan santai.
Manusia biasa tidak akan mungkin menggunakan cara konyol seperti itu. Peri Tanah juga tidak tahu bahwa teknik itu mustahil dilakukan karena harus meningkatkan kontrol elemennya.
“Nah... aku punya gambaran.” Allen segera mengeksekusi saran dari Peri Tanah.
__ADS_1
Ia mengambil kayu yang tersisa dan menaruh topeng karyanya tadi di atas.
Sebelum mulai Allen terpaksa harus tertawa karena topeng buatannya menghadap langsung ke wajahnya. “Sial, kenapa harus seperti itu!” katanya sambil menahan tawa.
Allen menoleh ke belakang dan mendapati Peri Tanah dan Peri Air menutup mulutnya menyembunyikan tawanya. Sedangkan Peri Api yang tidak tahu diri malah tertawa terbahak-bahak hingga jungkir balik.
“Wkwkwk, bodoh!”
Allen menggunakan api untuk membakar habis topeng yang dia buat, hanya meninggalkan abu yang tidak akan membuat konsentrasinya hilang. Bukannya lega Allen malah mengerutkan keningnya, ia sedang memikirkan sesuatu yang sedikit lebih gila.
Abu dari topeng karyanya di kumpulkan dan Allen menutup matanya, ia menggunakan elemen air untuk memadatkan unsurnya. Setelah berhasil memadatkan semuanya, Allen menambahkan elemen tanah untuk membentuknya sesuai imajinasinya.
Abu kayu yang baru dibakar mulai membentuk topeng sesuai dengan imajinasinya, perlahan tapi pasti. Tidak berasa 3 jam telah berlalu, sebuah topeng menampakkan wujudnya.
Suara tawa Peri Api terdengar sangat keras karena topeng yang berhasil dibuat Allen tidak berbeda jauh dari sebelumnya. Tidak hanya tertawa, bocah kematian itu memegang perutnya sambil berguling-guling di tanah.
Tidak mau menanggapi cacian Peri Api, Allen tersenyum karena topeng buatannya sekarang mendapat efek khusus yang dikatakan sistem. Ia merasa bangga berhasil menciptakan sebuah metode baru pembuatan topeng.
[Topeng Hitam
Jenis : Topeng
Tingkat Kualitas : C.]
“Menarik, ini lebih baik dari yang aku bayangkan.” Allen segera membakar semua kayu yang dia miliki, kemudian mengumpulkan abunya menggunakan elemen air. Setelah terkumpul ia mencoba memadatkan semua unsurnya menggunakan tekanan air.
Sebelum membentuknya, Allen memakan sebuah pil untuk meningkatkan kebugaran tubuhnya. Setelahnya ia menutup mata dan membentuk topeng menggunakan elemen tanah, perlahan tapi pasti topeng mulai terbentuk.
[Konsentrasi +1]
Percobaan ke dua hasilnya tidak buruk, meskipun bentuknya sudah lebih baik tapi kualitasnya masih di tingkat C. Allen membakar dan menyusunnya kembali, ia akan terus melakukannya hingga menciptakan topeng terbaiknya.
Hari berlalu tanpa terasa, Allen sudah membuat dan membakar topeng puluhan kali. Dia tidak mempedulikan bentuk, tapi setiap kali pembakaran topeng bentuknya menjadi lebih baik.
Sampai akhirnya Allen mengangkat topeng sempurna yang telah dia buat, untuk menciptakan topeng ini ia harus mengulang hingga 23 kali. Namun hasilnya sangat memuaskan karena ini sangat dibutuhkan oleh orang sepertinya.
[Topeng Misterius
__ADS_1
Jenis : Topeng
Efek : Menghilangkan keberadaan (Sangat Kuat)
Tingkat Kualitas : S.]
“Sempurna, ini dia yang aku inginkan!” teriaknya penuh semangat.
Peri Tanah dan Peri Air hanya bisa tercengang sambil membuka mulutnya, untungnya Peri Air langsung sadar dan menutup mulutnya dengan tangan dan Peri Tanah menutup mulutnya dengan kipas. Akhirnya hanya Peri Api yang tidak terima dengan situasi yang berkembang seperti ini.
“Tidak mungkin, kotoran ayam sepertimu membuat artefak sialan!” teriaknya tidak percaya dengan matanya.
“Artefak? Aku hanya membuat topeng, Bodoh. Sepertinya matamu harus segera diperiksakan bocah kematian!” jawab Allen dengan nada sombong. Allen menyebut Peri Api dengan kata Bocah Kematian untuk mengejeknya.
Pertengkaran mereka tidak bisa dihentikan, Peri Air dan Peri Tanah kembali ke bawah alam bawah sadar tuannya. Raut wajah keduanya tidak bisa bohong, keduanya juga terkejut dengan perkembangan gila Allen.
Peri Tanah menoleh ke arah Peri Air. “Apa kau memikirkan sesuatu yang sama denganku?”
“Sepertinya sama, tapi... Ah sudahlah!” jawab Peri Air dan langsung duduk bermeditasi menyerap aura ungu. Kekuatannya hampir di kuras habis selama 3 hari ini.
“Ya sudahlah.” Peri Tanah juga duduk menyerap energi ungu.
Keduanya tampak tenang, tapi pikirannya tidak bisa tenang. Matanya yang tertutup malah membayangkan proses Allen yang tekun memanfaatkan 3 elemen secara bersamaan.
“Sial, aku tidak bisa konsentrasi!” teriak Peri Air meluapkan amarahnya, ini adalah kali pertama ia mengumpat.
“Jangan berisik, Setan!” kata Peri Tanah yang tampak merah matanya. Ia tidak bisa berkonsentrasi karena melihat seseorang bisa mengendalikan 3 elemen secara bersamaan.
Disisi lain Allen masih bertengkar dengan Peri Api, mereka hanya saling mengumpat dan tidak di dengar lingkungan sekitar. Kontrakan mewah miliknya memiliki fasilitas kedap suara, jadi tetangga tidak akan terganggu.
Tiwi dan jajaran perusahaan Allen hanya bisa menggigit jari. Setelah 4 hari tidak ada pergerakan dari Allen dan perusahaan mulai mengalami kerugian tapi masih dalam jangkauan.
10 eksekutif yang awalnya membantu Tiwi mulai mengundurkan diri, sekarang hanya ada 3 eksekutif dan Tiwi yang duduk di ruang rapat. Keempatnya hanya bisa murung karena tidak tahu harus berbuat apa.
Tiwi anak desa yang kurang berpengalaman, ketiga eksekutif lainnya juga lulusan baru sebuah universitas. Meskipun mereka punya gelar doktor, pengalamannya dalam memecahkan masalah masih kurang.
Tiba-tiba seorang kakek tua muncul dan masuk ke ruang rapat, orang itu tidak lain adalah Harjo Susanto. “Sepertinya bocah itu sedikit ceroboh,” katanya dengan suara tenang.
__ADS_1