Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Hambatan


__ADS_3

Dua peri pendukung bisa hidup berdampingan, keduanya bisa masuk ke dalam alam bawah sadar Allen tanpa hambatan. Tidak hanya masuk, kedua peri langsung duduk dan memejamkan matanya, mereka merasakan energi ungu yang sangat nyaman.


Disisi lain Peri Api dan Peri Angin membuka mulutnya lebar-lebar, mereka tidak percaya ada dua peri yang berhasil membuat kontrak dengan manusia yang sama.


“Tidak mungkin, pasti aku sedang mimpi!” teriak Peri Angin.


Peri Api dengan tangan ringannya memukul kepala Peri Angin. “Bodoh, kita peri tidak mungkin bermimpi!” katanya.


“Ah, benar juga.”


Allen memejamkan matanya, ia mencoba untuk menghilangkan simbol yang ada di dada dan dahinya. Namun usahanya tidak membuahkan hasil yang maksimal, Allen tidak bisa menyembunyikan dua simbol sekaligus.


“Ini pasti sebuah kesalahan, ayo coba lagi!” ucap Allen berusaha untuk menghilangkan simbol. Aura berwarna ungu keluar dari sekujur tubuhnya, simbol peri yang memancarkan dominasinya mulai redup dan perlahan hilang.


“Jadi seperti itu, aku tidak boleh menggunakan kekuatan Air atau Tanah untuk menutup dua simbol.” Allen mendapatkan jawabannya dengan sangat cepat. Pandangannya segera beralih ke Silvy dan mulai membicarakan kontrak.


“Sekarang apa kau percaya padaku?”


Silvy menelan ludahnya, ia tidak percaya ada manusia yang bisa membuat kontrak dengan dua peri. “Siapa kau sebenarnya?” tanyanya dengan mata melotot.


“Manusia yang kebetulan lewat,” jawab Allen dengan suara santai sambil mengangkat dua pundaknya.


Karena Silvy terlalu lama, Peri Api segera membuat pergerakan dan menggigit jari jempol kanan Allen. Tubuhnya mengeluarkan cahaya merah, sebuah simbol api muncul di kedua punggung tangannya. Peri Api menghilang dan langsung masuk ke alam bawah sadar tuannya. Ia merasa ada kejanggalan yang terjadi, Peri Air dan Peri Tanah tidak menunjukkan wujudnya.


“Sialan, mereka mencuri start!” teriak Peri Api yang langsung duduk dan menyerap aura ungu di dalam alam bawah sadar tuan barunya.


Sekarang tinggal Silvy yang belum membuat kontrak, Allen masih berusaha untuk menghilangkan 3 simbol lainnya. Namun setelah seharian berusaha menyembunyikan simbol Spirit Pendukung, Allen tidak dapat melakukannya.


“Ini terasa aneh,” gumam Allen pelan.


Padahal ia sudah menggunakan trik yang sama, tetapi itu hanya bisa menutupi dua simbol tapi simbol satunya masih terlihat. Artinya setiap tingkatan mengharuskan Allen untuk berinovasi.


“Sudahlah, mari lupakan untuk sementara.” Silvy sudah menunggu cukup lama, tapi Allen belum bisa menyembunyikan 3 simbol sekaligus.


“Sebaiknya aku melatih ilmu pedang dan tombakku dulu!”

__ADS_1


Karena waktu pelatihannya terbatas, Allen terus memanfaatkan waktunya. Jadi ia berusaha menyelesaikan tugas harian dan terus melatih fisiknya hingga batas tertentu. Namun status yang tertera dalam sistem tidak berubah sama sekali, Allen mulai merasa frustrasi.


Tidak berasa 3 minggu berlalu, Allen masih belum menemukan jawaban untuk menyembunyikan 3 simbol sekaligus. Tiga peri yang ada di dalam dirinya sama sekali tidak muncul, mereka asyik menyerap aura ungu.


Silvy yang melihat usaha keras Allen tidak bisa tinggal diam. “Bodoh, sudah aku katakan, mengayunkan pedang saja tidak bisa membuatmu hebat!” teriaknya sambil memperagakan teknik tusukan.


Mendapat sedikit petunjuk dari Silvy, Allen mencoba menggabungkan beberapa gerakan menjadi satu dan diakhiri sebuah tusukan. Ia hanya menggunakan tebasan, sayatan dan tusukan tapi entah mengapa auranya tidak beraturan.


“Kenapa kekuatanku turun setiap kali menyelesaikan gerakan?” gumam Allen mencoba untuk mencari solusi.


“Tempo, Napas, dan Kontrol. Latih tiga elemen itu dulu sebelum menggunakan senjata!” teriak Silvy sambil memalingkan wajahnya. Ia terlihat sangat malu mengajari manusia bodoh seperti Allen.


“Tempo,” gumam Allen mencoba mengendalikan langkah kaki dan ayunan lengannya.


“Napas.” Allen menghembuskan napasnya perlahan, ia mencoba untuk tidak menghembuskan napasnya ketika sedang menyayat.


“Kontrol!” kata Allen membuat gerakan tusukan. Aura yang berkumpul mulai lepas dan tusukannya berhasil menggetarkan pohon walaupun sangat sedikit.


“Aku mengerti, tiga elemen dasar itu dapat menghemat tenaga dan menyempurnakan gerakan.”


Waktu terus berlalu, Silvy mengajari Allen menggunakan pedang setiap hari. Sedangkan Budi terus melatih tubuhnya untuk memastikan dirinya naik ke Pejuang Beladiri tingkat 4 puncak.


Tidak berasa dua bulan telah berlalu, Allen masih belum bisa memecahkan masalahnya. Namun waktu tidak bisa di beli, ia dan Budi mulai menuruni gunung. Anehnya Silvy yang bukan Spirit Pendukungnya ikut dan membimbing Allen sampai menguasai dua teknik senjata.


“Jangan salah paham, aku tidak tega melihat manusia bodoh sepertimu berkeliaran di bumi!” teriak Silvy yang mencoba menghibur dirinya.


Untuk menyenangkan hati Peri Angin, Allen hanya bisa mengangguk dan menyetujui pernyataan konyol itu. “Ya, ya, ya. Aku percaya padamu!”


“Tuan, sebenarnya Anda bicara dengan siapa?” tanya Budi yang tidak bisa melihat Silvy. Dia gagal mencapai Pejuang tingkat 4 puncak, tapi berhenti di tingkat 4 menengah.


Tepat sebelum sampai di jalan raya, Budi dan Allen di hadang oleh 5 orang berpakaian hitam. Bisa ditebak mereka berasal dari Organisasi Ular Naga. Tanpa mengatakan apapun, lima orang itu langsung menyerang dengan pisau yang disembunyikan di lengannya.


Budi segera mengambil tindakan, ia menangkap pisau dengan tangan kosong. Sebagai seorang Pejuang Beladiri tingkat 4, pisau biasa tidak akan bisa melukai kulitnya.


Melihat pisau patah dengan tangan kosong, empat pembunuh lainnya tertegun. Mereka langsung melompat mundur dan menggunakan rencana kedua, sebuah jaring muncul entah dari mana dan mengurung Budi dan Allen.

__ADS_1


Budi melepaskan auranya dan menarik jaring itu hingga putus. Aurnya tidak berwarna tapi sangat tenang dan hangat. “Jangan meremehkanku, Sialan!” teriaknya dengan suara keras.


“Informasinya benar, bocah bernama Allen itu punya pelindung tingkat 4. Ayo mundur!” ucap pemimpin pasukan pembunuh.


“Aku akan menyusul, pergilah dulu!” ucap salah seorang pembunuh yang ingin menghadang lawannya.


Empat pembunuh menyetujuinya, karena mereka tahu pria yang menghadang Allen dan Budi sangat cepat. Jadi tidak ada kekhawatiran di pundak mereka.


Setelah melihat empat rekannya berlari, pembunuh yang tersisa membuka penutup mulutnya. “Aku sarankan kalian tidak mengejarnya!” ucap pria itu dengan suara sombong.


Bukannya mendengar saran pembunuh, Budi malah berlari mengejar 4 pembunuh yang mencoba melarikan diri. Meskipun kelincahannya tidak terlalu tinggi, Budi tahu bahwa tuannya sangat kuat, jadi tidak mungkin untuknya kalah.


Sekarang Allen dan pembunuh saling berhadapan. Allen mendongak ke atas karena musuhnya bertengger di atas batang pohon. “Sampai kapan kau menatapku?” tanya Allen dengan santainya.


“Apa kau tidak takut mati?”


“Mati atau hidup bukan kau yang mengaturnya, jadi kenapa harus takut!” jawab Allen tegas.


“Bocah yang menarik, katakan pada malaikat pencabut nyawa bahwa kau mati terhormat!” ucap pembunuh. Tepat setelah mengatakannya, ia menghilang dan segera muncul di belakang Allen.


“Belakangmu!” teriak Silvy memberikan peringatan.


Sayangnya peringatan itu tidak terlalu berguna, entah mengapa Allen bisa melihat pergerakan pembunuh yang sangat cepat. Tangan kanannya menggenggam pisau yang ingin menusuknya, kekuatan Peri Tanah digunakan untuk memperkuat tangan kanan.


“Apa itu gerakan pamungkasmu?” tanya Allen dengan suara pelan. Senyum muncul di bawahnya, walaupun tampak kecil di pandangan musuh ujung bibirnya hampir menyentuh telinganya. Senyum jahat itu memancarkan aura membunuh yang sangat kuat.


“Sombong!” kata pembunuh menggerakan kaki kirinya untuk menendang kepala Allen. Namun tindakannya itu sia-sia karena kepalanya juga sekeras es padat.


Pembunuh segera melompat mundur, ia tidak menyangka ternyata Allen juga sangat kuat. “Aku harus lari,” gumamnya pelan. Kakinya langsung melompat ke atas pohon dan mencoba melarikan diri.


Allen menjentikkan jarinya dan sebuah api membakar pembunuh yang akan melarikan diri. Tidak hanya membakar pakaiannya, tapi Allen tanpa sadar membakar pembunuh hingga menjadi abu.


“Bagaimana kau bisa melakukannya?” teriak Silvy terkejut. Seharusnya membakar tubuh manusia mustahil dilakukan oleh kontraktor awal seperti Allen, tapi kelainan lainnya muncul tepat di depan matanya.


“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja aku sangat ingin membunuhnya!” jawab Allen dengan santainya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Budi kembali. Ia tampak terluka parah tanpa membawa hasil apapun, empat pembunuh berhasil melarikan diri.


__ADS_2