
Son Hyung menyambut kedatangan Allen, ia segera menghubungi pembantu untuk memberikan pelayanan yang terbaik.
Allen baru sadar rambutnya baru tumbuh berwarna putih. "Apa yang terjadi, kenapa warna putih?" tanyanya bingung.
Lembu Suro menjawab, "Itu karena Energimu tersimpan di sekujur tubuh. Untuk mengembalikannya seperti semula kamu harus mengendalikan Energimu tidak berada di rambut."
Allen fokus, ia menutup mata dan mulai memeriksa energi di rambutnya. Ia mulai menghilangkan energi jiwa dan mengurung mereka semua di dalam tubuh.
Rambu putihnya mulai memudar, Allen membuka mata sambil menghela napas lega. "Aku jadi sangat sensitif ketika rambutku berwarna putih."
"Itu karena energimu bersirkulasi terus menerus. Jangan terlalu sering menggukan mode tadi, aku dengar dari ayah manusia bisa kehabisan umurnya." Lembu Suro memperingatkan.
"Ya, aku tahu." Allen segera membersihkan tubuhnya dan langsung pergi ke Kota S.
Hanya butuh 2 hari untuknya sampai di Kota S dari tengah hutan. "Gaya bangunan bandara ini sangat klasik. Udara di sekitar juga sangat sejuk."
Bandara itu bergaya Cina dan punya aroma khas yang menusuk hidung.
Seorang pria berpakaian rapi menghempirinya dan bertanya, "Apa benar Anda Tuan Allen?."
"Benar," jawab Allen dengan santai. Ia melirik ke arah kanan dan melihat 2 Pejuang Beladiri sedang menyamar.
"Bagus, ayo ikuti saya." Pria Rapi itu memimpin jalannya ke sebuah mobil hitam yang terlihat sangat mewah.
2 Pejuang Beladiri melirik kearah mobil, Allen bisa merasakannya dengan jelas. "Siapa mereka?" gumamnya pelan.
Pria Rapi itu ternyata Sopir yang sudah di tugaskan Keluarga Son. Meskipun tampak biasa, Sopir itu seroang Pejuang Tingkat 4.
Dalam perjalanan ponsel Allen berdering, Tiwi memanggilnya. "Jangan-jangan dia memanggil."
Allen segera mengangkatnya dan berkata, "Halo, Tiwi. Ada apa?"
"Bos, Budi dan yang lainnya kemana? Kita butuh orang untuk berlindung. Sepertinya Nathan dan Nala yang palsu sudah bergerak." Tiwi terdengar panik.
"Mereka akan segera sampai. Ulur waktu dan gunakan segala cara menyelamatkan pegawai." Allen menjawab dengan nada serius.
Tiwi dengan tegas berkata, "Semua karyawan sudah aman. Tinggal kami 6 orang yang belum bisa keluar. Sekelompok orang tak dikenal memblokir jalan keluar."
Meskipun Tiwi seorang Pejuang Beladiri tingkat 3, dia bisa merasakan orang di luar jauh lebih kuat darinya.
__ADS_1
"Tenanglah, Budi tidak sendiri. Aku pikir mereka sudah cukup menyelesaikan masalah saat ini." Allen mencoba menenangkan Tiwi.
"Ya, Bos. Aku mengerti." Tiwi segera menutup teleponnya.
Allen bisa tenang karena semua orang yang menuju Kota K merupakan Pejuang Tingkat 5. Bahkan anak berusia 17 tahun sudah menembus Pejuang Tingkat 5.
Allen menghubungi Son Hyung untuk memastikan keberadaannya. "Aku sudah ada di mobil. Dimana kita ketemu?."
Bukannya mendapat jawaban yang menyenangkan, Son Hyung berteriak keras. "Keluar sekarang!."
Allen mengalihkan pandangannya ke Sopir yang tampak tersenyum. "Siapa kalian?."
"Oh, akhirnya kamu menyadarinya. Kami dari Keluarga Raharjo, aku mengatakannya karena sebentar lagi nyawamu tidak akan selamat." Sopir mengancam Allen dengan tatapan tajam.
Allen tampak panik, ia sebenarnya sedang berpura-pura lemah. Tapi sekarang tidak perlu menyembunyikannya lagi.
"Apa kau yakin bisa menghadapaiku sendiri?" tanya Allen dengan senyum manis di wajahnya.
Sopir tertawa keras mendengarnya, ia menginjak rem dan berbalik mencoba mencekik Allen. Namun lawannya menghindar dan belum kehilangan senyumnya.
Allen menciptakan sebuah bayangan hitam berbentuk tangan dan mencengkeram lawannya. "Lawak, kau ingin mengalahkanku?" tanya Allen dengan tatapan dingin.
Karena tidak menjawab Monster Hitam muncul dan melahap musuhnya dengan cepat. Sopir itu hilang dari dunia dalam hitungan detik saja.
Sejumlah informasi yang berkaitan dengan pekerjaan musuhnya mulai masuk ke dalam ingatannya. Allen memilih informasi mana yang penting dan tidak.
"Jadi mereka benar-benar dari Keluarga Raharjo atau keluarga kandung Budi. Ini akan sedikit susah." Allen lupa menyuruh Budi ke Kota K untuk membantu Tiwi.
Sebelum keluar, Allen menghubungi Tiwi sekali lagi. Namun teleponnya tidak di angkat, jadi ia hanya meninggalkan pesan.
Dua orang membawa motor menghadang mobil, mereka langsung menodongkan pistol. "Cepat semua barang-barangmu!" ucap salah satu Perampok.
Keduanya sedang mencari Sopir yang tidak ada di tempat. Allen yang melihatnya langsung tersenyum lebih lebar dan berkata, "Sopir itu sudah melarikan diri. Tadi ada seekor Orc yang bertubuh besar."
Allen mengarang cerita aneh untuk mengelabui musuhnya. Bukannya prihatin dengan temannya, mereka tidak peduli dan mencoba melarikan diri.
Namun Allen bukan orang baik, ia menghentikan laju motornya dengan Tangan Bayangan. "Mau kemana, jangan harap bisa lolos.
Aku pikir disini tepat yang cukup sepi."
__ADS_1
Dua perampok itu tidak punya pilihan selain turun dan mengeroyok Allen. Keduanya menggukan pistol untuk menyerang.
Allen melihat peluru berjalan pelan ke arahnya, ia segera berpindah dan menghindar. "Jangan membuatku tertawa, kalian seorang Pejuang Beladiri. Jadi ayo lakukan pertarungan."
Sebagai tamu dan teman dekat Budi, Allen tanpa sadar memendam rasa sakit ketika mendengar keluh kesah Budi.
"Tidak perlu, kau akan mati segera." Perampok masih melempar ancaman padanya.
Allen mengerutkan kening dan melihat puluhan orang menaiki Motor Mewah mengarah padanya. "Apa mereka pendukungmu?" tanyanya dengan mentap tajam ke arah musuh.
"Cepat lepaskan meraka atau nyawamu melayang!." Ketua dari Geng Motor memberi peringatan di seluruh dunia.
Allen menjawab dengan santai, "Tidak mau, mereka sudah menembakku."
"Jangan bohong, mana buktinya!." Seorang pria di belakang ketua menunjuk Allen dan membelalakkan matanya.
Allen membuka telapak tangannya dan menunjukan 2 peluru yang mengarah padanya. "Jangan banyak bicara dan ayo selesaikan dengan cara kalian."
Ketua Geng Motor tidak bisa tahan provokasinya, Allen tersenyum manis melanjutkan provokasinya.
Pria di belakang Ketua langsung melompat dan menghunuskan pedangnya kearahnya. Allen dengan tenang menangkap ujung pedang dengan dua jarinya.
"Apa kau pikir aku lemah. Sebaiknya jangan harap nyawa kalian selamat." Allen menggukan Tangan Bayangan langsung membunuh dua Perampok Sebelumnya.
Ketua Geng Motor tidak terima dan mengeluarkan sebuah kapak. Dia langsung mengayunkan kapak ke arahnya, Allen segera mengelak dan berguling-guling ke belakang.
"Menarik, kau ternyata tidak selemah yang aku duga." Allen memanfaatkan situasi dan kelemahan musuh, sebuah jarum beracun muncul dari mulutnya.
Kecepatan jarum tidak bisa di lihat mata biasa, jadi jarumnya langsung menembus 2 Gang Motor.
Kerua Geng yang merasakan energi menembus rambutnya. Tidak hanya kuat, dua orang yang terkena serangan langsung tewas di tempat.
Allen mengeluarkan Pedang Pendek biasa dari Ruang Penyimpanan. Lengannya segera bergerak dan mencoba menyerang Ketua Geng yang masih tercengang.
"Membunuhmu saat ini sama sekali tidak menguntungkanku." Allen memalingkan pandangannya ke gedung yang hancur sebelumnya.
"Siapa pemilik Gedung disana?" tanya Allen dengan ekspresi serius.
"Aku tidak tahu, pemilik rumah tidak memberi tahu kita namanya." Ketua Geng motor menjawab sesuai dengan pengetahuannya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo lupakan dan fokus menyelesaikan acara." Allen tidak ingin meninggalkan tempat dan memeriksa gedung terbengkalai.