Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Keanehan


__ADS_3

32 bocah yang pingsan tetap lolos karena Allen tidak melihat mereka mundur. Semuanya tetap tegap, meskipun dipaksa hingga pingsan.


"Kalian bertiga maju," kata Allen menunjuk Ye Mo dan 2 orang lainnya.


Ye Mo dan dua teman lainnya maju, pandangan mata mereka tegas penuh tekad. Ketiganya dari keluarga terpandang di sebuah kota, jadi mental mereka sudah terlatih.


"Apa kalian tahu tujuanku membuat pasukan khusus ini?" tanya Allen dengan suara pelan, sehingga hanya mereka bertiga yang mendengarnya.


Seorang wanita berambut pirang mengangkat tangannya. "Untuk keamanan perusahan," jawabnya.


"Salah, aku ingin mendengar jawaban lain."


Pria berambut hitam maju ke depan, ia adalah bocah berumur 18 tahun dari desa. Meskipun dari desa, ia merupakan anak dari kepala desa.


"Untuk meningkatkan pengaruhmu."


Jawaban itu memang benar, tapi Allen tidak ingin mendengar jawaban itu. "Ye Mo, aku berharap banyak padamu. Katakan apa yang kau pikirkan?"


Ye Mo terdiam sejenak, ia tidak dapat memikirkan jawaban yang lebih baik dari dua jawaban sebelumnya. Tiba-tiba ia teringat kata-kata kakeknya, "Tujuan tidak harus rumit, kadang tujuan sederhana adalah pendorong tekad kita."


Setelah teringat perkataan kakeknya. Ye Mo menjawab, "Untuk membuat pasukan khusus yang kuat."


Jawabannya sudah ada sejak pertama kali mereka mendaftar. Kekuatan adalah hal yang Perusahaan Allen inginkan saat ini, jadi tujuannya sangat sederhana.


Allen bertepuk tangan. "Hampir bener. Aku bertujuan untuk melatih kalian menjadi orang-orang kuat dan setia padaku. Aku ingatkan sekali lagi, Padaku!" kata Allen dengan nada tegas.


Semua orang terdiam, beberapa di antara mereka mengerti bobot dari perkataannya. Setia pada Allen artinya jika diperintahkan untuk membunuh ayahnya, mereka harus membunuhnya.


"Sepertinya ada yang tidak setuju, jika ada yang tidak sependapat angkat tangan dan keluar dari barisan. Kalian bisa mengikuti tes biasa di dalam gedung."


Allen tidak bisa memaksa karena Sumpah Darah membutuhkan persetujuan kedua belah pihak.


Semua orang terdiam, mereka harus berpikir keras untuk menolak tawaran yang menjanjikan. Nama Allen mulai terdengar di dunia bawah, seorang pria 24 tahun punya kekuatan setara Pejuang tingkat 5.


David dan Reza juga sudah mulai waspada, tapi William belum tahu kebenaran ini karena dia masih dalam pelatihan tertutup.


"Kalian punya dua kesempatan, menolak sekarang artinya kalian punya satu kesempatan lagi."


Setelah mendengar perkataannya, 37 orang mengangkat tangannya. Mereka memang ingin bekerja untuk Perusahaan Allen dan melatih beladiri. Namun tidak ada niatan untuk mengkhianati keluarganya.


Dua orang yang ada di sebelah Ye Mo juga mengangkat tangan. Mereka tahu konsekuensi mengkhianati keluarganya.


"Baiklah, silahkan kembali ke gedung dan ikuti seleksi seperti biasa. Oh ya jangan mengatakan apapun tentang pertemuan ini," kata Allen dengan santai. Dia tidak mengancam, karena tahu para bocah itu tidak bisa menjaga mulutnya.


Ye Mo dan dua orang lainnya masih berdiri. Ye Mo satu-satunya orang yang berdiri ketika mendapat serangan mental, dua lainnya langsung pingsan. Lebih parahnya, mereka berdua adalah bocah yang pertama kali pingsan.


"Siapa nama kalian?"


"Shera," jawab seorang wanita berambut pendek.

__ADS_1


"Pedro," jawab pria berambut coklat tua.


"Baiklah, kalian sudah memutuskan pilihan. Sekarang apa kalian siap meneroma konsekuensinya?"


"Siap!" jawab ketiganya bersamaan.


Pedro dan Shera bukan dari kalangan elit, mereka bedua dari panti asuhan yang membutuhkan dana.


Pedro berasal dari panti asuhan Kota J, ia adalah anak paling tua dan punya 21 saudara. Pekerjaannya sebelumnya tidak cukup menghidupi mereka semua, jadi Pedro harus di terima.


Shera tidak beda jauh, panti asuhan tempat tinggalnya akan di gusur. Dia anak ke 11, tapi 10 kakak laki-laki tidak lagi peduli dengan panti asuhan. Shera punya 8 adik laki-laki, 6 adik perempuan, dan 2 pengasuh.


Keduanya harus di terima untuk mencukupi kebutuhannya.


Allen tidak dapat melihat potensi tiga bocah di depannya. Namun ia bisa yakin dan melatih mereka menjadi pejuang beladiri yang sangat terampil.


Ye Mo juga menceritakan kisahnya di Keluarga Ye. Kota C terkenal menjadi pusat pertarungan para Pejuang Beladiri. Bakat Ye Mo tidak terlalu bagus di bandingkan dengan dua kakaknya, jadi kepala keluarga menyuruhnya untuk pergi keluar dan mencari keberuntungan.


Bibi Ye Mo menyaranlan untuk pergi ke Kota K, karena dia adalah seorang peramal bijak, Ye Mo mengikuti sarananya. Tidak lama setelah sampai di kota K, Ye Mo mendapat berita Perusahaan Allen merekrut pejuang beladiri.


[Ye Mo


Umur : 18


Elemen : -


Total Kekuatan : 98.]


Umur : 17


Elemen : -


Total Kekuatan : 67.]


[Pedro


Umur : 17


Elemen : -


Total Kekuatan : 72.]


Tiga orang yang jelas-jelas kurang berbakat, tapi Allen percaya teknik jiwa bisa merobohkan dinding pembatas yang disebut bakat.


"Sekarang ikuti ritual sumpah darah, kalian tidak bisa mengkhianatiku. Bahkan kalian tidak boleh memikirkan untuk berkhianat, atau jiwamu akan terbakar."


Allen menuntun tiga orang itu mengucap sumpah darah. Dia tidak ingin Ye Mo dan teman-temannya mengucap sumpah setia saja, karena ada aturan ketat tentang pengajaran Teknik Jiwa.


Siapapun yang belum terikat sumpah darah dengan para praktisi Teknik Jiwa, mereka tidak akan bisa mempelajarinya. Entah siapa yang menetapkan hukum itu hingga melebihi sistem tingkat Dewa.

__ADS_1


Ye Mo dan teman-temannya tanpa ragu mengucap sumpah darah. Mereka mengoleskan darahnya ke dahi dan seketika ikatan jiwa di antara mereka terjalin.


Tidak sepeti Tiwi dan teman-temannya, Ye Mo dan 2 bocah di depannya tidak mendapat keistimewaan langsung naik tingkat.


Allen sadar bahwa bakat memang mempengaruhi kecepatan seseorang bertambah kuat. Namun ia masih suka dengan orang pekerja keras.


Dua jari Allen segera bergerak menuju dahi Ye Mo. Transfer teknik jiwa dilakukan dalam sekejap mata, bahkan Shera dan Pedro tidak menyadarinya.


"Latih itu setiap hari, jangan pernah menulis atau mengajarkannya pada orang lain."


"Baik, Bos."


"Sekarang pergi ke hutan sana, aku punya beberapa penginapan kosong. Pakai saja untuk latihan."


Ye Mo tidak mau menunda lagi, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan senang mendapat teknik jiwa bab pertama. Tidak hanya sangat kuat, Teknik Jiwa yang di berikan Allen ribuan kali lebih baik dari milik Keluarga Ye.


Shera dan Pedro menelan ludahnya. Mereka berdua tidak tahu apa yang baru saja di lakukan bosnya.


"Tenanglah, kalian tidak perlu terburu-buru." Allen segera memberikan teknik jiwa bab pertama pada mereka.


Keduanya menganggukkan kepala seperti sudah mengerti apa yang dimaksud. Allen sedikit bingung, seharusnya orang biasa akan pingsan atau mungkint kagum dengannya. Namun Shera dan Pedro tampak sangat biasa.


"Coba praltikkan gerakan dasar yang baru saja kalian terima."


Pedro maju, ia langsung menyesuaikan kuda-kuda pembukaan teknik jiwa. Tangan dan kakinya bergerak dengan lembut dan matanya penuh dengan tekad.


Hanya satu pengulangan saja, aura berwarna putih transparan mulai keluar dari tubuhnya.


"Jangan berhenti dan terus ulangi gerakannya!" teriak Allen yang sedikit terkejut dengan perkembangan Pedro.


Benar kata pepatah, lingkungan keras dapat membentuk keberuntunganmu. Seseorang dari lingkung bawah pasti punya potensi terpendam yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


Shera mendapat kesempatan berikutnya, ia mengambil ranting pohon dan menggerakan teknik jiwa yang dilatih menggunakan pedang.


Gerakannya halus dan tepat sasaran, tidak ada satupun gerakna yang salah. Shera juga mengeluarkan aura transparan di percobaan pertamanya.


"Kalian berdua fokus dan terus ulang gerakannya. Kita akan latihan sampai jam 6 sore!"


Allen yang sangat senang tidak memperhatikan stamina Shera dan Pedro. Setelah dua menit saja, keduanya terlihat sangat kelelahan. Namun anehnya, tidak ada satupun gerakan yang meleset dan selah.


Pijakan kaki, tusukan, pukulan, gerakan pinggul, dan bahkan pergerakan ototnya benar semua.


Keringat membasahi tubuh mereka, Allen baru menyadari bahwa dua bocah itu sudah kelelahan.


"Berhenti!" teriak Allen menghentikan gerakan dua bocah.


Bukannya berhenti, mereka berdua tetap bergerak meskipun dalam keadaan pingsan.


Allen membelalakkan matanya, kemudian mengusapnya. "Apa aku salah lihat?" gumamnya.

__ADS_1


Shera dan Pedro masih tetap menerapkan teknik jiwa meskipun dalam keadaan pingsan. Anehnya, auranya di sekitarnya mulai stabil dan memadat.


__ADS_2