
Setelah mengalahkan Minotour, Allen dan kelompoknya beristirahat. Son membagi satu pil ke Bawahannya, mereka berdua harus menghematnya untuk dibawa keluar.
Pil kebugaran membantu semua orang pulih, termasuk Allen yang menyergapnya dengan sempurna.
"Gunakan senjata ini. Meskipun kualitasnya biasa, bahannya cukup baik." Allen mengeluarkan Tombak, Tongkat, dan 3 Pedang Pendek. Budi tidak mendapatkan senjata karena sudah menerimanya sebelum berangkat.
Son mengambil Tongkat yang sangat ringan itu, ia memasukkan aura untuk menguji ketahanannya. Setelah menyuntikkan aura, Son tersentak dan melemparnya.
"Senjata apa ini! Kekuatanku seperti tersedot habis." Son mengomentari Tongkat pemberian Allen.
"Itu tongkat dari Baja Ringan, kualitasnya sudah ditingkatkan oleh petapa Shaolin di lereng Gunung Hao." Allen mengarang cerita untuk meyakinkan Son.
"Gunung Hao memang sangat misterius. Tempat itu tidak boleh dilewati sembarang orang, para biksu menjaganya dengan baik." Son langsung mempercayai cerita Allen yang tampak nyeleneh.
Bawahan Son tidak peduli dengan karangan cerita, ia mengambil tombak dan mengalirkan aura ke dalamnya. Kesadarannya tiba-tiba di tarik ke dalam, Bawahan Son merasa tombak itu menginginkannya.
"Aku suka ini. Berapa harganya?." Bawahan Son tampak sangat senang dan berniat membelinya.
"Bawa saja, aku tidak kurang bisa menggukan tombak." Allen memalingkan wajah tak peduli dengan tombaknya.
Allen segera memberi Budi, Shera, Pedro, dan Ye Mo Cincin Penyimpanan. Ia mengumpulkan 4 orang itu dan membisikkan, "Tetaskan darah kalian ke cincin. Jangan tunjukkan kemampuannya pada siapapun."
Budi dan teman-temannya mengangguk setuju, mereka segera meneteskan darah dan Cincin Penyimpanan langsung terpasang di jari telunjuknya.
Semua senjata disimpan di dalam Cincin Penyimpanan, Son dan Bawahannya sedikit bingung karena pedang kecil dan senjata rekan mereka tidak dibawa.
"Kemana senjata kalian?" tanya Son penasaran.
Allen menggelengkan kepala dan berkata, "Kami punya cara menyembunyikan senjata. Jadi jangan pikirkan itu."
Kelompok Allen segera masuk ke ruang bos, Allen sebagai ujung tombak mendengar suara raungan. "Roa!..."
"Jangan panik!" seru Allen memberi semangat kelompoknya.
Seekor Harimau berwarna hitam berjalan mendekatinya, matanya tampak memancarkan cahaya putih dan taringnya sangat tajam.
"Roar..."
Harimau Hitam tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi Allen dan kelompoknya tidak ada yang paham bahasa monster.
"Apa yang dia katakan," tanya Son pada Bawahannya.
"Aku juga tidak tahu, Tuan."
__ADS_1
Allen mencoba mendekat, ia juga tidak tahu apa yang ingin disampaikan Harimau Hitam. "Maaf Senior, kami sangat bodoh hingga tidak bisa memahami apa yang Anda katakan," katanya sambil memberi hormat beladiri.
"Kalian Manusia memang bodoh, baiklah aku akan bicara dengan bahasamu. Kalian sudah berhasil sampai sini, jadi mari lamjkan tes sederhana." Harimau Hitam menginjakkan kakinya ke lantai.
Sebuah arena berbentuk kota mulai muncul dan Harimau Hitam sebagai pusatnya. "Sekarang lawan penjaga gua hadiah akan diberikan sesuai dengan caramu mengalahkannya."
Sosok monster Minotour muncul kembali, kali ini ia langsung menggunakan Ledakan Energi dan sekitarnya terbakar. Untungnya arena pertarungan terbuat dari tanah yang sangat keras bahkan menyamai kerasnya besi.
"Siapapun, silahkan maju." Harimau Hitam mengacungkan cakarnya ke arah kelompok Allen.
Budi ingin melangkah maju, tapi di hentikan Allen. "Biarkan aku yang memulainya, sepertinya ini bukan ujian sederhana."
Herimau Hitam sedikit mengangkat bibirnya, ia akhirnya bertemu dengan manusia yang cukup pintar.
Allen melangkah masuh arena, Minotour langsung marah dan menghantamnya dengan Gada berduri.
Reflek Allen segera melompat kesemping, matanya manatap tajam ke arah punggung Minotour. "Tidak ada luka? Artinya dia bukan duplikat monster penjaga pintu."
Minotour menoleh mengencangkan pegangannya dan langsung mengayunkan senjata menuju musuhnya.
Allen melompat seperti seekor katak menghindari serangan lawan, ia tidak menyerang sama sekali. "Jadi monster ini memang disiapkan untuk membunuh kita. Trik yang mengesankan!" gumam Allen yang sudah menyadari tujuan gua misterius.
Harimau Hitam berteriak, "Sampai kapan kau menghindar. Kita hampir kehabisan waktu!"
Mendengar Harimau Hitam mengatakan kehabisan waktu, Allen segera sadar bahwa ada trik yang sedang dimainkan. Bukannya melawan, Allen malah berlari lebih cepat menghabiskan stamina Monster setinggi 5 meter itu.
Minotour menghantam tanah dengan senjatanya, ia kelelahan hingga tidak kuat mengangkat Gada Berduri. "Horgh..." suara Minotour mengerang.
Allen segera mencabut pedang pendek dari punggungnya, pedangnya langsung menebas leher Minotour dengan mulus. Seketika lawannya di kalahkan dengan kondisi yang memprihatinkan.
Harimau Hitam bertepuk tangan dan berkata, "Sangat bagus. Karena tidak ada monster yang bisa melawanmu, aku bersedia menjadi algojomu!"
Allen dan kelompoknya langsung tersentak, mereka sadar Harimau Hitam itu sangat kuat. Bahkan Son bisa mati dengan satu serangannya.
Melihat Harimau Hitam masuk ke dalam arena, Budi dan teman-temannya berusaha menolong Allen. Namun sebuah penghalang muncul dan melempar mereka.
"Bos, menyerah saja. Kita bisa mengulanginya lain kali!" seru Budi mencoba menghentikan tindakan Allen.
Son juga mengatakan hal yang sama. "Nyawa lebih penting dari harta, percayalah aku akan membawa orang yang lebih kuat datang kesini!"
Kekhawatiran juga tampak di wajah Shera, Pedro, dan Ye Mo. Mereka bertiga baru saja menemukan Guru yang hebat, tapi sekarang nyawanya dalam bahaya. Ketiganya mengepalkan tangan dan bertekad akan membalas dendam pada Harimau Hitam.
Allen tidak gentar, ia berdiri tegap dan menatap Harimau Hitam. "Sudah aku duga, arena ini memang dibuat untuk membunuh kita."
__ADS_1
Harimau Hitam tidak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum dan langsung mengarahkan cakarnya ke musuh.
Allen tidak bisa menghindar, ia menggunakan sebuah perisai kecil di tangan kirinya. Perisai itu membentuk sebuah pelindung yang menghentikan serangan lawan.
"Tidak perlu bertanya bagaimana aku mendapatkannya. Karena kau ingin sekali mati, maka aku turuti keinginanmu!" ucap Allen bertekad membunuh Harimau Hitam.
"Hahaha, menarik akhirnya ada manusia yang tidak takut padaku!." Harimau Hitam berubah wujud menjadi manusia berkulit hitam dan rambutnya penutupi punggung.
"Apa kau kenal aku?." Harimau Hitam menguji pengetahuan Allen.
Pengelihatan Surgawi langsung digunakan, Allen tidak ingin mati konyol karena tak mau menjawab.
[Roger
Ras : Demi Human (Manusia Harimau.)
Umur : 670 tahun
Elemen : -
Total Kekuatan : 127.367
Kelemahan : Perutnya mengalami luka dalam (Racun Mematikan).]
"Roger, Manusia Harimau. Pria yang pernah menjadi Pejuang tingkat 7." Allen menjawabnya dengan santai.
Roger membelalakkan matanya, ia tidak menduga pertanyaannya akan di jawab dengan mudah. Matanya segera melirik patung besar di ujung gua.
Allen menyadarinya, ia segera mengerti ada batasan yang menghalangi Roger membunuhnya.
Memanfaatkan kesempatan, Allen segera bertanya balik, "Kenapa kau berada di gua ini?"
"Oh, akhirnya kau menyadarinya. Aku terkurung karena salah perhitungan, jadi siapa kau sebenarnya?" Roger segera bertanya balik.
"Allen, pemimpin perusahan. Aku kesini untuk menguji keberuntungan." Allen segera berlari dan meninju Roger yang masih berdiri.
Tinjunya berhasil mendarat tepat di pipinya. Allen segera mengerti aturan mainnya, sekarang ia ada di atas awan.
"Brengsek, sejak dulu manusia selalu lirik." Roger langsung mengumpat dengan ekspresi marah.
Mata Patung Besar di ujung gua langsung bersinar merah, laser terbentuk dan menyerang Roger hingga sekujur tubuhnya mengeluarkan darah.
"Jadi apa pertanyaanmu selanjutnya?" tanya Roger dengan suara sopan.
__ADS_1
Allen menyadari ada dua aturan yang tidak boleh di langgar. Yang pertama berbohong konsekuensi dari ini sangat fatal, kedua mengumpat atau berkata kotor.
"Kenapa kau salah perhitungan?" tanya Allen sambil tersenyum tipis. Ia tidak akan melepaskan aib yang di tinggalkan Roger di gua misterius.