
"Lelang, apa kita sudah cukup stabil untuk datang ke sana?" tanya Allen dengan ekspresi serius.
"Tidak perlu khawatir, Tuan. Pesta Akhir Tahun yang diadakan Black Rock juga melakukan Lelang Tahunan. Dulu aku pernah bersama Thomas menghadirinya." Simon mengelus jenggotnya yang baru tumbuh.
"Bagus, kita berdua akan datang." Allen mengatakannya dengan santai.
Namun Simon berpikir lain. "Bos, lebih baik membawa lebih dari 10 pengawal. Itu akan memberi rasa aman untuk kita."
"Kenapa?"
"Pesta Akhir Tahun tidak yang perkumpulan orang, mereka juga memamerkan kekuatannya untuk menekan lawan." Simon mengatakan yang sesungguhnya.
"Kalau begitu tidak perlu banyak orang, kita sudah cukup..." Allen menghentikan perkataannya dan melihat ke langit Pulau Nemo. "Tiwi, kau siapa sebenarnya?"
Kilatan petir menyambar tubuh Tiwi. Eman sambaran dihadapi tanpa teriakan, hal itu membuat hati Allen hancur.
"Sial, apa empat sambaran sebenarnya hanya sampah buangan," gumam Allen melihat awan yang mulai bubar.
"Tidak Ayah, wanita itu memang sangat istimewa. Tubuhnya secara alami menyerap petir dan mengubahnya menjadi kekuatan alami." Zahra tiba-tiba muncul di sebelahnya.
Simon sempat mengerutkan kening karena tidak merasakan keberadaan Zahra.
"Mungkinkah dia punya Tubuh Ilahi bawaan?" tanya Allen.
"Benar, Tubuh Ilahi Dewa Petir. Mungkin itu yang cocok untuknya," jawab Zahra dengan suara pelan.
Tiwi terbang dan mendekati Allen dan Simon. "Bos, aku berhasil menerobos tingkat 4... Terimakasih Zahra, kau banyak membantuku."
Allen dengan ekspresi tenang mengatakan, "Tiwi jangan berpuas diri. Kekuatan para pengguna energi jiwa tidak ada batasnya, tapi ingat Kekuatan yang besar mendatangkan tanggung jawab yang besar pula."
Tiwi langsung berubah serius. "Baik, Hyung."
"Baiklah, ayo bersiap. Tiwi kamu akan ikut aku ke Pesta Akhir Tahun." Allen berjalan menuju Pohon Dunia.
Simon dan Tiwi mengikutinya, mereka saling melirik kemudian tersenyum.
"Bagaimana mungkin, anak 20tahunan sekuat itu," kata Simon dalam hatinya.
[Tiwi
Umur : 20 tahun.
Elemen : Air, Cahaya, Tanah, Petir
Total Kekuatan : 142.302.
Keadaan khusus : Eye of Truth
Tubuh Ilahi : Dewa Petir.]
Allen juga sedikit terkejut karenanya, tidak hanya berhasil menerobos tingkat 4 dengan mudah, Tiwi juga membangkitkan Tubuh Ilahi Dewa Petir.
Setelah sampai di Pohon Dunia, Allen mengambil daun berwarna kuning emas. "Aku akan bermeditasi, jika salam 3 hari belum bangun, segera bangunkan aku."
"Memangnya apa yang ingin kau lakukan, Hyung?" tanya Tiwi.
"Bakat ku terlalu buruk. Aku ingin meningkatkannya, tapi menyerap daun emas lebih dari 3 hari sama dengan bunuh diri." Allen mengangkat Daun Emas milik pohon dunia.
"Daun Emas?" tanya Simon dan Tiwi bersamaan.
Allen menjelaskan kegunaan Daun Emas yang bisa meningkatkan bakat seseorang. Tapi teknik menyerapnya sedikit berbeda, makanya tidak boleh ada yang menggunakannya lebih dari satu kali.
Pohon Dunia saat ini hanya memproduksi satu Daun Emas setiap dua tahun, jadi Allen akan menggunakannya. Setelah itu akan ada Buah Emas yang berbuah 100 tahun sekali, buah itu bisa meningkatkan kekuatan dan bakat seseorang secara bersamaan.
"Tidak perlu membuang waktu lagi. Jangan lupa bangunkan aku jika 3 hari tidak bangun." Allen memberi peringatan pada Simon dan Tiwi.
Tanpa mendengar jawaban, Allen menutup mata dan menyerap Daun Emas. Kesadarannya dibawa ke sebuah ruangan yang penuh dengan emas.
Allen duduk dan menyerap semua energi emas sebanyak mungkin. Namun setiap kali menyerapnya, tubuh dalamnya terluka dan darah keluar dari mulutnya.
"Jadi ini alasan kenapa banyak orang yang gagal." Allen hanya bisa meratapi nasibnya.
__ADS_1
Monster Bayangan dengan cepat keluar dan memakan semua energi emas. Tubuh Ilahi Raja Perang tidak mau kalah dan melahap semua energi dengan sangat cepat, bahkan kecepatannya menandingi Monster Bayangan.
Setelah beberapa saat energi emas diserap habis. Kesadaran Allen dibawa lagi ke Bumi. Dia membuka matanya dan bertanya, "Sudah berapa lama aku menyerapnya?"
Tiwi dan Simon tampak kebingungan dan saling memandang.
"Hyung, kamu baru mulai beberapa menit yang lalu. Apa sudah selesai?" tanya Tiwi.
Allen mengangkat daun yang ada di tangannya. "Sepertinya ini nasib sial untukku. Daun Emas yang aku serap hanya mengandung sedikit penambahan bakat."
Simon dan Tiwi tidak bisa mengatakan apapun. Mereka ingin menjaga perasaan Allen.
"Tidak perlu canggung. Keberuntungan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan..." Allen melihat awan hitam berkumpul lagi di langit Pulau Nemo.
"Ada yang akan menerobos lagi, siapa dia?" tanya Allen sambil mencari informasi tentang mereka.
Baru tiga sambaran petir awan itu menghilang dan Drakula ditemukan terkapar tanpa busana. Allen mengeluarkan selimut dan menutupi tubuhnya.
"Siapa yang menyangka monster tua lainnya telah mengembalikan sebagian kekuatannya." Allen menatap Drakula dengan tenang.
Tepat ketika dilihat Allen, Drakula membuka matanya dan melompat. Dengan gaya elegan dia menggunakan Mana untuk menciptakan baju mewah.
"Prinsip Jiwa tingkat 4 berhasil aku kuasai, Bos. Siapa yang menyangka ternyata aku bisa membangkitkan 6 Lingkaran Mana dengan sangat cepat." Drakula tampak sangat senang dengan perkembangannya.
"Tidak usah berpuas diri, besok lusa kamu harus ikut denganku ke Pesta Akhir Tahun." Allen mengajak Drakula.
"Baik, Bos." Drakula bersedia ikut.
Simon dan Allen latihan tanding, mereka bertukar pukulan hingga matahari terbenam.
Setelah istirahat mereka melanjutkan pertarungan. Status Allen terus meningkat karena luka yang dia derita.
[Status : Pemain Allen]
Level : 4
Kekuatan tubuh : 183
Konsentrasi : 235
Mental : 167
Wibawa : 71
Aura : 160
Total Kekuatan : 147.390 (kurang akurat)
---- Keterampilan ----
Pemain pengguna sistem dewa, tingkat Maha Dewa.
Mata Dunia, tingkat ?.
Seni Beladiri (Teknik Jiwa), tingkat ?.
Alkemis, tingkat menengah.
Keterampilan Senjata, tingkat rendah.
Kebal Racun, tingkat rendah.
---- Spirit Pendukung ----
Peri Air
Peri Tanah
Peri Api
Peri Angin (Silvy)
__ADS_1
Peri Kegelapan (Lembu Suro)
---- Gelar ----
Peramu Racun, meningkatkan efek racun sebanyak 10%.
Pengguna Senjata, meningkatkan akurasi 10%.
---- Bonus ----
Bonus poin bebas : 0
Bonus poin skill : 0
"Sudah cukup untuk hari ini, ayo segera berangkat." Allen mengubah penampilannya dengan sangat cepat.
Elemen Air membersihkan tubuhnya, pakaiannya berganti dengan jas yang rapi. Rambutnya disisir rapi kebelakang layaknya seorang mafia.
Sepatunya pantofel hitam mengkilap menghiasi kakinya. Allen keluar dari Pulau Nemo dan langsung berlari ke lapangan depan gedung.
Helikopter datang menjemput mereka berempat. Mereka langsung diterbangkan ke tempat pertemuan.
Gedung setinggi 52 lantai muncul di depan mata Allen dan semua orang. Kota Z memang tidak kehabisan pesona gedung pencakar langit.
"Simon, dimana tempat pertemuan kita?" tanya Allen yang sedikit bingung karena banyak sekali Lift ke bawah.
Helikopter diturunkan di gedung paling atas, Allen kurang pengalaman soal pertemuan mewah seperti ini.
Sebelum Simon menjawab, seorang pelayan dengan pakaian rapi datang. "Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Kami ingin menghadiri Perta Akhir Tahun Black Rock." Allen menjawab dengan santai dan penuh percaya diri.
Wajah pelayan menjadi ketus. "Tuan, semua gedung ini digunakan untuk Pesta Akhir Tahun. Bolehkah saya tahu siapa yang mengundang anda?"
"Keluarga Black Rock, Clarissa." Allen sedikit kesal dengan perubahan ekspresi pelayanan.
Pelayan menunjuk pintu lift dengan ekspresi dingin. "Silahkan lewat sini."
Allen dan semua orang langsung masuk, mereka tidak menaruh kecurigaan pada Pelayan.
"Bocah bodoh, apa kau pikir aku bisa ditipu. Bagaimana Nona Clarissa mengundang udik tidak terkenal sepertimu." Pelayan langsung berlari mencari pelanggan lainnya.
Disisi lain Allen sudah sampai di lantai paling bawah. "Dimana ini?" tanya Allen.
Simon menjawab, "Kita di lantai paling bawah, Bos. Pelayan tadi menyamakan kita dengan pengusaha tingkat rendah."
Allen melirik Simon dan mengatakan, "Tidak perlu marah. Sekarang ayo cari koneksi disini dan memanfaatkan situasi."
Poin Wibawa Allen sudah cukup tinggi, sehingga dia mudah bergaul dan bercengkerama dengan para pengusaha di lantai 1.
Hari semakin malam, telepon Allen berdering. "Halo, Clarissa aku sudah sampai di lantai 1."
"Kenapa kau di lantai satu, ayo naik ke lantai 52." Clarissa dengan penuh semangat mengundang Allen.
"Tidak bisa, Pelayan di depan lift menghentikan kita." Allen hanya melirik ke arah pelayan dan mengarang cerita.
Clarissa langsung menjawab, "Tunggu aku."
Pintu lift terbuka, sosok wanita cantik muncul dengan tiga pengawal dibelakangnya. "Ayo, Allen."
Dengan santainya, Clarissa menggandeng tangan Allen dan menariknya ke Lift khusus.
Semua orang yang berbicara dengan Allen langsung memeriksa kartu nama yang diberikan. Dengan perasaan bangga dia langsung menyimpannya.
Sesampainya di lantai 52, Allen melihat beberapa musuh yang akan bertarung dengannya.
David dan Ayahnya, mereka membawa 3 orang yang cukup kuat dari Keluarga Baruch.
Reza dan Ayahnya, mereka membawa 7 Pejuang Tingkat 7 dari keluarga Morgan.
William dan Ayahnya, mereka membawa 2 Pejuang Tingkat 7 yang sangat kuat dari keluarga Windsor. Dua orang itu sedikit lebih lemah dari Simon.
__ADS_1
21 keluarga lainnya juga hadir, mereka dibagi menjadi 4 kelompok yang siap menaklukkan dunia.