
Allen segera berdiri, dia melihat banyak monster yang masih hidup. Pasukan Raja Surgawi berhasil memukul mundur pasukan monster yang keluar dari celah dimensi karena pemimpinnya mati.
“Bos, ada yang tidak beres. Retakan dimensi itu tidak hilang padahal pemimpinnya sudah mati.” Ye Mo menunjuk langit yang masih retak.
“Sepertinya jenderal pasukan perampok bukan pemimpin yang sebenarnya. Semua mundur!” teriak Allen memberi perintah.
Kedua belah pihak mundur dari medan perang, retakan di langit masih belum hilang yang artinya gelombang serangan selanjutnya akan segera datang. Allen menata pasukannya di Kota K, lebih dari 100 ribu orang siap untuk menerima serangan musuh.
“Aku tidak akan mengatakan hal yang baik. Pertarungan kita sudah mencapai puncaknya, jika ada yang ingin mengundurkan diri segera pergi dari barisan!” kata Allen yang berdiri di atas balkon.
Semua orang yang sudah mengucap sumpah darah mendengar suara Allen dengan sangat jelas. Mereka semua terhubung karena sumpah darah, ketika ada satu orang yang mati maka semua orang akan merasakan kehilangan.
Tidak ada yang meninggalkan barisan, artinya semua orang siap menghadapi bencana yang akan melanda seluruh umat manusia di bumi. Allen sebagai pemimpin pasukan Raja Surgawi akan melawan pemimpin pasukan perampok dimensi.
“Lawan kita adalah Satan, aku sendiri yang akan melawannya. Kalau saja hal buruk menimpaku, jangan pernah menyesalinya. Aku ingin kalian semua tetap berjuang mempertahankan bumi!”
Semua orang diam, mereka tidak bisa membayangkan jika Allen kalah dalam pertarungan satu lawan satu. Jika hal itu terjadi, mungkin saja umat manusia akan kehilangan semangatnya.
“Kalian terlalu mendewakanku, aku yakin manusia yang lebih kuat dariku akan datang. Tugas kalian hanya menunggu waktu yang tepat dan memulai serangan lagi. Jadi ayo selesaikan semua ini!” teriak Allen memberi semangat pada pasukannya.
“Ayo selesaikan!” suara teriakan lebih dari 100 ribu orang.
Bayangan tentang keluarga dan anak-anak kecil mulai muncul di ingatan semua orang, Clarissa yang menuju ke arah Allen tersenyum manis karena melihat sosok pemimpin yang berhasil menggerakkan hati ratusan ribu orang.
Menurut perhitungan, 100 ribu pasukan tidak cukup untuk melawan Satan dan pasukannya. Namun dengan adanya Allen, mereka yakin bisa membawa kebebasan untuk bumi dan menciptakan lingkungan yang makmur untuk seluruh umat manusia.
Setelah menyelesaikan persiapan, Allen dan pasukannya segera menuju medan perang. Tiga jenderal dari perampok dimensi berdiri di depan pasukan monster, bentuk mereka tampak sama seperti manusia biasa.
__ADS_1
Mereka bertiga tidak punya nama yang jelas, bahkan Mata Dunia tidak bisa memperhitungkan takdirnya. Sistem juga tidak bisa melihat jendela status ataupun total kekuatannya. Allen hanya bisa menelan ludahnya di depan pasukannya yang siap mengorbankan nyawa bersamanya.
Clarissa datang dan menepuk pundaknya. “Tidak apa-apa, kami sudah siap,” katanya dengan senyum yang paling manis yang pernah ditunjukkan.
Allen menarik napas panjang dan memejamkan matanya perlahan, tepat setelah menghembuskan napasnya dia mengangkat tangannya kemudian menghempaskannya ke depan. “Serang!” teriaknya dengan suara penuh semangat.
Pasukan Raja Surgawi menerjang musuhnya seperti serigala kelaparan, mereka berteriak sekuat tenaga demi mengobarkan semangat juang melindungi bumi dari perampok dimensi.
Monster raksasa juga bergerak menghancurkan setiap benda yang mereka lalui, bahkan gunung yang ada selama ribuan tahun hancur dengan satu injakan kakinya. Udara di sekitar berasa sangat panas karena monster-monster itu berasal dari neraka.
Allen tidak kalah dengan pasukannya, dia juga menyerang sekuat tenaga dan berakhir di depan salah satu jenderal berpakaian biru. Wajahnya tidak jelas tapi Allen tahu bahwa orang di depannya bukan manusia biasa.
“Tuan memang benar, aku akan menghadapi pemimpin musuh. Karena beliau tidak bisa memperhitungkan nasibmu, karenanya aku akan membunuhmu!” katanya sambil membuka mantel birunya.
Tubuhnya ternyata tidak seperti manusia, ada puluhan monster yang tergabung di dalam tubuhnya. Dia adalah manusia cimera, dia bisa menyerap kekuatan musuhnya layaknya Allen yang menggunakan pelahap jiwa. Bedanya cimera itu menggunakan mulutnya untuk mencerna musuh.
Auranya melonjak, Allen menjadi lebih kuat setelah melepas salah satu cincinnya. Melihat lonjakan aura itu, Cimera mengerutkan keningnya. “Aneh, seorang manusia punya aura yang sangat jahat. Baiklah ayo serius dan selesaikan dengan cepat.”
Tangan Cimera berubah menjadi sebuah pisau besar, dengan ayunan ringan dia membelah tanah dan menghancurkan gunung. Allen menghindarinya dengan sangat mudah, Langkah Bayangan digunakan. Matanya menatap tajam ke arah musuhnya, Allen segera menggunakan tusukan pedang.
Cimera dengan sangat membentuk tangan satunya menyerupai perisai, dia menghentikan pedang Allen dengan sangat mudah. “Kau terlalu naif, manusia lemah!” katanya menghina senjata Allen.
Bukannya marah, Allen justru tersenyum setelah pedangnya dan kulit musuh bersentuhan. “Kau terlalu sombong, barang rongsokan!” katanya melempar umpatan yang menusuk hati.
Pedang yang awalnya dihentikan dengan mudah tiba-tiba bergerak lagi dan perlahan menembus perisai kulit milik musuhnya. Allen berteriak keras sambil meningkatkan auranya.
“Tidak mungkin, kau bisa menembus kulitku!” kata Cimera dengan ekspresi terkejut.
__ADS_1
Tusukan pedang Allen berhasil melukai tangan kiri Cimera yang berbentuk perisai. Dia langsung melompat ke belakang dan mencari pijakan kaki yang bagus. Tanah di sekitarnya sudah hancur mengakibatkan air di bawah tanah terpaksa keluar.
Raut wajah Cimera menjadi jelek karena marah. “Manusia Rendahan, kau membuatku marah. Jangan harap matimu bertubuh utuh!” katanya sambil melepaskan aura yang sangat mencekam.
Beberapa monster ketakutan karena aura itu, tapi Allen justru melepaskan aura yang lebih besar dan membuka segel keduanya. “Jangan takut, dia hanya barang rongsokan!” teriak Allen sambil menggunakan keterampilan jiwa yang bisa melindungi moral pasukannya.
Semua pasukan Raja Surgawi merasakannya, aura berwarna ungu bercampur merah mulai menyelimuti tubuhnya. Semua orang langsung menyerang monster dengan ganas, sebaliknya monster-monster itu ketakutan karena aura Cimera.
Dua jenderal lainnya menghadapi musuh lainnya, Allen hanya fokus menghadapi Cimera yang ada di depannya. “Sekarang apa kau masih merendahkanku, barang rongsokan?” tanyanya dengan nada mengejek.
Cimera hanya diam, dia hampir kehilangan kesadarannya. “Bacot!” katanya.
Dua tangannya berubah menjadi pedang panjang, tanpa memikirkan pertahanan dia mengayunkan kedua tangannya layaknya pecut. Semua benda yang di laluinya terbelah dua, bahkan monster rekannya sendiri dipotong layaknya bolu.
Allen mencoba menghentikan serangan acak lawannya, dia berhasil menghentikan satu pedang tapi pedang lainnya berhasil melukainya. Allen terbang menjauh dan mencoba menyerang dari jarak jauh, tapi gerakan tangan yang terus menerus membuat serangan jarak jauhnya tidak berhasil.
“Apa kau putus asa?” tanya Allen mencoba memancing emosi lawannya.
Sayangnya Cimera sudah kehilangan akal sehatnya, dia terus mengayunkan kedua tangannya dan membentuk medan serang di sekitar tubuhnya. Tidak ada yang selamat setelah berada di dekatnya, Cimera langsung berlari menuju arahnya.
Allen terbang menjauh dan mendekati para monster raksasa, Cimera itu langsung membunuh monster raksasa tanpa ampun. “Gila, apa kau sudah tidak waras!”
Cimera sudah tidak mendengarkan Allen, dia hanya fokus mengejarnya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ribuan monster mati di tangan Cimera, Allen tersenyum manis sambil terbang ke sana ke mari.
“Absolut Kill,” kata Allen menyebutkan nama keterampilannya.
Tusukan pedang pendeknya berhasil menembus pertahanan absolut musuhnya, serangannya itu berhasil memotong tangan Cimera. “Bagus, sekarang kau tidak begitu merepotkan!”
__ADS_1
Tangannya yang putus langsung tumbuh kembali, Cimera menggunakan teknik yang sama untuk memulai serangannya. Allen dengan cepat langsung terbang menuju monster-monster lainnya.