
Tidak dapat dipungkiri, Alona memang bocah SMP yang sangat boros. Namun entah mengapa Allen tidak mau memperpanjang masalahnya.
"Sudahlah, ayo pulang dulu. Besok pagi kartunya akan aku bekukan." Allen segera masuk ke dalam mobil.
Budi sekarang sudah lihai menyetir mobil, jadi ia akan berperan sebagai sopirnya.
Seperti yang dikatakan Pemimpin Pasukan Khusus, Allen membawa barang yang sangat berharga.
[Pil Kebangkitan.]
Dapat meningkatkan kekuatan mental, jumlahnya tergantung berapa lama pemakan menahan rasa sakit.
Ada tiga pil yang berada di tangannya. Allen berhasil memungut pil itu tepat sebelum ledakan terjadi. Sebenarnya ada 5 pil kebangkitan, tapi dia hanya berhasil mengambil 3. Hal itu karena ledakan itu memancing perhatian orang lain. Daripada mencari pil yang terpental ke segala arah, lebih baik mensyukuri apa yang dimiliki.
Setelah sampai di kantor, Allen menyuruh Budi untuk tidak masuk kamar apapun yang terjadi. “Aku akan berlatih dengan teknik berbahaya, mungkin akan ada sedikit teriakan nanti. Ingat, jangan ganggu aku!” kata Allen memberikan peringatan.
“Baik, Tuan.”
Allen memandang pil kebangkitan di dalam kamarnya, ia sudah membaca pengantar sistem beberapa kali. “Baiklah, mari kita coba,” katanya sambil membuka mulut dan menelan pil perlahan.
Awalnya tidak terasa apapun, Allen mencoba duduk dan mengalirkan aura ke seluruh tubuhnya. Rasa panas mulai terasa di sekujur tubuhnya, keringat mulai menetes dan bau kain terbakar mulai tercium.
Perlahan tapi pasti, sakit mulai muncul. Setiap sendinya mulai terasa lemas dan matanya mengeluarkan darah kental. Allen hanya bisa mengeratkan giginya menahan rasa sakit yang tak terbayangkan. Namun bayangan kematian keluarganya di kehidupan sebelumnya muncul, tidak hanya menguatkan dirinya, Allen bahkan menjadi lebih tenang.
Jika ada orang yang melihatnya berlatih seperti ini, mereka pasti menganggap Allen adalah seorang psikopat yang menikmati kesakitan. Bagaimana tidak, pil kehidupan terkenal dapat membunuh seorang pejuang tingkat 3, tapi Allen bisa menahan rasa sakitnya sambil tersenyum tipis.
[Mental +1]
[Poin bebas +10]
Allen tidak melihat pemberitahuan sistem, ia hanya fokus menahan rasa sakit yang di akibatkan pil kehidupan. Waktu berlalu tanpa terasa, siapa yang menyangka ternyata suara ayam sudah terdengar.
“Bau apa ini?” teriak Allen melompat dari posisi duduknya. Setelah memperhatikan sekitar, ternyata bau tak sedap itu berasal dari tubuhnya. Pakaian yang dikenakan juga sedikit terbakar, jadi bau menyengat menempel pada tubuhnya.
Allen langsung membersihkan tubuhnya, ia tidak menyangka hanya dengan satu pil kehidupan dapat mengubah seluruh kondisi tubuhnya. Tidak lupa ia langsung memeriksa statusnya.
[Status : Pemain Allen]
Level : 2
Kekuatan tubuh : 20
Stamina : 20
Konsentrasi : 20
Mental : 13
__ADS_1
Wibawa : 11
Aura : 20
---- Keterampilan ----
Pemain pengguna sistem dewa.
Mata Dunia.
Seni Beladiri (Teknik Jiwa).
Alkemis.
---- Bonus ----
Bonus poin bebas : 10
Bonus poin skill : 0
Sayangnya poin bebas tidak dapat ditambahkan ke Mental dan Wibawa, jadi Allen segera mengalokasikannya ke Stamina 2 poin, Konsentrasi 3 poin, dan Kekuatan Tubuh 5 poin.
“Bagus, sekarang mari makan pil selanjutnya.” Allen tanpa rasa takut menelan pil kedua untuk meningkatkan kekuatannya. Namun siapa yang menyangka ternyata efek dari pilnya tidak seperti sebelumnya, ia hanya mendapatkan 1 poin mental dan 5 poin bebas. Tanpa berpikir lama, Allen langsung memasukkan poin bebasnya ke Kekuatan Tubuh.
Sekarang Kekuatan tubuhnya hampir setara dengan seorang Pejuang tingkat 4 menengah. Jadi Allen bisa latih tanding dengan Budi, tapi ada satu kekurangan yang mengganjal dalam pikirannya.
Seperti yang ia duga, pil ketiga hanya menambah 1 poin mental dan 3 poin bebas. Allen langsung menambahkannya ke aura. Untuk meningkatkan aura, dibutuhkan kekuatan tubuh yang setara atau di atasnya, jika tidak aura akan meledak dan pemain akan tewas.
Hanya dengan 3 pil kehidupan dan 3 hari berlatih, Allen telah mendapat keuntungan yang sangat melimpah. Segera setelah membersihkan tubuhnya, ia memotong rambutnya yang tumbuh tidak terkendali.
“Sejak kapan 3 hari latihan bisa menumbuhkan rambut sepanjang in!” ucap Allen merasa aneh dengan kejadian ini.
Didepan cermin, Allen memotong rambutnya sendiri. Meskipun tidak modis, ia merasa potongan pendek tanpa model sangat cocok untuknya. Tidak terasa ia hampir memotong semua rambutnya.
Setelah keluar kamar, Allen disambut Tiwi yang menunggunya keluar. “Akhirnya kamu keluar, Hyung. Ada masalah, sekelompok preman memblokir Toko Bangunan kita!” katanya dengan nada panik.
“Dimana Budi?” tanya Allen.
“Dia sudah pergi dan memeriksa para preman. Aku takut pria tua itu akan celaka,” ucap Tiwi.
Allen mengusap kepala Tiwi. “Tenanglah, pria itu bisa menyelesaikan masalahnya. Ayo kesana!”
Tiwi dan Allen menuju tempat kejadian, Tiwi membuka matanya lebar-lebar ketika melihat para preman bersujud di depan kaki Budi. “Apa yang terjadi?” teriaknya terkejut.
“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Budi dengan suara tegas.
“Bos, kami hanya ingin mencari uang. Tolong jangan persulit kita!” kata salah seorang pria yang bersujud paling depan.
__ADS_1
Budi terus melempar kata-kata untuk mengungkap infomasi dari preman. Allen keluar dari mobil dan menuju warung di depan tokonya.
“Paman, kopi satu gelas dan teh satu!” ucapnya dengan suara karas.
“Ok, Bos!” jawab seorang pria paruh baya penjaga warung.
“Kapan para preman itu muncul, Paman?” tanya Allen.
Pria penjaga warung mengaduk kopi dan menjawab, “Mereka muncul 2 hari yang lalu. Setelah memperhatikan situasi, mereka baru bergerak tadi pagi.”
“Siapa mereka?”
Penjaga warung membawakan kopi dan teh pesanan Allen. “Seorang pria muda yang punya lahan sebelah. Awalnya aku menganggap dia pria yang sangat sopan, tapi lihatlah cara liciknya menghancurkan bisnis orang lain.”
“Hal seperti ini wajar di kalangan pebisnis, Paman. Aku juga memaklumi pemuda itu karena merasa tersaingi.” Allen tahu pemuda yang dimaksud penjaga warung adalah pebisnis yang berhasil mengembangkan toko bangunan di kehidupan sebelumnya.
“Aku tidak mengerti pikiran kalian. Kalau tidak salah namamu Allen, Kan?” tanya penjaga warung.
“Benar, Paman. Ada yang bisa saya bantu?”
Penjaga warung menggelengkan kepala. “Lebih baik mulai sekarang kau berhati-hati, kemarin banyak orang yang mencoba mencari informasimu. Tidak hanya pemuda yang membuat keributan, tapi juga ada beberapa pria mencurigakan.”
“Terima kasih informasinya, Paman.”
Tidak hanya mendapat informasi siapa pengirim preman, Allen mendapat informasi berharga. Jika tebakannya benar, para pencari informasinya tidak lain adalah para pasukan khusus dari Kota K. Pasalnya ia berhasil keluar dari gedung pusat perbelanjaan tanpa luka serius, padahal seluruh pintu di blokir penjahat.
Setelah beberapa saat, seorang pria berjaket hitam masuk ke warung dan memesan secangkir kopi pahit. “Paman, apa kamu tahu pemilik toko di seberang?” tanyanya.
Allen mengedipkan matanya, ia memberi kode untuk menyembunyikan identitasnya. Untungnya penjaga warung mengerti kode kedipan matanya dan menjawab pertanyaan pelanggannya.
“Tentu saja aku mengenalnya. Ada apa?”
“Siapa dia, Paman?”
“Namanya Allen, dia pemuda yang ceria dan cerdas. Aku dengar banyak pria hebat mencarinya untuk kerja sama.”
Pembicaraan penjaga warung dan pria berjaket hitam terus berlanjut hingga menanyakan beberapa hal khusus seperti keluarga. Namun penjaga warung tidak mengetahui informasi tentang keluarga Allen.
Setelah beberapa saat, pria berjaket hitam itu keluar dan meninggalkan kopinya yang baru setengah. Allen menyusul dan menyuruh Tiwi untuk menemui Budi.
Pria berjaket hitam itu menuju hutan, Allen mencoba mengikutinya dari belakang untuk memastikan siapa sebenarnya dia. Namun siapa yang menyangka sebuah pisau tiba-tiba terbang mengarah padanya. Pelemparnya tidak lain adalah pria berjaket hitam, setelah melempar pisau ia berlari mendekati dan mengayunkan pisaunya.
Allen merespons dan menggunakan kakinya untuk memblokir ayunan pisau. Tidak sampai disitu, ia menggunakan kepalan tinjunya untuk menghantam perut musuhnya.
“Siapa kau?” tanya Allen dengan ekspresi serius.
“Aku seharusnya yang bertanya itu, Bodoh!” umpat pria berjaket hitam.
__ADS_1