Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Dante Mengambil Keuntungan


__ADS_3

Skenario kotor telah dijalankan, Allen dan Harjo Susanto hanya bisa tersenyum kecut. Mereka saling memandang dan menghela napas setelahnya.


"Baiklah, ayo lakukan seperti yang kau inginkan. Karena aku tidak punya orang lain, biarkan bocah nakal ini mewakiliku!" kata Harjo Susanto dengan suara lesu.


Allen segera maju ke depan, ia memandang Redjo Suhat dengan tatapan tenang. "Mohon bimbingannya, Tuan!" katanya sambil memberikan salam beladiri.


Sikap Allen terasa sangat sopan, tetapi beberapa pejuang beladiri langsung menyempitkan matanya. Mereka mempunyai kesan bagus untuk Allen.


Redjo Suhat juga seorang praktisi beladiri, ia sudah menjadi Pejuang tingkat 2. Karena umur ia harus puas dengan pencapaiannya saat ini, tapi seorang pria tua memberinya kesempatan bagus. Jika berhasil mempermalukan Harjo Susanto, ia akan memberinya metode latihan yang dapat meningkatkan umurnya.


Tawaran menarik itu datang dari Dante yang menonton dari atas bersama 4 orang penting lainnya. Allen tidak bisa gegabah dalam langkahnya, ia harus menghindari mata pria tua itu untuk sementara.


Dante menyempitkan matanya, ia sekarang ingat Allen. “Sepertinya takdir memang mempertemukan kita, Nak. Dulu kau membawakanku peri angin, sekarang kau memberiku keuntungan lainnya!” katanya pelan.


Walaupun suaranya belan, empat orang di samping mendengarnya dengan jelas. Empat orang yang duduk di sebelah Dante bukan manusia biasa, kekuatannya setara dengan Pejuang tingkat 5, meskipun sedikit lebih lemah dari Dante.


“Apa yang menarik darinya?” tanya seorang pria berambut putih.


Dante menggelengkan kepala. “Bukan urusanmu, anak itu sudah menjadi incaranku. Jangan ikut campur,” jawabnya tegas sambil melepaskan sedikit aura mengintimidasi.


Pria berambut putih itu tampak muda, tetapi kekuatannya setara Pejuang tingkat 5. Meskipun penampilannya tampak muda, pria itu berumur 120 tahun. Juga ada yang aneh dari aliran darahnya, seperti bukan manusia seutuhnya.


“Kau semakin berani, Kakek Tua. Tunggu saja 20 tahun, kau akan berlutut di bawah kakiku!” kata Pria Berambut Putih sambil mengeratkan giginya karena marah.


Tiga lainnya hanya diam, mereka lebih lemah dari Dante dan pria berambut putih. Namun rasa penasarannya tidak terbendung, mereka langsung menandai Allen untuk di jadikan objek penelitian.


Allen dan Redjo berdiri di depan tumbukan batu antik, keduanya tampak sedang mencari batu terbaik untuk di pertaruhkan. Allen tampak sedang mencari, tapi sebenarnya ia sudah menemukan batu yang di incar di tumpukan paling atas. Tangan kanannya segera mengamankan batu berukuran kepalan tangan dan tangan kirinya mencoba mengais sampai dalam.


[Black Jade


Elemen : Kegelapan


Kualitas : S.]


Allen tidak bisa menahan senyumnya, ia segera menarik sebuah batu dengan tangan kirinya, kemudian menukarnya dengan batu di tangan kanannya dengan cepat.


“Aku sudah menemukannya!” teriak Allen dengan penuh semangat.


Dante dan empat orang lainnya menyempitkan mata, mereka tahu Allen menggunakan trik untuk menukar batu. Tapi tidak ada yang tahu mengapa Allen melakukan tindakan aneh itu.

__ADS_1


Redjo mulai berkeringat, ia tidak pernah merasakan penindasan seperti ini sebelumnya. Bahkan instingnya memilih batu tidak berfungsi seperti biasa, padahal Redjo sudah mengais beberapa batu antik.


Melihat pria tua itu kebingungan, Dante memanggil seorang pelayan dan membisikkan dua buah kata dan memberinya satu batu antik. Pelayan itu langsung mendekati Redjo dan menjatuhkan batu di pojok tumpukan, ia membisikan kata yang di sampaikan Dante.


Redjo segera mengambil batu antik di pojok wadah. Wajahnya senang berseri-seri karena Dante membantunya untuk menang. Sebagai ucapan terima kasih, Redjo Suhat melirik ke arah Dante dan membungkukkan badannya.


Allen menyadari trik curang yang dilakukan Redjo, tetapi ia membiarkannya karena kualitas batu miliknya sedikit lebih rendah darinya.


[Giok Biru


Elemen : Air


Kualitas : B.]


“Apa Anda sudah selesai?” tanya Allen dengan ekspresi tenang.


Redjo Suhat tersenyum tipis. “Kekalahanmu hari ini akan menjadi akhir Grup Harjo, jadi perhatikan sikapmu,” katanya dengan suara agak meninggi.


Kepercayaan diri lawan sangat tinggi, hal itu membuat Allen sedikit gugup. Meskipun ia yakin sistem menilai Black Jade lebih baik dari Giok Biru, tetapi standar penilaian manusia sedikit berbeda.


Pemotong batu menerima batu antik dari Allen dan Redjo, setelah menerimanya ia memberikan satu batu pada pembantunya. “Potong dengan hati-hati!” katanya dengan nada serius.


Allen menyempitkan matanya, ia melihat pergerakan mata pembantu dari pemotong batu. “Mungkinkah!” katanya dalam hati.


Konspirasi selanjutnya telah di rancang dengan baik, Allen tidak menyadari ini. Namun ia masih bisa tersenyum karena mata pemotong batu tiba-tiba berhenti setelah menghantam batu antik.


“Apa mesinnya rusak?” kata pemotong batu.


Harjo Susanto mendekati Allen. “Apa kualitas batunya lebih baik dari sebelumnya?” bisiknya pelan.


Allen menjawab dengan suara pelan, “Aku tidak tahu, seharusnya tidak lebih buruk dari Giok Merah.”


“Rencana kita gagal, tiga pelayan yang aku tugaskan tertangkap. Kita harus mundur untuk mengamankan diri,” kata Harjo Susanto dengan suara pelan.


Allen sedikit menggelengkan kepala. “Mereka tidak bisa menyakiti kita, tenang dan persiapkan jalur pelariannya sesuai rencana awal.”


“Tapi pelayan yang mengurus kunci tertangkap,” kata Harjo.


Allen tersenyum tipis dan mengatakan, “Apa kau lihat dua orang di sebelahku tadi?”

__ADS_1


Harjo Susanto langsung sadar bahwa Allen sudah menyiapkan setiap rencana dengan matang. Sekarang ia tinggal menghubungi beberapa pejuang yang bertugas di perusahaannya.


“Giok Biru!” teriak pemotong batu dengan suara keras.


Semua penonton mengerubunginya, mereka terkagum-kagum melihat indahnya warna biru dari batu antik. Setelah beberapa saat melihat, seorang pria berkaca mata mengangkat tangannya dan berteriak, “Jual padaku 5 miliar!”


“Bodoh, jangan menghina Giok Biru. Aku tawar 10 miliar!”


“15 miliar!”


Harga terus naik hingga seseorang menyebutkan harga yang fantastis, orang itu tidak lain adalah Dante sendiri. “50 miliar!” katanya dengan suara pelan, ia ingin menaikkan harga batu supaya Allen dan Harjo kalah.


Namun batu milik Allen belum bisa di potong, mata pemotong batu yang sekuat baja tidak bisa membelahnya. Dante dan empat pria tua saling memandang, mereka tahu seberapa berharga benda yang di ambil Allen.


Karena Dante yang paling tua, ia langsung turun dan meminta batunya dari pembantu pemotong batu. Matanya menyempit dan mencoba melihat apa yang ada di dalamnya. Namun penglihatannya tidak berhasil dan aura yang ia masukkan malah di serap habis.


“Batu apa ini, Nak?” tanya Dante dengan suara serak khas seorang kakek tua.


Allen menelan ludahnya sebelum menjawab, ia berakting dengan sangat baik. “A ... aku juga tidak tahu, Kek. T ... tapi aku bisa memastikan batu itu sangat ber...berharga!” jawabnya dengan suara terbata-bata.


Setelah mengatakannya, Allen menghentakkan kakinya pelan. Itu menandakan Harjo Susanto dan teman-temannya harus waspada. Bisa jadi kerusuhan akan terjadi tepat setelah Dante mendengar jawabannya.


Bukannya menyerang Allen, Dante justru tertawa keras. “Haha, bocah yang menarik. Siapa namamu?”


“Aku Allen, tetapi banyak yang menjulukiku sebagai Shen!” jawab Allen menambahkan sesuatu yang sangat misterius. Kata Shen tidak diketahui banyak orang, jadi Dante dan semua orang kebingungan.


“Baiklah, lebih nyaman memanggilmu Shen. Jadi bagaimana kau bisa menemukan batu ini?”


“Insting. Sejak lahir aku punya insting yang sangat kuat!”


Dante sudah mendengar jawabannya, ia langsung melepaskan aura setara dengan pejuang tingkat 5 puncak. Total kekuatannya sudah 64 ribu, jadi sebentar lagi seharusnya dia naik tingkat ke tingkat 6. Namun karena insiden di laboratorium, Dante mendapat luka dalam. Racun buatan Allen tidak sepenuhnya di murnikan, meskipun sudah di tekan dengan aura dominasi, Dante masih merasakan sakit di dadanya ketika bertarung.


Batu antik di lempar ke udara, kemudian Dante menarik sebuah pedang lentur yang disembunyikan di sabuknya. Manusia biasa tidak mungkin melihat gerakannya, tetapi Allen dan para praktisi beladiri melihat kecepatan pedangnya membelah batu.


Batu yang tidak bisa di belah oleh mata pemotong terbelah rapi menjadi dua, warna hitam gelap keluar darinya. Dante yang merasakan pertama kali langsung menutupnya, ia mengangguk dan tersenyum tipis.


“Aku akan membelinya 100 miliar,” kata Dante dengan suara ramah.


Allen tidak pernah menyangka situasi akan berkembang sampai sejauh ini, jika ia menyerahkan batu dengan elemen kegelapan pada Dante, bisa jadi kekuatan musuhnya akan melambung.

__ADS_1


“Sial!” kata Allen dalam hati.


__ADS_2