Reinkarnasi Ninja Modern

Reinkarnasi Ninja Modern
Sergapan


__ADS_3

Kalahnya Roger membuka pengurung arena, Allen berjalan keluar dan langsung menghadap Patung Besar. Pesan sistem menyelamatkan nyawanya.


[Tunjukan ketulusanmu pada Sang Immortal, sujud selama 15 menit. ]


Allen segera bersujud ketika melihat Mata Patung Besar bersinar. "Cepat sujud, jangan membuat gerakan lain!" seru Allen memberi peringatan.


Son dan Bawahannya tidak tahu mengapa Allen menyuruhnya bersujud. Tapi mereka tetap melakukannya karena rasa hormatnya


Budi dan kelompoknya langsung bersujud tanpa bertanya, mereka menutup matanya dan berfokus mendengar perintah selanjutnya.


"Senior, kami disini mencari keberuntungan. Jika Senior berkenan tolong berikan kami petunjuk." Allen meminta Patung Besar membantunya.


Hanya orang gila yang bersujud lebih dari 10 menit. Son dan Bawahannya mulai gemetar karena marah, ini pertama kalinya mereka bersujud pada sebuah patung.


Bawahan Son berdiri dan berteriak, "Apa yang kita lakukan, Brengsek. Aku melakukannya karena menghormatimu!"


Mata Patung Besar menembakkan laser mengarah pada Bawahan Son. Dalam sekejap mata tubuh pria itu langsung menjadi debu halus.


[Misi gagal, tetap sujud sampai Sang Immortal berdiri.]


"Sial, semua tetap bersujud!." Allen meratapi nasibnya karena kesempatan satu-satunya di buang oleh orang tak berguna.


Satu jam berlalu, Allen dan teman-temannya masih saja bersujud. Mereka tidak tahu harus melakukan apa.


[Immortal hanya merasakan ketulusan dari 5 orang, ia ingin membunuh Son. Lakukan sesuatu untuk menghentikannya.]


Allen mendongak melihat Sang Immortal. "Senior kami salah, tolong jangan bunuh kami!."


Sang Immortal mulai berdiri, Allen teringat pesan sistem sebelumnya. Ia langsung berkata, "Berdiri dan tunjukkan ketulusan kalian. Son aku tidak bisa menyelamatkanmu terus menerus."


Sang Immortal mengangkat tangan kanannya. Allen tidak tahu apa yang harus dilakukan, untungnya petunjuk sistem membantunya.


[Segera berlindung di bayangan tangan kanannya.]


Allen segera berlari ke bayangan tangan kanan Sang Immortal. "Aneh, kenapa tangannya bisa menciptakan bayangan?" gumam Allen pelan. Padahal mereka ada di dalam gua tanpa ada matahari.


Budi dan teman-temannya langsung ikut, mereka tidak ada pertanyaan seperti Son.


"Apa kau ingin mati, bagaimana jika dia membunuh kita." Son masih ketakutan setelah Bawahannya menjadi debu halus.


"Bacot, kau ingin hidup atau mati!." Allen malah memarahinya, bukan karena simpati tapi karena ia merasa Son perlu diselamatkan.


Son bersusah payah berlari ke rekan-rekannya. Kakinya sedikit gemetar karena tekanan aura yang mengarah langsung padanya.


Langit gua berdengung, cahaya terang keluar dan langsung melelehkan tanah dan dinding gua. Sebuah besi berwarna biru keputihan muncul mengelilingi mereka.


Jika Son masih di luar bayangannya, tubuhnya akan meleleh seperti es cair. Kakinya mulai tenang ketika melihat petung besar mulai retak.

__ADS_1


"Ambillah harta yang kalian inginkan." Sang Immortal meninggalkan dunia, Patung Besar yang menjadi wadahnya pecah.


Allen dan teman-temannya tidak melihat adanya harta. Mereka melihat sekitar untuk memastikannya.


"Sial, gua ini memang kosong." Son mengumpat dan segera memukul dinding yang berwarna biru terang.


Pukulannya mengandung 30% aura, tapi dinding itu tidak tergores. Son yang mulai kesal melepaskan kekuatan Pejuang Tingkat 6 dan memukul dinding.


Suara benturan tulang dan dinding terdengar, Son segera menarik tangannya karena rasanya sangat nyeri. "Cih, benda ini sangat keras."


Sebuah pusaran udara muncul, pintu terbuka untuk Son. "Apa aku harus masuk?" tanyanya sambil menoleh ke belakang.


Allen mengangguk. "Ya, kau mendapatkan bagianmu."


Son melangkah masuk, ia tampak senang karena amarahnya menghasilkan sesuatu. Matanya terbuka lebar melihat banyaknya harta yang tertinggal di ruangan.


"Harta Karun!." Son langsung berlari dan melihat senjata berwarna kuning dan tumpukan emas.


Budi melakukan serangan ke dinding, ia mendapatkan bagiannya. Pedro, Shera, dan Ye Mo juga melakukan hal yang sama. Mereka mendapatkan harta yang tak ternilai.


Tinggal Allen sendirian di tengah ruangan. "Sampai kapan anda mengujiku Senior Immortal," tanya Allen sambil membungkuk memberi hormat.


Suara tawa terdengar, sosok aura putih melayang dan mendekatinya. "Bagaimana kau bisa tahu ini termasuk ruang ujian?"


"Maafkan kelancanganku, Senior. Aku punya rahasia yang tidak boleh diungkapkan," jawan Allen dengan sopan.


"Prinsip Jiwa. Aku kebetulan mendapatkannya dari leluhurku." Allen menjawab dengan santainya.


Sosok jiwa itu langsung tersentak, ia akhirnya mendengar nama yang selama ini dirindukan. "Hahaha, jadi kau salah satu dari Kelompok Seven Soul. Perkenalkan aku Li Sogun dari Harimau Putih."


"Harimau Putih?"


"Ya, kami sudah dihapus dari sejarah. Ngomong-ngomong bagaimana caramu sampai disini?" tanya Li Sogun penasaran. Padahal tidak seharusnya manusia masuk sampai sini.


"Bukankah ini ujian darimu Senior Immortal?." Allen juga bingung mendengar pertanyaan Li Sogun.


"Hahaha, lucu sekali. Mana mungkin manusia biasa sepertiku punya barang sebagus ini!." Li Sugon yang berupa arwah tertawa hingga berguling-guling.


"Terus siapa yang menciptakan ujian ini?" tanya Allen penasaran.


"Mana aku tahu, yang pasti ruangan ini adalah tempat latihan yang diberikan Pemimpin Seven Soul pada Harimau Putih."


Li Sugon hanya berupa arwah, jadi ia hanya bisa melindungi harta sektenya. Tapi sekarang keturunan pengguna Prinsip Jiwa telah muncul, Li Sogun siap untuk memberikannya.


[Ruang Latihan telah di tambahkan ke dalam jiwamu.]


Tubuh Allen bercahaya, ia menutup mata dan menunggu energinya stabil. Li Sugon menunggunya dengan sabar, ia berputar-putar mengelilingi tubuh Allen dan menjaganya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Allen membuka matanya. "Aku merasa energiku terkuras habis, kekuatanku juga menurun drastis!."


Li Sugon menenangkannya. "Tenanglah, sebagian energi jiwamu telah dipindahkan ke ruang pelatihan. Kau pasti akan menyadari kegunaannya setelah menggunakannya terus-menerus."


"Energi Jiwa?"


"Kau pasti belum menyadari garis keturunanmu yang asli. Jadi latihlah Prinsip Jiwa sampai ke tingkat tertinggi dan jangan pernah meragukannya atau menggantinya." Li Sogun memberinya saran.


"Kenapa harus ragu, tidak ada teknik sebaik Prinsip Jiwa. Jadi mana mungkin aku mengganti teknik ini." Allen mengatakannya dengan tegas.


Li Sogun menggelengkan kepala. "Setelah mencapai titik tertentu, kau akan menyadarinya. Prinsip Jiwa memang tidak sempurna tapi itu adalah teknik yang paling cocok untuk manusia."


Tubuh Li Sugon mulai transparan, ia tersenyum pada Allen yang masih kebingungan. "Selamat tinggal."


Allen kebingungan harus berkata apa, untungnya Budi mendekat dan menyapanya. "Bos, aku sudah selesai mengemasi semua hartanya."


Disusul Pedro, Shera, dan Ye Mo. Mereka semua punya Cincin Penyimpan, jadi tidak perlu repot membawanya.


Berbanding terbalik dengan Son yang memikul banyak senjata kelas A. "Apa kalian tidak mengambil senjatanya?"


Allen dan semua orang diam, mereka hanya mendecakkan lidah melihat kerakusan Son.


Suara gemuruh terjadi, gua misterius bergetar. Allen segera melepas energi jiwa untuk melihat situasi di luar.


"Apa dia gila!." Allen berteriak panik merasakan ada 10 tank penghancur dan 5 penembak rudal. Tidak sampai disitu, ada juga 15 pesawat tempur.


"Apa yang terjadi?." Son ikut panik, ia tidak pernah melihat Allen berteriak seperti tadi.


"Kita tidak bisa keluar dari gua. Musuh sudah memblokir jalan keluarnya. Apa kalian punya ide selain menggali tanah?" tanya Allen pada rekan-rekannya.


"Aku punya jabatan, tidak mungkin mereka akan menyakiti kita." Son membela dirinya, ia juga masih ada Pejuang yang ada di luar.


"Semua pengawalmu sudah dibunuh. Apa kau masih mengira mereka bisa di ajak negosiasi?"


"Tidak mungkin, Pamanku ada di luar. Pasti dia selamat!." Son berteriak histeris tidak percaya.


"Kalau tidak percaya lihat saja keluar, kami akan menunggu disini." Allen duduk dan memikirkan cara untuk kabur.


Son sambil membawa harta karunnya keluar gua, ia melihat Tank dan peralatan tempur lainnya mengepung gua.


"Apa yang kalian lakukan, Aku Son Hyung meminta negosiasi!."


Tepat setelah mengatakannya, sebuah serangan langsung mendarat ke perutnya. Seketika Son Hyung pingsan dan dibawa ke ruangan tahanan. Semua hartanya diambil dan langsung dilaporkan ke Revan.


"Tuan, harta jarahannya sangat melimpah. Pantas saja mereka sangat lama." Seorang pelayan membawa salah satu batu berwarna merah.


"Batu Mana, sungguh keberuntungan. Para bocah itu berhasil memecahkan teka tekinya." Revan Baruch tersenyum manis dan menatap mulut gua misterius.

__ADS_1


__ADS_2