
Simon sebenarnya adalah guru dari Ling Tong Si Jenius. Namun setelah dia menjadi Pejuang Tingkat 7, sifatnya mulai berubah menjadi brutal. Karena itulah Simon berhenti mengajarinya, siapa yang menyangka Ling Tong malah mendapat mentor yang lebih beringas dan kejam.
Ling Tong berteriak, "Tua Bangka, akhirnya aku mendapat kesempatan membunuhmu!."
Doble Stik dikeluarkan, Ling Tong segera membalas serangan Simon. Namun senjatanya tidak bisa mengenai targetnya.
"Apa?"
Simon melambaikan tangan adan sebuah Tangan Bayangan tercipta. Dengan kekuatan seadanya tangan bayangan menampar musuh hingga menghantam tanah.
"Kau pikir luka seperti ini bisa melukai tubuh dewa!." Ling Tong terlalu percaya diri dengan tubuhnya, tanpa sadar ia memuntahkan darah segar.
Darahnya berwarna merah kehitaman. "Racun? Pengecut kau menggunakan racun!" teriak Ling Tong yang marah.
Tubuh Dewa yang selalu dia banggakan bisa menetralisir semua jenis racun. Tidak hanya itu, tubuh Dewa bisa beregenerasi dengan sangat cepat.
Namun Energi Jiwa milik Simon menghentikan regenerasinya. "Bocah bodoh, apa kau masih tidak mengerti. Gurumu ini bisa membunuhmu kapan saja, tapi aku membiarkan kelakuanmu. Tapi ini sudah kelewatan!."
Ling Tong tidak percaya Tubuh Dewa bisa dilukai dengan mudah. Karena marah, ia melepaskan seluruh energi dalam tubuhnya dan membakar umurnya.
"Jangan menghinaku Pak Tua sialan!." Ling Tong marah besar, raut wajahnya mulai berubah menyerupai monster.
Tubuh Dewa mulai di lahap kemarahan dan menjadi setengah Demon. Allen yang merasakan tekanan dari jauh langsung membuka Mata Dunia dan melihat kekuatan musuh.
[Ling Tong
Umur : 579 tahun.
Elemen : Kegelapan, Tanah, Air
Total Kekuatan : 320.423.]
Sebentar lagi Ling Tong bisa menjadi Pejuang Tingkat 8. Melihat perkembangan Ling Tong, Simon masih sangat tenang, padahal dia sedikit lebih lemah.
[Simon Muller
Umur : 1123
Elemen : Tanah
Total Kekuatan : 311.521.]
Ling Tong yang sudah menjadi monster tertawa keras. "Mati kau Pak Tua!."
Simon Muller hanya menghela napas. "Apa kamu masih menganggap kekuatan aura menentukan segalanya?"
Kuda-kuda yang familier diperlihatkan Simon. Teknik itu sama persis seperti Teknik Baguazhang milik Allen.
Sambil memprovokasi lawannya, Simon menunjukkan gestur tangannya. "Ayo lihat, siapa yang bertahan."
Ling Tong tersenyum hingga sudut bibirnya hampir menyentuh telinga, raut wajahnya sudah tidak seperti manusia pada umumnya.
__ADS_1
"Mati kau!" seru Ling Tong melepaskan bola energi dari tangannya.
Simon dengan santai memutar tangannya dan membentuk formasi beladiri. Tangan kanannya menyentuh bola energi dengan lembut dan membuangnya ke samping.
"Jangan katakan itu tadi serangan terkuat mu!." Simon terus memprovokasi lawannya untuk menciptakan celah.
Ling Tong menanggapi provokasinya, dia langsung menghajar Simon dengan tangan kosong. Namun semua bagian tubuh Simon bergerak dengan efisien.
Tinju, tendangan, bahkan serangan kepala bisa dihentikan Simon dengan mudah tanpa membuang stamina. Teknik Baguazhang digunakan sebagaimana mestinya.
Namun semua teknik tidak ada yang sempurna, Ling Tong sudah mengetahui kelemahannya. Tanpa membuang waktu dia langsung mengeksekusinya.
Tangan kanan Ling Tong dilapisi energi kuat, kemudian ia menggunakan tipuan pada serangan pertamanya. Simon berhasil merespon dan tidak terpancing, tapi setelah tipuan ke dua dia kehilangan kuda-kuda absolut miliknya.
Ling Tong berkata pelan, "Kena kau!."
Tinju dengan kekuatan penuh Ling Tong menghantam tubuh tua Simon. Tanpa diragukan lagi, Simon terbang beberapa kilometer dan menghantam tanah.
Darah keluar dari sekujur tubuhnya, ia mengeratkan giginya. "Tidak buruk, bocah."
Ling Tong terbang mendekat, ia menatap rendah Simon yang belum bisa bangkit dari tempatnya. "Zamanmu sudah berakhir, mati dan biarkan generasi muda memimpin dunia!" katanya sambil melepaskan serangan pamungkas menggunakan Dobel Stik.
Simon tersenyum tipis dan sebuah perisai tak kasat mata muncul menghentikan senjata musuh. "Kau pikir ini sudah berakhir?" katanya sambil memakan pil kebugaran.
Ling Tong mundur sedikit karena dia merasakan ancaman dari Simon. "Tidak mungkin, bagaimana kau bisa sembuh begitu cepat!" seru Ling Tong panik.
Simon melihat kedua tangannya, senyumnya tampak lebih jelas. "Jangan bertanya rahasia orang, ayo lanjutkan ke babak kedua."
Aura mendominasi dipancarkan pedang, warna coklat terang mulai menerangi medan perang. "Apa kabar, Kawan? Ayo mengamuk lagi!" kata Simon dengan suara pelan.
Demon Ling Tong tidak memprediksi ini. Tubuhnya gemetar ketika melihat cahaya yang dilepaskan pedang musuhnya. "Apa itu?" tanyanya penasaran.
"Kenapa terus menanyakan rahasia orang. Bos ingin aku segera menyelesaikan ini, jadi jangan buat semuanya menjadi rumit." Simon mengayunkan pedangnya vertikal.
Sayatan pedang tercipta, Ling Tong tidak sempat menghindar dan memilih untuk menghentikannya. Namun tubuhnya langsung terbelah setelah sayatan pedang menyentuh kulitnya.
Bukannya panik, Demon Ling Tong malah tertawa. "Hahaha, kau pikir aku bisa mati!."
Dua bagian tubuh yang terpisah mencoba menyatu kembali. Namun energi ungu menghalangi keduanya menyatu.
Simon mendekat dan menatap rendah Ling Tong. "Murid durhaka, kau masih saja bodoh seperti biasanya."
"Tidak jangan bunuh aku!." Ling Tong memohon ampun. Dia sangat putus asa kali ini karena semua kemampuan regenerasi dari Tubuh Dewa dan Demon tidak bekerja.
"Jika ini bulan lalu, pasti kau bisa membunuhku. Sayangnya kalian datang sedikit terlambat." Simon langsung menebas leher musuhnya.
Tidak sampai disitu, Simon menggunakan Monster Bayangan untuk melahap semua informasi dan tubuh muridnya.
Segunung informasi masuk ke dalam ingatannya, Simon langsung berlutut dan muntah. "Sial, apa semua anggota Raja Surgawi mengalami ini."
Allen datang dengan Topeng Misterius. "Kerja bagus, sekarang gunakan waktu untuk menghabisi Tingkat 7 lainnya."
__ADS_1
Meskipun menggunakan Topeng Misterius, Allen masih bisa dikenali karena ikatan jiwa meraka sangat kuat.
"Baik, Bos."
Allen dan Simon berpencar, mereka langsung menuju tempat para Pejuang Tingkat 7. Sebenarnya Allen kurang percaya diri menghadapi musuh sendirian, tapi dia punya sistem yang terus membantunya.
"Topeng Misterius, kau selalu muncul dimana-mana. Ini bukan urusanmu, pergilah jika sayang nyawamu!" kata Kepala Keluarga Bishop, Kate Bishop.
"Ayolah kawan, kita sama-sama cari uang. Bagaimana kalau kalian mundur tanpa dendam dan aku mendapat uang, semuanya bisa selesai dengan cepat." Allen mencoba mencari jalan keluar.
Sebenarnya Keluarga Muller saat ini sudah di atas angin. 7 Pejuang Tingkat 7 berhasil di eksekusi dengan cepat.
Pedro dan Shera berperan penting dalam penyergapan. Mereka berhasil membuat luka fatal pada musuh dan kelompok lainnya mengeksekusinya.
Kate Bishop mengerutkan keningnya, dia tahu bahwa Topeng Misterius adalah orang suruhan. Namun siapa yang menyangka dia malah ingin menyelamatkannya.
"Apa kau yakin ingin melepaskan pasukanku?" tanya Kate Bishop.
"Kita sama-sama sedang berbisnis. Aku tidak bisa melakukan pekerjaan yang melebihi kapasitas." Allen mencoba menjelaskan garis bawahnya.
Namun negosiasi gagal karena dua Pria Tua datang dan menyerang Allen. "Berisik sekali kau, Bocah."
Allen yang sedikit terlambat menyadarinya hanya bisa menggunakan Mana Shield. Dia terlempar hingga membentur batu keras.
Debu beterbangan dan menutupi semua gerakan. Allen dengan cepat memakan pik penyembuhan tingkat tinggi.
Semua lukanya langsung sembuh dan dia berdiri sepeti tidak terjadi apa-apa. "Serangan yang mengesankan, aku kira kita bisa saling membantu tapi ternyata tidak," katanya sambil membersihkan pakaian.
Tidak hanya Kate yang terkejut, tapi dua orang yang menyerang sebelumnya juga kaget. Allen jelas-jelas terkena serangan telak tapi dia tidak terluka.
"Tunggu dulu, Kawan. Mungkin ada salah paham disini, ayo bicarakan baik-baik." Kate mulai menyadari posisinya, dia tidak mungkin menang melawan monster bertopeng hitam di depannya.
50 orang pasukan Raja Surgawi datang di belakang Allen, mereka mengenakan topeng hitam dan pakaian serba hitam.
"Kami sudah menyelesaikan tugas, ada satu korban di pihak Keluarga Muller." Ye Mo membuat laporan.
"Kami juga sudah selesai, ada satu korban di Keluarga Muller." Budi membuat laporan.
Semua orang terluka, tapi aura meraka masih stabil tak terganggu. Hal itu membuat Kate dan dua pengawalnya gemetar ketakutan.
"Apa semua musuh sudah dieksekusi?" tanya Allen dengan suara cukup keras sehingga tiga orang di depan mendengarnya.
"Pejuang Tingkat 7 milik musuh tinggal 5, termasuk mereka bertiga. Simon dan Thomas bersikeras ingin bertarung sendiri." Ye Mo memberikan informasi.
"Apa kalian dengar, kita sudah ada di atas angin. Meneruskan penyerangan hanya akan menambah korban di pihak mu." Allen memberi saran baik.
"Mungkin ini perlu aku katakan, korban Keluarga Muller 50 meninggal dan lainnya luka-luka bisa disembuhkan." Allen malah mengatakan omong kosong, dia sebenarnya juga tidak tahu laporan terkini medan perang.
Kate mengeratkan giginya, dia sudah tidak ada pilihan. Jika mundur maka harga dirinya akan hancur, tapi menyerang sekarang sangat beresiko.
"Bos, jangan ragu. Tim bantuan akan segera datang," kata seorang Pengawal di belakang Kate.
__ADS_1