SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 100


__ADS_3

Sesuai janji Santi kepada ayahnya, masih pagi-pagi sekali, Anang dan Santi sudah menemui ayah Santi dirumahnya.


Ayah Santi juga tampaknya sudah menunggu kedatangan mereka disana, karena ketika Anang dan Santi tiba, ayahnya sedang berdiri dipintu pagar rumahnya sambil celingak-celinguk kearah jalanan, dan akhirnya tersenyum ketika Anang dan Santi turun dari mobil taksi, yang mengantarkan mereka berdua.


"Kita langsung saja kesana!" kata ayah Santi lalu buru-buru berjalan dengan Anang dan Santi, yang menyusulnya dari belakang.


Tidak jauh, justru sangat dekat jika itu hanya petakan kamar kost seperti pada umumnya.


Hanya berselisih dua rumah, dari rumah tempat ayah Santi tinggal.


Tapi, karena ukuran halaman-halaman dan rumah-rumah disitu yang luas, maka masih bisa membuat ayah Santi terlihat ngos-ngosan, ketika berjalan dengan tergesa-gesa seperti itu.


Rumah dengan ukuran yang kelihatannya tidak kalah besar dengan rumah ayah Santi, dimasuki mereka sekarang.


Halaman yang mungkin sempat lama tidak terurus, kini sedang dibersihkan oleh beberapa orang disitu.


Begitu juga dijalan masuk kerumah itu, ada orang yang sedang membersihkan paving blok, yang ditumbuhi rumput disela-selanya.


"Lusa, kalian sudah bisa menempatinya," celetuk ayah Santi, sambil terus berjalan kepintu depan rumah itu.


Tidak kalah ramai, didalam rumah terlihat lebih banyak lagi orang yang tampak sibuk membersihkan rumah itu.


Ayah Santi terlihat sibuk memeriksa pekerjaan orang-orang disitu, sedangkan Anang dan Santi berjalan berkeliling didalam rumah.


Anang rasanya tidak percaya kalau dia dan Santi akan menempati rumah sebesar itu.


Bagaimana merawat rumah seperti itu, kalau mereka hanya berdua saja yang tinggal disitu?


Langit-langit rumah yang seakan tidak bisa tersentuh Anang, meski memakai tangga.


Anang jadi ingat waktu dia masih kerja serabutan mengikuti tukang bangunan dulu.


Untuk mencapai dinding teratas dan langit-langit setinggi itu, harus memasang banyak kuda-kuda dari kayu.


"Apa rumah ini nggak terlalu besar?" tanya Anang sambil berbisik kepada Santi.


"Bukannya bagus kalau punya rumah besar?" Santi balik bertanya.


Anang menggelengkan kepalanya.


"Kalau kita punya banyak anak, bebas mereka bermain didalam sini nanti," ujar Santi sambil tersenyum.


Anang meremas tangan Santi yang dipegangnya sejak tadi.


"Jauh amat mikirnya..." sahut Anang.


"Kamu nggak mau punya anak denganku?" tanya Santi lalu tertawa pelan.

__ADS_1


"Mau!" jawab Anang buru-buru.


"Tapi 'kan belum sekarang..." sambung Anang.


Santi kembali tertawa pelan.


"Nanti disini dipasang pagar, biar anak-anak nanti nggak jatuh terguling kebawah sana," ujar Santi ketika mereka berdua naik kelantai dua rumah itu, dan menginjakkan kaki di anak tangga paling atas.


Mendengar perkataan Santi, Anang lalu menarik Santi agar berdiri berhadap-hadapan dengannya.


"Jangan bercanda terus! Mengongkosi kamu dengan rumah ini saja, aku belum tentu bisa, apalagi kalau sampai kita buru-buru punya anak," ujar Anang serius.


"Santai saja! Kalau untuk merawat rumah ini, nanti aku minta Papa siapkan pekerja yang bisa tinggal dengan kita, dan membantu mengurus rumah tiap hari," sahut Santi enteng sambil mengelus wajah Anang dengan lembut.


"Ongkos sewa kost, bisa dialihkan untuk mengongkosi anak-anak saja nanti," sambung Santi yang masih saja mengejek Anang.


Anang memeluk Santi erat-erat dan mengecup pipinya pelan.


"Kamu memang mau kita cepat punya anak? Nanti kamu mau kita nggak bisa ngapa-ngapain lagi? Boleh, asal jangan protes saja!" ujar Anang.


Santi tertawa terbahak-bahak.


"Aku cuma bercanda... Nanti saja punya anaknya, biar aku masih bisa main-main denganmu" sahut Santi lalu mencium bibir Anang dengan lembut.


Mereka berdua masih asyik berciuman, ketika suara ayah Santi terdengar setengah berteriak memanggil mereka.


Buru-buru keduanya menghentikan ciumannya, dan berjalan menuruni tangga.


"Kami melihat-lihat dilantai atas. Sebentar kami turun!" sahut Santi sambil berjalan dengan Anang.


Anang bisa melihat pipi Santi yang kemerahan, karena menahan tawanya.


Anang hanya bisa tersenyum, melihat gelagat Santi yang kelihatannya masih ingin mengejek Anang.


"Awas saja nanti!" bisik Anang ditelinga Santi.


Ayah Santi terlihat berdiri tepat didepan tangga, sambil melihat-lihat kesana kemari.


"Bagaimana? Kalian suka?" tanya ayah Santi.


"Kata Anang rumah ini kebesaran," sahut Santi sebelum Anang sempat berkata apa-apa.


"Rumah ini cocok kalau kalian sudah punya anak nanti," ujar ayah Santi enteng.


Santi lalu tertawa terbahak-bahak, lagi.


Anang tersipu malu, dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Santi memang akan membuat Anang menggigitnya, saking gemasnya.


Ayah Santi hanya ikut tertawa melihat gerak-gerik Santi dan Anang disitu.


"Papa mau punya cucu secepatnya kalau kalian sudah menikah," celetuk ayah Santi yang kini memasang wajah serius.


Hah?


Apa Anang tidak salah dengar?


Anang menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


"Papa sengaja membeli rumah ini, supaya kalau Santi menikah, tinggalnya tidak jauh-jauh dari Papa.


Jadi kalau Santi sudah punya anak, Papa bisa datang kapan saja untuk bermain dengan cucu Papa," kata ayah Santi masih dengan wajah serius.


"Kalian bisa lihat kalau Papa sudah semakin tua. Apalagi yang ayah cari, kalau bukan menghabiskan waktu dengan anak cucu," sambung ayah Santi lagi.


Itu pembahasan yang berat bagi Anang.


Anang hanya terdiam, begitu juga Santi yang berhenti tertawa begitu saja.


"Aku masih mau melihat-lihat," ujar Santi mengalihkan pembicaraan, lalu berjalan sambil menarik tangan Anang agar ikut dengannya.


"Nggak usah pikirkan omongan Papa. Kalau kita belum siap, kita tetap bisa menundanya," ujar Santi sambil berjalan bersama Anang, jauh sampai kebagian belakang rumah.


Ketika mereka masih berkeliling dibagian belakang rumah itu, ponsel Santi berbunyi berulang-ulang.


Santi lalu terlihat sibuk menerima panggilan, yang masuk diponselnya, dan berbicara disitu cukup lama.


"Kita harus pergi ke kecamatan asalmu. Anak buah Lia tidak bisa melakukannya. Katanya ada sedikit kendala, jadi harus kita yang kesana sendiri," kata Santi, sambil memasukkan ponselnya kedalam tasnya.


"Ayo kita pergi sekarang, mumpung masih pagi. Kita ada waktu sampai malam nanti, baru kamu ketempat undangan," ajak Santi sambil menggandeng tangan Anang.


Mereka kemudian berjalan menemui ayah Santi, yang masih sibuk memperhatikan pekerjaan orang-orang yang membersihkan rumah itu.


"Papa! Kami harus pergi sekarang. Ada yang harus kami urus dulu. Nggak apa-apa 'kan?" ujar Santi.


"Nggak apa-apa. Kalian keluar duluan saja, papa masih mau disini dulu," kata ayah Santi.


"Kami permisi dulu, Pak!" ujar Anang berpamitan kepada ayah Santi.


"Iya. Hati-hati!" sahut ayah Santi.


Sambil berjalan keluar dari rumah itu, Santi lalu terlihat memesan taksi untuk mereka pakai menuju kantor Lia.


Tidak terlalu lama mereka menunggu, jemputannya sudah datang, dan membawa Anang dan Santi pergi dari perumahan itu.

__ADS_1


__ADS_2