SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 127


__ADS_3

Sejak dalam perjalanan kembali, sampai mereka tiba di apartemen, Anang merasa kalau badannya semakin tidak enak.


Bahkan sekarang, rasanya Anang akan menggigil, meski Santi sudah menaikkan suhu pemanas didalam kamar mereka, dan Anang yang memakai jaket, ditambah selimut tebal, sambil berbaring di ranjang, Anang tetap merasa dingin.


Leher, dan kepalanya terasa sangat sakit, sampai-sampai Anang tidak tahan untuk membuka mata, karena rasanya Anang akan muntah karena pandangannya yang berputar-putar.


Dahi dan hidung Anang terasa panas, dan kemungkinan ada ingus encer yang mengalir keluar dari hidungnya, tanpa bisa Anang kendalikan.


"Kamu demam tinggi...!" suara Santi terdengar cemas, sambil tangan Santi menyentuh dahi Anang.


"Kita pergi berobat ya?" tanya Santi, yang terasa sedang memegang lengan Anang, dari atas selimut.


"Masih tahan berjalan, nggak?" tanya Santi lagi.


Anang tidak mau menjawab, hanya berusaha menggelengkan kepalanya pelan.


Santi mengusap-usap kepala Anang.


"Kalau begitu, kamu tunggu disini. Aku pergi membeli obat untukmu," kata Santi.


Anang bisa merasakan kalau Santi mengecup dahinya, sebelum terdengar suara pintu terbuka, dan tertutup lagi.


Anang mulai merasa sulit bernafas, karena hidungnya yang tersumbat, dan makin membuat kepalanya pusing dan sakit.


Mau tidak mau Anang bernafas dari mulutnya, dengan hawa nafas yang panas, saat dikeluarkan Anang dari paru-parunya.


Anang bukannya tidak pernah merasa sakit flu, tapi sakitnya ini rasanya berlebihan dari sakit flu biasa.


Mungkin ini akibatnya gara-gara sempat berpikiran nakal dengan wanita lain.


Anang benar-benar menyesal, telah mengkhianati Santi meski hanya dengan pikirannya saja.


Semakin lama, Anang semakin sulit bernafas, seakan ada yang menyumbat di paru-parunya, yang membuat oksigen tidak bisa mencapai didalam sana, meski Anang sudah berusaha bernafas melalui mulutnya.


Dadanya yang sesak dan sakit, lengkap dengan rasa lutut dan sendi-sendi yang ngilu.


Anang berusaha agar bisa tertidur, tapi tidak bisa.


Badannya bergetar hebat, karena menahan rasa sakitnya.


Untuk beberapa waktu Anang sendirian didalam kamar apartemen, Anang kemudian bisa mendengar suara pintu terbuka dan tertutup, dan langkah kaki yang berjalan cepat seperti sedang berlari menghampirinya.


"Aku tadi membeli sup. Kamu makan dulu, baru minum obat ya," suara Santi makin terdengar cemas.


Santi membantu Anang untuk duduk.


Sambil duduk diatas ranjang dan bersandar didinding, Anang mencoba membuka matanya, tapi rasanya Anang tidak sanggup membuka mata lama-lama.


Anang kembali memejamkan matanya.


"Makan ya, aku suap..." ujar Santi pelan.

__ADS_1


Setiap Anang merasa ada sesuatu menyentuh bibirnya, Anang membuka mulutnya.


Santi menyuapkan Anang, sup yang masih hangat, cukup banyak, sampai Anang tidak mau makan lagi.


Santi juga memberikan Anang obat, untuk diminum Anang.


"Kalau kamu rasanya nggak membaik, kita harus ke rumah sakit. Aku nanti menelpon jalur darurat, biar kamu dijemput ambulance," kata Santi sambil memeluk Anang yang masih duduk bersandar.


"Mau berbaring lagi?" tanya Santi.


Anang menggelengkan kepalanya.


Saat duduk seperti itu, rasanya Anang bisa bernafas lebih baik dari pada saat berbaring tadi.


Santi masih tetap duduk, dan tidak melepas pelukannya dari Anang.


"Aku sudah menduga, kalau kamu mungkin tidak akan tahan dengan perubahan suhu yang tiba-tiba, seperti ini..." celetuk Santi.


Anang bisa merasakan kalau Santi beberapa kali mengecup dahi Anang, sambil tetap memeluk Anang disitu untuk beberapa waktu lamanya.


Mungkin karena obatnya sudah mulai bereaksi, Anang mulai seperti mati rasa, dan sudah mulai hilang kesadarannya.


Anang tidak lagi mendengar suara apa-apa, atau mengingat apa yang terjadi disekitarnya, entah itu sentuhan atau pelukan Santi.


Anang pasti tertidur, atau jatuh pingsan?


Yang jelas Anang tidak ingat apa-apa lagi.


Semuanya sudah menghilang.


Ketika Anang terbangun, dan membuka matanya, Anang melihat Santi yang kelihatannya sudah tertidur dikursi didekat ranjang, tempat Anang yang sekarang sudah berbaring.


Santi tertidur dengan posisi duduk, dan hanya menelungkupkan wajahnya disamping Anang.


Anang meraba dahinya, yang rasanya seperti ada sesuatu yang menempel disana.


Selembar kain handuk yang terlipat kecil.


Tampaknya, Santi mengompres dahi Anang dengan kain lembab.


Rasa sakit di badan Anang sudah berkurang banyak, meski Anang belum sepenuhnya merasa lega.


Anang lalu menyentuh Santi, tapi Santi seakan tidak merasakan sentuhan Anang, dan tetap tertidur pulas.


Anang berusaha duduk, dan perlahan-lahan mencoba beranjak turun dari ranjang.


Ketika Anang memeluk Santi dan menggendongnya, barulah Santi terbangun.


"Kamu sudah baikkan?" tanya Santi dengan wajah yang terlihat lemas.


"Lumayan..." Anang menjawab Santi, tapi ketika Anang membuka mulutnya untuk bicara, suaranya hampir tidak ada yang keluar.

__ADS_1


Suara Anang makin serak.


Santi mengerutkan alisnya.


"Kamu makin serak. Nggak usah ngomong dulu. Turunkan saja aku! Aku bisa ke tempat tidur sendiri," kata Santi.


"Kamu istirahat saja dulu!" sambung Santi lagi.


Tapi Anang tetap menggendong Santi, dan membaringkannya diranjang, sebelum Anang juga ikut berbaring di ranjang bersampingan dengan Santi.


"Demam mu sudah mulai turun," kata Santi sambil meraba dahi Anang, dengan punggung tangannya.


"Tadi demammu sempat tinggi sekali, kamu juga sempat banyak mengigau,


Kamu benar-benar membuatku cemas...


Aku hampir meminta ambulance untuk membawamu ke rumah sakit, tapi karena aku melihatmu mulai tenang, makanya aku masih menunggui mu disini saja," kata Santi sambil memeluk Anang.


Anang menghela nafas panjang.


Saluran pernafasan Anang sudah terasa lebih baik dari pada tadi, meski salah satu hidungnya masih tersumbat, tapi dadanya sudah tidak sakit.


Entah karena efek obat yang membuat rasa sakitnya menghilang, atau Anang memang sudah membaik.


Santi lalu mengambil ponselnya, dan melihat sesuatu dilayarnya.


"Kamu bisa minum obatnya lagi," ujar Santi, lalu beranjak turun dari ranjang, dan membawakan Anang air minum dan obat.


Anang meminum obatnya lagi, kemudian kembali berbaring, begitu juga Santi yang juga berbaring disamping Anang, dan memeluk Anang erat-erat.


"Istirahat saja... Nggak usah mikir yang macam-macam sampai mengigau!" kata Santi pelan.


Memangnya Anang mengigau apa'an?


Jangan-jangan...


Jantung Anang terasa berdegup kencang karena merasa agak gugup.


Mau saja Anang bertanya kepada Santi, tapi suaranya yang menghilang, juga ada rasa khawatir, kalau-kalau dia mengigau tentang...


Kalau sampai Anang mengigau tentang jeruk bali, memang akan tamat riwayat Anang nanti, kalau Anang sudah sehat.


Bisa saja 'kan Santi tidak marah dengan Anang sekarang, hanya karena Anang lagi sakit?!


Tapi bagaimana kalau Anang sudah tidak sakit lagi?


Dada Anang tiba-tiba terasa sesak lagi, entah karena memang lagi sakit, atau karena gugup.


Anang berusaha tenang sebisanya, sambil memeluk Santi yang sudah mulai tertidur lagi.


Mudah-mudahan Anang memang bukan mengigau tentang 'itu'.

__ADS_1


__ADS_2