SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 48


__ADS_3

Anang baru berhenti berjalan, saat merasa sudah cukup jauh dari orang-orang, yang mungkin mau menonton kelanjutan adegan mereka bertiga.


Di parkiran yang cukup sepi, Anang berhenti berjalan, kemudian berbalik.


Diterangi lampu sorot, kedua wanita itu terlihat sedang berdiri, sambil memangku tangan.


Santi terlihat seperti sedang menahan tawanya, sambil melihat Gita, sedangkan Gita tampak serius menatap Anang.


Anang menghela nafas panjang yang terasa sangat berat.


Entah apa yang harus Anang katakan.


Raut wajah Santi, merusak konsentrasi Anang.


Anang merasa sangat gemas dengan sikap Santi yang tampak kekanak-kanakkan.


Anang hampir lupa dengan kemarahannya kepada dua wanita itu, bahkan rasanya dia akan tertawa saat itu juga.


"Santi!" ujar Anang dengan suara yang ditegas-tegaskan, meski dalam hati, Anang masih merasa geli melihat Santi.


Santi melihat Anang sambil tersenyum lebar.


Perasaan, Anang sudah berpura-pura marah dengannya, tapi Santi tampaknya tidak perduli.


Anang lalu membesarkan matanya ke arah Santi, barulah Santi terlihat menggigit bibirnya sendiri, seolah-olah sedang berusaha untuk berhenti tersenyum.


Kembali Anang menghela nafas panjang.


"Kamu kenapa?" tanya Anang serius, sambil melihat Gita.


"Aku mau kita pacaran! Kamu juga harus jauh-jauh darinya!" kata Gita tegas.


Spontan, terdengar Santi yang tertawa terbahak-bahak.


Anang menatap Santi lekat-lekat.


Santi lalu menutup mulutnya dengan tangannya, meski suara nafasnya terdengar seakan tercekik, mungkin karena menahan rasanya untuk tertawa.


"Jangan aneh-aneh!" kata Anang kini sambil melihat Gita lagi.


"Kenapa? Kamu nggak mau pacaran denganku? Atau kamu nggak mau jauh darinya?" tanya Gita, berentet seperti senapan mesin.


"Santi, membantuku mengurus pekerjaanku," sahut Anang.


Jelas sekarang Anang ragu apakah masih mau pacaran dengan Gita atau tidak, meski masih ada sisa sedikit perasaan untuk Gita.


Apalagi melihat sikap Gita sekarang, yang ternyata tidak semanis wajahnya.


"Jangan banyak alasan! Kamu mau dia tetap berhubungan s*x denganmu 'kan?" ujar Gita dengan suara tinggi.


Mata Anang terbelalak, pasti Santi yang beritahu Gita, karena kalau tidak, dari mana lagi sampai Gita bisa mengetahuinya.


Santi memalingkan wajahnya kearah lain, saat Anang melihatnya.


"Aku mau menggantikannya. Asal kamu jadian denganku!" ujar Gita lagi.

__ADS_1


Hah?


Rasanya Anang harus mencuci telinga, dan wajahnya sekarang.


Anang mungkin salah dengar perkataan Gita, atau mungkin Anang sedang bermimpi sekarang.


"Kita threesome juga bisa. Malah lebih seru," kata Santi bersemangat.


Apalagi itu?


Ah, Capek.


"Santi! Tolong, pesankan aku taksi! Aku ngantuk, aku mau kembali ke kost sekarang," kata Anang.


Anang tidak mau mengurus kegilaan dua wanita itu, lebih baik Anang pulang dan tidur.


"Aku saja yang antar," ujar Gita.


"Aku masih mau bicara denganmu," sambung Gita lagi.


"Aku sudah pindah tempat kost," ujar Anang, sambil melihat Santi yang sedang mengetik dilayar ponselnya.


"Kamu tinggal di mana?" tanya Gita.


"Nggak tahu," sahut Anang, yang sudah tidak sabaran untuk pergi dari situ.


"Sebentar lagi datang jemputannya. Kita ke pinggir jalan saja, biar orangnya nggak kesulitan mencari kita" ujar Santi.


"Kamu ikut pulang?" tanya Anang kepada Santi, meski di sampingnya, suara Gita berusaha memecah percakapan antara Santi dan Anang.


Anang lalu berjalan, dengan Santi yang ikut berjalan di sampingnya, begitu juga Gita yang ikut berjalan di sisi Anang yang kosong, sambil berbicara.


Anang tidak mendengar, dan tidak mau mendengar apa yang Gita bilang, dan terus berjalan dengan Santi, meski Gita juga ikut berjalan di sampingnya, dan tetap bicara kepada Anang.


"Gita!" seru Anang, yang sudah tidak tahan dengan suara Gita yang seperti sayap nyamuk, yang mendengung di telinga Anang.


"Aku lelah sekali sekarang! Tolong jangan ganggu aku!" kata Anang tegas.


Gita akhirnya bisa berhenti bicara, dan juga berhenti mengikuti langkah Anang.


"Apa kamu nggak terlalu keras dengannya?" tanya Santi pelan, tapi terdengar seakan-akan sedang mengejek.


"Santi! Kamu juga! Tolong diam dulu!" kata Anang, sama tegasnya seperti waktu bicara dengan Gita.


Santi terdiam, dan terlihat memutar-mutar aksesoris ponselnya yang menjuntai.


Anang tidak mau melihat wajah Santi, karena saat ini Anang yakin, kalau Santi pasti sedang memasang tampang masa bodohnya lagi.


Gitar Anang sekarang rusak.


Dua wanita yang bersamanya nggak ada yang waras.


Hanya saja masih untung, karena pekerjaannya masih bisa lancar malam ini.


Melelahkan!

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, sampai mereka tiba di kamar kost, Santi tidak berbicara atau mengeluarkan suara apa-apa.


Anang yang tenggelam dalam pikirannya hanya ikut terdiam.


Anang membuka kemeja dan celana panjangnya, dan langsung berbaring hanya dengan memakai celana pendek, yang baru dibelinya siang tadi dengan Santi.


Santi juga begitu, tetap tidak bicara, dan membuka pakaiannya lalu ikut berbaring ke ranjang, hanya memakai pakaian dalam yang ditutupnya dengan selimut.


Rasa lelah seharian, belum lagi drama ditempat undangan tadi membuat mereka berdua tidak ingat apa-apa lagi, keduanya lalu tertidur pulas.


***


Rasanya masih terlalu pagi, tapi Anang bisa mendengar Santi sedang berbicara dengan bahasa asing di ponselnya, sambil tetap berbaring di ranjang.


Kalau Anang tidak salah dengar, Santi menyebut nama Mister Grand.


Anang menggeser badannya lalu, berbaring menyamping menghadap kearah Santi.


Meski tidak paham dengan apa yang dibicarakan Santi, tetap saja bisa membuat Anang penasaran.


Dengan ponsel yang masih menempel di telinganya, Santi lalu menoleh kearah Anang yang bergerak, dan mungkin menarik perhatiannya.


Santi masih bicara bersahut-sahutan di ponselnya, lalu mengelus-elus pipi Anang dengan lembut, meski matanya tidak melihat Anang, dan tampak serius bicara dengan orang di seberang.


Wanita ini memang membuat Anang bisa salah sangka.


Anang membiarkan sentuhan tangan Santi di wajahnya, yang membuat Anang merasa nyaman.


Seandainya saja...


"Hari ini kita pergi ke studio rekaman temannya Mister Grand. Mumpung hari ini, kamu cuma punya janji malam nanti," celetuk Santi, sambil menyamping untuk meletakkan ponselnya ke lantai.


Sekarang pikiran Anang sedang kosong. Apa saja yang dikatakan Santi barusan, tidak ada yang masuk di kepalanya.


Santi lalu berbalik lagi, sampai berhadap-hadapan dengan Anang.


"Maafkan aku... Kamu suka dengan wanita itu? Eh, maksudku Gita? Tadi malam aku cuma bercanda....


... Aku juga nggak nyangka, kalau dia malah anggap itu serius" kata Santi, kemudian kembali meletakkan tangannya di pipi Anang, dan mengelusnya pelan.


Permintaan maaf Santi, menyadarkan Anang dari lamunan kosongnya.


Anang tidak mau menanggapi perkataan Santi.


Masih terlalu pagi untuk membahas hal itu.


Anang memegang ujung dada Santi yang masih terbuka di bawah selimut.


"Mau?" tanya Santi sambil tersenyum, dan menggigit bibirnya sendiri.


***


Tidak ada kata 'terlalu pagi' untuk berolahraga.


Sudah basah dengan keringat, Anang yang terlebih dahulu pergi mandi, sebelum nanti bergantian dengan Santi.

__ADS_1


"Kita masih sempat singgah membeli gitar baru untukmu sebentar, kalau kamu cepat mandinya!" teriak Santi, ketika Anang masih di dalam kamar mandi.


__ADS_2