SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 23


__ADS_3

Anang melihat rumah yang sebesar istana kerajaan yang biasa ada dibuku dongeng, waktu dia masih anak-anak.


Anang kembali melihat pesan diponsel yang dikirim remaja, yang memintanya bernyanyi dipesta ulang tahunnya.


Alamatnya benar, tapi Anang tidak menyangka kalau yang mengundangnya adalah anak dari pemilik istana megah.


Sambil berjalan pelan, Anang mendekati bangunan pos keamanan yang bediri tepat disudut pagar masuk kerumah itu.


"Permisi!" ujar Anang saat melihat seorang satpam yang sedang duduk didalamnya.


"Iya! Ada apa ya?" tanya satpam itu yang sekarang sudah berdiri saat Anang berdiri didekat pintu.


"Apa alamat ini benar disini?" tanya Anang sambil memperlihatkan isi pesan dilayar ponselnya kepada satpam itu.


"Oh... Iya benar. Kenapa?" tanya satpam tampak heran melihat Anang.


"Maaf, Pak! Saya diminta bernyanyi untuk pesta ulang tahun. Tapi saya bingung melihat tempat ini, apa memang benar atau saya salah alamat," kata Anang.


Satpam itu lalu memandangi Anang dari ujung rambut sampai kekakinya.


"Coba saya lihat undangannya!" kata satpam itu yang tampak seakan tidak percaya dengan Anang.


Anang kembali memperlihatkan ponselnya yang berisi pesan-pesan dari remaja yang mengundangnya.


Satpam itu tampak serius membaca, sambil menggeser-geser layar ponsel Anang.


"Hmm... Ikut saya kalau begitu!" kata Satpam itu yang kemudian mulai berjalan masuk.


Anang kemudian mengikuti saja langkah satpam itu.


Bukan masuk lewat pintu depan yang seperti gerbang raksasa, melainkan satpam membawanya kesamping rumah.


"Tunggu sebentar disini!" kata satpam itu saat mereka sudah berdiri dilantai teras samping rumah besar itu.


Anang kemudian menganggukkan kepalanya.


Satpam itu lalu berjalan masuk, dan meninggalkan Anang sendirian disitu.


Anang melihat kesana kemari.


Rumah itu luar biasa megahnya. Dengan lantai marmer, dan kualitas beton dengan cat dinding yang bagus. Belum lagi hiasan batu alam dipilar-pilar besar, dan beberapa bagian dinding rumah.


Terang benderang lampunya, mengalahkan terangnya lampu sorot yang ada diatas jembatan layang.


Anang rasanya tidak tega menginjak lantai marmer dengan sandal jepit dikakinya. Harga lantai itu, lebih mahal dibandingkan dengan semua bangunan kost liar tempat tinggal Anang yang digabung lalu dijual.


Tidak lama satpam itu kembali bersama seorang laki-laki paruh baya yang memakai setelan jas, dan sepatu kulit mengkilat, dengan seorang remaja perempuan yang bergelayut manja dilengannya yang memakai gaun yang sangat cantik, dan terlihat mewah dengan sendal hak tinggi penuh dengan hiasan manik-manik.

__ADS_1


"Bang Anang?" tanya gadis itu, tampak bersemangat dan tersenyum lebar.


Sedangkan laki-laki yang disampingnya tampak memandangi Anang dari ujung rambut sampai kekakinya.


"Iya!" sahut Anang.


"Papi, ini orangnya yang papi lihat videonya kemarin," kata gadis itu.


Ternyata laki-laki yang bersama gadis itu adalah ayahnya.


Anang menganggukkan kepalanya, sambil melihat kearah laki-laki paruh baya yang masih memandanginya.


Satpam yang mengantar Anang kemudian membungkuk kearah tuannya, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.


"Maaf, anak muda. Tapi, apa kamu tidak ada pakaian yang lebih rapi?" tanya laki-laki itu, suaranya terdengar hati-hati dan ramah, tapi kata-katanya agak pedas ditelinga Anang.


Seperti pisau, yang ada bagian tumpul, dan ada juga bagian tajamnya, ditusukkan langsung kedada Anang.


"Maaf, Pak! Ini pakaian saya yang paling baik yang saya punya. Yang lain sudah banyak robeknya," kata Anang pelan.


Jujur saja, terserah mau dibilang apa, atau mau ditertawai. 'Kan anaknya yang mengundang Anang, bukan Anang yang tidak tahu malu datang kesana tanpa diundang.


Tidak disangka Anang, laki-laki itu mengajaknya masuk sampai keruang tengah rumahnya, lalu menyuruh Anang duduk disofa yang ada disana.


Anang meninggalkan sandal jepitnya diteras tadi, lalu mengikuti arahan lelaki itu.


"Sebentar ya!" kata laki-laki itu saat Anang sudah duduk.


Tidak lama, ada seseorang yang tampak seperti pelayan berseragam, mendatangi laki-laki itu yang masih berdiri, sedangkan anak gadisnya sudah berjalan pergi dari situ.


Laki-laki itu berbicara dengan seorang pelayan yang baru mendatanginya itu, kemudian pelayan itu berjalan pergi.


Laki-laki itu lalu ikut duduk disofa, dan melihat ke kaki Anang.


"Sendalmu mana?" tanya laki-laki itu.


"Eh, Saya tinggal diluar tadi, Pak," jawab Anang.


"Kenapa harus dibuka? Apa tidak dingin?" tanya laki-laki itu.


"Tidak apa-apa, Pak. Sendal saya kotor," sahut Anang.


Seorang pelayan tadi lalu kembali mendekat kearah laki-laki pemilik rumah, dan memperlihatkan bawa'annya ditangannya.


"Maaf, ya nak Anang. Saya bukan mau menyinggungmu, tapi diluar banyak tamu. Jadi agar mereka tidak meremehkan penampilanmu, nak Anang, sebaiknya mengganti pakaian," kata si pemilik rumah itu.


Si pemilik rumah lalu memberi tanda kepada pelayannya untuk memberikan bawa'annya kepada Anang.

__ADS_1


"Maaf, nak Anang, itu hanya pakaian bekas anak sulung saya, tampaknya ukurannya sesuai dengan nak Anang. Sekarang anakku sudah pindah keluar negeri, dan dia juga tidak memakai pakaian itu lagi. Tidak apa-apa?" ujar pemilik rumah kepada Anang.


"Tidak apa-apa, Pak. Terimakasih banyak!" sahut Anang, menerima pakaian dan sepatu yang diberikan pelayan.


Anang kemudian diantar pelayan kesalah satu ruang kamar.


"Ganti baju disitu saja!" kata pelayan sambil mempersilahkan Anang untuk masuk kedalam kamar.


Anang kebingungan, tapi menurut saja.


Orang sekaya itu percaya saja orang asing didalam rumahnya?


Apa dia tidak khawatir kalau-kalau Anang seorang maling?


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


Buru-buru mengganti pakaiannya.


Dan cocok. Ukuran pakaian itu pas dibadan Anang. Kemeja lengan panjang polos, lengkap dengan Jas, dan celananya. Meski sepatunya agak longgar sedikit, tapi tidak mengganggu Anang.


Anang menggulung pakaian yang tadi dia pakai dari tempat tinggalnya, dan menenteng sepatu yang baru saja diberikan pemilik rumah kepadanya.


Anang harus bergerak cepat, takut dikira sedang mencuri sesuatu didalam kamar itu, kalau dia terlalu lama disitu.


Ketika Anang sudah kembali ketempat pemilik rumah tadi duduk, dia disambut dengan senyuman lebar laki-laki pemilik rumah itu.


"Kamu mengingatkanku dengan si sulung. Dia sudah menikah. Jarang-jarang dia bisa berkunjung kesini lagi," kata pemilik rumah itu.


Tapi raut wajahnya berubah, ketika melihat kaki Anang.


"Kenapa sepatunya belum dipakai? Ukurannya tidak cocok?" tanya pemilik rumah itu.


"Anu... Saya tidak pernah pakai sepatu didalam rumah. Apalagi lantainya sebagus ini," sahut Anang, sambil menundukkan kepalanya.


Laki-laki itu tertawa pelan, lalu berdiri dan berjalan menghampiri Anang.


"Pakai saja. Tidak apa-apa," kata pemilik rumah itu, sambil menepuk-nepuk punggung Anang.


Meski ragu-ragu, Anang kemudian memakai sepasang sepatu yang sejak tadi hanya dipegangnya.


"Berikan pakaianmu itu kepada pelayan. Nanti dia yang simpankan," kata pemilik rumah itu sambil tetap berdiri didekat Anang.


Anng menyodorkan gulungan pakaiannya kepada pelayan yang berdiri dibelakangnya.


"Ayo kita lihat kemampuanmu!" kata pemilik rumah itu.


Anang lalu mengambil gitarnya, kemudian mengikuti kemana pemilik rumah itu pergi.

__ADS_1


__ADS_2