
Rasanya sudah cukup sore, karena sekarang matahari sudah lebih condong ke barat.
Sambil melihat layar ponsel, Anang memastikan waktu sekarang sudah pukul berapa, sebelum Anang melangkahkan kakinya, berjalan menuju ke kebunnya lagi.
Dari kejauhan, Anang melihat sebuah mobil berlambang perusahaan listrik negara, sedang terparkir dipinggir jalan, tapi tidak ada satupun pekerjanya yang kelihatan disitu.
Setelah Anang sudah lumayan dekat, barulah kelihatan beberapa pegawai perusahaan itu, sedang sibuk mengatur kabel dengan tambahan tiang, karena jarak yang cukup jauh kedalam barak, yang ada dilahan tetangga.
Anang tidak terlalu memperhatikan lebih jauh, karena Anang harus memeriksa pekerjaan penanaman dikebunnya, yang semestinya sudah selesai dikerjakan.
Benar saja.
Orang-orang yang bekerja untuk Anang, sudah duduk-duduk dibawah pondok beratap daun sederhana, yang jadi tempat menyimpan bibit tanaman akasia.
Ketika mereka melihat Anang, mereka lalu berkata, kalau hampir saja mereka menyusul Anang kerumahnya, karena pekerjaan mereka yang sudah selesai, dan tinggal mengambil imbalan untuk hasil kerjanya.
Anang mentransfer sejumlah uang sesuai perjanjian, lalu memperlihatkan buktinya yang muncul dilayar ponselnya.
Karena, yang punya rekening tidak memiliki aplikasi perbankan diponselnya, dan nanti harus mendatangi bank, untuk mengecek uang yang masuk.
Setelah melihat bukti transfer diponsel Anang, mereka lalu berpamitan dengan Anang, sambil saling mengucapkan terimakasih.
Anang melihat tanaman yang sudah berjejer rapi, sepanjang mata Anang memandang di area kebunnya.
Sambil berjalan, Anang memeriksa tanaman yang ditanam paling awal, dan kelihatannya tidak ada tanda-tanda bibit yang perlu disulam.
Semua tanaman itu terlihat segar, dan kemungkinan besar tidak ada yang akan mati begitu saja.
Anang tersenyum puas.
Tidak ada uang tabungan Anang, yang hanya terbuang sia-sia.
Kalau berhasil tumbuh, dan persidangan sudah selesai, dan bisa memenangkan Anang, dia akan kembali bekerja dikota.
Sudah pasti yang pertama Anang akan lakukan, Anang akan mendatangi pak Robi, yang mungkin masih mau, kalau Anang melanjutkan kontrak dengannya.
Anang hanya perlu datang kekampung itu, setahun sekali untuk pemupukan ulang, sekalian membersihkan gulma.
Sambil menunggu persidangan usai, Anang akan tetap bekerja membantu Tejo disawahnya, sekalian mengawasi pertumbuhan bibit tanamannya.
__ADS_1
Anang kemudian berjalan mendatangi barak, dimana sekarang sedang dipasangkan jaringan listrik.
Tejo ada disitu, sambil berdiri melihat pekerjaan beberapa pegawai perusahaan listrik negara itu.
"Kebunmu sudah selesai ditanam?" tanya Tejo, ketika Anang menghampirinya.
"Iya," sahut Anang.
Rasanya belum lama, Anang duduk diteras barak bersama Tejo, ponsel Tejo membuat keributan dengan berbunyi berulang-ulang.
Kata Tejo, kendaraan yang membawa bibit untuk lahan itu, sudah datang.
Tiga kendaraan besar membawa bibit dalam jumlah banyak, masuk ke area perkebunan.
Anang sempat ikut membantu menurunkan bibit, dari dalam kendaraan pengantar bibit itu, sebelum Anang pulang dengan tejo.~
Beberapa hari berlalu, pekerjaan disawah Tejo sudah mulai dilangsungkan, dan Anang ikut membantu disitu.
Ketika hari sudah sore, dan para petani lain sudah pulang, Anang iseng berjalan-jalan ke lahan milik tetangga.
Pekerja disitu belum berhenti bekerja menanam bibitnya.
Tapi, bukan itu yang menarik perhatian Anang sampai dia pergi kesitu.
"Apa itu?" tanya Anang, yang sekarang memang sudah lumayan akrab dengan orang-orang, yang bekerja dilahan itu.
"Ini, benih padi...!" sahut orang itu, sambil menunjukkan butiran padi dari kantong, yang ada dipinggangnya.
"Ini padi khusus untuk lahan kering. Bisa jadi tanaman tumpang sari, selama bibit akasia masih kecil," sambung orang itu lagi.
Berarti, karung-karung yang dilihat Anang, dibawa mereka kemarin, memang berisi padi, tapi padi dengan jenis yang berbeda, dari yang biasa ditanami disawah.
Sambil mengangguk kepada Anang, seolah-olah meminta ijin untuk melanjutkan pekerjaannya menanam padi, orang itu kembali menusuk-nusukkan tongkat ketanah, dan memasukkan bibit padi kedalam lubang, yang kemudian hanya ditutup dengan tanah, dengan sekedar dorongan kakinya saja.
Anang tidak tahu tentang itu.
Sama sekali Anang tidak tahu, sistem tumpang sari tanaman akasia dengan tanaman padi.
"Kalau ditanam padi begini, apa ada perawatan khusus?" tanya Anang, sambil ikut berjalan pelan, mengikuti gerakan orang yang menanam padi didekatnya.
__ADS_1
"Nggak. Padi ini paling-paling diberi tambahan pupuk saja. Kalau rumput, pasti tumbuh 'kan? Nah, itu saja yang dibersihkan, agar padinya bisa lebih subur," sahut orang itu.
"Berapa lama kira-kira, sejak padi ini ditanam sampai bisa dipanen?" tanya Anang penasaran.
"Ada jenis benih padi yang agak lama baru bisa dipanen. Tapi, kalau benih yang ini, kurang lebih empat sampai lima bulanan sejak ditanam, semestinya sudah bisa dipanen, kalau pupuknya cukup, dan tepat takaran," sahut orang itu lagi.
"Sampai tanaman akasianya berusia dua tahun, tumpang sari seperti ini, masih bisa dilakukan," sambung orang itu lagi, tanpa menunggu Anang bertanya.
Menarik.
Kalau begitu, Anang mungkin mau mencobanya juga.
Selama ini diperkampungan Anang, rata-rata menanam padi disawah, basah dan berlumpur.
Perawatan padi sawah yang cukup intens, dengan resiko gagal panen yang juga cukup tinggi.
Dengan sistem tumpang sari seperti itu, lahan Anang bisa lebih bermanfaat, sambil menunggu akasia bisa dipanen.
Cara menanamnya, yang juga cenderung lebih mudah menurut Anang, jika dibandingkan dengan padi sawah, memang benar-benar membuat Anang makin tertarik untuk mencobanya.
Dan kalau dihitung-hitung, dengan masa tanam sampai panen yang cukup singkat, Anang bisa sempat beberapa kali memanen padi, sebelum tanaman akasianya membesar, dan tidak bisa ditanami yang lain disekitarnya lagi.
Anang makin ingin belajar tentang semuanya.
Sambil berjalan pelan mengikuti orang yang sedang menanam padi, Anang bertanya-tanya tentang padi jenis itu.
Kelihatannya orang-orang itu, bekerja sampai kondisi benar-benar gelap, karena sampai Anang pulang pun, mereka terlihat masih bekerja disitu.
Bertekad bulat, Anang akan mencoba tumpang sari seperti itu.
Kalau-kalau ada yang Anang kurang mengerti, rasanya, orang-orang itu tidak pelit ilmu, untuk memberi tahu Anang lebih banyak informasi.
Besok, Anang berniat untuk mencari, dan membeli benih padi Gogo itu secukupnya, sesuai sisa uang Anang.
Kalau bisa mendapat benih, dengan jumlah yang cukup untuk semua lahan Anang, jelas lebih bagus.
Tapi, kalau tidak pun, paling tidak, ada benih untuk awalnya saja.
Pada saat bisa dipanen nanti, hasilnya 'kan bisa menjadi benih tambahan yang baru.
__ADS_1
Dengan hati senang dan bersemangat, Anang melangkahkan kakinya, untuk kembali pulang kerumah Tejo.
Tidak ada salahnya bergaul dekat, dengan orang-orang dari luar pulau itu, justru dari pergaulan yang baik, bisa mendapatkan sesuatu yang baik, juga berguna.