
Ketika memasuki jalanan didepan rumah pak Handoko, baik Anang, Santi dan Tejo, hanya bisa saling bertatap-tatapan, tanpa bicara apa-apa, dengan raut wajah kebingungan.
Didekat rumah pak Handoko, bagian kiri-kanan jalan tampak berjejer beberapa kendaraan beroda empat.
Diantara kendaraan-kendaraan itu, ada sekitar tiga atau empat mobil yang berlambang perusahaan stasiun televisi nasional.
Didepan pagar pak Handoko, terlihat empat orang berseragam keamanan, berjaga didepan situ.
Sedangkan, kurang lebih belasan orang yang duduk ataupun berdiri dipinggir bagian luar pagar, dengan memakai seragam stasiun televisi, yang kendaraannya terparkir dijalan tadi.
Orang-orang yang memakai seragam itu, ada diantaranya yang memegang kamera, dan seakan sedang menunggu sesuatu atau seseorang disana.
Ketika Santi membunyikan klakson mobilnya, agar dibukakan pagar untuk mobilnya masuk, orang-orang tadi lalu berdiri, dan berkerumun didekat mobil Santi.
Para petugas berseragam keamanan, terlihat sibuk menahan agar orang-orang itu, agar membiarkan mobil Santi melewati pagar, untuk masuk ke dalam halaman rumah pak Handoko.
"Apa ini gara-gara kamu?" tanya Santi, yang berusaha menjalankan mobilnya se-pelan mungkin, agar tidak menyakiti orang-orang yang berkerumun itu.
"Siapa? Aku?" Anang balik bertanya.
"Iya! Siapa lagi?" sahut Santi, dengan mata terfokus ke bagian depan mobilnya.
"Mana aku tahu!" sahut Anang.
Akhirnya, mobil Santi bisa melewati pagar, dan petugas keamanan, memaksa untuk menutup pagar itu kembali, sedangkan orang-orang disitu masih berkerumun didepan pagar.
Ketika Anang, Santi dan Tejo keluar dari mobil, terdengar keributan karena teriakan, dari orang-orang yang ada didepan pagar tadi.
"Anang!"
"Mas Anang!"
Teriakan, demi teriakan memanggil-manggil nama Anang, membuat kebisingan yang cukup mengganggu, bagi daerah kompleks perumahan yang sepi itu.
"Iya... Memang gara-gara kamu!" celetuk Santi.
Dengan ujung matanya, Anang bisa melihat kalau dari dalam rumah, pak Robi dan pak Handoko sedang berjalan menghampiri mereka bertiga, yang masih berdiri terpaku melihat orang-orang diluar pagar itu.
"Maafkan saya! Ada salah satu pegawai saya, yang membocorkan alamat ini," ujar pak Handoko.
"Lalu, bagaimana mengatasinya, Pak?" tanya Anang.
"Kalau sudah begitu, terserah Anang saja... Dibiarkan saja, atau Anang mau melayani pertanyaan-pertanyaan mereka..." sahut pak Robi.
Anang melihat Santi, Tejo, pak Handoko, dan pak Robi, bergantian, lalu berpikir untuk menemui mereka saja.
__ADS_1
Kalau dibiarkan, kemungkinan orang-orang itu tidak akan pergi dari situ.
"Temani aku ya?!" pinta Anang, sambil melihat Santi dan Tejo.
Tejo hanya menaik-turunkan bahunya, Santi juga sama, lalu berjalan dengan Anang mendekat ke pagar.
Anang memegang tangan Santi, agar tidak merasa terlalu gugup, saat berhadapan dengan orang-orang itu.
Petugas keamanan lalu membuka pintu pagar sedikit agar Anang, Santi dan Tejo bisa melewatinya.
Disitu Anang langsung diberondong dengan banyak pertanyaan, dan Anang berusaha menjawab sebisanya, sambil sesekali meminta agar orang-orang itu jangan terlalu berdesakan.
Kecuali pertanyaan tentang kabar pernikahan Anang, dengan cepat Anang menepis pertanyaan itu.
Entah berapa lama Anang, berdiri menjawab pertanyaan para wartawan televisi, ditemani Santi dan Tejo, sampai Anang merasa lelah.
Tapi, orang-orang itu juga tampak puas, dengan tanggapan Anang atas pertanyaan mereka.
"Terimakasih!" kata Anang berkali-kali.
Para wartawan itu memang kelihatan puas, sehingga saat Anang berjalan masuk kembali ke halaman rumah pak Handoko, mereka juga mengucapkan terimakasih kepada Anang, dan tidak lama, orang-orang itu juga beranjak pergi dari situ.
Didalam rumah pak Handoko, tampak sudah ada beberapa orang yang menghias ruang tamu, menjadi tempat pesta sederhana.
Tanpa merapikan isi koper, dan hanya menggeletakkannya begitu saja, Anang menarik Santi pelan, sampai berbaring diatas ranjang.
Anang lalu menindihnya, agar tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.
Santi hanya tertawa, sambil memainkan rambut dibagian belakang kepala Anang.
"Aku capek sekali..." ujar Anang, yang menyandarkan kepalanya di atas dada Santi.
"Istirahat dulu sebentar, kalau begitu! Pak Robi, pasti juga masih asyik mengobrol dengan Papa," ujar Santi.
"Jangan salah paham, ya?! Aku bukannya nggak mau orang-orang tahu kalau kita akan menikah. Tapi, aku nggak mau, acara kita besok terganggu," ujar Anang setengah berbisik kepada Santi.
"Iya, aku ngerti, kok!" sahut Santi, sambil tetap mengelus rambut Anang.
"Kamu nggak mau penggemar wanitamu kecewa, 'kan?" tanya Santi dengan nada mengejek.
Anang mengangkat kepalanya, dan menatap Santi lekat-lekat, sambil menggigit bibirnya sendiri.
"Mulai lagi..." ujar Anang gemas.
"Hmmm... Sainganku pasti banyak..." kata Santi, sambil menahan senyum.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama-lama, Anang mencium bibir Santi, dan dengan sebelah tangannya yang tidak bisa ditahannya lagi, masuk dari bagian bawah kaus Santi, lalu meremas dada wanita itu.
Anang melihat Santi yang memejamkan mata, dengan alisnya yang mengerut, membuat Anang semakin terpancing, dan ingin melakukannya lebih jauh.
Tapi, Santi menghentikan ciuman mereka, dan menahan tangan Anang, yang mencoba membuka kancing celana jeans yang dia pakai.
"Pak Robi, menunggumu dibawah..." kata Santi pelan.
Kelihatannya, Santi hanya akan membuat Anang sakit kepala.
Anang seolah-olah tidak mendengarkan perkataan Santi, tetap saja meneruskan kegiatannya.
"Sekali saja... Baru kita bertemu Pak Robi..." ujar Anang dengan suara bergetar.
Sebaiknya Santi menuruti kemauan Anang sekarang, kalau tidak mau Anang merajuk.
Apalagi, sudah lama Anang tidak melepaskan tembakan peringatannya kepada Santi.
Sudahlah...
Anang bisa tersenyum lebar, ketika berjalan bersama Santi, menuruni tangga ke lantai bawah, untuk menemui pak Robi.
"Maafkan kekacauan tadi!" ujar pak Robi, ketika melihat Anang yang menghampirinya.
"Nggak usah dipikirkan, Pak! Nggak apa-apa..." sahut Anang.
"Sudah saya berikan peringatan kepada anak buahku. Mudah-mudahan, besok tidak ada kebocoran informasi lagi," ujar pak Robi.
Anang lalu berbincang-bincang dengan pak Robi, diteras samping rumah pak Handoko, sedangkan Santi sibuk dengan ayahnya didalam rumah.
Mulai dari bagaimana bisa ketahuan oleh pers alamat disitu, sampai untuk wawancara Anang lusa nanti, jadi bahan pembahasan pak Robi dengan Anang.
Seperti perbincangan yang pernah mereka lakukan dulu, Pak Robi masih menawarkan lagi, agar Anang menuliskan lagu-lagu baru.
Dan, Anang hanya bisa mengiyakan, meski tidak bisa berjanji, kapan Anang bisa melakukannya.
Pak Robi juga berkali-kali mengucapkan selamat kepada Anang, atas kesuksesan mereka dengan lagu-lagu Anang, yang berhasil menembus pasar musik.
Begitu juga, ucapan selamat pak Robi kepada Anang yang hanya tinggal hitungan jam, akhirnya bisa menikah dengan Santi.
Pak Robi juga berjanji, bahwa dia yang akan mengurus pers, kalau-kalau masih akan ada kekacauan lagi, diwaktu sakral bagi Anang dan Santi besok hari.
Anang juga tidak lupa berterimakasih kepada pak Robi, atas semua bantuannya, dan meminta pak Robi agar datang di acaranya besok.
Bahkan, Anang sempat menanyakan kabar Mister Grand, tapi, menurut pak Robi, temannya itu sekarang sedang berada di negara asalnya.
__ADS_1