SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 74


__ADS_3

Uap panas mengepul dari dua cangkir kopi, yang disajikan wanita paruh baya, yang kemungkinan adalah asisten rumah tangga keluarga Santi.


Lalu dimana Ibu tiri Santi?


Anang jadi penasaran, karena untuk beberapa waktu dia disitu, tampaknya belum ada terlihat wanita yang menjadi pusat kebencian Santi, dirumah itu.


"Non Santi, lagi diruang makan, Tuan!" sahut asisten rumah tangga keluarga Santi, sambil meletakkan dua piring kecil berisi potongan kue bolu keatas meja, berdampingan dengan cangkir kopi.


"Katakan padanya untuk tidak membuat keributan! Saya masih mau mengobrol dengan Anang," kata ayah Santi.


"Baik, Tuan!" sahut wanita paruh baya itu, sambil sedikit membungkuk, dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"Silahkan diminum!" kata ayah Santi.


"Terimakasih, Pak!" sahut Anang.


"Apa Santi yang memintamu untuk menemui saya?" tanya Ayah Santi.


"Tapi rasanya tidak mungkin," sambung ayah Santi lagi, sebelum Anang sempat menjawab pertanyaannya.


"Maaf, Pak! Santi sudah bercerita dengan saya, kalau ada sedikit kesalah pahaman antara Bapak dengan Santi,


Tapi, saya ingin agar keluarga Santi tahu, kalau saya akan menikahi Santi, dan saya berharap bisa mendapat restu dari Orang tua, dan keluarga Santi yang lain," kata Anang.


Ayah Santi mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menatap Anang lekat-lekat.


"Hmm... Saya jadi makin penasaran dengan Anang. Santi, anakku itu keras kepala...


Santi dulu dekat, dan manja dengan saya, tapi semenjak mendiang Mamanya meninggal, dan saya menikah lagi, anakku itu seakan menjaga jarak dengan saya," kata ayah Santi, sambil menyesap sedikit kopi panas dari cangkirnya.


"Tapi tampaknya Anang pemuda yang sabar," sambung ayah Santi sembari meletakkan kembali cangkir kopinya keatas meja.


"Diminum kopinya!" kata ayah Santi mempersilahkan Anang lagi.


Anang kemudian ikut menyesap sedikit kopi dari cangkirnya.


"Kesalah pahaman apa yang dikatakan Santi? Apa dia mengatakan kalau saya mengusirnya?" tanya ayah Santi.


Anang menganggukkan kepalanya.


"Sudah saya duga," ujar ayah Santi.


"Saya tidak mengusirnya. Saya hanya melarangnya agar jangan lagi melakukan hal-hal yang bisa mempermalukan dirinya, dan kami. Saya mau dia menikah saja...


Tapi dia menolak mentah-mentah. Meski pemuda yang bersamanya waktu itu, sudah melamarnya, dan saya menyetujuinya," kata ayah Santi.


Ayah Santi menghela nafas panjang.


"Saya tidak habis pikir dengan anakku itu," ujar ayah Santi dengan suara pelan.


Ayah Santi tampak sangat bersusah hati dengan tingkah Santi.

__ADS_1


Terlihat jelas dari sorot mata pria paruh baya itu, kalau dia sangat menyayangi anak perempuannya.


Tapi kalau mendengar perkataannya itu, rasanya seolah-olah ayah Santi, berharap kalau Santi menikahi pemuda yang melamarnya waktu itu.


Kalau benar yang Santi katakan, berarti Peter adalah pemuda yang dimaksud ayah Santi.


Wajar saja!


Peter sudah pasti berkelas, dan tidak seperti Anang yang hanya pemuda rendahan biasa.


"Maafkan saya. Mungkin Anang mengira kalau saya menganggap Anang tidak pantas bersama anak saya,


Anang jangan beranggapan begitu! Saya hanya kaget saja karena Santi tiba-tiba mau menikah, Padahal waktu itu, dia lebih memilih untuk pergi dari rumah, daripada menikah," kata ayah Santi.


Ayah Santi yang seakan bisa membaca pikiran Anang, membuat Anang merasa agak canggung.


"Rencananya kapan kalian mau melangsungkan acara pernikahan kalian?" tanya ayah Santi.


"Belum ada tanggal pastinya. Rencananya secepatnya yang kami bisa," sahut Anang.


Ayah Santi terdiam, dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tunggu sebentar!" ujar ayah Santi, kemudian berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Anang sendirian.


Kelihatannya Ayah Santi akan memberi restu?


Benar begitu?


Senangnya Anang jangan ditanya.


Sambil duduk menunggu, Anang melihat-melihat ke sekelilingnya.


Ruangan itu tampaknya seperti ruang kerja, hampir dipenuhi beberapa rak besar yang bersandar didinding, yang penuh dengan buku.


Apa pekerjaan ayah Santi?


Anang memperhatikan salah satu judul buku yang ada diatas meja kerja ayah Santi, dan mencoba untuk membacanya dari tempatnya duduk.


Ah, tidak bisa terlihat dengan jelas.


Sudahlah...


Anang memang hanya butuh pengalihan, agar tidak merasa canggung saat menunggu sendiri didalam situ, dan tidak terlalu memaksa agar tahu segalanya tentang keluarga Santi.


Anang mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, dan melihat-lihat akun sosial medianya, untuk beberapa waktu.


"Kenapa kamu sendirian?" Dimana Papa?" Suara pertanyaan Santi mengejutkan Anang.


Anang menoleh kearah Santi yang berjalan menghampirinya.


"Aku kurang tahu. Papamu hanya memintaku untuk menunggu disini," sahut Anang.

__ADS_1


Layar ponsel Anang masih menyala, dan dipegang Anang begitu saja, sambil tetap memandangi Santi.


Santi kemudian duduk disamping Anang, dan melihat-melihat isi diponsel Anang.


"Kalian ngobrol apa saja?" tanya Santi, yang tampaknya tidak terlalu tertarik dengan isi ponsel Anang, dan ikut melihat Anang yang menatapnya.


"Papamu hanya mau mengenalku saja," sahut Anang, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku jasnya.


Anang lalu menggenggam tangan Santi.


"Bagaimana kalau papamu tidak merestui. Apa kamu masih mau menikah denganku?" tanya Anang.


"Iya," sahut Santi singkat.


Anang mengecup punggung tangan Santi.


"Berarti aku nggak perlu khawatir kalau begitu?" tanya Anang lagi.


Santi tersenyum.


"Papa merestui atau tidak, nggak usah kamu pikirkan apa yang jadi tanggapannya nanti," sambung Santi.


"Kamu disini?! Papa tadi mencarimu diruang makan!" ujar ayah Santi, yang tiba-tiba masuk diruangan itu.


Seorang wanita muda yang tampak sebaya dengan Santi, yang membukakan pintu untuk Anang dan Santi tadi, tampak bergandengan tangan dengan ayah Santi, dan ikut berjalan masuk kedalam ruangan itu.


Wajah wanita itu masih datar, seolah-olah tidak senang dengan kehadiran Santi dan Anang dirumah itu.


Tapi Anang merasa ada sesuatu yang aneh, dari gerak-gerik wanita itu.


Wanita itu, tampaknya melirik Anang, dan tersenyum secara sembunyi-sembunyi.


Siapa dia?


Saudara Santi?


"Aku tadi pergi ketaman disamping. Banyak bunga milikku yang mati, atau sengaja nggak diurus biar mati," ujar Santi ketus.


"Ikan hias milikku, juga sudah tidak ada dikolam," sambung Santi, masih dengan nada suara ketus.


Ayah Santi menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menghela nafas panjang.


Ayah Santi kemudian duduk disofa, diikuti wanita muda itu, yang juga duduk disitu, bersebelahan dengan ayah Santi.


"Ikan-ikannya memang banyak yang mati. Waktu ayah pergi keluar kota, tukang kebun tidak sengaja menjatuhkan racun rumput, kedalam kolam,


Kalau bunga-bungamu itu mati karena memang sudah tua. Tapi kalau kamu perhatikan, banyak anakkannya disitu..." kata ayah Santi menjelaskan.


Tapi Santi tampaknya tidak percaya dengan perkataan ayahnya.


"Kasihan tukang kebun yang kena fitnah," celetuk Santi.

__ADS_1


Ayah Santi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, tanpa mau mendebat perkataan Santi.


"Anang, Perkenalkan, ini Wina istri saya," kata ayah Santi.


__ADS_2