SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 84


__ADS_3

Dari sekian banyaknya salon dan pangkas rambut yang ada dikota itu, malahan salon tempat Anang potong rambut dulu yang jadi pilihan Santi.


"Sekalian aku mau minta rambutku dirapikan sedikit," kata Santi ketika mereka tiba di salon itu.


Salon dengan pemiliknya yang gemulai tapi berotot baja.


SOS !


Bagi siapa saja yang bisa membaca pesan ini!


Tolong Anang sekarang!


Pandangan mata lelaki gemulai pemilik salon itu, seakan bisa mencabik-cabik pakaian yang terpasang ditubuh Anang saat ini, sampai berhamburan ke lantai.


"Tambah ganteng sekarang!" kata laki-laki gemulai itu sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu menggigit bibirnya sendiri.


"Tunggu sebentar ya jantan! Cintamu selesaikan rambut yang satu ini dulu!" sambung laki-laki gemulai itu, yang menunjuk rambut pelanggan yang lain, yang sudah dia kerjakan hampir separuh selesai.


'Cintamu'?


Hiii...! Anang bergidik ngeri membayangkan kalau sampai dia jatuh cinta dengan laki-laki gemulai pemilik salon itu.


Coba tebak siapa namanya!


Candy ( kendi ).


"Kenapa namanya seperti tempat air?" tanya Anang sambil berbisik kepada Santi.


"Heh?" celetuk Santi yang hampir tersedak dengan air minumnya.


"Bukaaan...! Candy itu permen, Mas! Itu bahasa Inggrisnya permen," ujar Santi yang terlihat menahan tawanya, sampai dia hampir sesak nafas.


Anang memandangi Candy yang masih sibuk menata rambut pelanggannya, sampai bergulung membentuk konde.


Permen apa macam setengah perempuan ini?


Permen apa yang tidak ada manis-manisnya?


Candy hanya potongan dengan rasa kecut dan pahit menurut Anang.


"Kenapa, jantan cintaku?" celetuk Candy yang ternyata menangkap basah mata Anang, yang sedang memandanginya dicermin.


"Kagum dengan kecantikan dan keanggunan cintamu yang aduhai ini? Sabar, jantan cintaku, sebentar lagi pekerjaan ku selesai" sambung Candy sambil menunjuk tubuhnya sendiri dari kepala sampai kekaki, dengan gemulainya didepan Anang.


Anang hampir tersedak nafasnya sendiri mendengar perkataan Candy, lalu melihat Santi yang spontan tertawa terbahak-bahak, sambil menatap layar ponselnya.


Dugaan Anang, Santi pasti menertawakan Anang dan Candy, tapi berpura-pura, seolah-olah yang lucu itu ada dilayar ponselnya.


"Ada yang lucu, Cyiin?" tanya Candy.


"Eh, iya nih! Video lucu!" sahut Santi asal, sambil melihat Candy, lalu kembali menatap layar ponselnya, dan lanjut senyum-senyum sendiri.


Anang jelas tidak percaya dengan omongan Santi.

__ADS_1


Anang lalu mendekatkan wajahnya kepada Santi.


"Kamu pasti menertawakan ku 'kan?" bisik Anang ditelinga Santi.


Santi hanya tersenyum lebar, tanpa menoleh kearah Anang.


Benar 'kan dugaan Anang!


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menghela nafas panjang.


Santi kemudian menggenggam tangan Anang, dan melirik Anang dengan ujung matanya, sambil tersenyum lebar.


"Sudah!" ujar Candy tiba-tiba, lalu pelanggannya itu berdiri, dan menyodorkan lembaran uang kepada Candy, sebelum pelanggan Candy itu pergi dari situ.


"Sini! Jantan cintaku...!" ujar Candy lembut memanggil Anang agar mendekat kepadanya.


Anang lalu berdiri dari sofa tempatnya dan Santi menunggu, kemudian mendekat ke kursi didekat Candy, yang menghadap ke cermin besar.


"Mau disini saja atau kekamarku dulu?" tanya Candy, sambil memijat-mijat bahu Anang, yang baru saja duduk.


"Eh! Ngapain ke kamarmu?" tanya Anang spontan.


Kekamar Candy?


Anang mau potong rambutnya, bukannya Anang yang harus memotong 'rambut' Candy.


Ada-ada saja!


"Terimakasih... Tapi nggak perlu dipijat. Kami buru-buru mau pergi ketempat lain lagi," ujar Anang beralasan, sambil menghentikan gerakan tangan Candy dibahunya.


Anang bisa melihat bayangan Santi dari pantulan cermin.


Santi terlihat senyum-senyum,dan hampir tertawa dibelakang Anang.


Kali ini Anang harus menahan kekesalannya karena tingkah Candy.


Candy memang nakal.


Sesekali tangan Candy menyentuh wajah Anang, seolah-olah sedang membersihkan potongan rambut, yang tidak ada disitu.


Mau saja Anang batal melanjutkan kegiatan rapi-merapikan rambutnya.


Candy tampaknya tidak terpengaruh dengan wajah Anang yang merengut disitu.


Apalagi Santi? Jangan ditanya.


Wanita itu memang tidak pernah puas mengerjai Anang, dan menjadikan Anang bahan candaan dengan teman setengah perempuannya itu.


Anang cuma bisa menghela nafas panjang dengan tingkah Santi, yang masih saja senyum-senyum sendiri sambil melirik Anang dengan Candy.


Santi! Tunggu saja pembalasan Anang nanti!


Akhirnya rambut Anang selesai juga dirapikan, berarti Anang sudah bisa bernafas lega.

__ADS_1


Atau belum?


Karena tangan Candy makin aktif mengelus-elus wajah Anang disitu.


"Sudah! Rasanya sudah tidak ada lagi sisa-sisa potongan rambutnya. Sudah bersih kok!" ujar Anang, sambil berusaha menjauh dari Candy.


"Santi! Kamu jadi merapikan rambutmu nggak?" tanya Anang berusaha mengalihkan perhatian tangan Candy, yang kini mulai meraba-raba bahu, dada, sampai ke perut Anang.


Tampaknya Santi tidak bisa menahan rasanya untuk tertawa, lebih lama lagi.


Santi tertawa terbahak-bahak, lalu menghampiri Anang, yang sekarang Anang yakin sedang memasang wajah kesal.


"Candy...! Dia milikku, Cyiin!" kata Santi sambil memeluk Anang sebentar.


"Pinjamkan sebentar Cyiin!" pinta Candy dengan wajah memelas.


Santi tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Dia akan menikah denganku. Nanti kamu harus datang ya?! Aku nanti kirim undangan untukmu, sayang!" kata Santi, lalu bergelayut dibahu Candy.


"Oke?" tanya Santi kepada Candy.


Meski dengan wajah merengut, Candy menganggukkan kepalanya.


"Sekarang rapikan rambutku ya, Cyiinn! Aku mau kerumah Papaku," ujar Santi sambil duduk dikursi menggantikan Anang tadi.


"Kamu sudah baikkan dengan Papamu?" tanya Candy sambil menyisir rambut panjang Santi.


"Nggak juga. Cuma sudah dua hari ini aku bisa kerumah Papa. Karena dia..." kata Santi sambil menunjuk bayangan Anang yang terpantul cermin didepan Santi dan Candy.


"Kamu membuatku iri, sayang... Calonmu ganteng, tampaknya anaknya juga baik... Aku juga mau satu kayak dia," ujar Candy.


"Bukan kayaknya lagi sayang... Dia memang baik, makanya aku mau saja menikah dengannya," kata Santi lalu tersenyum kepada Anang dicermin.


Bukannya Anang tidak mendengar percakapan Santi dengan Candy, Anang mendengar dengan jelas apa saja yang mereka katakan, tapi kini Anang mulai terpikir kembali tentang isu yang diceritakan Gita semalam.


Jadinya, semua yang dikatakan satu dan setengah perempuan didepannya, tidak terlalu diperdulikan Anang.


Entah apa yang akan menjadi tanggapan ayah Santi nanti, saat Santi bicara dengannya, seperti janji Santi kepada Anang.


Rasa khawatir dan gelisah Anang menjadi-jadi, saat Santi sudah hampir selesai dirapikan ujung rambutnya oleh Candy.


Kalau begitu 'kan, berarti sebentar lagi, mereka akan pergi menemui ayah Santi.


Berkali-kali Anang menghela nafas panjang, untuk menenangkan dirinya sendiri.


Santi tampaknya menyadari rasa gugup Anang, karena setelah membayar imbalan untuk jasa Candy, Santi lalu memeluk dan mencium bibir Anang disitu, kemudian berkata


"Tenang saja...! Nggak usah terlalu khawatir begitu,"


Anang merasa sedikit lebih kuat, saat Santi memeluknya seperti itu.


Sampai mereka tiba dirumah ayah Santi, Santi tidak melepaskan tangan Anang meski sebentar.

__ADS_1


Ketika mereka memasuki rumah ayah Santi, dan terus berjalan sampai masuk diruang kerja ayah Santi, rasanya Anang masih baik-baik saja, sebelum dia melihat seseorang yang sedang berbicara dengan ayah Santi, didalam ruangan itu.


Peter tampak akrab berbicara dengan ayah Santi, sambil duduk disofa.


__ADS_2