SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 21


__ADS_3

Dengan langkah lunglai, Anang kembali kekamar petakan sempitnya, sambil menenteng gitar tuanya ditangannya.


Gita mungkin sekarang sedang marah dengannya.


Anang melihat-lihat layar ponselnya sambil berbaring menyamping dikasur tuanya.


Tampilan akun f*cebooknya kini penuh dengan gambar-gambar, foto, video, dan tulisan postingan orang asing yang tidak dikenali Anang sama sekali.


Hanya sesekali dia bisa melihat ada postingan lama Gita disitu.


Anang melihat banyak pesan masuk diakun f*cebooknya, tapi tidak ada pesan baru dari Gita.


Gita pasti membenci Anang.


Karena kalau tidak, dia tidak akan pergi begitu saja.


Gita biasanya tersenyum, dan melambaikan tangan kepada Anang, meski mereka berdua hanya bicara lewat ponsel.


Rasa frustrasi, dan kecewa membuat dada Anang terasa sakit, dan sesak seakan sulit bernafas.


Sesakit ini kalau cinta tidak berbalas?


Kalau begitu, semestinya Anang tidak perlu merasa jatuh cinta. Anang membenci dirinya sendiri yang menyukai wanita yang kelasnya jauh diatas dia.


Anang memang sudah gila, dan lupa siapa dirinya. Sampai berani mencintai Gita, apalagi sampai berani menyentuhnya seperti itu.


Memangnya Anang siapa? Jangankan untuk membahagiakan wanita seperti Gita, untuk menghidupi dirinya sendiri saja dia sudah kesulitan.


Anang memang lelaki yang tidak tahu malu!


Sekarang, Anang harus berusaha melupakan Gita.


Satu-satunya jalan keluar, hanyalah Anang harus lebih sibuk bekerja, atau melakukan hobinya, agar tidak ada kesempatan bagi Anang untuk memikirkan Gita.


Anang lanjut mengonfirmasi permintaan pertemanan di akun f*cebooknya.


Lama kelamaan, Anang merasa bosan karena tidak ada kelar-kelarnya konfirmasi itu.


Mata Anang juga masih segar, dan belum ada rasa kantuk sama sekali.


Anang memilih untuk duduk lagi, dan memainkan gitarnya, lalu bernyanyi sambil merekam apa yang dia buat itu


Satu lagu selesai, Anang kemudian mengirim video itu diakun f*cebooknya.


Demikian Anang melakukannya berulang-ulang, sampai kurang lebih lima lagu yang berhasil dia nyanyikan, lalu memposting semua ke akun f*cebooknya.

__ADS_1


Tidak terlalu lama, kemudian tanda pemberitahuan di akun f*cebook Anang, terlihat menumpuk.


Mulai dari yang menyukai, mengomentari, dan ada yang membagikan ulang videonya diakun orang lain.


Anang tidak terlalu memperhatikan, hanya beberapa saja yang sempat dia baca.


Pesan yang masuk juga semakin banyak, dan menumpuk, tapi tidak ada satupun pesan dari Gita.


Anang mematikan ponselnya. Dia lagi kurang bersemangat untuk membaca itu semua. Anang lebih memilih untuk tidur.


Besok saja dia membaca semua itu.~


Keesokkan subuhnya, Anang merasa badannya sakit semua.


Tumben sekali bisa terasa pegal sampai seperti itu.


Ditambah dengan semangat hidupnya yang seakan berkurang banyak, dengan rasa enggan, Anang bangun dari tempat tidurnya, lalu bersiap untuk pergi bekerja diperumahan seperti biasa.


Memang nasibnya seakan sedang tidak baik.


Sesampainya disana tidak ada sarapan yang tersedia, sedangkan para pekerja terlihat berkumpul, dan tampak lesu.


Ternyata pertengkaran yang terjadi antara Mandor, dan kepala tukang berlanjut dan jadi panjang.


Hari itu tidak ada pekerjaan, mereka hanya menunggu perhitungan sisa upah yang akan mereka terima.


Jaman sekarang memang sulit mencari pekerjaan, meski hanya pekerjaan serabutan seperti itu.


Bukan hanya rekan Anang saja yang khawatir, Anang juga merasakan hal yang sama. Kalau hanya berharap dari hasil mengamen, tidaklah cukup untuk membayar sewa'an, dan kebutuhan yang lain.


Yang jelas, makan siang saja sudah tidak ada, harus mencari sendiri diluar.


Sementara menunggu keputusan dari yang empunya rumah, maka pekerjaan tidak dapat dilanjutkan. Dan tidak ada yang tahu sampai kapan pekerjaan disitu ditunda.


Anang tidak bisa berkomentar banyak.


Bukan hanya dia yang membutuhkan pekerjaan itu, rekan-rekan pekerja yang lain, mungkin ada lagi yang lebih sulit hidupnya, karena mereka rata-rata sudah berumah tangga, jelas lebih banyak kebutuhan yang harus mereka tanggung.


Meski menerima uang upah kerja, tapi tidak ada satu pun wajah dari para pekerja yang tampak senang. Semua menundukkan wajah mereka, seakan sedang memikirkan sesuatu yang sulit untuk mereka selesaikan.


Anang melihat jumlah uang yang tidak seberapa ditangannya. Meski cuma sedikit, Anang tetap tidak lupa harga saat merasa kenyang dengan makan siangnya.


Sepulangnya dari perumahan, dia menyinggahkan sebagian kecil uangnya seperti biasa, ditempat ibadah dekat tempat tinggalnya, sambil berharap semoga nanti ada jalan, agar Anang bisa kembali menyisihkan uang seperti itu lagi.


Anang tidak tahu harus berbuat apa. Biasanya pagi sampai sore dia sibuk bekerja, sedangkan hari ini, masih pagi sudah kembali ketempat tinggalnya.

__ADS_1


Anang berpikir untuk mandi dulu, barulah mencoba berjalan-jalan mencari informasi peketjaan baru untuknya.


Setibanya Anang dikamarnya, Anang teringat ponsel yang dia kantongi, sejak semalam ponsel itu dia matikan.


Anang mencoba melihat-lihat didalamnya, kalau-kalau ada yang berguna untuknya mencari uang.


Anang memeriksa pemberitahuan, tapi tampaknya tidak ada yang terlalu berguna. Rata-rata hanya menyemangati Anang agar tidak menyerah, dan terus bernyanyi.


Anang kemudian memeriksa pesan yang masuk satu persatu.


Mata Anang terhenti disalah satu pesan.


Ada acara ulang tahun seorang remaja hari ini, disuatu tempat yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Anang, dan Anang diminta untuk bernyanyi disana sebagai hiburannya.


Bahkan sudah disebutkan jumlah imbalan yang akan Anang terima kalau Anang mau bernyanyi sepuluh lagu diacaranya nanti, dengan nominal yang lumayan.


Anang mengetik pesan balasan.


'Iya saya mau, Dek,'


'Apa ada lagu khusus yang Adek mau?' balas Anang.


Remaja itu kemudian mengirimkan daftar lagu yang dia mau Anang nyanyikan, lewat pesan itu.


'Oke, Abang siapkan dulu lagunya kalau begitu' Balas Anang lagi.


'Baguslah Bang, Jangan sampai terlambat datang ya Bang," balasan dari remaja itu.


Nanti sore sesudah maghrib, sedangkan sekarang masih pagi.


Lebih dari cukup, waktu bagi Anang untuk berlatih lagu-lagu pesanan remaja itu.


Anang mengganti seragam kerja bangunan yang kotor, dan menggantinya dengan boxer tanpa memakai kaus. Anang kemudian mulai mencari, dan mempelajari lagu sesuai judul.


Anang tenggelam dalam kesibukkannya berlatih, sampai akhirnya perutnya keroncongan.


Biasanya sekarang memang jamnya makan siang, kalau Anang bekerja dipembangunan.


Hari ini, mau tak mau Anang harus membeli makanan sendiri.


Anang hanya dengan boxernya, lalu memakai kaus tanpa lengan berjalan keluar dari kamarnya, dia berencana membeli bubur ayam jualan tetangganya yang tidak jauh dari kamarnya.


Tempat itu hanya beratap tenda, dan hanya ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk disitu sambil bermain kartu.


Anang memesan satu porsi bubur ayam yang penting bisa mengganjal perutnya yang lapar saja. Meski sebenarnya bubur ayamnya tidak ada rasa enak-enaknya sama sekali.

__ADS_1


Anang sampai harus menuangkan banyak kecap, dan sambal agar bisa tertelan.


Tetap lumayan saja untuk mengganjal perutnya, apalagi harganya juga tidak mahal.


__ADS_2