SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 81


__ADS_3

Santi masih saja meronta-ronta dalam gendongan Anang, saat mereka sudah memasuki ruang tengah rumah itu.


"Santi...! Sudah...! Kamu sudah menamparnya tadi. Apa kamu mau aku meninggalkanmu disini?" ujar Anang dengan suara lembut tapi tegas.


Setelah Anang bicara begitu, barulah Santi tampaknya mau menurut perkataan Anang, dan merangkul leher Anang.


Ternyata didalam rumah, teman-teman ayah Santi belum pulang, dan malah terlihat asyik berkumpul, mengobrol sambil menikmati kopi panas.


Anang hampir saja menurunkan Santi, tapi kali ini Santi yang tidak mau turun dari gendongan Anang.


"Jangan coba-coba menurunkan aku sekarang!" ujar Santi ketus.


Terang saja semua mata memandangi Anang, yang masih menggendong Santi disitu.


Teman-teman ayah Santi terlihat senyum-senyum sendiri melihat Anang dan Santi, bahkan ada yang tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Malunya Anang jangan ditanya, tapi Santi malah hanya cekikikan.


Apalagi ketika Anang melihat ayah Santi, yang menggeleng-gelengkan kepalanya, rasanya Anang akan membanting Santi kelantai.


"Nanti saja kita pulang. Antar aku keatas, kita kekamarku saja," kata Santi pelan, sambil menunjuk tangga naik didekat mereka.


Anang menuruti perkataan Santi, dan berjalan menaiki tangga sambil tetap menggendong Santi.


"Lucu?" tanya Anang, ketika melihat Santi yang masih tidak bisa berhenti tersenyum, dan tampaknya hampir tertawa.


"Iya!" sahut Santi enteng.


Anang menghela nafas panjang.


Bukan karena lelah menggendong Santi sambil menaiki tangga, tapi karena menahan kekesalannya dengan tingkah kekanak-kanakan Santi.


Anang benar-benar merasa gemas dengan wanita itu.


"Itu kamarku!" kata Santi, ketika mereka hampir melewati salah satu pintu kamar dilantai atas itu.


Anang lalu membuka pintu yang tidak terkunci, dan membawa Santi masuk.


"Belum mau turun?" tanya Anang.


Santi menggelengkan kepalanya.


Anang lalu duduk dipinggir ranjang sambil memangku Santi.


Kamar Santi jauh lebih besar dari kamar kost-kostan mereka yang sekarang, apalagi kalau dibandingkan dengan kostan lama yang dibawah kolong jembatan layang.


"Kamu lihat sendiri 'kan bagaimana tingkah Wina?! Wajar, tidak kalau aku membencinya?" kata Santi.


"Dia benar-benar mempermainkan Papa," sambung Santi.


Anang bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Santi.


"Apa Papamu tidak pernah tahu kelakuan ibu tirimu?" tanya Anang penasaran.


"Rasanya Papaku nggak tahu. Wina itu pintar menyembunyikan sifat aslinya. Seperti tadi. Dia berani mendekatimu, karena dia tahu Papa sedang sibuk dengan teman-temannya,


Aku yakin Wina pasti punya laki-laki lain diluar. Tapi, kalau didepan Papa, dia pasti bertingkah seolah-olah dia sangat mencintai Papaku," kata Santi.

__ADS_1


"Papaku sepertinya sangat percaya dengannya, makanya Papa tampaknya tidak pernah mencurigainya sama sekali." sambung Santi.


"Untung, tadi kalian tidak sampai bertarung, coba bayangkan malunya Papamu didepan teman-temannya,


Apalagi kalau sampai ketahuan kalau kalian berkelahi cuma gara-gara ibu tirimu yang mencoba mendekatiku,


Aku juga bakalan malu setengah mati," ujar Anang.


"Cuma katamu? Dia sudah bersuami tapi masih kegatelan sana-sini," ujar Santi ketus.


"Ya sudah... Nggak usah bahas itu lagi." kata Anang pelan, lalu memeluk Santi erat-erat.


"Kapan kita pulang?" tanya Anang.


"Tunggu sebentar lagi, sampai teman-teman Papa pulang," kata Santi sambil turun dari pangkuan Anang kemudian berbaring di ranjang, dan menarik Anang untuk ikut berbaring disampingnya.


Entah berapa lama Anang dan Santi berbaring disitu sambil melihat-lihat layar ponsel masing-masing, sampai-sampai Santi tertidur dilengan Anang, dan Anang juga tidak tega rasanya membangunkan Santi.


Anang mengelus wajah Santi pelan-pelan, agar jangan sampai terbangun.


Dua kali Anang membawa Santi menemui ayahnya, dua kali juga Santi naik emosinya gara-gara Wina.


Rasanya Anang tidak mau lagi membawa Santi kesitu, tapi bagaimana lagi dengan ayahnya?


Maunya, mungkin lain kali ajak ayahnya Santi bertemu diluar, tanpa ada Wina ikut bergabung.


Wina.


Entah bagaimana ceritanya sampai ayahnya Santi mau menikah dengan wanita, yang masih terlalu muda seperti itu.


Akhirnya malah cuma mengacaukan hubungannya dengan anaknya sendiri.


Tidak ada yang tahu kapan, dimana, dengan siapa orang akan terjerat didalamnya.


Santi tampaknya tidak terlalu nyenyak tidurnya, mata yang terpejam terlihat bergerak-gerak, dan tak lama Santi membuka matanya.


Anang tersenyum sambil tetap memandangi Santi disitu.


Santi mengecup bibir Anang, lalu merapatkan tubuhnya kepada Anang.


"Masih ngantuk? Mungkin teman-teman Papamu sudah pulang," kata Anang.


Santi kemudian duduk, begitu juga Anang yang beranjak turun dari tempat tidur lalu berdiri didepan Santi.


"Gendooong...!" ujar Santi dengan suara yang dimanja-manjakan.


Anang tertawa, tapi mau saja mengangkat Santi disitu.


"Puas? Capek aku gendong kamu terus!" ujar Anang.


Apa Santi perduli dengan celotehan Anang?


Tentu tidak.


Dengan santainya Santi bergelayut dileher Anang.


"Eh, bagaimana kalau teman-teman Papamu belum pulang, atau kalau Papamu melihat kita?" tanya Anang yang menghentikan langkahnya, yang baru saja sempat berjalan sebentar, dan belum melewati pintu kamar.

__ADS_1


"Ah, memangnya mereka nggak tahu rasanya orang pacaran!" ujar Santi


"Ayo! Tunggu apa lagi?" sambung Santi.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Santi memang tidak bisa dilawan, turuti saja daripada ribut.


"Nanti saja kalian pulang! Papa masih ingin bicara dengan kalian berdua," kata ayah Santi, ketika Anang menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir.


Tampaknya ayah Santi memang sedang menunggu Anang dan Santi disitu.


Anang bertatap-tatapan dengan Santi.


Tak lama, lalu Anang menurunkan Santi, dan sambil bergandengan tangan, Anang dan Santi menyusul langkah ayahnya Santi.


Ayah Santi tempaknya membawa Anang dan Santi keruang kerjanya.


"Duduk dulu disitu!" kata ayah Santi, sambil menunjuk sofa diruang kerja itu.


"Kalian sekarang tinggal dimana?" tanya ayah Santi ketika Anang dan Santi sudah duduk, begitu juga ayah Santi yang ikut duduk berhadapan dengan mereka.


"Dikost-kostan ( menyebut alamat lengkap)," sahut Anang.


"Hmm... Cukup jauh dari sini." ujar ayah Santi.


"Belum lama ini, Papa membeli rumah teman Papa, yang masih didalam perumahan ini. Apa kalian mau menempatinya?" tanya ayah Santi.


"Jangan dijawab dulu. Papa tahu kalau Santi tidak akan mau tinggal disini dengan Papa, tapi paling tidak, kalau kalian tinggal didekat sini, Papa bisa menemui kalian sewaktu-waktu," sambung ayah Santi.


"Santi! Papa sudah semakin tua. Tolong ijinkan Papa agar bisa dekat denganmu lagi," kata ayah Santi dengan suara memelas.


Anang rasanya tidak tega mendengar perkataan ayah Santi itu, tapi bukan Anang yang bisa mengambil keputusan, tetap saja itu urusan Santi.


Sedangkan Santi, terlihat tidak terlalu mau menanggapi perkataan ayahnya, dan malah seakan sibuk sendiri melihat kuku-kuku dijari tangannya.


"Demi mendiang ibumu Nak, Papa mau kamu beri kesempatan pada Papa untuk memperbaiki kesalahan Papa." kata ayah Santi.


Santi terlihat menatap ayahnya dengan sorot mata tajam, dan Santi tampak sangat marah.


Suasana ruangan itu jadi hening untuk beberapa waktu lamanya.


Santi lalu terlihat beberapa kali menghela nafas panjang.


"Terserah Papa saja..." ujar Santi kemudian.


Raut wajah ayah Santi, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Ayah Santi berdiri dan menghampiri Santi, lalu memeluknya erat-erat.


Santi melirik Anang, dan Anang hanya menganggukkan kepalanya.


Bagus!


Ada peningkatan hubungan ayah dan anak ini sekarang, meski Santi masih tampak belum terlalu mau menerima perlakuan sayang dari ayahnya.


"Papa akan mempersiapkan rumah itu untuk kalian. Besok kalian bisa kesini lagi?" ujar ayah Santi bersemangat.

__ADS_1


Santi tidak menjawab pertanyaan ayahnya, malah melirik Anang disampingnya, begitu juga ayah Santi yang ikut-ikutan melihat Anang.


"Bisa, Pak!" sahut Anang.


__ADS_2