SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 112


__ADS_3

Anang rasanya tidak bisa melangkahkan kakinya lagi, saat berjalan keluar dari gedung studio pak Robi.


Berarti mau tidak mau, Anang akan berurusan dengan Peter, untuk waktu yang tidak bisa Anang tentukan.


Bukan apa-apa, tapi baik Anang ataupun Santi pasti tertekan, kalau harus berhubungan dengan Peter terus menerus.


Kecuali Anang bisa mengambil hati Miss Jordan, agar bisa menyingkirkan Peter, saat Anang bekerja dengan label mereka sampai masa kontraknya nanti habis.


"Katanya tadi, kamu harus langsung menemui Peter," celetuk Santi, ketika mereka sudah diluar gedung, sambil menyodorkan ponsel Anang, yang sudah dikembalikan pak Robi.


Anang lalu menghubungi Peter disitu, dan mengatur janji temu dengan laki-laki itu, meskipun Anang tahu kalau Peter pasti akan menyulitkan Anang dan Santi.


Mereka lalu berjanji untuk bertemu di restoran, tempat Anang dan Santi pernah bertemu Peter sebelumnya.


"Nanti malam, Peter akan bertemu denganku. Mau nggak mau, kamu batalkan lagi janjiku untuk bernyanyi nanti malam," ujar Anang.


"Sambil menunggu waktu untuk bertemu Peter, kamu mau kerumah ayahmu? Sekalian bicara dengannya tentang semua ini," sambung Anang.


"Kita juga belum memberikan ini pada ayahmu," kata Anang lagi, sambil mengangkat kantong plastik berisi buah yang masih dipegangnya.


"Iya," jawab Santi singkat.


Setelah taksi pesanan Santi datang dan mereka berdua masuk kedalamnya, Santi lalu terlihat menghubungi seseorang diponselnya.


Cukup lama Santi berbicara disitu, dan sempat terdengar beberapa kali meminta maaf.


Mungkin orang yang mengundang Anang, tidak terima pembatalan yang tiba-tiba seperti itu.


Anang bisa mendengar sayup-sayup, suara yang keluar dari ponsel seakan-akan sedang memarahi Santi.


Anang menggenggam tangan Santi, kemudian langsung mengambil ponsel dari tangan Santi.


"Maafkan saya! Tapi saya benar-benar tidak bisa datang," kata Anang kepada orang yang ada diseberang, lalu memutus panggilan telepon itu.


Santi terlihat bingung menatap Anang.


"Maafkan aku...! Gara-gara aku, malah kamu yang jadi pelampiasan kemarahan orang itu," ujar Anang pelan, sambil memeluk Santi.


Santi tidak menyahut, hanya terdiam sambil bersandar didada Anang.


Anang dan Santi tidak turun dirumah ayah Santi, melainkan terus sampai kerumah yang baru dibelikan ayah Santi, karena ayah Santi menunggu mereka disitu.


Rumah itu sekarang kelihatannya sudah siap ditempati.


Bagian halamannya sudah bersih dan rapi.


Begitu juga dibagian dalam rumah itu, yang sekarang sudah bersih dan tertata beberapa perabotan baru.

__ADS_1


"Bagaimana? Kalian suka?" kata ayah Santi bersemangat.


Anang menganggukkan kepalanya.


"Mungkin kami belum bisa menempati rumah ini..." celetuk Santi sebelum Anang sempat berkata apa-apa.


"Kenapa?" tanya ayah Santi sambil mengerutkan alisnya.


"Anang kemungkinan akan pergi keluar negeri. Nggak tahu untuk berapa lama. Aku nggak mau tinggal disini sendiri," ujar Santi yang terdengar sedih.


Anang memeluk Santi erat-erat, tanpa memperdulikan ayah Santi yang memandangi mereka.


"Kalau kamu mau, aku akan usahakan agar kamu bisa ikut denganku," bisik Anang lalu mengecup kepala Santi.


"Semua gara-gara Peter!" ujar Santi dengan suara tinggi, dan hampir menangis.


Ayah Santi tampak sangat bingung, dengan apa yang dibicarakan Santi.


"Maksudnya apa?" tanya ayah Santi.


"Gara-gara Peter, Anang harus menandatangani kontrak dengan label bosnya Peter, yang ada diluar negeri," sahut Santi.


Ayah Santi terlihat menghela nafas panjang, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi bagaimana sekarang?" tanya ayah Santi lemah.


Ayah Santi kembali terlihat menghela nafas panjang.


"Ya, kalau kamu mau ikut, papa nggak akan melarangmu," ujar ayah Santi yang terdengar kecewa.


Anang mengerti perasaan ayah Santi, yang mau mereka tinggal dekat dengannya.


Apalagi waktu yang dibutuhkan Anang untuk menyelesaikan kontrak baru nanti, tidak ada yang tahu akan berapa lama baru bisa selesai.


Anang butuh Santi bersamanya, meski ada rasa tidak tega kalau harus membawa Santi pergi jauh dari ayahnya, saat ayah dan anak itu baru-baru saja bisa berhubungan baik.


Semua situasi yang ada, benar-benar membuat Anang bingung.


"Masalahnya lagi, kami masih belum tahu apa aku boleh ikut dengan Anang," sahut Santi.


"Kalau Bapak mengijinkan, aku akan mencoba mengurusnya, agar Santi bisa ikut denganku," ujar Anang.


Ayah Santi kelihatan sangat kecewa, sambil memandangi Anang dan Santi bergantian.


"Asal kamu menjaga Santi dengan baik, saya nggak bisa melarangmu membawanya pergi," kata ayah Santi.


Oke!

__ADS_1


Restu dari ayah Santi sudah Anang dapatkan, kini tinggal ijin dari pihak Miss Jordan.


Memang membingungkan kalau harus menduga-duga saja, aturan kontrak dengan label Miss Jordan itu.


Anang cuma bisa berharap, kalau tidak ada aturan yang terlalu menekan Anang, sampai harus pergi sendirian.


"Kapan kira-kira Anang harus pergi?" tanya ayah Santi.


"Belum tahu, Pak! Tapi kemungkinan besar, dalam waktu dekat ini. Malam ini rencananya kami akan bertemu Peter, yang jadi perwakilan label," sahut Anang.


"Rencananya malam ini juga saya akan membicarakan tentang Santi, agar bisa ikut denganku, setelah minta ijin dari Bapak.


Meski aku belum tahu apa saya akan dijinkan pihak label, untuk membawa Santi atau tidak. Mengingat Peter yang jadi perwakilan label itu," sambung Anang.


"Terus terang, saya agak khawatir kalau-kalau Peter masih akan mempersulit kami.


Kalau sampai begitu, berarti mau tidak mau saya harus meninggalkan Santi, dan aku mau Bapak yang tahu lebih dulu tentang kemungkinan saya harus keluar negeri.


Entah saya bisa membawa Santi atau tidak, yang penting Bapak tahu, kalau saya tidak serta-merta mau pergi begitu saja," kata Anang lagi.


"Iya, memang benar. Kalau begini, saya tidak perlu mendengarkan perkataan, yang hanya akan menjelek-jelekkanmu," sahut ayah Santi.


Ayah Santi lalu bersandar dikursi sambil beberapa kali menghela nafas panjang, seolah-olah ada yang dia pikirkan.


"Kalian bawa apa itu?" tanya ayah Santi yang kelihatannya baru menyadari kantong plastik, yang Anang letakkan dilantai.


"Oh..." ujar Anang sambil melepaskan pelukannya dari Santi, lalu mengambil kantong plastik yang ada didekat pintu.


"Buah nangka. Diberikan teman-teman dari kampung kemarin," kata Anang sambil membuka bungkusannya.


"Kalian pergi ke kampungmu?" tanya ayah Santi lalu mengambil buah yang sudah dibuka Anang.


"Iya. Kami pergi menanda tangani berkas di kecamatan, sekalian jalan-jalan dikampungku," sahut Anang.


"Enak!" kata ayah Santi lalu tersenyum, sambil memakan buah dari tangannya.


"Kalian sudah makan?" tanya ayah Santi.


"Sudah, Pak! Itu untuk Bapak saja..." sahut Anang.


Ayah Santi lalu mengangkat alisnya, lalu menunjuk kearah Santi dengan matanya.


Anang lalu melihat Santi yang sejak tadi hanya terdiam, dan terlihat semakin sedih.


Anang memeluk Santi erat-erat.


"Nggak usah khawatir begitu. Aku nggak akan menyerah, lalu meninggalkanmu begitu saja," bisik Anang, sambil mengusap-usap punggung Santi, dan beberapa kali mengecup kepala wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2