
Seperti kemarin, masih pagi-pagi sekali, kendaraan jemputan Anang sudah datang untuk membawa Anang ke studio.
Demam Anang sudah reda, tertinggal hidung yang tersumbat dengan ingus yang kental, dan sedikit batuk-batuk karena saluran nafas yang terhalang dengan lendir yang gatal.
Serak suara Anang pagi itu semakin parah, dan kini sama sekali tidak ada yang bisa terdengar dari mulut Anang, selain suara seperti angin yang mendesis, ketika Anang memaksa untuk bicara.
"Nggak usah memaksa untuk bicara!" ujar Santi dengan suara tinggi, kamu tulis disini saja apa yang kamu mau" kata Santi.
Santi lalu menunjukkan aplikasi 'note' yang ada diponsel kepada Anang, agar Anang bisa mengetikkan pesan apa yang mau dia katakan, lalu menunjukkannya kepada Santi, tanpa perlu berusaha mengeluarkan suaranya yang sekarang menghilang.
"Kamu tunggu saja disini, ya?! Biar aku saja yang ke studio. Nanti aku yang bicara dengan Miss Jordan, kalau kamu sakit.
'Aku ikut'
'Aku nggak mau sendirian disini' tulis Anang dan memperlihatkannya kepada Santi.
"Kamu mestinya istirahat dulu. Kalau bisa tidur, kamu mestinya tidur saja disini... Nanti 'kan aku kembali lagi?!" ujar Santi.
'Aku ikut' tulis Anang, dan memperlihatkannya lagi kepada Santi.
"Kamu keras kepala...!" ujar Santi dengan wajah kesal.
Anang lalu menempelkan kedua telapak tangannya seolah-olah sedang memohon kepada Santi, agar dia bisa tetap ikut bersama Santi ke studio.
Meski raut wajah Santi kelihatan tidak senang, tapi Santi menyetujui kemauan Anang untuk ikut dengannya ke studio.
"Kalau sampai kondisimu memburuk, aku bawa kamu ke rumah sakit, lalu aku tinggal kamu disana sendiri!" celetuk Santi yang terdengar seperti orang yang sedang menggerutu.
Setibanya di studio, Santi lalu berjalan menuju ruangan Miss Jordan bersama Anang.
Setelah berbicara dengan orang yang duduk dimeja dekat pintu ruangan Miss Jordan, Santi dan Anang, lalu masuk ke ruangan Miss Jordan.
Santi lalu berbicara dengan Miss Jordan disitu, untuk beberapa waktu lamanya.
Miss Jordan tampak memperhatikan Anang, meski dia sedang berbicara bersahut-sahutan dengan Santi.
Sepertinya Santi sudah selesai berbincang-bincang dengan Miss Jordan, Santi lalu membawa Anang untuk berjalan keluar dari ruangan Miss Jordan.
Anang mengira kalau mereka akan langsung kembali ke apartemen, ternyata tidak.
Santi membawa Anang ke sebuah ruangan yang masih berada dalam gedung studio, yang belum pernah dilihat Anang sebelumnya.
Disitu ada dua orang sedang duduk, sambil memakai penutup hidung dan mulutnya.
__ADS_1
Ada juga yang seperti Anang yang hanya menggunakan syal, untuk menutupi hidung dan mulutnya.
Kalau Anang memperhatikan wajah-wajah mereka disitu, kelihatannya kondisinya sedang tidak sehat, kurang lebih sama dengan Anang.
Tapi Anang tidak bisa memastikan apakah mereka juga sakit, atau cuma mengantuk, dengan mata yang merah seperti habis menangis.
Santi dan Anang ikut mengambil tempat duduk didekat orang-orang itu, sambil menunggu sesuatu yang Anang tidak tahu apa yang ditunggu.
Setelah dua orang itu bergantian masuk dan keluar dari ruangan itu, barulah Santi membawa Anang masuk kedalam ruangan, yang didalamnya tampak seperti ruang praktek dokter.
Kelihatannya memang benar kalau itu ruangan dokter.
Anang terkagum-kagum dengan studio Miss Jordan ini.
Bukan main-main label Miss Jordan.
Sampai-sampai ada dokter khusus untuk merawat pegawai di studio Miss Jordan, kurang apa coba?
Tapi, justru itu juga yang membuat Anang merasa, kalau bekerja dengan Miss Jordan pasti penuh tekanan.
Pegawai Miss Jordan pasti tidak bisa beralasan sakit begitu saja untuk beristirahat dirumah, karena ada perawatan kesehatan ditempat kerja.
Entah bagaimana sistem kerja Miss Jordan yang sebenarnya.
Apakah saking memperhatikan pegawainya, atau seperti dugaan Anang kalau Miss Jordan tidak mau pegawainya tidak produktif.
Bahkan rasanya seperti sedang memeriksakan diri di rumah sakit, karena sampai foto rontgen, untuk pemeriksaan paru-paru Anang bisa dilakukan disitu.
Setelah pemeriksaan Anang selesai, Anang lalu diberikan obat-obatan, dengan cara pemakaiannya yang diberitahukan kepada Santi.
"Untung hanya flu biasa..." celetuk Santi, ketika mereka berjalan kembali ke lobi.
'Kita bisa langsung pulang?' ketik Anang diponselnya lalu memperlihatkannya kepada Santi.
"Belum. Masih ada ruangan yang harus kita datangi," kata Santi, lalu membawa Anang berjalan ke ruangan yang dimaksud.
Ruangan tempat Anang makan siang kemarin.
Santi lalu menyodorkan kertas yang sempat diberikan dokter tadi, kepada orang yang berjaga disitu.
Sambil menunggu, Anang dan Santi duduk disitu.
Anang teringat kemarin siang, waktu dia diantar kesitu oleh salah satu pegawai Miss Jordan.
__ADS_1
Anang hanya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, atau seperti orang buta yang dituntun keruang makan itu.
Anang juga sempat seperti orang bodoh berdiri didepan orang yang berjaga, padahal makanannya nanti diantar ke meja, jadi Anang semestinya tidak perlu berdiri lama-lama, dan bisa langsung duduk saja disitu.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Selain bekerja yang hampir melewati batas kemampuan pita suaranya, bahasa juga mempersulit Anang disitu.
Bagaimana tidak sulit, kalau kita tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain?
Kecuali tiba-tiba Anang langsung mengerti apa yang orang-orang disitu bicarakan.
Belum lagi suhu dinegeri orang itu, yang dengan mudahnya membuat Anang jadi sakit.
Padahal kata Santi, Anang bukan cuma rekaman, nanti Anang akan promosi lagunya kesana kemari, berarti ada kemungkinan Anang akan bernyanyi diluar studio.
Baru sehari bekerja dengan label Miss Jordan ini, Anang rasanya mau menyerah.
Entah berapa lama Anang bisa bertahan bekerja disitu.
Mereka diberikan dua kantong plastik berukuran besar, yang hampir terisi penuh dengan kotak-kotak bungkusan makanan.
"Ayo kita pulang! Kamu harus istirahat!" ujar Santi lalu berdiri dan mengangkat dua kantong plastik itu dari meja.
Ketika Anang memegang kantong plastik, dan berniat membawakan kantong-kantong itu, Santi melarangnya.
"Nggak usah! Aku bisa membawanya!" ujar Santi.
Tapi Anang tetap memegang kantong-kantong itu, dan akhirnya Santi menyerah, dan membiarkan Anang yang membawanya.
Santi lalu berbicara kepada orang-orang di meja tinggi dilobi, sebelum mereka berjalan keluar, ketika kendaraan yang akan mengantar Anang kembali ke apartemen, sudah menunggu didepan pintu gedung.
"Semestinya makanan yang diberikan untukmu ini, bisa kamu makan. Tapi biar aku periksa dulu!" ujar Santi sambil membuka bungkusan makanan yang ada di kantong-kantong itu, ketika mereka sudah tiba di apartemen.
Santi kelihatannya sudah yakin kalau makanan itu memang bisa untuk dimakan Anang, lalu mengambil beberapa kotak makanan, sedangkan yang lainnya disimpannya didalam lemari es.
"Kamu makan dulu! Minum obat, nanti langsung tidur," kata Santi, yang bersiap-siap untuk menyuapi Anang makan.
'Aku bisa makan sendiri, tapi aku belum lapar' ketik Anang diponselnya, lalu memperlihatkannya kepada Santi.
"Makan dulu! Aku suap! Jangan membuatku kesal!" ujar Santi dengan wajah sangar.
Mau tidak mau, Anang memakan makanannya sambil disuap Santi.
__ADS_1
'Kamu nggak makan?' ketik Anang lagi.
"Nanti saja! Aku bisa membuat makananku sendiri," sahut Santi.