
"Papa sudah bicara dengan kenalan Papa. Dia seorang WO yang akan membantu menguruskan acara kalian berdua," kata ayah Santi yang tiba-tiba muncul dipintu.
Ayah Santi tampaknya tidak menyadari sama sekali, akan adanya ketegangan yang sempat terjadi didalam ruangan itu, selama dia pergi tadi.
Ayah Santi juga tidak terlalu memperdulikan kelakukan Santi, yang duduk diatas pangkuan Anang.
Ayah Santi dengan santainya berjalan menghampiri Wina, lalu duduk disamping Wina lagi.
Santi dan Wina juga pintar menyembunyikan ketidak sukaan mereka satu sama lain, terlebih lagi Wina.
Wanita itu sama sekali tidak menunjukkan kebenciannya kepada Santi, saat ayah Santi sedang bersamanya.
Mungkin itu sebabnya, makanya Santi membenci ayahnya, yang seakan tertutup matanya karena cintanya pada Wina.
Santi yang berusaha menutup-nutupi ketidak sukaannya kepada Wina, malah terlihat seolah Santi hanya membenci ayahnya dan Wina, tanpa alasan jelas.
"Terserah Papa saja! Sekarang kami harus pulang. Anang ada jadwal bernyanyi malam ini. Papa 'kan punya nomorku. Hubungi saja kesitu!" kata Santi.
Tanpa mengijinkan Anang untuk duduk lebih lama lagi disitu, Santi kemudian berdiri dari pangkuan Anang, lalu berjalan sambil menarik tangan Anang, agar ikut dengannya.
Anang yang tidak mau membuat Santi marah dengannya, hanya mengikuti langkah Santi yang berjalan, sambil setengah menyeret Anang.
"Maaf, Pak, Bu! Kami pulang dulu," kata Anang buru-buru sebelum mereka berdua melewati pintu ruangan itu.
Ayah Santi menyempatkan berdiri, dan berjalan cepat menyusul Anang dan Santi, yang terus berjalan didepannya.
"Anang! Kalau ada waktu, besok atau lusa, nanti bawa Santi kesini lagi! Saya menunggu!" ujar ayah Santi yang masih berusaha menyusul Anang dan Santi.
"Iya, Pak!" jawab Anang singkat.
Anang masih menyempatkan untuk menganggukan kepalanya kearah ayah Santi, yang berdiri dipintu depan rumah, sebelum mereka berjalan keluar melewati pagar rumah keluarga Santi.
"Kenapa kamu begitu? Aku jadi nggak enak dengan Papamu," ujar Anang pelan, sambil merangkul pinggang Santi, berjalan menyusuri jalan kompleks perumahan.
"Ah. Aku males kalau lama-lama berhadap-hadapan dengan wanita sial itu!" sahut Santi, yang terlihat sibuk mengetik sesuatu dilayar ponselnya.
Anang yang tidak bisa berkomentar lebih banyak, hanya bisa terdiam, dan mengunci mulutnya rapat-rapat.
Tidak terlalu jauh mereka berjalan, belum sempat mencapai portal perumahan itu, taksi jemputan mereka sudah datang.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan tentang Peter dan aku tadi?" tanya Anang saat mobil yang mereka tumpangi, sudah mulai melaju dijalanan kota.
"Peter sempat berhubungan intim dengan Wina... Aku berbohong dengan bilang kalau Peter menolaknya...
__ADS_1
Aku menangkap basah mereka berdua didalam kamarku dirumah tadi, tapi aku tidak sanggup mengatakannya kepada Papa,
Lebih baik aku pergi dari rumah, dari pada aku harus melihat wanita itu terus-menerus." kata Santi.
Anang menggenggam tangan Santi.
"Jadi kamu memang tidak diusir Papamu?" tanya Anang memastikan.
"Kalau dia mengusirku, mana mungkin dia masih mau mengirimkan aku uang!" sahut Santi.
"Papa memaksaku menerima lamaran Peter. Coba saja kamu bayangkan, kalau aku menikah dengan Peter, lalu kami tinggal dirumah Papa, bersama Wina disitu. Kira-kira apa yang akan terjadi?" ujar Santi.
"Papaku hanya dibodohi wanita sial itu!" sambung Santi ketus.
Anang mendengarkan cerita Santi dengan serius, tanpa mau menghakimi keluarga Santi, apalagi dengan Santi.
Anang menyayangi wanita itu, tanpa mau terpengaruh dengan masa lalu, atau keluarga yang kacau.
Rasanya semua orang memang punya masalahnya masing-masing, tinggal cara menyikapinya saja yang berbeda-beda.
"Apa pekerjaan Papamu? Ruang kerjanya banyak sekali buku-buku, tapi aku tidak sempat melihat buku apa saja yang ada disitu." ujar Anang.
"Dia mengelola firma, Papaku pengacara. Tapi sekarang dia sudah tidak aktif dipersidangan. Kecuali ada kasus-kasus besar, dan dia diminta klien untuk turun tangan." kata Santi menjelaskan.
Anang membayangkan, bagaimana kalau Santi sampai jadi pengacara, Anang tidak akan pernah mengenal wanita itu.
Tapi, Santi pasti terlihat sangat hebat.
Santi mungkin akan jadi pengacara wanita yang cantik, dan pintar.
"Kamu tidak mau melanjutkan kuliahmu?" tanya Anang.
"Sepertinya nggak. Aku sudah kehilangan minat." sahut Santi.
"Bagaimana kalau aku yang memintamu, untuk melanjutkan kuliahmu lagi?" tanya Anang coba-coba.
"Hmm... Kenapa kamu mau aku melanjutkan kuliahku?" Santi balik bertanya.
"Nggak ada apa-apa. Aku hanya sempat membayangkan kalau kamu bisa menjadi pengacara, sesuai dengan cita-citamu yang awal." Kata Anang.
"Tapi, mungkin kalau kamu sampai jadi pengacara, kamu mungkin tidak akan menyayangi aku lagi, yang hanya remahan kerupuk." sambung Anang, sambil tersenyum.
Santi ikut tersenyum, lalu memeluk Anang erat-erat.
__ADS_1
"Aku akan tetap menyayangimu, remahan kerupuk ku!" ujar Santi, yang hampir tertawa.
Anang tidak bisa menahan rasanya untuk tertawa saat mendengar omongan Santi.
Anang tertawa pelan, lalu mengecup kepala Santi.
Setibanya mereka di kost-kostan, Anang buru-buru mandi duluan, mengejar waktu.
Anang belum sempat mempelajari lagu-lagu pesanan, yang akan dia nyanyikan malam ini.
Hampir semua lagu yang jadi pesanan, adalah lagu-lagu berbahasa Inggris.
"Nggak usah panik! Kamu cukup menghapal nadanya saja. Nanti aku yang urus soal liriknya, jadi kamu tinggal membaca teks," teriak Santi dari dalam kamar mandi.
Benar juga.
Hampir seperti undangan waktu itu.
Anang tidak perlu kesulitan menghapal liriknya, karena teks yang dibuat Santi dilayar ponselnya.
Sambil menunggu Santi bersiap-siap, Anang mendengarkan lagu-lagunya, dan menghapalkan nadanya saja.
Tidak memakan waktu lama, rasanya Anang yakin kalau dia siap untuk tampil.
"Undangan untuk acara apa sih ini?" tanya Anang, ketika Santi keluar dari kamar mandi.
"Hmm... Kalau nggak salah, untuk acara kantor apa gitu. Nanti aku lihat ulang," kata Santi, sambil memilih, dan memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa.
Anang memandangi Santi yang memakai gaun lengan panjang, dengan bagian rok yang panjangnya sampai dibawah lutut.
Gaun yang sangat sopan, tapi karena bentuk tubuh Santi, membuat gaun itu tetap tampak mencolok.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Santi.
"Nggak apa-apa. Hanya saja rasanya aku masih nggak bisa percaya, kalau dalam minggu ini, aku akan memilikimu untukku saja," ujar Anang.
"Mimpi apa, sampai bisa dapat calon istri secantik ini," sambung Anang, sambil menghampiri Santi yang sedang tersenyum kearahnya, lalu memeluk Santi erat-erat.
Anang lalu menunduk, berniat mencium Santi, tapi Santi menahannya.
"Jangan coba-coba merusak lipstik ku!" ujar Santi.
Tapi Santi masih mengijinkan Anang mengecup bibirnya sekilas, sebelum mereka pergi ke tempat acara yang mengundang Anang.
__ADS_1