SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 92


__ADS_3

Kegiatan bernyanyi Anang malam itu rasanya tidak ada yang terlalu spesial, selain Anang sempat menyanyikan dua lagu ciptaannya sendiri, yang sempat menarik lebih banyak perhatian orang-orang disitu.


Terlebih lagi perhatian Yuni, yang tampaknya sangat mengagumi dan tertarik dengan Anang.


Yuni sampai meminta Anang agar tetap bersama dengannya, meski Anang sudah selesai bernyanyi, dan melarang Anang yang berniat pergi menghampiri Santi.


Padahal waktu Anang bernyanyi diatas panggung tadi, Yuni sempat duduk bersebelahan dengan Anang, sampai beberapa lagu, selesai Anang nyanyikan.


Tapi Yuni kelihatannya belum puas menghabiskan waktu dengan Anang.


Meski teman-teman Yuni seakan meminta waktu agar Yuni memperhatikan mereka yang ingin berbincang-bincang dengan Yuni, tetap saja Yuni tidak mau menghiraukan teman-temannya sama sekali.


Untung saja Setyo yang mengawasi gerak-gerik adik perempuannya itu, menyadari ketidak nyamanan Anang, dengan tingkah Yuni yang bersikap terlalu intim dengan Anang.


Tangan Yuni seakan terlalu bebas menyentuh Anang, mulai dari menggenggam tangan Anang, sampai meletakkan tangannya diatas paha Anang, sambil meremasnya pelan.


"Yuni! Kakak mau mengobrol dengan Anang dulu!" kata Setyo, sambil mengajak Anang pergi.


Meski wajah Yuni merengut, tapi tampaknya dia belum berani melawan perkataan kakaknya.


"Maafkan sikap adikku..." kata Setyo ketika Anang sudah bersama Santi, dan berjalan-jalan dengannya.


"Aku juga bingung dengannya.


Yuni pasti tertarik dengan laki-laki yang sebaya denganku, meski teman-teman laki-laki sebayanya meminta Yuni jadi pacar mereka, tapi Yuni pasti menolak.


Sedangkan didaerah ini, rata-rata pemuda yang sebaya denganku sudah menikah." kata Setyo.


"Mungkin Yuni menjadikan Setyo sebagai patokan untuk jadi standar pacar untuknya," ujar Santi.


Setyo tertawa pelan.


"Bisa jadi. Sebelum-sebelumnya Yuni setahu aku pernah dekat dengan beberapa anak laki-laki sebayanya.


Yuni jadi banyak berubah seperti itu, sejak setahun belakangan, sejak aku bertunangan dengan Mia." ujar Setyo.


"Hmm... Kalau begitu mungkin Yuni khawatir kalau-kalau Setyo menikah, dan perhatian Setyo kepadanya jadi berkurang," sahut Santi.


Setyo membawa Anang dan Santi duduk dibangku taman, yang berada disisi lain rumah Setyo.

__ADS_1


"Kami semestinya, tiga bersaudara. Selain Yuni aku masih punya adik laki-laki, tapi sudah meninggal dunia karena kecelakaan sepeda motor, lima tahun lalu.


Yuni dulu lebih dekat dengan adikku yang nomor dua itu. Setelah adikku itu meninggal, Yuni jadi lengket dan manja denganku," kata Setyo.


"Kata teman-temanku juga hampir sama dengan kata Santi, kalau Yuni mungkin khawatir kalau kehilangan sosok kakak tempat dia bisa bermanja-manja," sambung Setyo.


"Kalian mau minum atau makan sesuatu?" tanya Setyo.


"Nggak usah repot-repot." sahut Santi.


Anang yang sedari tadi mendengar cerita Setyo, tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Anang yang tidak punya saudara kandung, jelas tidak mengerti rasanya yang diceritakan Setyo tentang keluarganya.


Setyo tetap saja menyuruh salah satu pekerja dirumahnya untuk membawakan minuman, dan camilan untuk mereka disitu.


"Jadi Setyo rencananya tetap tinggal dirumah ini meski sudah menikah nanti?" tanya Santi.


"Iya, Mia juga setuju untuk tetap tinggal disini. Apalagi orang tuaku akan sering-sering keluar daerah,


Yuni juga akan berkuliah, rumah dan perkebunan ini mau nggak mau harus aku yang kelola," sahut Setyo.


"Kalau aku melangsungkan acara pernikahanku, kalian mau datang lagi kesini?" tanya Setyo.


"Oke! Rencananya bulan depan kami akan menyelenggarakan pesta pernikahan kami. Nanti aku beritahu tepatnya tanggal berapa," ujar Setyo bersemangat.


Tak lama Yuni dan Mia terlihat berjalan menghampiri mereka disitu.


Yuni lalu duduk dipangkuan Setyo, dan bergelayut manja dileher kakaknya itu, dan Setyo mengusap-usap punggung adiknya itu pelan.


'Lihat,' kata Setyo yang hanya menggerakkan mulutnya, tanpa mengeluarkan suaranya, lalu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mereka semua yang ada disitu, selain Yuni, hanya tersenyum melihat sikap manja Yuni dengan kakaknya.


"Kita makan malam bareng, ya?!" kata Setyo, sambil melihat Anang, Santi dan Mia bergantian.


"Mau, Yun?" tanya Setyo kepada Yuni.


"Iya," sahut Yuni.

__ADS_1


Yuni kelihatannya tidak mau turun dari pangkuan kakaknya, akhirnya Setyo menggendong Yuni, dan berjalan masuk kedalam rumah, disusul Anang, Santi, dan Mia dari belakangnya.


"Yuni selalu begitu dengan Setyo... Kadang-kadang bisa membuatku iri. Tapi mau bagaimana lagi, mereka berdua memang sudah begitu sejak aku mengenal Setyo," kata Mia setengah berbisik kepada Santi dan Anang.


Setelah selesai makan malam dengan keluarga Setyo, lengkap dengan kedua orang tuanya, Anang dan Santi meminta ijin untuk beristirahat dikamar.


"Ada serunya, ada susahnya juga kalau punya saudara yang terlalu lengket begitu," celetuk Santi sambil membuka pakaiannya.


"Tapi yang membuatku iri, hubungan mereka dengan orangtuanya yang kelihatannya harmonis... Waktu Mama masih hidup, aku dengan orangtua ku juga begitu..." sambung Santi.


Anang yang sudah selesai membuka pakaiannya, dan tertinggal celana pendek menarik Santi agar berbaring dengannya.


"Makanya aku mau menemui Papamu... Aku berharap hubunganmu dengannya bisa membaik, tapi sekarang malah tambah kacau... Kira-kira kamu nggak akan menyalahkanku?" ujar Anang


"Nggak lah! 'Kan bukan salahmu! Sudahlah, biarkan saja! Nggak usah dipikirkan!" ujar Santi, sambil memeluk Anang.


"Bagaimana kamu dulu dengan mendiang orang tuamu?" tanya Santi.


"Waktu mereka masih hidup, rasanya hubungan kami baik-baik saja. Aku nggak manja, tapi tetap dekat dengan mereka berdua..." sahut Anang.


"Ayah dan ibuku juga kelihatannya saling menyayangi sampai akhir hayatnya...


Biasa saja 'kan kalau ada pertengkaran kecil dalam rumah tangga?! Tapi aku nggak pernah melihat mereka bertengkar sampai memakan waktu lama.


Paling lama satu jam, ayahku sudah bisa membuat ibuku tersenyum lagi...


Setelah ibuku meninggal, kelihatannya ayahku juga kehilangan semangatnya untuk hidup, meski masih ada aku bersamanya.


Ayahku jadi sering sakit-sakitan. Dan akhirnya Ayahku menyusul ibuku kurang lebih dua bulan kemudian..." kata Anang.


Kisah cinta Romi dan Yuli, di film yang pernah Anang tonton, rasanya tidak seberapa dibanding kisah cinta ayah dan ibu Anang.


Anang memeluk Santi erat-erat.


"Aku juga mau kita seperti mereka, selain meninggalnya yang buru-buru," sambung Anang sambil mengecup kepala Santi.


"Hmm... Orang tuamu jauh lebih baik dari Papaku yang bodoh... Papaku menikah lagi, hanya lima bulan setelah Mama ku meninggal." ujar Santi.


"Semakin bodohnya lagi, dia malah menikah dengan wanita yang nggak jelas sama sekali, tapi dicintainya dengan sepenuh hati." sambung Santi yang terdengar kesal.

__ADS_1


"Sudah... Itu kalau kamu anggap kesalahan, ya ambil pelajarannya saja. Jadi nanti jangan ditiru.


Orang tua ku juga pasti ada kesalahannya, tapi pasti semua orang nggak akan luput dari kesalahan, entah sengaja atau tidak disengaja. Kita ambil baiknya saja," ujar Anang.


__ADS_2