
Dasar bodoh!
Anang memang terlalu bodoh!
Semua yang Santi bilang itu benar adanya.
Siapa bilang Anang harus berusaha sendiri, kalau ada yang mau menemani, dan bisa membantunya?
Anang sudah dapat jackpot, tapi Anang terlalu angkuh untuk menerimanya.
Masih bersikeras harus bisa berdiri sendiri.
Sedangkan selama ini, meski Anang hebat dalam bermusik, tapi hanya jadi makanan dari orang besar yang mau memanfaatkannya.
Orang-orang baik yang ada disekitar Anang, itu salah satu bentuk anugerah, dan rezeki dari Yang Kuasa bagi Anang, tapi Anang tidak menyadarinya.
"Maafkan aku...! Selama ini aku nggak pernah terpikirkan tentang semua itu..." ujar Anang pelan, penuh penyesalan.
"Apa kamu masih mau memberiku kesempatan, untuk mencobanya lagi denganmu?" sambung Anang, bersungguh-sungguh.
Santi mendengus kesal.
"Nggak tahu! Kita lihat saja nanti!" ujar Santi, lalu berdiri dari pangkuan Anang.
"Ayo, kita kerumah Papa!" ajak Santi datar.
Anang kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu ikut berjalan dengan Santi.
Sesekali Anang melirik Santi, yang berjalan disampingnya.
Santi kelihatan masih kesal dengan Anang, dan hanya menatap lurus ke jalanan.
Ketika Anang mencoba memegang tangannya, Santi menghindar.
Ayah Santi terlihat menunggu didekat pagar, lalu buru-buru menghampiri Anang.
"Papa, mau minta tolong Anang memetikkan buah disamping, sebentar," ujar ayah Santi, sambil melihat kearah Santi.
"Santi panasin mobilnya saja dulu!" sambung ayah Santi, lalu menyodorkan kunci mobil kepada Santi.
Tanpa menunggu lama-lama, ayah Santi membawa Anang berjalan dengannya, kebagian samping rumahnya.
Sebenarnya, menurut Anang gerak-gerik ayah Santi terlalu mencolok, dan Anang merasa yakin kalau Santi pasti mencurigainya.
Sudahlah...
Toh, baik ayah Santi, maupun Anang, tidak ada yang berniat buruk kepada Santi.
"Bagaimana? Ada ide?" tanya ayah Santi buru-buru, sambil berjalan cepat, mengikuti langkah Anang yang lebar.
"Aku masih mencoba membujuknya, Pak!" sahut Anang.
Anang tidak mau menceritakan tentang apa yang Santi katakan.
Tidak mungkin Anang memberitahu ayah Santi, kalau gara-gara mereka berdualah, yang membuat Santi memilih pergi keluar negeri.
Karena menurut Anang, meski yang paling bersalah itu Anang, tapi, kalau dia menceritakan hal itu, hanya akan membuat ayah Santi ikut merasa bersalah.
"Saya juga masih memikirkan caranya, biar Anang bisa membujuknya. Tapi, belum ketemu apa-apa. Mau nggak mau, Anang yang harus mencoba sendiri, pakai cara Anang saja dulu," kata ayah Santi.
"Hmm... Anang jangan menyerah ya?!" sambung ayah Santi.
__ADS_1
Anang menganggukkan kepalanya.
"Iya, Pak!" sahut Anang.
Anang melihat kesana kemari, mencari pohon buah yang ingin dipetik ayah Santi.
Ayah Santi mungkin menyadari gerak-gerik Anang, lalu berkata,
"Saya sudah memetiknya..." sambil menunjuk dua keranjang kecil, yang sudah terisi penuh dengan buah mangga yang sudah matang.
"Saya hanya mencari alasan, biar Anang bisa bicara dengan saya, tanpa ada Santi ikut mendengarnya," sambung ayah Santi, yang tersenyum dan hampir tertawa.
Kalau Santi tiba-tiba menyusul kesitu, pasti ayah Santi akan jadi lebih grogi, daripada waktu diteras rumah mereka tadi.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ikut tersenyum.
"Ambil itu! Biar dikira Santi, Anang memang baru saja memetiknya," ujar ayah Santi, lalu menyodorkan satu keranjang yang berisi butiran buah mangga, kepada Anang.
"Terimakasih, Pak!" kata Anang, yang hampir tertawa.
"Sebentar lagi, baru kita kedepan! Biar lebih meyakinkan Santi," kata ayah Santi lagi.
Kali ini Anang tidak bisa menahan tawanya lagi, begitu juga ayah Santi yang ikut tertawa bersama dengan Anang.
"Apa yang lucu?" suara pertanyaan Santi, yang hampir berteriak, menggema di halaman samping rumah ayah Santi.
Karena terkejut, Anang berikut juga ayah Santi, terbatuk-batuk agar bisa berhenti tertawa secepatnya.
"Nggak ada apa-apa!" sahut Anang buru-buru.
Santi terlihat berjalan mendekat, menghampiri Anang dan ayah Santi disitu.
Anang memperhatikan mata Santi, yang menatap keranjang yang dipegang Anang, dengan alisnya yang mengerut, lalu melihat kearah lain, dimana ada satu lagi keranjang yang berisi buah mangga.
"Ooh... Aku hanya memetik buah yang tinggi saja. Sebagian sudah dipetik Papa tadi," sahut Anang.
Raut wajah Santi berubah drastis, sebelum dia kembali mengerutkan alisnya.
"Ayo kita belajar menyetir! Atau kamu masih mau menghabiskan waktu dengan Papa barumu?" ujar Santi, lalu berbalik dan berjalan mengarah kedepan rumah.
Anang kebingungan.
Oh iya, Anang tadi menyebut ayah Santi, Papa.
Anang melihat ayah Santi yang berdiri disampingnya, tapi orang tua itu hanya tersenyum, lalu menepuk-nepuk punggung Anang.
"Pergi sana! Kalau kamu nggak mau Santi marah denganmu," ujar ayah Santi.
"Baik, Pak!" sahut Anang, lalu buru-buru menyusul Santi.
Anang yang berjalan disamping Santi, lalu melirik Santi yang masih cemberut.
"Mau makan mangganya? Aku yang kupaskan!" tanya Anang pelan.
Santi menoleh kesamping melihat Anang, lalu berhenti berjalan.
"Iya! Sekarang!" sahut Santi tegas.
Anang melihat kesana kemari, mencari-cari dimana bisa mencuci buahnya, sekalian mencari sesuatu yang bisa dipakai mengupas buah.
"Kenapa?" tanya Santi datar.
__ADS_1
"Anu... Cucinya dimana?" Anang balik bertanya.
Santi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Makanya, nawarinnya lihat-lihat dulu!" ujar Santi.
Santi memegang tangan Anang, dan membawanya masuk kedalam rumah ayah Santi, lalu terus berjalan sampai kebagian dapur.
Anang mencuci buah-buah mangga itu didalam bak cuci piring.
Masih didapur rumah ayah Santi, Anang lalu mengambil pisau, dan mengupaskan sebutir mangga untuk Santi.
Dengan wajah datar, Santi menatap Anang, saat Anang menyuapkan seiris daging buah mangga kepadanya.
Anang tersenyum.
"Manis?" tanya Anang, ketika Santi mengunyah daging buah mangga didalam mulutnya.
Santi menganggukkan kepalanya.
Anang mengiris sepotong lagi, lalu menyuapkannya kedalam mulutnya, untuk mencoba rasanya.
Memang manis.
Kembali Anang mengiris buah mangga, lalu memakan potongannya lagi.
"Kamu mau makan sendiri?" tanya Santi, yang sudah merengut.
Buru-buru, Anang memotong buah mangga lagi, lalu menyuapkannya kepada Santi.
Sampai habis sebutir, rasanya belum ada yang puas memakannya.
Anang mengupas dua butir mangga lagi.
"Sekalian... Aku juga mau," celetuk Anang enteng.
Anang berganti-gantian menyuap irisan buah kepada Santi, lalu kemulutnya sendiri.
Dua butir mangga sudah bersih daging buahnya, tertinggal bijinya saja.
"Masih mau?" tanya Anang.
Santi menggelengkan kepalanya.
"Nggak. Cukup saja! Kamu belajar menyetir mobil saja dulu," sahut Santi, lalu melihat sisa buah yang masih berhambur diatas meja.
"Ambil semuanya itu! Nanti selesai belajar menyetir, aku mau makan lagi," sambung Santi.
Anang lalu memungut sisa buah, dan memasukkannya lagi kedalam keranjang.
Ketika mereka sudah diteras depan rumah ayah Santi, Anang lalu ikut masuk kedalam mobil bersama Santi.
Santi kemudian, mengeluarkan mobil dari halaman rumah ayah Santi.
Setelah mobil sudah dijalanan kompleks, Santi membawa Anang berkeliling sebentar.
"Perhatikan saja caranya...!" ujar Santi.
Mungkin Santi sudah merasa cukup memperagakan caranya menyetir, Santi lalu keluar dari mobil yang sudah terparkir, dengan mesin yang masih menyala.
"Pindah ke jok supir! Giliranmu mencobanya!" kata Santi.
__ADS_1
Dengan lutut gemetar, Anang yang masih duduk di jok penumpang, keluar dari mobil lalu duduk di belakang setir.
"Kamu pasti bisa! Pelan-pelan saja..." ujar Santi.