SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 189


__ADS_3

Pembicaraan Anang dengan Santi, menjelang sore waktu itu, benar-benar berlangsung sangat singkat dan datar, lebih datar dari biasanya.


Santi mengatakan kalau dia masih sibuk, karena ada yang harus Santi kerjakan yang cukup mendesak.


Begitu juga, ada kemungkinan untuk beberapa hari kedepan, Santi tidak akan bisa menghubungi Anang.


Santi masih sempat mengingatkan Anang, kalau sesuatu yang akan dia kirim, tak lama lagi akan Santi kirimkan kepada Anang, karena sekarang sudah menjelang akhir tahun.


Santi memang tidak menutup-nutupi, kalau dia masih saling menghubungi dengan Tejo.


Tapi, karena Santi masih tidak mau memberitahu kepada Anang, apa yang dia bicarakan dengan Tejo, membuat Anang semakin penasaran, dan bertanya-tanya.


Kenapa dengan orang-orang ini?


Setelah Anang menarik semua kejadian belakangan, sejak Anang pindah kekampung ini, hampir setiap Anang dikampung, rasanya, ada-ada saja kejutan yang tidak biasa.


Santi, Tejo, pak Handoko, bahkan para pekerja-pekerja dilahan tetangga, seakan-akan sedang menyembunyikan sesuatu dari Anang.


Meskipun semua orang-orang itu kelihatannya biasa-biasa saja, tapi disaat-saat tertentu, terkadang gelagat mereka semua, terasa mengganjal bagi Anang.


Yang paling kentara adalah pak Handoko, waktu dia masih dikampung ini waktu itu.


Pak Handoko waktu dikota, rasanya sangat terbuka, saat berbicara dengan Anang.


Tapi saat dia dikampung dan bertemu Tejo, pak Handoko lalu seakan-akan berusaha mengindari suatu pembicaraan, agar Anang tetap tidak tahu apa-apa tentang sesuatu.


Apa ada masalah dengan kampung ini?


Sampai-sampai semua orang yang berhubungan dengan kampung Anang ini, lalu tiba-tiba bertingkah aneh.


Sudah beberapa hari belakangan, Anang, Tejo dan orang-orang yang bekerja dilahan tetangga, bersama-sama memanen padi yang ada dikebun Anang.


Hari ini semestinya tanaman padi milik Anang, selesai dipanen semua, tapi Tejo tidak mau ikut bekerja membantu Anang kali ini.


Tejo beralasan bahwa ada sesuatu yang harus dia lakukan dirumah.


Sebenarnya tidak jadi masalah.


Apalagi, sisa padi yang akan dipanen tinggal sedikit.


Hanya saja gerak-gerik Tejo pagi tadi, rasanya, lebih aneh lagi dari biasanya.


Sambil membersihkan rumah, dan memasak untuk bekal makanan siang bersama pekerja-pekerja, yang membantu Anang nanti, Tejo terlihat seperti sedang gelisah.


Ketika Anang bertanya, Tejo hanya berkata kalau dia sedang merasa kurang enak badan biasa saja.


Lalu saat Anang menyuruh Tejo pergi berobat, bahkan menawarkan diri untuk menemaninya, Tejo menolak, dan tetap bersikeras kalau dia baik-baik saja.


Satu hal lagi yang dirasa Anang agak aneh.


Tejo sempat terlihat pergi membersihkan salah satu kamar dirumahnya, yang sempat dipakai pak Handoko waktu itu.

__ADS_1


Kalau Anang hanya sekedar menduga-duga asal-asalan, mungkin Tejo akan kedatangan tamu dirumahnya hari ini.


Tapi, karena Tejo tidak berkata apa-apa tentang itu, jadi, Anang juga tidak terlalu memperdulikannya.


Mungkin saja Tejo hanya mau membersihkannya, memangnya yang jadi masalahnya dimana?


Tejo berkata pada Anang, kalau Anang bisa saja pergi ke kebun, dan Anang tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaannya, dan berkali-kali meyakinkan Anang kalau dia tidak apa-apa.


Sudahlah...


Kalau memang Tejo sedang sakit, tidak mungkin Tejo terlalu bodoh sampai tidak mau mengabari Anang.


Karena berkurang satu tenaga, pemanenan padi dikebun Anang, baru berakhir setelah hari menjelang sore.


Pekerja-pekerja lahan tetangga, sudah kembali ke barak mereka.


Sedangkan Anang, memilih untuk duduk dipondok tenda terpal, yang dipasang mendadak dikebun Anang untuk jadi tempat beristirahat, dan menyimpan karung gabah padi.


Merasa kalau hari sudah semakin sore, Anang lalu merapikan semua peralatan bekas makan siang tadi, dan memasukkannya kedalam keranjang.


Setelah semua sudah beres, Anang kemudian berjalan kembali pulang ke rumah Tejo.


Ketika menyusuri jalan perkampungan, dari kejauhan, Anang melihat mobil terparkir didepan rumah Tejo.


Anang mengenali mobil itu.


Itu mobil yang dipakai pak Handoko ke kampung waktu itu, bersama Anang.


Anang mempercepat langkahnya, dengan terburu-buru agar bisa cepat sampai dirumah Tejo.


Ketika Anang memasuki rumah Tejo, tempat itu sepi.


Tidak ada terlihat Tejo, atau siapapun didalam sana.


Anang berjalan terus, masuk kedalam rumah, pintu kamar yang sempat dipakai pak Handoko menginap waktu itu, tertutup rapat.


Ketika Anang mendekat kepintu, juga tidak terdengar apa-apa dari dalam situ.


Kalau memang pak Handoko yang datang, mungkin sekarang sedang berjalan-jalan dengan Tejo.


Anang lalu berjalan terus sampai ke dapur, dan meletakkan keranjang berisi peralatan makan yang kotor, kedekat tempat cuci piring.


Semestinya Anang langsung mencuci barang-barang yang kotor itu, tapi rasanya, Anang masih malas mengerjakannya.


Anang lebih memilih untuk mandi terlebih dahulu, untuk menghilangkan rasa penatnya.


Selesai mandi, masih saja tidak ada suara apa-apa dari dalam rumah.


Anang yang berjalan masuk lewat pintu dapur, tetap berjalan pelan menuju ke kamarnya untuk berpakaian.


Kamar yang dipakai Anang, tepat bersebelahan dengan kamar yang diduga Anang, dipakai pak Handoko lagi.

__ADS_1


Iseng-iseng Anang menempelkan telinganya ke daun pintu, dan membuat pintu itu sedikit berbunyi.


Entah karena memang berbunyi karena Anang, atau memang karena orang didalamnya yang membuka pintu itu.


Wajah itu... Wajah sayu seperti baru bangun tidur yang membuka pintu sambil tersenyum, ketika bertatapan dengan Anang.


Meski masih terlihat lemas, Santi memeluk Anang disitu.


Rasanya, Anang tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Terkejut, bingung dan heran, membuat Anang merasa nafasnya sesak, jantung berdegup sangat kencang, dan gemetar hebat.


Apa Anang sekarang sedang bermimpi?


Tapi, tubuh Santi yang hangat saat menyentuh Anang, meyakinkan Anang kalau itu bukan mimpi.


"Apa yang aku kirimkan ini menarik?" tanya Santi, yang melepaskan pelukannya dari Anang, dan menatap Anang lekat-lekat.


"Santi...!" ujar Anang pelan.


Santi melingkarkan kedua tangannya dileher Anang, dan menarik Anang agar sedikit menunduk, lalu mengecup pipi Anang.


Anang tidak mau melewatkan kesempatannya untuk memeluk Santi, sampai kaki Santi terangkat dari lantai.


"Heh? Jawab dulu pertanyaanku! 'Sesuatu' yang aku kirimkan sekarang, apa bagus?" tanya Santi.


"Bagus..." sahut Anang, dan mencoba mencium bibir Santi, tapi Santi menghindarinya sambil tertawa pelan.


Anang terdiam sebentar, dan menatap mata wanita itu.


Entah apa yang dicari Anang didalam sana.


Santi kemudian tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya, sampai bibirnya menyentuh bibir Anang.


Kali ini jadi kesempatan bagi Anang, untuk mencium bibir Santi, dan seolah-olah tidak mau melepaskannya lagi.


Santi mendorong Anang pelan.


"Aku nggak bisa nafas..." celetuk Santi, lalu tersenyum dan hampir tertawa.


Anang benar-benar mengangkat Santi, dan menggendongnya disitu.


"Aku merindukanmu..." ujar Anang.


Santi tidak menanggapi perkataan Anang, dan hanya memeluk Anang erat-erat.


Cukup lama mereka hanya berdiam seperti itu, tiba-tiba Santi mengendurkan pelukannya, dan seolah-olah meminta Anang menurunkannya.


Anang yang belum puas memeluk Santi, tidak mau melepaskannya, malah mempererat pegangannya.


"Ada Tejo...!" bisik Santi ditelinga Anang, sambil memaksa turun dari gendongan Anang.

__ADS_1


Anang menghela nafas panjang, dan mau tidak mau, Anang lalu melepaskan Santi.


__ADS_2