SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 156


__ADS_3

Setibanya Anang dan Tejo di terminal bus dikota, Anang terburu-buru mengatur perjalanan Tejo, yang berniat pergi ke salah satu pusat perbelanjaan ditengah kota.


Sedangkan Anang, harus kerepotan membawa sebuah koper yang terisi pakaian miliknya, dan milik Tejo.


Anang tidak bisa menunda-nunda lagi untuk pergi ke pengadilan, jadi, mau tidak mau dia harus membawa koper itu bersamanya, dan belum bisa ke penginapan, meski hanya sekedar singgah sebentar, untuk menitipkan benda itu.


Sejak bus, baru memasuki wilayah perbatasan perkotaan, pak Handoko sudah berkali-kali menghubungi nomor Anang.


Pak Handoko mungkin salah menduga perkiraan perjalanan Anang, dari kampung ke kota.


Pak Handoko terdengar seperti orang terkejut saat mendengar Anang, yang berkata kalau dia masih didalam bus, dan belum tiba dikota.


Persidangan sudah dimulai sejak tadi.


Hari itu waktunya temu dengar kesaksian Anang, dan pak Handoko harus meminta reses, karena Anang belum tiba disana, untuk memberikan kesaksiannya.


Menggunakan taksi, Anang mengejar waktu agar bisa secepatnya tiba dikantor pengadilan, dimana pak Handoko sudah menunggunya.


Ketika Anang tiba dikantor pengadilan itu, pak Handoko tampak sedang berjalan mondar-mandir didepan kantor, dan terlihat sudah sangat tidak sabar menunggu kedatangan Anang.


"Maafkan saya, Pak! Tapi, busnya baru saja tiba," ujar Anang.


Pak Handoko meski sempat terlihat bingung, karena melihat Anang yang menenteng koper pakaian, tapi tidak berkomentar banyak, dan hanya menyuruh Anang ikut dengannya.


Anang mengikuti langkah pak Handoko, sambil tetap menenteng koper ditangannya.


"Titipkan saja disitu!" kata pak Handoko, ketika mereka sudah berdiri dipintu salah satu ruangan, yang tertutup rapat, sambil menunjuk kearah petugas keamanan, yang sedang duduk didekat pintu.


Anang meletakkan kopernya, didekat petugas keamanan itu, lalu sekedar meminta tolong untuk menjaga barangnya, sekaligus Anang berterima kasih.


Pak Handoko yang berjalan masuk lebih dulu, kemudian disusul Anang dari belakangnya.


Didalam ruangan itu, terlihat lengang, berikut juga dengan meja tinggi tepat diseberang pintu, yang bertanda nama Hakim, yang masih kosong.


Anang hanya mengikuti arahan dari pak Handoko, dan beberapa temannya, yang hadir di persidangan.


Tak lama, sang Hakim memasuki ruangan itu, dan duduk ditempatnya, dan persidangan kembali dilanjutkan.


Anang kemudian diminta untuk pergi kebagian depan ruang persidangan, lalu duduk ditempat yang sudah disediakan.


Anang lalu dicecar dengan banyak pertanyaan, setelah Anang selesai memperkenalkan diri, dan membaca sumpah dibawah kitab suci keagamaan.


Yang pertama bertanya dengannya, adalah kolega-kolega pak Handoko, yang berpenampilan kelimis dan tampak tegas saat bertanya kepada Anang.


Pertanyaan yang sangat banyak bagi Anang, meski terkadang Anang merasa seakan pertanyaan yang dilontarkan seperti berulang.

__ADS_1


Tapi, Anang berusaha menjawab sebisanya, juga sejujur-jujurnya.


Belum berakhir disitu, Anang lalu dicecar banyak pertanyaan dari pihak lawan, yang duduk berseberangan meja dengan kolega pak Handoko.


Kurang lebih sama, pertanyaan yang dilontarkan, bahkan terkadang lebih mirip pernyataan, yang seolah-olah berniat menyudutkan Anang, seakan tidak ada habisnya menggema didalam telinga Anang.


Benar-benar melelahkan, saat mengikuti persidangan seperti itu.


Kalau Anang bisa memilih, dia lebih suka mencangkul sawah Tejo, daripada bersaksi seperti itu di pengadilan.


Meski kelelahan, gendang telinga yang penat, begitu juga tenggorokan yang sakit karena mengulang-ulang ceritanya, Anang tetap menguatkan tekadnya.


Anang harus bisa melewati pengadilan itu, agar dia bisa terlepas dari jeratan hukum, atau apapun itu yang menyulitkan kehidupannya, dan yang tidak semestinya dia terima.


Terkadang pertanyaan atau pernyataan dari pihak Miss Jordan, meski wanita itu tidak hadir disitu, dan hanya pengacara-pengacaranya saja, bisa membuat Anang naik emosi, dan seakan ingin memukul orang-orang itu.


Anang berkali-kali menghela nafas panjang yang terasa berat, demi mengendalikan kekesalannya.


Anang sampai-sampai berulangkali meminum sedikit air, karena gerah dengan cecaran dari pihak label Miss Jordan.


Persidangan yang memakan waktu sampai berjam-jam lamanya, tapi saking lelah menahan kemarahannya, Anang sama sekali tidak merasa lapar.


Padahal ada waktu reses untuk makan siang, tapi Anang sama sekali tidak berselera untuk makan, dan hanya menunggu didalam ruangan persidangan, meski pak Handoko sudah mengajak Anang makan siang dengannya.


Anang tidak tertarik, dan hanya menolak ajakan pak Handoko dengan halus.


Pak Handoko hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berjalan meninggalkan Anang didalam situ.


Anang mau ini semua cepat berakhir.


Sampai ketika persidangan dilanjutkan kembali, Anang tetap berusaha agar tetap bersemangat, melayani semua pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.


Akhirnya persidangan hari itu selesai diselenggarakan, dan Anang diijinkan turun dari tempat duduk saksi.


"Bagus!"


"Bagus!"


Begitu kata-kata dari kolega-kolega pak Handoko yang menyalami tangan Anang, sambil sesekali menepuk-nepuk bahu Anang.


"Maaf, Pak! Tapi, kira-kira, saya masih harus menghadiri persidangan lagi?" tanya Anang lesu.


"Hmmm... Sepertinya sudah tidak perlu. Anang hanya tinggal menunggu hasilnya saja...


Tapi, Anang sebaiknya tetap berjaga-jaga, kalau-kalau Anang masih dibutuhkan, saya akan menghubungi Anang lagi nanti," sahut pak Handoko.

__ADS_1


Anang menganggukkan kepalanya.


"Iya, Pak! Berarti saya sekarang sudah bisa pulang kekampung?" tanya Anang.


"Sebentar!" sahut ayah Santi, lalu berbicara dengan kolega-koleganya disitu, sebelum kembali menghampiri Anang.


"Sepertinya bisa saja!" ujar pak Handoko.


"Baik, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu! Ada teman saya yang ikut dari kampung, yang sedang menunggu saya," ujar Anang.


"Anang! Apa Anang bisa mengobrol dulu sebentar dengan saya?" ujar pak Handoko, menahan langkah Anang.


Anang terdiam.


Kalau mau membicarakan soal Santi lagi, Anang tidak berminat.


"Saya hanya ingin tahu kabar Anang, bagaimana keadaan dikampung..." sambung pak Handoko, seolah-olah mengerti, kalau Anang sedang tidak mau bicara hal pribadi, yang berkaitan dengan anaknya, Santi.


"Bisa saja, Pak! Tapi, benar-benar sebentar Pak! Saya tidak bisa lama-lama lagi! Teman saya sama sekali tidak mengerti dikota, Pak!" ujar Anang.


"Iya, kita hanya bicara, sambil berjalan keluar dari tempat ini saja," sahut pak Handoko.


Anang mengangguk, lalu berjalan pelan beriringan dengan pak Handoko, sambil menenteng kopernya lagi.


"Bagaimana kabarmu selama ini? Saya berharap Anang bisa selalu baik-baik saja," ujar pak Handoko.


"Saya baik-baik saja, Pak! Tidak usah khawatir," sahut Anang.


"Bagaimana prospek usaha perkebunan disana?" tanya pak Handoko.


"Hmmm... Belum tahu pastinya bagaimana. Saya baru saja memulai penanaman bibit kemarin," sahut Anang.


"Kalau harapan saja, pastinya saya mau kalau usaha itu bisa berjalan dengan baik, dan bisa berhasil sesuai rencana," sambung Anang.


"Apa ada kemungkinan untuk usaha lain disana?" tanya pak Handoko.


"Belum ada yang terpikirkan oleh saya, Pak! Saya masih fokus dilahan perkebunan saja, sementara ini," sahut Anang.


Pak Handoko hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Teman Anang sekarang ada dimana? Apa Anang mau saya antarkan kesana?" tanya pak Handoko.


"Terimakasih banyak, Pak! Tapi, tidak perlu repot-repot, Pak! Saya sudah memesan taksi tadi," sahut Anang.


Pak Handoko terlihat kecewa sampai-sampai menundukkan kepalanya sebentar.

__ADS_1


Tapi, pak Handoko kemudian mengangkat wajahnya, dan tersenyum kepada Anang.


"Kalau ada apa-apa, Anang tidak perlu sungkan untuk menghubungi saya. Meskipun Anang belum menjadi menantu saya, tapi saya sudah menganggap Anang seperti anak saya sendiri," ujar pak Handoko.


__ADS_2