
Masih pagi-pagi sekali, Pak Handoko sudah mengantarkan Anang ke studio pak Robi, setelah mereka berdua menyelesaikan sarapannya.
Tanpa berlama-lama, hanya sekedar menyapa pak Robi, pak Handoko lalu pergi meninggalkan Anang disitu.
Ketika diperjalanan menuju ke studio rekaman pak Robi, Anang sudah diberitahu pak Handoko, kalau dia harus mengurus perceraiannya dengan Wina, berikut juga dengan semua tuntutan yang akan pak Handoko lakukan.
Dan, pak Handoko berjanji, akan menjemput Anang setelah dia sudah selesai nanti.
Tapi, seandainya Anang yang selesai dengan urusannya lebih dulu, daripada pak Handoko, dan Anang mau segera pulang, Anang bisa langsung kembali kerumah pak Handoko, tanpa harus menunggu pak Handoko menjemputnya.
Pak Robi tampak bersemangat dan senang, ketika Anang tiba distudio miliknya.
Hanya saja, raut wajahnya sempat berubah, ketika melihat tangan Anang.
"Kecelakaan kerja?" tanya pak Robi heran, sambil menunjuk tangan Anang dengan gerakkan matanya.
"Bisa dibilang begitu, pak!" sahut Anang, lalu tersenyum.
Pak Robi menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menjulurkan tangannya kepada Anang.
"Akhirnya, Anang bisa lepas dari jeratan label Jordan and Henderson itu..." celetuk pak Robi, yang menjabat tangan Anang, sambil menepuk-nepuk lengan Anang disitu.
"Terimakasih, Pak! Ini semua berkat bantuan banyak orang... Termasuk Pak Robi dan Pak Handoko," sahut Anang.
"Sama-sama...!" ujar pak Robi.
"Anang sudah siap? Kita langsung saja ke sesi pemotretan ya?!" ujar pak Robi lagi.
"Iya, Pak!" sahut Anang.
Anang lalu mengikuti langkah pak Robi, yang membawa Anang sampai ke lantai tiga bangunan itu.
Dengan menggunakan properti yang tersedia di studio pak Robi, Anang dipersiapkan untuk pemotretan dirinya.
Mulai dari pakaian, riasan wajah, sampai ke gitar akustik yang akan dipegang Anang sambil berfoto.
Disela-sela sesi pemotretan, pak Robi yang menunggu, sambil mengawasi kegiatan yang berlangsung disitu, menghampiri Anang dan memeriksa keadaan Anang.
"Apa Anang merasa baik-baik saja?" tanya pak Robi, sambil melihat tangan Anang yang diperban.
"Nggak apa-apa, Pak!" sahut Anang.
"Lain kali, sebaiknya Anang lebih berhati-hati..." ujar pak Robi.
Anang menganggukkan kepalanya.
"Iya, Pak!" sahut Anang.
__ADS_1
Pak Robi lalu mengajak Anang melihat hasil fotonya dilayar laptop.
"Sedikit lagi, ya?! Sebentar lagi selesai...!" celetuk pak Robi.
"Iya, Pak!" sahut Anang, lalu kembali ke tempat Anang harus berpose untuk difoto.
Hampir sama dengan situasi di label Miss Jordan.
Pemotretan Anang berlangsung cukup lama, karena Anang harus beberapa kali berganti pakaian, begitu juga dengan pose yang di potret, demi mendapatkan hasil foto yang terbaik.
Perbedaannya, hanya terasa di suasananya saja.
Pemotretan di studio pak Robi, berlangsung santai, tanpa tekanan.
Terkadang, orang-orang disitu masih bisa sambil bersenda gurau dengan Anang.
Termasuk pak Robi, yang juga ikut bercanda, dan tertawa bersama para pegawainya.
Meski berlangsung lama, tapi seolah-olah tidak ada satupun dari mereka, yang merasakan waktu yang berlalu disitu, sampai Anang selesai melakukan pemotretan.
"Anang makan siang bersama saya ya?! Sudah cukup lama kita tidak bertemu!" ajak pak Robi.
Anang mengangguk setuju, lalu ikut dengan pak Robi.
Dengan menggunakan mobil milik pak Robi, mereka berdua mendatangi sebuah rumah makan, yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung studio pak Robi.
"Bagaimana di kampung? Dengar-dengar, Anang sekarang sudah jadi juragan akasia," ujar pak Robi santai, lalu tersenyum.
"Belum, Pak! Bibit tanamannya saja, barusan saja saya tanam," sahut Anang, lalu ikut tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Semangat! Kalau merencanakan sesuatu yang baik, harus yakin kalau bisa berhasil!" ujar pak Robi.
"Eh, bagaimana dengan anak wanita pak Handoko? Santi..." tanya pak Robi.
"Belum juga, Pak! Malahan, sekarang dia lanjut kuliah diluar negeri..." sahut Anang.
"Jangan menyerah! Namanya juga perempuan...
Kalau mudah didapat, nanti mudah juga perginya... Kalau sulit didapatkan, itu yang harus diperjuangkan...!" ujar pak Robi, sambil tersenyum lebar, dan menaik turunkan alisnya dengan cepat.
Pak Robi tampak seolah-olah sedang mengajak Anang bercanda.
Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Anang hanya tersenyum melihat tingkah pak Robi.
Akhirnya, mereka berdua malah tertawa bersama disitu.
Makanan mereka kemudian disajikan pelayan, dan membuat mereka berdua berhenti tertawa.
__ADS_1
"Sebenarnya, kalau Anang mau, Anang bisa membuat kontrak satu album dengan kami," celetuk pak Robi, sambil menyuapkan sesendok makanannya kedalam mulutnya.
"Cara kerjanya, sama saja dengan dua single milik Anang...
Anang hanya perlu membuat rekaman, tanpa perlu repot promosi... Kalau bisa menembus pasaran, Anang tinggal menerima royaltinya saja...
Kalau Anang mau lebih produktif di musik, nanti Anang bisa bersama-sama dengan label, mengatur konser. Entah gabungan dengan pemusik lain, atau konser untuk Anang sendiri," sambung pak Robi.
Anang mengunyah makanannya pelan, sambil memikirkan perkataan pak Robi.
"Lagu-lagu Anang waktu itu, menurut saya cukup bagus..." celetuk pak Robi lagi.
"Kira-kira berapa lama, kalau membuat rekaman satu album?" tanya Anang penasaran.
Meski sedikit, Anang tetap tergoda untuk membuatnya tetap bisa bermusik, kalau bisa sambil mengurus kebunnya.
Apalagi, Anang memang akan kembali bermusik, setelah bibit tanamannya sudah berusia dua tahun.
Kalau disela waktu menunggu itu, Anang masih bisa berkarya, terang saja, itu akan menjadi situasi menguntungkan bagi Anang.
Jadi, saat Anang akan kembali fokus bernyanyi, Anang sudah dikenal, dan tidak perlu merangkak dari awal lagi.
Benar-benar akan menjadi kesempatan emas, bagi Anang.
"Tergantung... Kalau Anang bisa melakukan perekaman dengan baik, mungkin nggak sampai sebulan sudah selesai," sahut pak Robi.
"Satu lagi! Kalau lagu-lagu Anang bisa cocok dipasaran, kedepannya, Anang bisa saja menulis lagu untuk dinyanyikan orang lain, dengan hak cipta tetap menjadi milik Anang..." sambung pak Robi lagi.
Rasanya sekarang, semuanya menjadi semakin menarik bagi Anang.
Tapi, ada satu masalahnya.
Kalau sampai kurang lebih sebulan, Anang akan melakukan perekaman lagu-lagunya, berarti Anang juga harus tetap tinggal dikota selama itu.
"Nanti saya kabari, Pak! Saya pikir-pikir dulu..." sahut Anang.
"Oke! Nggak masalah... Saya bisa menunggu keputusan Anang," sahut pak Robi santai.
Anang dan pak Robi, lanjut memakan makanannya, sambil Anang memikirkan, langkah apa yang akan dia ambil kedepannya.
Sesekali, pak Robi bercerita tentang cara kerja mereka di label miliknya.
Dan, bagaimana internet jaman sekarang, yang sangat mempengaruhi proses perkenalan, bahkan sampai pemasaran lagu-lagu baru, maupun lagu-lagu lama.
Internet punya pengaruh baik, tapi juga punya pengaruh buruk bagi label dan pemusik.
Tindakan pembajakan yang merajalela di internet, itu sangat mengganggu, dan sangat merugikan pihak label yang masih merekam, dan memasarkan lagu dengan bentuk fisik.
__ADS_1
Bukan cuma label, para pemusik juga pasti sangat dirugikan, karena orang-orang yang membajak lagu-lagu mereka, membuat penjualan legal karya mereka berkurang, dan otomatis, royalti atas kerja keras mereka yang mereka terima, juga ikut berkurang.