SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 82


__ADS_3

Tampaknya Santi terlihat kurang senang, dengan keputusan yang dia ambil tadi.


Disepanjang perjalanan pulang kembali kekost'an, Santi hampir tidak mau bicara, dan hanya memandangi jalanan, dari jendela disampingnya.


Anang juga tidak mau mengganggu Santi yang tampak sedang berpikir disitu.


Sebenarnya Anang tidak terlalu perduli, mau tinggal dimana saja, asal Santi tetap bersamanya, rasanya tidak ada menjadi masalah.


Hanya karena ayah Santi yang sudah memohon-mohon, membuat Anang merasa kalau keputusan Santi menerima tawaran ayahnya itu sudah cukup baik.


Wajar saja, kalau orang tua yang sudah memasuki usia senja, lalu ingin dekat dengan keluarganya.


Apalagi Santi adalah anak satu-satunya.


Setibanya mereka dikost-kostan, Santi masih tidak mau berbicara banyak, dan berjalan masuk terus sampai kekamar mandi.


Anang bisa mendengar suara air pancuran yang menyala dari dalam kamar mandi.


Sambil menunggu Santi mandi, Anang duduk didekat jendela.


Mulai gelap, cahaya matahari hampir tidak ada lagi yang bersisa, dan berganti dengan cahaya lampu-lampu dari bangunan yang berjejer rapi didaerah itu.


Tempat kost ini memang nyaman untuk beristirahat, suasananya tenang dan sunyi.


Hampir tidak bisa terdengar keributan kendaraan bermotor dari jalan raya, yang cukup jauh dari perumahan itu.


Kecuali satu yang terlupakan oleh Anang.


Gita.


Ketukan dipintu kamar kost, mengingatkan Anang kalau tadi siang, Santi sempat mengijinkan Gita datang malam ini.


Meski dengan rasa enggan, Anang tetap berjalan menuju kepintu.


Ketika Anang membuka pintu, Gita sudah berdiri dengan memasang wajah datar


"Dimana Santi?" tanya Gita.


"Santi sedang mandi. Masuk saja!" kata Anang mempersilahkan Gita.


Gita melangkah pelan, dan tampak tenang tanpa banyak tingkah, seperti kali terakhir dia mengunjungi Anang dan Santi disitu.


"Sebenarnya ada apa sampai kamu mau bolak-balik datang kesini?" tanya Anang setelah Gita duduk di kursi yang ada didalam kamar itu.

__ADS_1


"Kita tunggu Santi, karena ini ada hubungannya dengan dia." sahut Gita.


Anang lalu kembali duduk didekat jendela, dan melihat kejalan.


Rasanya sedikit aneh, karena sejak beberapa waktu Anang duduk dan melihat keluar, tapi Anang tidak melihat Gita lewat dijalanan itu, lalu tiba-tiba sudah ada didepan pintu kamar kost.


Anang berdiri dan mendekat kejendela kaca.


Oh, pantas saja.


Kalau melihat keluar dari pinggir ranjang, hampir separuh jalanan yang tidak kelihatan dari situ.


"Kalau kalian mau bicara berdua, sebaiknya diluar saja. Aku mau beristirahat didalam sini" suara Santi membuat Anang berbalik, dan melihat Santi yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Nggak. Aku mau bicara dengan kamu juga." sahut Gita.


Santi yang sedang memilih pakaiannya dilemari, sempat berhenti bergerak, lalu berbalik melihat Gita, sebelum dia kembali melanjutkan memilih pakaian untuk dia pakai.


"Bicara saja kalau begitu! Aku bisa mendengarmu meski sambil berpakaian," kata Santi datar.


"Tadi ada seseorang menemuiku. Dia mau tahu tentang Anang. Katanya, dia sempat melihat akunku yang ditandai video Anang sebelum video itu dihapus.


Dia merasa kalau aku mengenal Anang, karena diantara banyaknya yang jadi teman Anang di akun f*cebooknya, hanya aku yang pernah ditandai Anang dalam postingannya." kata Gita.


"Lalu apa? Kalau dia mau cari tahu tentang aku kenapa tidak menghubungiku saja langsung?" tanya Anang, sambil duduk dipinggir ranjang.


"Heh? Terus kamu bilang apa?" tanya Anang.


"Nggak tahu. Aku bilang kalau aku baru saja mengenalmu," sahut Gita.


"Katanya kamu sudah pernah menipu, dengan berpura-pura kalau kamu hidup dalam kesulitan, lalu membuat orang merasa iba denganmu,


Dan sekarang dia merasa kalau kamu sudah menipu bos wanitanya, dan dia sedang mengumpulkan bukti-bukti sebelum melaporkanmu kepolisi." ujar Gita.


"Heh? Kok bisa begitu?" tanya Anang heran.


"Bisa lah! Itu kan tanggapan orang yang menilaimu!" sahut Gita ngotot.


Santi yang sedari tadi hanya berdiam diri sambil memakai pakaiannya, kemudian duduk disamping Anang.


"Siapa yang menemuimu? Tidak mungkin 'kan kamu bertemu seseorang yang namanya saja kamu nggak tahu!" ujar Santi yang terdengar sangat tenang.


"Namanya Peter ( Piter ). Tadi sekitar jam sepuluhan kami bertemu dipusat perbelanjaan ditengah kota." ujar Gita.

__ADS_1


"Ooh... Kalau begitu itu bukan hal yang penting. Dia hanya iri karena aku menolaknya, dan menerima lamaran Anang." ujar Santi enteng.


"Tapi, dia bilang, selain dia akan melaporkan Anang ke polisi, dia juga akan menyebarkan semua berita tentang Anang, yang mendekati wanita-wanita yang bisa Anang manfaatkan," ujar Gita dengan suara tinggi.


"Kamu merasa dimanfaatkan Anang?" tanya Santi datar.


Gita menggelengkan kepalanya.


"Nggak!" sahut Gita.


"Kalau begitu, kalau-kalau nanti ada isu yang berkembang, atau mungkin kamu ditanyain aparat kepolisian, berarti kamu tinggal jujur saja. Begitu saja, bisa 'kan?" ujar Santi.


Anang yang mendengarkan percakapan dua wanita itu, mulai menduga-duga apa efeknya nanti kalau sampai Peter menyebarkan isu seperti itu.


Kalau sampai berita seperti itu didengar ayah Santi, bagaimana?


Apalagi orang tua itu baru saja memberikan rumah untuk Santi, belum lagi uang yang ada direkening Santi.


Bisa-bisa nanti memang akan ada salah paham, antara ayah Santi dengan Anang.


"Katanya dia sudah mengadukan kelakuan dan kebohonganmu kepada bosnya. Kalau tidak salah dia bilang tadi Miss Jordan." ujar Gita.


"Oh iya. Kata Peter, dia mencurigaimu sedang memanfaatkan Santi, karena penyakit Santi. Memangnya Santi sakit apa?" sambung Gita.


Anang melihat Santi yang menatap Gita disitu, seolah Santi sedang memikirkan sesuatu untuk dia katakan, tapi dia mengurungkannya.


Anang menghela nafas panjang, yang dia rasa sangat berat.


"Aku pernah diberikan imbalan oleh Miss Jordan dan Peter, waktu aku masih mengamen dijalan, tempatmu ( Gita ) bertemu denganku pertama kali.


Tapi waktu itu, aku tidak membohongi mereka. Aku berkata jujur kalau aku tinggal dikost liar dibawah jembatan, dan bekerja serabutan dipembangunan,


Mereka yang menawariku imbalan, asal aku mau bernyanyi sambil mereka merekamku," kata Anang menjelaskan.


"Kalau kali ini mereka menjadikan itu alasan untuk menyebutku penipu, itu terserah mereka,


Tapi tentang Santi, aku sungguhan mencintai Santi apa adanya, dan bukan untuk mengharapkan materi darinya, ataupun keluarganya," sambung Anang.


Santi memeluk Anang disitu, dan mengusap-usap punggung Anang dengan lembut


"Aku tahu... Nggak usah jadikan beban dipikiranmu," bisik Santi pelan ditelinga Anang.


"Tapi, bagaimana kalau Papamu mendengar isu seperti ini? Apa dia tidak akan ikut-ikutan menaruh curiga denganku?" tanya Anang.

__ADS_1


"Nggak usah kamu pikirkan. Besok kita kerumah papa lagi 'kan?! Nanti aku bicarakan dengannya tentang hal ini,


Aku bahkan akan meminta Papa menuntut Peter, kalau dia coba-coba merusak nama baikmu," ujar Santi.


__ADS_2