SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 154


__ADS_3

Sejak pagi, setelah Anang dan Tejo sarapan, keduanya sudah sibuk mengurus perjanjian jual beli dikantor kelurahan, bahkan sampai kekantor kecamatan.


Semua hanya bisa membuat berkas sepihak, karena baik Anang, penjual tanahnya masih diluar pulau dan dalam perjalanan kembali.


Sedangkan Tejo, baru mendapat tandatangan dari penjual, dan masih harus mengirim berkas-berkas itu kepada pembelinya.


Tejo terlihat sibuk dengan ponsel yang hampir tidak pernah lepas dari telinganya, sedangkan Anang juga sibuk membicarakan tentang harga, untuk pengerjaan lahan, dengan beberapa orang yang memiliki traktor.


Setelah mendapat keputusan harga yang pantas, Anang lalu kembali kerumah Tejo.


Kesibukkan hari itu, benar-benar membuang waktu sampai sore hari.


Anang memeriksa ponselnya, sambil menghitung-hitung sisa uang tabungannya.


Tejo yang pulang kerumahnya belakangan, terlihat kelelahan, tapi masih bisa tersenyum lebar saat duduk berhadapan dengan Anang.


"Kamu berarti masih menunggu pemilik tanah datang dari pulau sebelah, ya?" tanya Tejo membuka percakapan dengan Anang di teras depan rumahnya.


"Iya. Bagaimana denganmu? Sudah dikirim berkasnya?" tanya Anang.


"Sudah! Tadi sudah dititip di ekspedisi, biar bisa dibawa kekota secepatnya. Besok pasti semuanya sudah beres. Tinggal mengurus pembersihan lahannya saja," sahut Tejo.


Tejo kemudian berjalan keluar dari teras, lalu duduk dibawah pohon jambu air, sambil berbincang-bincang dengan seseorang diponselnya.


Anang tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik Tejo lagi, karena sekarang Anang sedang mencoba menghubungi Setyo.


Sekedar berbasa-basi, sampai akhirnya membahas tentang bibit tanaman yang Anang butuhkan, untuk lahan yang rencananya mulai besok pagi akan dibersihkan.


Setyo juga merespon baik semua omongan Anang, dan memegang omongannya waktu itu, kalau dia akan membantu Anang.


Dengan perjanjian, kalau Setyo akan mengantarkan bibit pesanan Anang, pada saat lahan Anang sudah siap tanam.


Rasanya lebih satu jam Anang berbicara dengan Setyo, sebelum Anang mengakhiri sambungan teleponnya, tapi, Tejo tampak masih asyik mengobrol diponselnya.


Anang menyandarkan punggungnya kekursi, sampai hampir terbaring.


Mudah-mudahan saja semua rencana Anang bisa berjalan lancar. ~


Kelihatannya semuanya memang berjalan lancar.


Lahan Anang sudah bersih, setelah kurang lebih sepuluh hari pengerjaan.


Sambil Anang mengawasi pembersihan lahannya, Anang sering membantu Tejo disawah.


Terlebih dikala itu, tanaman padi Tejo juga sudah siap untuk dipanen.


Tejo harus memanen padinya sendiri, karena kalau sudah dimusim panen seperti itu, rata-rata orang-orang dikampung sudah sibuk, dan tidak ada lagi yang mau bekerja untuk persawahan orang lain.


"Rasanya, aku akan kesulitan mencari orang untuk bekerja nanti," celetuk Tejo.

__ADS_1


Anang menatap Tejo dengan alis mengerut.


"Untuk bekerja apa? Bukannya untuk sawahmu ini sudah ada orang yang mengerjakannya?" tanya Anang heran.


"Bukan untuk disawah, tapi untuk yang sana," sahut Tejo, sambil menunjuk dengan wajahnya, lahan yang diurus Tejo untuk orang kota yang membelinya.


Anang melihat kearah yang ditunjuk Tejo.


Lahan besar itu, sedang dalam proses pembersihan dari semak belukar.


Sudah hampir seminggu setelah lahan milik Anang selesai dibersihkan, tapi, lahan itu masih jauh dari kata selesai dikerjakan.


Entah berapa banyak, modal orang yang memiliki lahan itu.


Untuk harga lahan, dan pembersihannya saja, sudah memakan banyak biaya.


Belum lagi nanti untuk bibit dan penanaman, yang masih butuh banyak biaya lagi.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku sudah bilang kepada si pemilik lahannya, kalau untuk penanamannya harus menunggu sampai musim panen usai," kata Tejo, sambil melanjutkan memanen tanaman padinya.


Begitu juga Anang yang ikut melanjutkan pekerjaannya, memotong padi disawah tejo.


Sambil Anang memotong batang padi, Anang tersentak.


Bukan cuma Setyo yang akan kesulitan mencari orang untuk menanam dilahan itu, Anang juga pasti begitu.


"Tejo! Aku baru ingat! Apa nggak ada yang bisa ikut bekerja denganku? Bibitnya datang hari ini.


Nggak mungkin cuma dibiarkan begitu saja, sambil menunggu masa panen sampai berakhir....


Bisa-bisa, mati semua bibitnya!" ujar Anang panik.


"Kamu sudah memesan bibitnya?" tanya Tejo yang tidak kalah heran.


"Kamu terlalu lama dikota, sampai kamu lupa kebiasaan kita dikampung," sambung Tejo.


Anang menyesali kecerobohannya, yang tidak memikirkan segala kemungkinan, dan hanya mau buru-buru mengerjakannya saja.


Anang hampir tidak bisa berkonsentrasi memotong batang padi didepannya.


"Sudahlah!" Tejo lalu melihat kesana kemari, di area persawahan miliknya.


"Begini saja... Kamu berhenti saja memanen padinya, biar aku kerjakan sendiri hari ini. Kamu pergi ke kampung sebelah, cari anak-anak muda yang mau bekerja untukmu disana," sambung Tejo.


Anang lalu terdiam sejenak.


"Nggak apa-apa. Aku sudah terbiasa memanen sendiri. Kamu pergi saja sekarang!" kata Tejo lagi.

__ADS_1


"Aku pergi dulu kalau begitu!" kata Anang, lalu berjalan pergi, setelah melepaskan peralatan untuk memanen diatas lantai pondok.


Anang buru-buru membersihkan kakinya yang kotor, dan tanpa pulang kerumah Tejo lagi, langsung berjalan menuju kampung sebelah.


Anang harus mendapatkan orang yang mau bekerja dengannya, kalau tidak Anang akan mengalami banyak kerugian, kalau sampai banyak bibit yang mati.


Setelah berkeliling sambil bertanya-tanya kesana kemari didalam kampung tetangga, Anang akhirnya menemukan beberapa orang yang mau bekerja.


Akhirnya Anang bisa bernafas lega, setelah membuat perjanjian agar mereka datang besok pagi ke lahan Anang, untuk mulai bekerja.


Ketika Anang kembali kekampungnya, hari sudah mulai sore.


Anang masih diperjalanan memasuki kampungnya, ponsel Anang berbunyi berulang-ulang kali.


Ternyata bibitnya sudah tiba dikampungnya, dan supir yang membawanya kebingungan, untuk membawa kemana bawaannya itu.


Setengah berlari, Anang menyusul kendaraan yang menunggu di dekat area persawahan.


Melelahkan!


Tapi, setelah melihat bibit tanamannya, yang sudah dikeluarkan dari kendaraan yang membawanya, dan ditata rapi berkumpul disudut lahan baru Anang, seakan bisa memberikan Anang semangat lebih, dan melupakan rasa lelahnya.


Ketika kendaraan yang mengantar bibit tanaman Anang, berlalu pergi, Anang lalu melihat kearah persawahan Tejo.


Laki-laki itu sudah tidak kelihatan.


Tampaknya Tejo sudah pulang, karena hari yang sudah mulai gelap.


Anang lalu berjalan pulang kembali kerumah Tejo.


Dan benar saja.


Tejo bahkan sudah mandi, dan sudah bersantai diteras sambil menikmati segelas teh.


"Bagaimana? Ketemu orang yang mau bekerja denganmu?" tanya Tejo, ketika Anang memasuki teras rumahnya.


"Iya. Untung saja...! Bibitnya tadi sudah diantar," sahut Anang, sambil sekedar bersandar dipagar teras, tanpa duduk dikursi.


"Syukurlah!" ujar Tejo senang.


"Maaf...! Aku jadinya tidak bisa maksimal membantumu tadi," kata Anang.


"Ah, nggak masalah..." sahut Tejo enteng.


"Kenapa kamu nggak duduk?" tanya Tejo.


"Aku mau mandi dulu...!" sahut Anang, lalu berjalan masuk kedalam rumah Tejo.


Pembukaan lahan sudah beres, bibit tanamannya juga sudah siap, Anang bersyukur sedikit demi sedikit prosesnya sudah mengalami kemajuan.

__ADS_1


Air dingin yang disiramkannya langsung dari timba sumur, benar-benar menyegarkan badan dan pikirannya.


__ADS_2