SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 162


__ADS_3

Pemilik kebun singkong, yang didatangi Anang dan Tejo, memang mau memberikan sedikit batang singkong, yang bisa menjadi bibit untuk Anang tanam dilahannya.


Sambil menunggu benih padinya diantar, Anang memilih untuk mulai menanam singkong terlebih dahulu.


Dibantu Tejo, Anang menancapkan batang singkong disela-sela kosong, antara bibit tanaman akasia milik Anang.


"Kalau begini ceritanya, apa kamu memang berniat menetap dikampung? Sudah nggak berminat pergi kekota lagi?" tanya Tejo, lalu tersenyum.


"Bukan begitu... Belum ada kabar soal hasil persidangan, daripada menunggu tanpa berbuat apa-apa, mendingan kalau ada yang bisa aku lakukan yang ada gunanya," sahut Anang.


"Kenapa? Kamu sudah tidak mau aku tinggal di rumahmu?" tanya Anang.


Tejo melempar Anang dengan sepotong batang singkong.


"Ngomong sembarangan! Siapa bilang aku mau mengusirmu?" ujar Tejo, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Anang tertawa, meski potongan batang singkong yang dilempar Tejo, tepat mengenai punggungnya.


"Rumahku nggak besar. Tapi, kalau cuma tinggal sendiri, juga membosankan," celetuk Tejo.


"Kalau begitu, kenapa nggak mencari istri baru saja?" tanya Anang, sambil tertawa.


Raut wajah Tejo berubah drastis, seolah-olah ada yang salah dari perkataan Anang.


"Jangan bahas itu!" sahut Tejo, dengan raut wajah aneh.


Tidak terlihat kalau Tejo sedang marah kepada Anang, melainkan sesuatu yang lain.


Anang tidak mengerti apa maksud raut wajah Tejo, tapi, Anang juga tidak mau bertanya lebih jauh.


Anang lalu melanjutkan menancapkan batang-batang singkong ke tanah.


Sesekali, Anang mendapati Tejo yang menatap Anang, dengan raut wajah yang tetap aneh seperti tadi, sambil menancapkan batang singkong yang dipegangnya.


Aneh, benar-benar aneh.


Ada apa sebenarnya dengan Tejo?


Kenapa hanya karena Anang bercanda tentang menikah, Tejo jadi terlihat aneh?


Apa Tejo sudah menemukan wanita yang jadi incarannya, tapi masih belum yakin saja?


Apa ada hubungannya dengan Anang?


Anang jadi bertanya-tanya, tapi tidak mau mengeluarkan isi kepalanya begitu saja.


Anang khawatir, kalau-kalau akan menyinggung perasaan Tejo.


Sudahlah...

__ADS_1


Lebih baik Anang menyelesaikan pekerjaannya, mumpung Tejo masih mau membantunya.


Sampai Anang dan Tejo selesai menanam singkong, benih padi Anang belum juga diantar kesitu.


"Aku pulang makan siang dulu! Kamu ikut?" tanya Tejo.


Anang terdiam sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.


Toh, kalau benihnya diantar nanti, Anang pasti dihubungi.


Anang lalu berjalan bersama Tejo, menuju kerumah Tejo untuk makan siang.


Dijalan pulang, Tejo masih terlihat aneh, sesekali, Anang masih mendapati kalau Tejo sedang meliriknya.


Ketika mereka makan siang pun, Tejo tidak makan bersama-sama dengan Anang didapur, dan dengan alasan 'panas', Tejo pergi membawa makanannya diteras depan.


Setelah Anang selesai makan, Tejo masih belum kembali ke dapur.


Anang merapikan sisa makanan diatas meja, lalu mencuci piring kotor bekas makannya.


Tejo masih belum selesai makan, karena sambil mengetik-ngetikkan sesuatu dilayar ponselnya, dan akhirnya terlihat panik menyembunyikan ponselnya, ketika Anang menyusulnya ke teras depan.


Anang duduk disalah satu kursi diteras itu, sambil memandangi Tejo.


Setelah Anang duduk disitu, barulah Tejo buru-buru menghabiskan makan siang, lalu berjalan masuk mengantar piring kotornya.


Gerak-gerik Tejo, memang sangat mencurigakan bagi Anang.


Selain kelihatan aneh saja.


Rasanya hampir satu jam, sejak Tejo masuk kedalam rumah, tapi, laki-laki itu belum juga kembali ke teras.


Bukannya kata Tejo tadi, didalam sana panas?


Kelihatannya, memang ada yang Tejo sembunyikan dari Anang, dan kelihatannya itu hal yang sensitif bagi Anang.


Tapi, Anang tidak bisa mengira-ngira apa itu.


Ponsel Anang tiba-tiba berbunyi.


Setelah Anang menyambut panggilan itu, tenyata orang yang mengantar benih padinya yang menghubungi Anang.


Tanpa menunggu Tejo, atau menyusul Tejo kedalam rumah, dengan tergesa-gesa Anang berjalan menuju kebunnya.


Anang tidak bisa berlama-lama, karena orang yang mengantar benihnya, sudah didekat kebun dan menunggu Anang.


Beberapa karung benih padi, diturunkan didekat kebun Anang, lalu sambil dibantu orang yang mengantar benih itu, Anang mengangkat karung-karung, kepondok bekas menyimpan bibit akasianya waktu itu.


Setelah kendaraan yang mengantar benih itu pergi, Anang mencari-cari kayu yang bisa dia jadikan tongkat tusuk, untuk menanam benih padi itu.

__ADS_1


Dengan batang kayu berukuran sedikit lebih kecil dari lengannya, Anang mencoba untuk menanam benih padi dilahannya.


Jarak tanam yang cukup dekat tanpa batas yang jelas, karena lahan yang luas, Anang sempat kebingungan dengan area mana yang sudah dia tanam.


Anang berhenti lalu memperhatikan ulang gerakkannya tadi kemana saja yang sudah dia tanami benih padi.


Kalau cuma berpatokan dari bibit akasia, Anang jelas kesulitan membedakannya, secara bibit akasia mirip-mirip semua.


Anang menepuk jidat.


Kalau begini cara kerja Anang, bisa-bisa benih padinya ditanam terlalu rapat, ada yang bisa terulang di situ-situ saja, atau bisa ada area yang terlewatkan jauh.


Anang memikirkan cara terbaik, agar dia bisa menanam benih padi dengan beraturan.


Akhirnya, Anang terpikir untuk menandai dua bibit akasia yang berseberangan, dengan tali bekas ikatan karung.


Kalau begitu, Anang bisa menanam benih padi disela dua barisan tanaman itu.


Dan kelihatannya, cara yang Anang pakai itu berhasil.


Anang bisa berjalan beraturan menanam benih, sambil sesekali melihat tanda di bibit akasia yang dia ikat tadi.


Anang bersemangat menanam benih padi, bahkan Anang bisa sambil bersenandung, saat menusuk-nusuk tanah, dan memasukkan benih kedalam lubangnya, sesuai dengan cara yang diajarkan pekerja dilahan tetangga.


Tidak terasa, Anang tidak berhenti menanam sampai matahari sudah hampir tenggelam.


Lelahnya saat harus berjalan terlalu pelan, bahkan terkadang Anang sampai-sampai harus berhenti berjalan dan hanya berdiri saja, karena jarak tanam yang dekat, tidak membuat Anang kehilangan semangatnya.


Malahan, kalau saja dilahan itu masih terang, mungkin Anang masih melanjutkan pekerjaannya, menanam benih padi.


Menyenangkan, saat membayangkan, kalau semua tanaman disitu bisa bertumbuh, sesuai harapan Anang.


Anang pergi dari kebun, dan pulang kerumah Tejo, dengan langkah yang ringan.


Ketika Anang memasuki halaman rumah Tejo, laki-laki itu sedang berbicara dengan seseorang diponselnya.


Tapi, langsung buru-buru berhenti bicara, lalu menurunkan ponsel dari telinganya, kemudian menyimpan benda itu ke saku celananya.


Anang hanya menyapa Tejo sekedarnya saja, lalu berjalan terus sampai ke bagian belakang rumah.


Anang berniat untuk mandi, dan tidak mau terlalu menghiraukan gerak-gerik Tejo.


Pikiran senang Anang karena kebunnya, tidak mau Anang gantikan dengan pikiran bingung tentang gelagat aneh Tejo.


Selesai mandi, barulah Anang menyusul Tejo diteras depan.


Tejo sedang memainkan gitar Anang, sambil bernyanyi disitu.


"Sudah datang benih padinya?" tanya Tejo, yang berhenti bernyanyi dan hanya memetik-metik senar gitar, saat Anang duduk dikursi teras bersamanya.

__ADS_1


"Sudah! Malah ada yang sudah aku tanam tadi," sahut Anang.


Tejo mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu lanjut bernyanyi lagu-lagu cinta disitu.


__ADS_2