
Ketika Anang sudah duduk di jok belakang mobil yang mereka tumpangi untuk pergi ke bank, Anang melirik Santi yang duduk disebelahnya, yang tampak tidak memperdulikan apa yang baru saja dia perbuat, dengan hati Anang.
Anang rasanya ingin menggenggam tangan Santi saat itu juga.
Tapi setiap Anang akan memegang tangan Santi, pasti Santi mengangkat tangannya untuk melakukan sesuatu, sehingga Anang tidak pernah sempat memegangnya.
Menggeserkan poninya, atau merapikan kausnya, tangan Santi selalu sibuk setiap tangan Anang akan mendekat.
Entah Santi memang sengaja melakukannya, atau hanya tangan Anang saja yang terlambat bergerak menangkap tangan Santi.
Sampai mereka tiba didepan Bank, Anang selalu gagal memegang tangan Santi, dan akhirnya Anang memilih untuk mengalihkan perhatiannya ke teller cantik didalam bank.
Didalam bank terlihat lumayan banyak orang, yang mungkin nasabah di bank itu, ada yang sedang duduk, dan ada juga yang berdiri menghadap meja teller.
"Silahkan mbak!" sekuriti Bank mengantar Santi dan Anang kedalam, dan lebih jauh kedalam Bank.
Loh!
Kok, nggak antri diteller yang cantik-cantik tadi?
Santi dan Anang diberi tempat duduk khusus didalam Bank, juga disajikan dua cangkir kopi panas.
"Identitas nasabah barunya ada dibawa mbak?" tanya seorang laki-laki pegawai Bank yang berpakaian rapi.
"Mas! Apa kamu bawa KTP-mu?" tanya Santi tiba-tiba, saat Anang sedang terbengong melihat pegawai Bank yang tampak menghormati Santi.
"Eh, Nggak. Ketinggalan tadi," sahut Anang.
Raut wajah Santi berubah, seakan dia juga baru mengingat sesuatu.
Santi lalu terlihat berbicara berbisik-bisik dengan laki-laki pegawai bank itu.
"Kita kembali kekost sekarang!" ujar Santi sambil berdiri dan menarik tangan Anang untuk ikut dengannya.
Anang tidak sempat berpikir apa-apa, hanya bisa menuruti langkah Santi, yang sudah tampak sibuk lagi dengan ponselnya.
"Kenapa?" tanya Anang heran.
"Bagaimana mau membuka rekening baru, kalau kamu nggak bawa kartu identitas," ujar Santi sambil tetap menatap ponselnya sambil sesekali melihat jalan yang dia lalui.
"Aku lupa tadi kasih tahu kamu untuk bawa KTP. Kita kembali ke kost, sekalian ambil barang-barang kita,
Aku sudah kasih tahu dengan mereka kalau aku akan kembali kesini nanti," kata Santi saat mereka berdua sudah diluar Bank.
Anang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, saat mendengar perkataan Santi.
Kelihatannya Santi bukan nasabah biasa di bank itu, karena pegawai bank tampak mengenal Santi dengan baik.
Tak lama ada mobil yang berhenti didepan mereka, dan Santi langsung masuk kedalamnya, disusul Anang.
__ADS_1
"Sesuai aplikasi, Mbak?" tanya orang yang menyupir mobil itu.
"Nggak kita batalkan saja pesanannya. Saya mau Mas mengantar, dan nanti langsung tunggu kami selesai. Berapa kalau aku carter sampai sore nanti?" tanya Santi.
"Mau kemana saja mbak?" tanya supir mobil itu.
Santi lalu memperlihatkan layar ponselnya kepada orang itu.
"Ooh... Tiga ratuslah ya, mbak?" tanya supir itu.
"Oke! Sini aku bayar," kata Santi lalu ponselnya dengan ponsel supir itu didekatkan.
"Antarkan sekarang! Kami buru-buru!" ujar Santi, dan tak lama mobil itu berjalan pergi dari bank.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Anang yang sedari tadi kebingungan, dan hanya melihat gerak-gerik Santi dengan supir itu tadi, tanpa berkomentar.
"Kita pakai mobilnya saja sekalian, daripada gonta-ganti bikin pesanan baru," kata Santi.
Meskipun Anang masih tidak mengerti, Anang tidak mau bertanya lagi.
Mobil itu mengantar Santi dan Anang kembali ke kost'an lama mereka, dan menurunkan mereka disitu.
"Buruan! Aku masih harus merapikan barang-barangku," ujar Santi sambil berjalan tergesa-gesa.
Santi memasukkan semua pakaiannya, kecuali pakaian minim yang biasa dia pakai untuk bekerja dulu, kedalam dua buah koper berukuran sedang.
"Dicelengan ayam," sahut Anang malu-malu, yang juga membantu melipat pakaian Santi, .
Santi melihat Anang sebentar, lalu lanjut melipat pakaiannya. Santi tidak tertawa, atau mengejek Anang, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Mau sekalian disimpan dibank? Sisakan seperlunya saja untuk dipakai sehari-hari," ujar Santi.
Benar juga kata Santi.
Anang berhenti melipat pakaian Santi, lalu mengeluarkan ayam plastiknya dari dalam kopernya.
"Ada pisau?" tanya Anang, sambil memegang ayamnya yang penuh dengan uang, siap untuk disembelih.
"Nggak ada. Ada gunting aja. Tuh, masih dimeja!" ujar Santi sambil menunjuk meja yang masih bersusun peralatan dandan milik Santi, dengan wajahnya.
Anang mengambil gunting, kemudian membelah ayam plastiknya.
Lipatan-lipatan kecil uang berhamburan keluar.
"Nanti mau singgah beli sendal?" tanya Santi, saat Anang sedang merapikan uangnya.
Anang melihat Santi yang masih sibuk dengan pakaiannya.
Santi seakan tahu semua kebutuhan Anang, memang Santi akan jadi istri yang cocok untuk melengkapi hidup Anang.
__ADS_1
Ehheem... Ehheem.
Tenggorokan Anang terasa kering.
"Iya. Bisa singgah belanja sebentar ya?" tanya Anang sambil melanjutkan merapikan uangnya.
"Bisa. Mumpung mobil tadi sudah disewa sampai sore nanti. Tapi harus buru-buru, masih ada yang harus kita lakukan,
Kamu juga belum sempat belajar lagu-lagu untuk nanti malam 'kan?" kata Santi yang sudah selesai melipat semua pakaiannya.
Sesekali Anang melirik Santi yang sibuk mengemasi barang-barangnya sampai selesai, dan dua kopernya terlihat penuh sesak.
"Sudah selesai?" tanya Santi.
"Sudah!" sahut Anang.
"Masukkan uangmu kedalam tasku. Oh, iya, KTP-mu juga dimasukkan ke tasku juga. Jadi nggak repot mencarinya," kata Santi sambil menarik salah satu kopernya kedepan pintu.
Santi lalu terlihat bicara dengan seseorang diponselnya, sambil melihat kesana kemari.
"Kayaknya sudah semua," celetuk Santi.
Anang memasukkan semua uang dan kartu identitasnya kedalam tas kecil milik Santi.
Tak lama, supir mobil yang tadi datang menyusul mereka, dan langsung masuk kekamar Santi yang pintunya sudah terbuka.
"Tolong ya, Mas!" kata Santi kepada orang itu.
"Nggak masalah Mbak," supir itu menarik dua koper Santi keluar dari dalam kamar, dan membawanya pergi.
Mereka berdua kemudian menyusul supir tadi, dan sempat singgah dipetakkan juragan kost untuk pamitan, sebelum mereka pergi ke mobil yang disewa Santi tadi.
Masih sama seperti pertama kali mereka datang ke bank, pegawai bank tampak melayani Santi dan Anang dengan baik.
Setelah selesai berurusan di Bank, Santi mengajarkan Anang caranya belanja dengan menggunakan aplikasi perbankan diponsel, yang sekarang sudah terpasang diponsel Anang.
Mereka berdua lalu singgah disebuah toko yang menjual perlengkapan laki-laki, yang ada dijalan menuju kost baru mereka.
Santi juga membantu Anang memilih sendal, dompet, dan beberapa pakaian untuk dipakai Anang.
"Kamu harus berpenampilan baik, agar orang bisa menghargaimu," begitu kata Santi kepada Anang.
Hari itu memang hari yang sibuk, sedangkan keduanya kurang istirahat, sampai-sampai wajah Santi tampak sangat pucat, tapi dia masih saja mengurus semua keperluan Anang.
"Mas, carikan tempat makan! Kita singgah makan sebentar ya?! Terserah saja, warung makan seperti apa, nggak masalah," ujar Santi kepada supir, saat mereka sudah didalam mobil tadi lagi.
Santi mengajak supir tadi makan dengan mereka, dan membayarkan semua makanan pesanan mereka disitu, sebelum diantarkan ke kost mereka yang baru.
Ketika mereka tiba ditempat kost barunya, belum sempat Santi melangkahkan kakinya ke anak tangga pertama, tiba-tiba Santi terjatuh, dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1