
Harus!
Saat itu Anang harus bisa mengatur kata-katanya, kalau Anang tidak mau keadaannya makin memburuk.
Anang makin mendekat kearah Santi, lalu memegang kedua lengannya.
"Kita bicara disana ya...?!" ajak Anang, sambil menunjuk kursi teras depan rumah, dengan anggukkan kepalanya.
Santi mengikuti langkah Anang, yang kini merangkul pinggangnya, dan membawanya duduk dikursi teras.
Ketika Santi akan duduk dikursi yang berbeda, Anang menahan Santi, lalu membuat Santi duduk diatas pangkuannya.
"Duduk disini saja...!" ujar Anang pelan, lalu memeluk Santi, yang sudah duduk diatas pahanya.
"Kamu memang mau kuliah lagi?" tanya Anang.
"Rencananya begitu..." sahut Santi.
"Hmm... Terserah kamu kalau begitu...! Tapi, bisa nggak kalau kita menikah dulu, baru kamu pergi?" tanya Anang.
"Nanti saja! Kalau aku sudah selesai kuliah, baru kita menikah," sahut Santi.
Anang menghela nafas panjang.
"Kamu mau jalan-jalan denganku?" tanya Anang, mencoba mengalihkan perhatian Santi.
"Mau kemana? Aku masih capek," sahut Santi.
"Apa nggak ada tempat yang kamu mau pergi? Mumpung aku masih belum bernyanyi lagi!" ujar Anang.
"Nggak ada! Aku mau istirahat saja dulu," sahut Santi lagi.
"Kalau pergi melihat lahan yang dijual dikampungku, mau?" tanya Anang.
"Hmm..." Santi menggumam, seolah-olah ada yang dia pikirkan.
"Nanti saja! Aku mau memeriksa pendaftaran ulang di universitas," ujar Santi.
Anang benar-benar gelisah, tapi dia berusaha agar tetap terlihat tenang.
Ketika Anang mencoba membuat Santi bersandar didadanya, Santi menolak.
Dengan tangannya, Santi menahan badannya agar tidak tersandar ke dada Anang.
"Aku mencintaimu..." kata Anang.
"Hmm..." Santi hanya menggumam, lalu terdiam.
Astaga!
Apa yang harus Anang katakan atau lakukan sekarang?
"Permisi...! Non...! Pak! Makanannya sudah matang. Mau makan sekarang?" ujar asisten rumah tangga, yang sudah berdiri didekat pintu depan rumah.
"Iya! Aku lapar!" sahut Santi, lalu beranjak turun dari pangkuan Anang, tanpa bisa Anang menahannya lagi.
Asisten rumah tangga itu, sudah berjalan masuk kedalam lebih dulu.
"Kamu belum mau makan?" tanya Santi, sambil berdiri didekat pintu, dan hampir melewati pintu itu.
Anang terdiam sebentar, lalu menjawab,
__ADS_1
"Iya...! Aku mau makan denganmu!"
Anang lalu berdiri, dan berjalan menyusul Santi yang berjalan didepannya.
Santi masih berdiri, mengambil air minum dari dalam lemari es, Anang lalu duduk disalah satu kursi diruang makan.
Setelah Santi kembali membawa air minumnya, bukannya duduk disebelah Anang, Santi malah memilih duduk diseberang meja.
Anang hanya menatap Santi, yang tampak tidak terlalu menghiraukan Anang.
Asisten rumah tangga sudah sibuk menata makanan keatas meja, lengkap dengan semua peralatan makannya.
Anang hanya melihat pekerjaan wanita, yang berlalu-lalang didepannya itu sekilas.
Pandangan Anang tetap lebih terfokus kepada Santi, yang terlihat sibuk sendiri.
Ketika Santi menyendokkan nasi keatas piring Anang, barulah Santi menatap Anang lalu tersenyum.
"Ada apa?" tanya Santi.
Senyuman Santi bisa menghibur hati Anang sedikit.
Sedikit, karena Santi kembali sibuk sendiri, memakan makanannya.
Anang hampir tidak bisa menelan makanan, yang sudah dikunyahnya.
Anang menundukkan wajahnya, dan menatap piring berisi makanannya.
"Kalau kamu pergi kuliah keluar negeri, aku nggak mau tinggal disini..." celetuk Anang, tanpa melihat Santi.
Untuk beberapa waktu Anang menunggu, tidak ada tanggapan dari Santi, yang bisa Anang dengar.
Merasa kalau Santi tidak merespon perkataannya, Anang mengangkat wajahnya lalu melihat kearah Santi.
"Kenapa kamu nggak mau tinggal disini? Kamu nanti tinggal dimana?" tanya Santi datar.
"Aku nggak mau tinggal sendiri dirumah sebesar ini. Aku nanti mencari kost-kostan yang kecil saja," sahut Anang sok tegar.
Santi mengangguk-anggukkan kepalanya sebentar, lalu lanjut memakan makanannya, kemudian berkata,
"Terserah kamu saja kalau begitu...!"
Untung tidak ada makanan yang sedang ditelan Anang sekarang, karena Anang yakin kalau dia pasti akan tersedak.
Anang menelan ludah, pelan-pelan.
Tamat kisah cinta Anang.
Tidak ada akhir bahagia seperti yang Anang harapkan.
Terimakasih atas semua khayalan Anang, yang hanya akan tetap jadi angan-angan.
Lutut Anang tiba-tiba terasa lemas.
Anang kehilangan selera makannya, dan hanya melihat makanannya, sambil menggeser-geser pelan makanan yang tersisa dipiring, kesana kemari dengan sendoknya.
"Nanti, kontakmu pastikan tetap aktif. Jadi, kalau kamu diminta menghadiri persidangan, kamu bisa dihubungi," kata Santi datar.
Santi terlihat sudah selesai makan, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Buruan, makannya! Biar mejanya bisa dirapikan Fitri," ujar Santi, sambil berjalan mengantar piring bekas makannya kedapur.
__ADS_1
Meski Anang merasa kecewa dengan hasil akhir dari kisah romantisnya, Anang tetap tidak boleh membuang-buang makanan.
Dengan rasa terpaksa, Anang mengunyah makanannya, dan menelan makanannya, meski terasa seperti sedang menelan duri, yang menyakiti tenggorokan Anang.
Anang mendorong masuk makanannya dengan air, karena tenggorokannya sekarang terasa cekat.
Santi yang sudah kembali dari dapur, hanya melewati Anang, lalu terus berjalan kedepan.
Sekarang apa?
Apa Anang harus menangis?
Atau Anang mundur teratur sambil menangis?
Tapi, Anang tidak boleh menangis.
Anang harus tegar, meski nafasnya sekarang sesak karena menahan tangis.
Ah, Anang memang lelaki yang terlalu sensitif...
Sisa makanannya, akhirnya selesai dihabiskan Anang.
Anang lalu berdiri dan membawa piring kotornya kedapur, lalu memasukkannya kedalam bak cuci piring.
Ketika Anang mau mencuci piringnya sendiri, asisten rumah tangga, yang kalau tidak salah dibilang Santi tadi, bernama Fitri, menghentikan Anang disitu.
"Biar saja disitu, Pak! Nanti saya cuci, sama-sama dengan barang-barang yang lain," kata Fitri.
Sementara Anang berjalan kebagian depan rumah, Anang bisa melihat dengan ujung matanya, kalau Fitri sudah mulai merapikan sisa makanan diatas meja.
Anang terpikir kalau mungkin ini sebabnya, karena Santi kemungkinan akan pergi kuliah lagi, makanya Fitri dipekerjakan dirumah itu.
Sambil Anang berjalan, Anang melihat-lihat kesana kemari, mencari-cari dimana Santi berada sekarang.
Santi duduk dikursi diteras samping rumah.
Anang lalu ikut duduk disalah satu kursi disitu.
"Kapan rencananya kamu berangkat keluar negeri?" tanya Anang kembali sok tegar.
Santi menoleh kesamping, melihat Anang sebentar, lalu kembali menatap lurus kedepan.
"Hmm... Kalau sempat daftar ulang, mungkin di minggu-minggu ini, aku sudah kembali berkuliah," sahut Santi.
Anang terdiam mendengarkan perkataan Santi.
"Masih ada waktu kalau kamu mau aku temani, melihat-lihat lahan dikampungmu," celetuk Santi.
Anang tidak mau menanggapi perkataan Santi.
Kalau cuma melihat-lihat lahan dikampung, Anang juga bisa pergi sendiri.
Percuma kalau Santi cuma mau menemani Anang kekampung, tapi Santi tidak mau menemani Anang dipelaminan.
Pasti gara-gara Anang sering memarahi Santi, makanya sekarang Santi seolah-olah mau membalas Anang.
Tapi, ini semua kelewatan, kalau cuma mau membalas Anang, sampai-sampai meninggalkan Anang begitu saja.
Kepala Anang terasa sakit.
Anang berdiri, lalu berjalan masuk.
__ADS_1
Anang mau berbaring saja ditempat tidur.
Siapa tahu ini cuma mimpi buruk, jadi kalau Anang terbangun dari tidurnya nanti, semua sudah kembali seperti biasa.