
Kalau harga jual tanahnya lebih murah lagi, tabungan Anang mungkin bisa sekalian untuk persiapan membuka lahan.
Tinggal mencari tambahan uang untuk beli bibit.
Toh, Santi tidak mau menikah, mau di apa?
Biarlah uang tabungan Anang untuk usaha saja dulu, kalau begitu.
Kalau kebunnya berhasil, Anang tidak akan perlu terlalu khawatir lagi tentang urusan keuangan, saat Anang tidak bisa menghasilkan uang lagi dari bernyanyi.
Apa itu Tejo?
Meski Tejo mengeluarkan jurus penggoda terhebat sebisanya, Santi bakalan tetap pergi keluar negeri.
"Kalian ke kampung Anang pakai apa?" tanya ayah Santi.
"Pakai bus, Pak!" sahut Anang.
"Kenapa nggak pakai mobil sendiri saja? Memangnya seberapa jauh kesana?" tanya ayah Santi.
Anang terkekeh.
"Saya nggak bisa menyetir, Pak!" sahut Anang.
Ayah Santi terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Anang mau saya ajari menyetir?" tanya ayah Santi, sambil mengedip-ngedipkan matanya cepat.
Kelihatannya, ayah Santi sedang memberi kode kepada Anang.
"Mata Papa, kenapa?" tanya Santi.
"Eh! Nggak... Agak kering saja," sahut ayah Santi, sambil melirik Anang.
Benar dugaan Anang.
Oke, Anang paham!
"Saya mau, Pak!" ujar Anang.
"Kalau begitu, sekarang saja! Anang bisa belajar menyetir dijalanan kompleks," kata ayah Santi, lalu buru-buru berdiri dari tempat duduknya.
Santi menahan tangan ayahnya, sebelum lelaki itu berjalan pergi.
"Nanti dulu!" kata Santi.
Ayah Santi lalu melihat Anang, sampai bertatap-tatapan sebentar, sebelum ayah Santi melihat Santi lagi.
"Kenapa? Ayah mau mengajari Anang menyetir secepatnya. Kalau Anang sudah bisa menyetir, kalian bisa jalan pakai mobil sendiri nanti, kalau kalian melakukan perjalanan," ujar ayah Santi buru-buru.
Perkataan ayah Santi terdengar semakin jelas, kalau dia sedang mencari-cari alasan, agar bisa bicara berdua saja dengan Anang.
"Diminum dulu kopinya!" sahut Santi.
"Aku mau ikut Anang belajar menyetir. Aku juga bisa mengajarinya, tidak harus Papa," sambung Santi, datar.
Waduh!
__ADS_1
Kelihatannya, Santi menangkap gelagat aneh ayahnya itu.
Ayah Santi terlihat menelan ludah, sampai jakunnya naik turun.
Ketika melihat gerak-gerik ayah Santi, Anang sampai menggigit bibirnya sendiri, untuk menahan rasanya yang menggelitik, agar dia tidak tertawa disitu.
Terlihat lemas, Ayah Santi lalu duduk kembali dikursinya.
Pelan-pelan, ayah Santi memegang cangkir kopinya, lalu menyesap cairan kopi, sambil menatap lurus, tanpa melihat Santi dan Anang disampingnya.
"Kamu bisa menyetir?" tanya Anang pelan.
Santi menoleh, melihat Anang.
"Bisa! Transmisi otomatis. Aku belum terlalu bisa menyetir yang manual," sahut Santi.
"Nah...! Itu 'kan?! Kamu mana bisa mengajari Anang pakai mobil Papa, kalau begitu?!" ujar ayah Santi, yang terdengar kembali bersemangat.
"Siapa bilang, Anang harus belajar menyetir pakai mobil Papa? 'Kan ada mobil Mama, yang sering dipakai Wina!" sahut Santi ketus.
Ayah Santi tampaknya tersedak kopi yang disesapnya, sampai terbatuk-batuk.
Anang menatap ayah Santi, sambil menghela nafas panjang.
Ayah Santi terlihat jauh lebih menyedihkan daripada Anang.
Dengan raut wajah sedih, ayah Santi mengelap dengan tangannya, cairan kopi hitam yang tumpah keatas celana panjangnya.
"Tolong, Papa minta kuncinya dengan Wina! Mobil itu aku yang pakai, selama aku masih disini," kata Santi tegas.
"Santi...!" kata Anang pelan, sambil menggenggam tangan Santi erat-erat.
Santi menatap Anang dengan sorot mata tajam, dan wajah sangar.
Tapi, kali ini Anang tidak takut dengan gaya Santi.
Anang balas menatap Santi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Santi menghela nafas panjang, lalu bersandar didada Anang.
Eh, tumben!
Anang tersenyum lebar, sambil mengusap-usap lengan Santi.
"Tunggu disini sebentar! Papa pergi ambil mobilnya!" ujar ayah Santi, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Nanti saja, Pa! Nanti kami kerumah Papa," ujar Santi.
"Papa disini dengan kami saja dulu..." sambung Santi pelan.
"Tapi, Papa memang harus pulang... Celana Papa basah. Papa tunggu kalian dirumah ya?!" kata ayah Santi.
"Iya, Pak!" sahut Anang.
Sedangkan Santi, hanya menganggukkan kepalanya.
Ayah Santi berjalan melewati Anang, yang masih memangku Santi, sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Anang hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Mau cerita nggak? Kamu kenapa mau berkuliah keluar negeri, padahal 'kan bilang Papamu, kamu bisa kuliah disini saja..." ujar Anang, ketika dia tidak bisa melihat ayah Santi lagi.
"Apa karena kamu memang tidak mau saja, untuk meresmikan hubunganmu denganku?" sambung Anang.
Santi tidak mengeluarkan suaranya, hanya memeluk Anang erat-erat.
Anang tidak mau memaksa Santi bicara, dan hanya membiarkannya untuk beberapa waktu lamanya.
Suasana disitu jadi sangat hening.
Sambil melayangkan pandangannya keseluruh bagian halaman, yang bisa dijangkau penglihatannya, Anang mengingat-ingat semua yang mungkin terlewatkan baginya, selama Anang bersama Santi.
Tapi, rasanya tidak ada yang terlalu sensitif yang bisa membuat Santi seperti sekarang, kecuali sikap kasar Anang waktu diluar negeri.
Anang lalu teringat sesuatu.
Apa jangan-jangan...
"Santi! Apa kamu..." Anang tidak bisa meneruskan pertanyaannya.
Ah, nggak mungkin itu.
Anang mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Tiba-tiba, Santi mengangkat kepalanya, lalu menatap Anang lekat-lekat.
"Kalau aku diluar negeri, aku tidak perlu melihatmu atau Papaku. Jadi, aku nggak perlu memikirkan apa-apa, cukup fokus dikuliahku saja..." kata Santi.
"Kamu urus saja usahamu dulu, biar kamu yakin kalau kamu mampu menghidupiku. Itu yang kamu mau 'kan?" ujar Santi.
"Kamu nggak mau, kalau kita berusahanya sama-sama 'kan?" tanya Santi.
"Kamu bahkan nggak mau bicara, atau meminta bantuan dariku. Harus aku yang berinisiatif sendiri. Jadi pertanyaannya, kamu anggap aku ini apa?" ujar Santi lagi.
"Papaku juga sama. Hanya sibuk bertanya kapan kita menikah, karena dia mau kita buru-buru memberinya cucu. Aku lelah dengan semua itu...
Bagaimana mau punya anak, kalau kamu lebih memikirkan bagaimana biar kamu mapan dulu.
Lalu, kapan kamu yakin kalau kamu sudah mapan?" ujar Santi.
"Kalau begitu, bukannya lebih baik kalau aku pergi saja dulu? Sambil menunggu sampai kamu yakin, atau mungkin nanti kita memilih jalan masing-masing. Aku juga bisa menunda kemauan Papa untuk memiliki cucu..." sambung Santi.
Saat itu, lebih mirip kalau Santi sedang mengungkapkan unek-uneknya, tanpa mengijinkan Anang menjawab satu-persatu pertanyaannya.
Tenggorokan Anang tercekat.
Benar dugaan Anang.
Santi kebingungan dengan sikap Anang, dan ayahnya.
Itu sebabnya, Santi beberapa kali menyenggol tentang memiliki keturunan, kepada Anang.
Anang tidak menyadari semuanya itu.
Dalam pikiran Anang, terlalu terfokus agar dia tidak menjadi beban bagi Santi, ataupun ayahnya.
__ADS_1
Anang terlalu ego, mau menjadi laki-laki yang bisa diandalkan, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Santi, yang sudah menemaninya selama ini.
Anang menghela nafas panjang.