SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 108


__ADS_3

Dikantor Lia siang itu tampak ramai pengunjung, yang antri menunggu agar bisa bertemu dengan Lia.


Anang dan Santi bertatap-tatapan.


Rasanya itu bukan pemandangan biasa.


Beberapa kali Anang dan Santi pergi kesitu, tapi tidak pernah melihat klien Lia yang menumpuk seperti itu.


Santi lalu menemui anak buah Lia, yang bertugas menerima klien dibagian depan kantor.


Sedangkan Anang menunggu sambil melihat-lihat, orang-orang yang sebagian besar tampak tidak sabaran menunggu giliran mereka masuk.


Sampai-sampai ada klien yang tampak berjalan mondar-mandir, ada juga yang berdiri lalu duduk berulang-ulang.


Apa yang terjadi dikantor Lia?


"Katanya Lia sedang tidak ingin menemui siapapun..." ujar Santi pelan.


"Sebentar aku coba kirim pesan kepadanya," sambung Santi.


Santi lalu terlihat mengetikkan pesan diponselnya.


"Kita disuruh masuk lewat belakang saja..." kata Santi dengan alis mengerut, saat membaca pesan balasan dari Lia.


Santi kembali mendatangi anak buah Lia.


"Ayo kita pergi!" ujar Santi sambil menarik Anang untuk berjalan bersamanya.


Santi membawa Anang kebagian samping kantor, dimana ada sebuah pintu darurat disitu.


Santi lalu membuka pintu yang tidak dikunci itu, lalu berjalan masuk dengan Anang.


Lia terlihat sedang duduk ditangga, dengan wajah sembab seperti habis menangis lama.


"Ada apa...?" tanya Santi pelan.


Pecah tangisan Lia sambil memeluk Santi disitu, tanpa mau berbicara saking gusarnya.


Santi dan Anang hanya terdiam, menunggu Lia tenang dan reda tangisannya sendiri, lalu duduk lagi ditangga bersama Santi.


Sedangkan Anang hanya terdiam, berdiri didepan kedua wanita itu.


"Kekasihku meninggalkanku..." ujar Lia masih meneteskan air matanya.


"Aku rasanya tidak bisa melakukan pekerjaanku... Bagaimana aku bisa mengurus pasangan yang berbahagia, sedangkan hidupku sedang kacau seperti ini..." sambung Lia.


"Wanita itu benar-benar brengsek! Memutuskan hubungan kami hanya lewat pesan wh*tsapp saat aku sudah kekantor!" kata Lia ketus.


"Tapi aku mencintainya..." sambung Lia, lalu kembali menangis sejadi-jadinya.


Anang yang tidak tahan melihat wanita menangis seperti itu didepannya, sampai ikut merasa sesak nafas.

__ADS_1


Lia kini tampak sangat menyedihkan, dengan riasan yang pudar, dan maskara yang luntur, sampai membuat sekitar matanya agak menyeramkan.


"Sakit... Rasanya sangat sakit..." kata Lia dengan nafasnya yang terlihat sesak.


Santi mengusap-usap punggung Lia, tanpa berbicara apa-apa.


"Kenapa kamu nggak pulang saja dulu...?" ujar Anang pelan.


"Klienku menunggu didalam, sejak pagi... Aku tidak mungkin keluar begitu saja, melewati mereka disitu," sahut Lia yang memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Kamu mau kami membawamu pergi dari sini?" tanya Santi.


"Mobilku parkir didepan, pasti klienku bisa melihatku pergi," ujar Lia.


"Anak buahku pasti sudah memberi tahu mereka, kalau aku tidak bisa menemui mereka, tapi mereka masih saja menunggu..." sambung Lia, seolah mengetahui apa yang Anang pikirkan.


"Jadi kamu mau menangis disini saja?" tanya Anang.


Santi lalu menatap Anang, sambil membesarkan matanya.


"Maaf... Aku tidak tahu caranya membujuk wanita yang menangis seperti itu..." ujar Anang pelan.


"Kalau begitu, kamu diam saja!" sahut Santi ketus.


Entah kenapa perdebatan Anang dan Santi, seakan memberi Lia sedikit kekuatan, sampai bisa berbicara normal.


"Nggak usah memarahi Anang! Kalau dia pasanganku dia pasti sudah memelukku sekarang, agar aku berhenti menangis seperti orang bodoh," ujar Lia.


"Jangan sampai kalian berkelahi, cuma gara-gara aku yang menangis," sambung Lia.


"Aku sudah pernah bilang dengan kalian 'kan? Kalau aku sebenarnya sudah tahu, kalau kemungkinan besar kekasihku akan meninggalkan aku.


Tapi tetap saja, rasanya aku tidak bisa menerima kenyataan begitu saja..." kata Lia yang kini sudah terlihat lebih tenang.


"Aku sudah merasa lebih baik. Ayo kita kedalam saja!" ajak Lia berjalan masuk menuju ruangannya.


"Kalian tunggu didalam sana saja, aku mau merapikan wajahku dulu," kata Lia yang berbelok kearah toilet.


Anang dan Santi lalu berjalan masuk kedalam ruangan Lia, kemudian duduk dikursi yang ada disitu, sambil menunggu Lia.


Tapi rasanya, Lia terlalu lama ditoilet.


"Kenapa lama sekali?" tanya Anang heran.


Santi lalu berdiri dan setengah berlari menuju ke toilet, sambil disusul Anang.


Dari dalam toilet, terdengar suara Santi yang berteriak meminta tolong.


Anang yang berdiri didepan pintu tanpa menunggu lama-lama, langsung masuk kedalam toilet.


Lia tergeletak dilantai dengan banyak darah berceceran, yang mengalir dari luka ditangannya, sampai berbentuk pulau darah dilantai.

__ADS_1


Kelihatannya Lia mencoba bunuh diri, dengan menggunakan pecahan kaca cermin, yang dia goreskan ke urat nadi ditangannya.


Buru-buru Anang mengangkat Lia dari lantai, dan membawanya keluar, tanpa memperdulikan kehebohan orang-orang yang melihat Lia, yang sudah pingsan digendongan Anang.


Anang membawa Lia sampai keluar gedung, sedangkan Santi sibuk mencari tumpangan yang bisa mengantar mereka kerumah sakit secepatnya.


"Lia!"


"Lia!" seru Santi berulang-ulang, sambil menepuk-nepuk wajah Lia, berusaha menyadarkannya.


Tapi Lia sama sekali tidak merespon tindakan Santi.


Anang yang memangku Lia, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan rasa tidak percaya dengan tindakan bodoh wanita itu.


Setibanya mereka di rumah sakit, Lia langsung ditangani dokter dan perawat jaga di UGD.


Anang dan Santi kini hanya bisa berharap kalau Lia akan baik-baik saja, sambil menunggu sampai mereka diijinkan masuk dan menemui Lia.


"Itu tindakan bodoh!" celetuk Anang sambil memeluk Santi, yang kini sudah menangis ketakutan.


Cukup lama Anang dan Santi menunggu di ruang tunggu UGD, sampai seorang perawat menemui mereka dan bertanya tentang Lia.


"Kami teman-temannya. Kami kurang tahu kejadian sebenarnya. Kami hanya menemukannya sudah seperti itu didalam toilet," ujar Santi.


"Bagaimana keadaannya?" sambung Santi lagi.


"Pasiennya baik-baik saja. Sebentar lagi kalian bisa menemuinya," sahut Perawat wanita itu kepada Santi, lalu berjalan pergi.


Santi lalu kembali memeluk Anang, sambil menghela nafas panjang.


"Untung saja tidak sampai terjadi apa-apa dengannya," ujar Santi.


"Pasien sudah ada ruangannya. Kalian bisa menemuinya, cuma sekarang pasien masih belum sadar." kata salah satu perawat yang datang menghampiri Anang dan Santi.


"Kalian bisa ikut dengan saya" sambung perawat itu lagi, sambil berjalan pergi, disusul Anang dan Santi.


Anang dan Santi lalu masuk kedalam salah satu ruangan perawatan.


Tangan Lia terlihat sudah diperban, dan disebelah tangannya lagi terpasang infus.


Anang kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika melihat Lia yang masih belum sadarkan diri, terbaring diranjang rumah sakit.


Santi mengelus-elus kepala Lia, sambil duduk didekat ranjang.


"Nekat. Lia terlalu nekat..." celetuk Santi, lalu berbalik dan memeluk Anang, yang berdiri didekatnya.


Anang tidak habis pikir dengan Lia yang mau menghabisi nyawanya sendiri, meski ada sedikit rasa mengerti dengan sakit hati yang Lia rasakan, tapi tetap saja, bagi Anang, tindakan Lia itu sudah kelewat batas.


Rasanya masih ada saja kemungkinan untuk mendapat kesempatan lain, selama Lia masih mau berjuang dan bertahan, tanpa harus berhenti dengan cara seperti itu.


Anang menghela nafas panjang.

__ADS_1


Mencoba mati dengan bunuh diri, tidak akan serta-merta menyelesaikan masalah.


Mudah-mudahan tidak ada lagi, orang-orang yang berpikiran pendek seperti Lia.


__ADS_2