
Istri ayah Santi?
Apa Anang tidak salah dengar?
Wanita itu masih sangat muda, kalau jadi istri ayah Santi, lebih cocok jadi saudara Santi, dari pada jadi ibu tiri Santi.
Anang jadi ingat dengan perkataan Santi tentang ibu tirinya, yang sempat menggoda teman laki-laki Santi.
Wajar saja!
Anang waktu itu membayangkan ibu tiri Santi, dengan kulit yang sudah keriput, tapi terlalu percaya diri untuk menggoda laki-laki muda.
Ternyata dugaan Anang salah.
Kalau penampilannya masih seperti Wina, pantas saja kalau ibu tiri Santi percaya diri, untuk berbugil ria, didepan teman laki-laki Santi.
Eh, wanita itu sekarang melihat Anang dengan tatapan yang aneh.
"Santi! Tadi Papa sudah bertanya dengan Anang, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian,
Tapi dia hanya bilang secepatnya saja. Apa kalian berdua tidak memikirkan kapan waktu tepatnya?" ujar ayah Santi.
"Besok!" sahut Santi yang terdengar asal-asalan saja
Anang menoleh dan melihat kearah Santi, tapi Santi tampak santai saja, seolah-olah tidak ada beban.
"Bagaimana dengan Anang?" tanya ayah Santi.
Anang lalu melihat kearah ayah Santi lagi.
"Saya terserah Santi saja, Pak. Asal dia sudah siap, saya siap!" sahut Anang yakin.
"Hmm..." ayah Santi menggumam, sambil memegang dagunya.
Anang melihat Wina ibu tiri Santi, yang tampaknya kurang senang dengan pernyataan Anang dan Santi itu.
Santi mungkin tahu kalau Anang sedang memandangi Wina.
"Jangan bilang kamu tertarik dengan wanita itu?!" kata Santi berbisik ditelinga Anang.
"Nggak. Aku hanya merasa, kalau dia melihat kita dengan tatapan aneh," bisik Anang kepada Santi.
Santi kemudian membuat tangan Anang merangkul pinggangnya, disitu.
Tingkah Santi seolah-olah sedang mencoba membuat Wina iri, atau cemburu.
Cemburu?
Kalau sampai Wina memang cemburu, berarti Wina lebih gila dari Santi.
"Kalian bisa menunggu kurang lebih seminggu lagi? Papa akan menguruskan acara kalian nanti," ujar ayah Santi tiba-tiba.
"Gimana?" tanya Santi kepada Anang.
__ADS_1
"Terserah kamu saja," sahut Anang sambil tersenyum kepada Santi.
Anang tidak perduli lagi kapan atau dimana acara pernikahan mereka dilangsungkan, karena yang penting, ayah Santi berarti menyetujui rencana Anang untuk menikahi Santi.
Dan itu sudah lebih dari cukup, bagi Anang.
Akhirnya Anang sekarang bisa bernafas lega.
"Terserah Bapak dan Santi saja," kata Anang kepada ayah Santi.
"Bagus!" ujar Ayah Santi terdengar bersemangat.
"Ma! Ponsel Papa tadi dimana?" tanya ayah Santi sambil melihat kearah Wina disampingnya.
"Kalau tidak salah tadi, Mama lihat ada dimeja dikamar," jawab Wina.
Ayah Santi kemudian berdiri dari duduknya.
"Tunggu sebentar! Kalian tidak sedang buru-buru 'kan? Ada yang mau Papa hubungi dulu," ujar ayah Santi, sambil melihat Anang dan Santi bergantian.
"Iya, Pak! Silahkan!" sahut Anang.
Ayah Santi lalu berjalan tergesa-gesa, meninggalkan Wina, Santi dan Anang disitu.
Setelah ayah Santi pergi, Anang yang terlalu senang karena ayah Santi menyetujui, bahkan mau menguruskan acara untuk mereka berdua, memandangi Santi sepuasnya.
Rasanya mau saja Anang mencium bibir Santi disitu, saking bahagianya.
Tiba-tiba, Santi mencium bibir Anang duluan.
Anang benar-benar lupa kalau Wina, masih ada disitu dengan mereka.
Tapi, Anang merasa kalau ciuman Santi terlalu agresif, dan membuat Anang merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Barulah Anang teringat dengan Wina.
Anang berhenti mencium Santi, lalu buru-buru menoleh kearah Wina.
"Maaf!" ujar Anang yang merasa tidak enak, karena sudah berciuman penuh hasrat didepan Wina.
Meskipun Wina mungkin masih seumuran dengan Anang, atau mungkin malah lebih muda dari Anang, tapi tetap saja, dia itu statusnya bukan cuma wanita biasa, Wina, ibu tiri Santi, dan Anang tetap harus menghormatinya.
"Untuk apa kamu meminta maaf dengan wanita j*lang itu!" kata Santi lantang.
Anang menoleh kearah Santi, lalu membesarkan matanya.
Tapi Santi malah makin terpancing.
Tanpa memperdulikan Wina, Santi berpindah tempat duduk keatas pangkuan Anang, dengan berhadap-hadapan dengan Anang, Santi lalu mencium bibir Anang semaunya.
Anang yang mencoba menghentikannya, tidak dihiraukan Santi, yang memegang kedua sisi wajah Anang dengan tangannya, agar tidak bisa menghindari ciumannya.
Anang yang tidak mau mengasari Santi, hanya memegang tangan-tangan Santi disitu, dan terdiam tanpa membalas ciuman Santi.
__ADS_1
Tampaknya Anang yang seolah-olah menolak Santi, malah membuat Santi makin beringas menciumi Anang.
Anang lalu memeluk Santi erat-erat, dan membalas ciumannya, barulah Santi seakan bisa sedikit lebih tenang.
Kelihatannya, Santi memang harus selalu dituruti kemauannya.
Setelah Anang memuaskan kemauannya, Santi berhenti mencium Anang, dan bersandar dibahu Anang.
"Kenapa?" bisik Anang.
"Aku membenci wanita itu. Aku tidak mau kamu melihatnya. Apalagi kalau kamu sampai tertarik dengannya," kata Santi pelan.
Anang yang sedang mendengar perkataan Santi, sambil melihat Wina, langsung buru-buru mengalihkan pandangannya kearah lain.
Waktu Anang melihat Wina tadi, wanita itu tampak sangat marah, melihat adegan mesra Anang dan Santi, tapi Anang tidak terlalu mau menghiraukannya.
Dari pada Santi marah kepadanya, Anang lebih memilih tidak ambil pusing dengan amarah yang ditampakkan Wina.
Anang mengusap-usap punggung Santi.
"Iya. Aku nggak akan melihatnya lagi. Sudah? Nggak enak kalau Papamu tiba-tiba kembali kesini," kata Anang, pelan dan hati-hati.
Santi akan menuruti perkataan Anang?
Tentu saja tidak.
Santi memang seolah-olah akan turun dari pangkuan Anang, tapi dia hanya berbalik, dan tetap duduk diatas pangkuan Anang, dan membuat Anang memeluknya dari belakang, sambil Santi bersandar didada Anang.
"Silahkan bermimpi buruk, b*tch! Laki-laki ini tidak akan pernah terpengaruh denganmu," kata Santi, sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan jari tengah kepada Wina.
Anang hampir tertawa, karena gerak-gerik Santi yang seperti anak kecil, yang sedang berkelahi dengan temannya.
"Yakin?" ujar Wina, seolah-olah sedang mengejek Santi.
Wina yang sedari tadi hanya terdiam, cukup mengejutkan Anang ketika berkata seperti itu.
Ada apa dengan dua wanita ini?
Apa Wina segila yang Anang bayangkan?
Kalau benar begitu, kasihan ayah Santi.
Untuk apa Wina menikahi ayah Santi, kalau masih saja berminat dengan laki-laki lain.
Rasanya meski usia ayah Santi sudah tidak muda, tapi kalau urusan 'itu', kemungkinan besar masih mampu, makanya ayah Santi berani menikahi wanita yang jauh lebih muda darinya.
Benar 'kan?
"Anang bukan seperti Peter. Kamu kira semudah itu bisa mengganggunya?" kata Santi lalu tertawa sinis.
Eh. Mereka ini sedang membahas Anang kalau begitu.
Dari tadi Anang kemana saja?
__ADS_1
Kenapa tidak menyadari obrolan keduanya?
Anang mungkin terlalu bersemangat karena akan menikah dengan Santi, sampai-sampai buffering terlalu lama.