
Setelah Anang dan Santi selesai makan, Santi terlihat berjalan tergesa-gesa, sampai hampir menabrak seorang wanita yang berselisih jalan dengannya.
Wanita dengan dua jeruk bali didadanya, yang tadi siang sempat masuk kekamar Anang.
Mungkin karena melihat Anang berjalan dengan Santi, membuatnya berbalik dan menyusul Anang, dan menghadang langkah Anang dan Santi disitu.
Wanita itu kemudian berbicara, dan Santi ikut bicara bersahut-sahutan.
"Wanita ini mau s*x denganmu. Katanya dia mau mencobanya dengan orang lokal. Kamu mau nggak?" tanya Santi, yang membuat mata Anang terbelalak.
Ah, yang benar saja...
Semudah itu bilang mau begituan?
Masih ada tuh, sisa bungkus permen didalam tas Santi.
Tapi...
"Heh! Serius?" Anang balik bertanya.
"Iya... Buruan! Mau nggak?" tanya Santi yang sudah tidak sabaran. Mungkin karena dari tadi tujuannya terus saja tertunda.
Orang bule apa memang begitu?
Biar nggak kenal, mau aja langsung gaskeun?
"Wooiiyy! Mau atau nggak?" tanya Santi lagi.
"Mau," sahut Anang malu-malu.
Anang yakin kalau saat ini matanya sedang berbinar-binar. Atau sedang berkaca-kaca?
Soalnya pandangannya sekarang agak buram, hingga saat Santi bicara dengan wanita jeruk bali itu, Anang tidak bisa melihat jelas wajah keduanya.
"Sudah! Bawa dia kekamar. Aku sudah bilang kalau kamu tidak mengerti bahasanya. Jadi lebih baik, kalau langsung beraksi saja," ujar Santi.
Santi kemudian berjalan sampai setengah berlari, pergi meninggalkan Anang, dengan wanita jeruk bali itu disitu.
Anang berdiri terdiam, tapi tidak lama.
Wanita jeruk bali memegang tangannya, dan menarik Anang agar berjalan dengannya.
Langkah wanita itu lumayan cepat, sampai Anang hampir terseret mengikutinya.
Tidak sabar ya Neng?
Sama... Abang cuma malu-malu kucing.
Kalau begitu Anang juga akan mempercepat langkahnya, agar sempat mengunci pintu kamar.
Wanita jeruk bali melepas pakaiannya didepan Anang saat mereka sudah didalam kamar.
Entah mengapa, ketika bersama wanita itu Anang tidak bisa langsung menyosor. Anang malah asyik memandanginya saja dulu.
Anang juga belum berminat membuka pakaiannya sendiri.
__ADS_1
Ckckck...
Kedua jeruk balinya ternyata sejak tadi tidak disanggah.
Apa wanita itu tidak takut buahnya terjatuh?
Eh, segitiga pengamannya hanya sebesar tali jemuran, dan masuk dilipatan-lipatannya. Hampir tidak ada yang bisa ditutupi benda itu.
Kalau begitu, untuk apa itu dipakai?
Anang menonton sambil duduk disofa, sedangkan wanita itu sudah hampir menari bugil didepannya. ~
Tidak seru.
Apanya yang seru kalau wanita itu berteriak,
Oh... got!
Oh... got!
Memangnya ada apa di selokan air?
Apa dia mau melakukannya disitu?
Berkotor-kotor, gitu?
Anang sampai beberapa kali kehilangan konsentrasinya, gara-gara teriakan wanita itu.
Sampai wanita itu berteriak 'Got' dengan suara panjang bergetar, dan terlihat lemas, lalu menyuruh Anang untuk berhenti, Anang tidak bisa menembakkan pelurunya.
Pertempuran Anang belum berakhir, wanita jeruk bali itu sudah menyerah.
Anang memang memenangkan pertempuran, tapi kemenangan yang tidak membuat Anang merasa bahagia, hanya membuat kepala Anang terasa sakit saja.
Anang berbaring bertelungkup menekan kegagalannya untuk kalah malam ini.
Belum lama Anang bertelungkup, pintu kamarnya diketuk berulang-ulang.
Dengan enggan Anang membuka pintunya yang terlanjur dia kunci.
Santi terlihat merengut dibalik pintu, lalu menerobos masuk.
Santi terlihat buru-buru membuka gaunnya dan br*nya kemudian bertelungkup diranjang, sambil menutup badannya dengan selimut.
Anang mengunci pintu kamar, kemudian ikut masuk dibawah selimut lalu bertelungkup bersebelahan dengan Santi, diatas ranjang.
"Kenapa?" tanya Anang pelan.
"Payah! Nggak guna! Dia terlalu banyak minum alkohol. Sampai capek aku merayunya. Tetap tidak berhasil," ujar Santi yang terdengar kesal.
Anang hanya terdiam, memikirkan ketidak puasannya sendiri yang tidak bisa mencapai puncak himalaya.
"Kalau kamu?" tanya Santi, tiba-tiba seakan baru teringat kalau Anang tadi bersama seorang wanita.
"Sama! Gagal total!" sahut Anang.
__ADS_1
Berarti malam ini tidak ada yang puas. Hanya mendapat lelahnya saja.
Memang jadi pelajaran bagi semua, kalau barang impor itu meski tampilan luarnya indah, tapi kualitasnya belum tentu bagus.
Santi terlihat sudah tertidur dengan alisnya yang mengerut, Anang juga yang sudah mengantuk tak lama juga ikut tertidur.
Keduanya tampaknya sama-sama bermimipi buruk, karena tidak ada yang bisa tenang. Berganti-gantian mereka bergerak-gerak dalam tidurnya.~
Pagi-pagi sekali Anang sudah terbangun, melihat jam diponselnya yang masih menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit.
Masih berbaring diranjang, Anang melihat-lihat layar ponselnya.
Anang melihat semakin banyak tawaran bernyanyi dipesan yang masuk.
Ada satu pesan yang menarik perhatian Anang.
Orang itu meminta Anang menyanyikan lagu ciptaan Anang sendiri, atau ciptaan orang lain, tapi yang belum pernah dinyanyikan orang atau grup band, selain Anang.
Anang menciptakan lagu baru?
Mungkin bisa, kalau Anang mau mencobanya.
Asal ada inspirasi yang bisa memotivasi Anang.
Sesekali Anang melirik Santi yang masih tertidur pulas.
Kalau membuat lagu yang sesuai dengan bayangan Anang tentang Santi, tampaknya Anang akan ditampar orang saat dia selesai bernyanyi.
Bahkan mungkin lagunya belum usai, Anang sudah diusir pulang.
Tapi, kalau mengingat Gita, maka lagu Anang akan jadi lagu-lagu galau yang menyedihkan.
Kecuali kalau kedua wanita itu digabung, mungkin bisa jadi inspirasi yang bagus.
Tiba-tiba Santi bergerak mendekat kepada Anang dengan mata yang masih terpejam, lalu memeluk Anang dengan wajahnya yang sejajar menghadap ke wajah Anang.
Anang bisa melihat jelas wajah Santi yang terpapar cahaya lampu meja, didekat ranjang yang tadi dinyalakan Anang, saat mencari ponselnya.
Anang menggeser poni Santi yang terjatuh menutup sebagian wajah Santi, perlahan-lahan agar tidak membangunkan wanita itu.
Kalau melihat wajah Santi saat sedang tidur begitu, tidak akan terpikir kalau wanita itu sakit. Terlihat tenang dengan wajah cantiknya.
Alisnya hitam dengan ketebalan yang pas tanpa perlu memakai pensil alis lagi, membingkai matanya yang bulat, dan bulu matanya yang panjang lentik, lengkap dengan hidungnya yang mancung.
Kulit Santi yang putih dan halus, tampak serasi dengan bibirnya yang kecil dan tipis berwarna merah muda.
Selama ini bibir Anang tidak pernah menyentuh bibir Santi, malah tongkatnya saja yang sudah berkali-kali merasa sentuhan bibir Santi.
Keduanya selalu hanya memuaskan nafsu diranjang, tanpa ada embel-embel perasaan.
Kalau Anang bisa membayangkan Santi tanpa s*x, Santi bisa jadi lagu yang indah.
Mungkin Anang bisa membuat lagu indah yang menggugah perasaan orang yang mendengarnya, seperti lagu Mister Grand yang bisa membuat orang terharu.
Anang masih memandangi Santi yang masih tertidur, dengan suara nafas Santi yang pelan teratur untuk beberapa waktu lamanya.
__ADS_1
Anang memikirkan kata-kata yang cocok menggambarkan Santi, dengan versi normal tanpa s*x, kemudian mengetikkan kata-kata itu diponselnya.