
'Apa saya bisa membawa seorang teman?'
Begitu isi pesan yang diketik Anang diaplikasi wh*tsapp untuk dikirimkan kepada Lia.
Diijinkan atau tidak yang penting Anang bertanya saja dulu.
'Laki-laki atau perempuan?' Balas Lia.
'Perempuan' Balas Anang.
Cukup lama Anang menunggu balasan dari Lia, sebelum tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Halo!" ujar Lia yang melakukan video call dengan Anang.
"Halo!" sahut Anang.
"Apa teman mas Anang yang mau ikut kepestaku ada disitu?" tanya Lia.
"Ada. Sebentar," ujar Anang.
Anang kemudian memanggil Santi, agar bisa ikut bicara dengan Lia di ponsel Anang.
"Santi! Sini!" seru Anang kepada Santi yang sibuk dengan ponselnya sendiri.
"Apa?" tanya Santi yang merasa terganggu oleh Anang.
"Kamu mau ikut nggak?" Anang balik bertanya dengan nada ketus.
"Eh, Ikut dong!" ujar Santi sambil mendekat ke Anang.
Anang lalu menyodorkan ponselnya kepada Santi.
"Halo! Saya Santi, teman mas Anang. Aku mau ikut kepestanya. Boleh?" tanya Santi kepada Lia dengan suara yang dimanja-manjakan.
Anang hanya bisa menepuk jidat melihat tingkah Santi yang sok imut, saat bicara dengan Lia.
Lia sempat terdiam sebentar, seolah-olah sedang mempertimbangkan permintaan Santi.
"Boleh. Kalau begitu nanti saya jemput kalian berdua ya?! Siap-siap saja," ujar Lia.
"Mana mas Anang?" sambung Lia lagi.
"Mas! Nih, Lia mau ngobrol denganmu!" ujar Santi sambil mengembalikan ponsel Anang.
"Iya, Kenapa mbak?" tanya Anang yang sudah memantangi ponselnya lagi.
"Apa kalian bisa aku jemput sebelum maghrib? Soalnya ada lagi yang harus aku jemput," ujar Lia.
"Oh... Bisa. Kalau begitu, saya dan Santi siap-siap dulu," kata Anang lalu memutus panggilannya.
__ADS_1
"Kita perginya lebih awal," kata Anang sambil berbaring dilantai, dan meletakkan ponsel disampingnya.
Masih pegal rasa punggung, dan pinggang Anang. Agak lumayan rasanya saat berbaring lurus seperti itu.
Santi seperti biasa, selalu mengambil kesempatan saat Anang terlentang begitu.
Mungkin Santi menganggap kalau Anang sedang memberinya kesempatan untuk dia disitu.
Mungkin dikira Santi dalam celana Anang itu taman bermain terbuka yang bebas kapan saja dia mau bermain.
"Santi! Jangan memancingku! Nggak lama lagi kita harus kita harus bersiap pergi," ujar Anang gemas, karena sudah merasa geli dengan tingkah Santi.
Punggung Anang masih sakit, tapi kelakuan Santi membuat Anang mampu mengangkat Santi keatas ranjang.~
"Sudah 'kan? Kita mandi dulu. Nggak enak kalau sudah dijemput tapi kita belum siap," kata Anang dengan nafas yang masih tersengal.
Meski terlihat enggan, Santi mau saja melepas Anang kembali kekamarnya.
Anang seperti biasa turun kerakit disungai.
Sempat ada drama anak kecil yang hampir tenggelam karena terseret arus, tapi tidak terlalu mengganggu waktu Anang.
Memang arus sungai sedang deras-derasnya beberapa hari ini, karena mulai memasuki musim penghujan.
Bagian hulu sungai malah mungkin sudah tiap hari diguyur hujan, makanya aliran air sungai jadi deras dan mulai keruh.
Anang bergegas pergi dari rakit itu, untuk kembali kekamarnya setelah menyelesaikan semua urusannya disungai.
Setelah selesai berpakaian, Anang kembali menemui Santi, yang sekarang juga sudah hampir siap, tinggal menyelesaikan riasan diwajahnya.
Mereka sudah siap, dan Santi memakai minidress yang lengket dikulitnya, tampak mencolok dengan aksen mengkilat yang memenuhi semua permukaan gaun pendeknya.
Santi terlihat seperti bola disko yang berkilauan, saat terkena cahaya matahari sore. Hanya saja karena bentuk badan Santi yang bohay, jelas lebih menarik daripada bola disko yang hanya berbentuk bulat.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pantulan cahaya dari gaun Santi membuat pelangi bertaburan dimata Anang.
Tidak lama mereka keluar dari kamar Santi, ponsel Anang kemudian bergetar dan berbunyi cukup nyaring.
Lia yang menelpon Anang.
"Sudah siap?" tanya Lia dari seberang.
"Sudah. Lia dimana sekarang?" tanya Anang.
"Ini sudah didepan tempat tinggal mas Anang," sahut Lia.
"Ok. Tunggu sebentar, kami sudah berjalan keluar sekarang," ujar Anang lalu memutus panggilan telepon Lia.
__ADS_1
"Buruan! Lia sudah menunggu kita didepan!" ujar Anang sambil memegang lengan Santi agar bisa lebih cepat berjalan.
"Sabar! Kakiku bisa keseleo kalau aku harus mengikuti langkahmu!" ujar Santi yang tampak kesulitan berjalan cepat dijalan tanah dengan sandal hak tingginya.
Anang dan Santi mempercepat langkah mereka berdua sebisanya, sampai mobil yang dipakai Lia sudah terlihat dipinggir jalan raya.
Lia tampak berdiri diluar mobil sambil berdiri bersandar disalah satu sisi mobil yang mengarah kepemukiman Anang.
Lia membukakan pintu untuk Santi, agar duduk di jok penumpang yang ada didepan, sedangkan Anang dibiarkan Lia, untuk naik sendiri kedalam mobil, dan duduk di jok belakang.
Disepanjang perjalanan, Anang bisa melihat Lia yang sesekali menoleh kearah Santi disebelahnya, sambil tersenyum manis.
Begitu juga Santi yang ikut membalas senyuman Lia kepadanya.
Sesekali mereka bicara bersahut-sahutan, tapi Anang tidak terlalu bisa mendengar apa yang kedua wanita itu bicarakan, karena suara musik yang dinyalakan Lia dimobilnya, cukup mengganggu pendengaran Anang.
Tampaknya Lia tertarik dengan Santi, dan Santi tampak ikut-ikutan menggoda Lia.
Apakah semua kegila'an ini akan berakhir?
Anang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat mereka tiba ditempat pesta Lia diadakan.
Santi seakan jadi rebutan wanita-wanita yang ada disitu.
Wanita-wanita yang ada disitu mengerumuni Santi, seperti semut yang mengerumuni gula yang manis.
Terlihat jelas kalau mereka mencoba merayu Santi, dan Santi pun dengan nakalnya seolah menyukai rayuan wanita-wanita itu.
Saat Anang sudah mulai bernyanyi, tidak ada dari wanita-wanita itu yang memperhatikan Anang. Tampaknya meski Anang tiba-tiba berhenti bernyanyi, tidak akan ada satu pun yang perduli.
Anang kemudian berpura-pura masih mempersiapkan lagu selanjutnya, dan hanya terdiam cukup lama.
Benar saja, tidak ada satu pun yang berkomentar atau protes dengan Anang.
Untuk apa sebenarnya mereka mengundang Anang kesitu?
Anang menghela nafas panjang yang terasa berat.
Wanita-wanita itu hanya menghambur-hamburkan uang saja.
Lia kemudian menghampiri Anang, dan menyodorkan amplop kepada Anang, ketika Anang masih terdiam melihat mereka, dan belum melanjutkan nyanyiannya.
"Tapi aku belum menghabiskan lagu pesananmu," kata Anang.
"Tidak apa-apa. Kami hanya butuh mas Anang datang supaya orang-orang tidak curiga dengan pesta kami," ujar Lia sambil memaksa Anang untuk mengambil amplop pemberiannya.
"Cepat ambil! Aku mau bersenang-senang. Silahkan mas Anang nikmati hidangannya," kata Lia, sambil berjalan menjauh dari Anang saat Anang sudah mengambil amplop dari tangannya.
Disitu hanya ada beberapa kaleng saja minuman bersoda, sisanya botol-botol minuman beralkohol yang memenuhi meja panjang, dengan kacang dan camilan lain yang ikut bertengger didekat botol-botol itu.
__ADS_1
Anang kemudian duduk disalah satu kursi yang kosong, sambil mengunyah kacang.