
Jangan sampai tenggelam terlalu dalam.
Kalau kamu terjatuh ke air, lalu kamu tidak tahu berenang, maka
Jangan banyak bergerak!
Cukup jaga wajahmu tetap diatas, lalu mengatur nafas, agar kamu tidak kelelahan, dan mati karena lemas.~
Santi menengadahkan kepalanya, lalu melihat Anang, dengan alisnya yang mengerut.
"Memangnya apa yang kamu pikir akan terjadi? Apa kamu kira aku akan terbawa arus banjir?" tanya Santi, yang terdengar bingung.
"Heh? Bukan itu! Maksudku, kalau-kalau kamu nanti hamil," sahut Anang yang juga ikut bingung.
Spontan Santi tertawa terbahak-bahak.
Tapi, kenapa Santi malah tertawa?
"Apa kamu kira kalau aku akan hamil karena kamu tadi?" tanya Santi, saat dia sudah bisa mengatur nafasnya.
Anang mengangguk.
"Nggak sayang... Besok sudah jadwalku datang bulan. Nggak bakalan aku hamil semudah itu," ujar Santi, sambil mencubit hidung Anang, disela dua jari tangannya.
"Ooh..." gumam Anang, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sudah! Ayo kita pergi sekarang!" kata Santi, lalu mencoba melepaskan pelukan Anang, dari tubuhnya.
Anang mencium bibir Santi sepuasnya.
Mumpung ada kesempatan.
Harus Anang manfaatkan sebaik-baiknya.
Apalagi Anang ternyata batal jadi ayah, itu patut di selebrasi dengan bersulang, dengan sesuatu yang manis.
"Sudah puas? Jontor bibirku kalau lebih lama lagi," ujar Santi sambil tersenyum.~
Santi mengibas-ngibaskan kausnya yang agak basah dibagian bahunya.
Begitu juga Anang, yang kepalanya juga ikut basah, sampai rambutnya meneteskan air.
Sepanjang mata Anang memandang, bahan sembako berjejer rapi, didalam toko khusus grosiran.
Mulai dari beras, mie instan, dan berbagai bahan keperluan sehari-hari, hampir semua ada disitu.
__ADS_1
Lebih mirip gudang barang dari pada toko, karena barang-barangnya tidak ada yang ditata satuan, melainkan didalam karung besar, kardus atau plastik dengan ukuran besar.
Santi lalu memesan semua barang, yang Anang dan dirinya inginkan.
Mereka dilayani dengan ramah oleh seorang pria paruh baya berkulit putih dengan mata sipit, yang hanya memakai celana pendek diatas lutut dengan kaus longgar.
"Baru buka warung sembako?" tanya pria paruh baya itu, yang tampak heran dengan pesanan Santi yang lumayan banyak.
"Nggak, Pak. Itu untuk korban banjir dibawah jembatan layang," kata Santi, menjelaskan.
"Ooh... Alamatnya disertakan untuk pengantaran ya," ujar pria paruh baya itu, setelah mengonfirmasi pembayaran yang ditransfer Santi.
Santi kemudian menuliskan alamat kostan lama mereka diselembar kertas, dan menyodorkannya kepada pria paruh baya itu.
"Oke. Nanti selesai dimuat, langsung diantarkan," kata pria itu, sambil menunjuk barang-barang, yang sementara dimasukkan dalam sebuah truk box.
"Kalau begitu, kami pergi dulu. Terimakasih, Pak!" kata Santi, lalu menggandeng Anang, dan berjalan keluar dari toko.
Dengan menumpang taksi, Anang dan Santi lalu pergi kekost'an lama mereka, yang ternyata kondisinya jauh lebih buruk, dari yang Anang bayangkan.
Hujan didaerah situ, sudah hampir reda.
Tertinggal gerimis halus, yang hampir tidak terasa dikulit.
Tapi, air dengan ketinggian hampir separuh paha Anang, sudah menenggelamkan seluruh pemukiman kumuh itu.
Anang menggulung kaki celananya, lalu meninggalkan sendal yang dia pakai, di area yang masih belum terjamah banjir.
Santi tidak bisa ikut, kedalaman air dan arusnya seakan bisa menyeret Santi dengan begitu mudahnya.
Anang ikut membantu warga, mengambil barang-barang, yang masih bisa diselamatkan dari tempat tinggal mereka, yang sudah tergenang air.
Anang sempat melihat kamar petakan kecil tempat lama Anang, untuk bernaung dan melepas lelah sampai kurang lebih dua tahun, yang sekarang sudah tenggelam sampai seukuran perut orang dewasa.
Keputusan mereka untuk pindah waktu itu, memang sudah tepat.
Terdengar jeritan tangis anak-anak, dan suara keluhan ibu-ibu yang menenangkan anak-anaknya, menggema dihampir setiap bagian pemukiman.
"Anak-anak sudah kelaparan. Tapi belum ada bantuan yang diantar kesini sejak pagi tadi," celetuk seorang warga, yang mungkin melihat Anang, yang memandangi anak-anak yang menangis didalam gendongan ibunya.
Anak-anak yang masih balita, memang seakan tidak mau lepas dari ibunya, yang sedang sibuk menyelamatkan barang-barang milik keluarga mereka.
Pemerintah kota itu, memang selalu terlambat dalam menangani musibah yang dialami warganya.
Anang tidak bisa banyak berbicara, hanya bisa ikut membantu mengangkat barang-barang penghuni disitu semampunya.
__ADS_1
Beberapa kali rasanya, Anang seolah-olah akan terseret derasnya arus air yang melewatinya.
Anang menghela nafas panjang.
Kalau Anang masih bekerja serabutan, dan mengamen dijalanan seperti dulu, sekarang Anang pasti akan kebingungan tidur dimana nanti malam.
Meskipun Anang sudah menggulung kaki celananya, tapi celananya tetap basah, sampai hampir kepangkal pahanya.
Untung saja, penghuni disitu sudah selesai mengambil barang-barang mereka, yang sekiranya bisa diambil.
Anang lalu berjalan menjauhi air banjir, dan menghampiri Santi yang menunggunya dipinggir jalan raya, yang masih kering.
Truk box yang mengantar barang-barang belanjaan mereka, terlihat baru saja datang, dan parkir di area yang kering.
Kemudian ada satu lagi mobil box kecil, yang ikut menyusul, dan parkir disitu.
Tak lama, seseorang keluar dari mobil, lalu membuka pintu belakang box-nya, begitu juga pintu belakang truk box.
Ketika Anang, dan Santi berjalan mendekat kearah dua kendaraan barang itu, salah satu laki-laki yang baru saja keluar dari dalam kabin truk box, langsung menyapa Anang dan Santi.
"Kami mengantarkan barang pesanan atas nama Anang Yoga," kata orang itu.
Seorang laki-laki yang kelihatan masih sangat muda, dan punya tampang mirip-mirip dengan pria paruh baya ditoko tempat Anang dan Santi belanja tadi.
"Iya. Tapi, Kenapa kelihatannya barangnya lebih banyak dari yang kami pesan tadi?" tanya Santi.
Mungkin Santi khawatir kalau-kalau salah muat, atau salah antar.
"Ooh... Tadi, memang 'kokoh' menambahkan sedikit barangnya. Katanya, untuk ikut disumbangkan," kata laki-laki itu.
Santi mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tanda tangani nota penerimaannya ini ya!" kata laki-laki itu lagi, sambil menyodorkan selembar kertas nota kepada Santi.
Santi menandatangani nota, dengan sebuah pulpen yang dirogoh laki-laki tadi, dari saku depan kausnya.
Setelah dianggap selesai dengan urusan penerimaannya, Santi kemudian menghampiri salah satu warga, dan memintanya untuk mengatur barang, agar semua warga disitu bisa mendapat bagian.
Anang yang masih tenggelam dalam pikirannya, hanya melihat gerak-gerik Santi dan orang-orang disitu, tanpa berkomentar banyak.
Entah bagaimana penghuni pemukiman itu melalui malam nanti.
Sebagian mungkin bisa tinggal dirumah ibadah, tapi bagaimana dengan yang lain?
Tanpa ada tempat tinggal, dan mungkin hanya dengan tenda darurat, yang mungkin bisa dipasang dilapangan sepakbola, yang tidak jauh dari situ.
__ADS_1
Semuanya hanya kemungkinan, tanpa ada kepastian.
Sama dengan warga yang jadi korban banjir, Anang hanya bisa berharap, pemerintah bisa cepat turun tangan untuk membantu warganya.