SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 73


__ADS_3

Anang benar-benar terpana melihat rumah keluarga Santi.


Keraguan untuk menemui ayah Santi, kini menguasai Anang.


"Ada apa? Kamu mau berdiam disini?" tanya Santi ketika mereka sudah didepan pagar yang terbuka, tapi Anang tidak melangkahkan kakinya, untuk berjalan masuk.


Santi lalu menggandeng Anang, dan hendak berputar balik, seolah-olah mengajak Anang pergi dari situ, dan membatalkan pertemuannya dengan ayah Santi.


Anang tidak bergeming.


"Ayo kita pergi dari sini!" kata Santi.


Anang menghela nafas panjang.


Anang mengumpulkan semua keberaniannya, lalu membawa Santi berjalan masuk dengannya.


Santi akhirnya hanya mengikuti langkah Anang.


"Papa ku belum tentu ada dirumah sekarang," kata Santi.


Tapi, Anang menganggap itu hanya alasan Santi saja, dan tetap berjalan sampai didepan pintu rumah, lalu Anang memencet bel yang terpasang didekat pintu.


Setelah dua kali memencet bel, barulah terdengar seperti suara kunci pintu, yang sedang dibuka dari dalam.


"Iya...!" suara seorang wanita terdengar dari balik pintu.


Ketika pintu terbuka, seorang wanita muda, tampak sebaya dengan Anang dan Santi, yang keluar dari balik pintu.


Wanita itu melihat Anang, lalu melihat Santi.


Raut wajah wanita itu langsung berubah drastis, seolah-olah tidak senang dengan kedatangan Santi disitu.


"Halo b*tch!" ujar Santi, lalu tanpa menunggu wanita itu bicara apa-apa, dengan cepat membawa Anang menerobos masuk kedalam rumah.


Santi sempat menyenggol wanita itu, tapi Santi terlihat tidak perduli, dan tetap menyelonong masuk sampai kedalam salah satu ruangan.


Anang yang kebingungan, tidak sempat menegur Santi, atau menyapa wanita yang membuka pintu tadi.


Santi membuka pintu salah satu ruangan, yang ternyata didalamnya ada seorang laki-laki paruh baya, yang sedang duduk sambil menatap laptop diatas meja.


"Papa! Santi bawa calon suami Santi untuk menemui papa!" Kata Santi dengan lantang.


Mata Anang terbelalak.


Santi langsung bicara ke poin utama, tanpa ada basa-basi, dan itu cukup mengejutkan bagi Anang.


Tapi, itu juga yang membuat kegugupan Anang menghilang.


Hanya saja, Anang belum sempat menyapa orang tua itu, dan rasanya, itu tidak sopan.


Anang berniat menghampiri pria paruh baya, yang ternyata ayah Santi, yang sudah berdiri dari duduknya dan memasang wajah terkejut, dan bingung.

__ADS_1


Tapi Santi membawa Anang duduk di sofa, yang berhadapan dengan meja kerja ayah Santi.


Ayah Santi menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu terlihat menarik nafas panjang, sebelum dia menghampiri Anang, yang sudah duduk disamping Santi.


"Apa benar yang dibilang Santi?" tanya ayah Santi pelan, dan tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Maaf, Pak! Nama saya Anang, Pak!" kata Anang memperkenalkan dirinya, meski ayah Santi tidak menanyakan hal itu.


"Itu memang benar, Pak. Saya berniat menikahi Santi," sambung Anang mantap.


"Bagus!" ujar ayah Santi.


Mendengar perkataan ayah Santi, Anang makin merasa bingung, tapi dia tidak berani menanyakan kenapa jawaban ayah Santi seperti itu.


"Santi! Minta mbok Yen, buatkan minum untuk papa dan Anang," kata ayah Santi pelan.


Meski dengan wajah merengut, Santi tetap berdiri, dan berjalan keluar dari ruangan itu.


Ayah Santi kembali terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Saya Handoko, papanya Santi," kata Ayah Santi.


"Kamu sudah tahu Santi seperti apa?" tanya ayah Santi.


"Rasanya saya sudah mengenalnya dengan baik, Pak," sahut Anang.


"Hmm..." ayah Santi menggumam.


"Tapi kali ini, dia sendiri yang membawamu kesini," sambung ayah Santi, yang tampak terheran-heran.


"Dimana kalian bertemu?" tanya ayah Santi yang terlihat sangat penasaran.


"Di kost-kostan, Pak!" sahut Anang.


"Anang masih kuliah, atau sudah bekerja?" tanya ayah Santi lagi.


"Saya nggak sempat kuliah. Dulu saya mengamen di jalan-jalan, sambil bekerja serabutan dipekerjaan pembangunan. Kalau sekarang, saya bekerja jadi penyanyi panggilan," kata Anang jujur.


Ayah Santi mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berdiri dari sofa.


Ayah Santi tampak sedang memikirkan sesuatu.


Melihat gerak-gerik ayah Santi, membuat Anang jadi gugup lagi.


Apa ayah Santi tidak suka dengan pekerjaan Anang?


Apa mungkin ayah Santi tidak akan menyetujui lamaran Anang kepada Santi?


Apa mungkin...


Ayah Santi lalu tiba-tiba berbalik, dan tersenyum kepada Anang, kemudian duduk kembali disofa, berhadap-hadapan dengan Anang

__ADS_1


"Maafkan saya. Tapi apa kamu serius melamar Santi, atau ini semua cuma akal-akalan Santi saja?" tanya ayah Santi.


"Saya serius, Pak! Awalnya Santi menolakku, baru kemarin dia menerimanya, Pak!" ujar Anang.


"Jadi kamu sudah tahu semua tentang Santi?" tanya ayah Santi.


"Selain tentang keluarganya, saya sudah tahu semuanya," sahut Anang.


Kali ini Anang agak merasa curiga, dengan pertanyaan ayah Santi.


Jangan-jangan Anang dikira mau menikahi Santi, karena Anang tahu Santi anak orang kaya.


Maaf ya, Pak!


Anang bukan tipe orang macam itu.


Anang sungguhan menyayangi Santi. Meski keluarganya tidak mendukung, Anang akan tetap menikahi Santi, asal Santi mau saja ikut dengan Anang.


Rasanya Anang agak menyesal telah menemui keluarga Santi, mestinya Anang langsung menikahi Santi dikantor urusan agama.


Toh, Santi 'kan bukan anak dibawah umur!


"Hmm... Kalau begitu saya mau kamu bercerita semua tentang Santi. Semua yang kamu tahu!" ujar ayah Santi tiba-tiba, dan membuyarkan lamunan Anang.


Anang terdiam.


Apa yang harus Anang katakan?


Oh, Santi hiperseksual, sampai pernah menjadi penjaja s*x, terus sering berhubungan badan dengan Anang, terus Santi membantu pekerjaan Anang, terus sekarang Anang sudah tinggal sekamar dengan Santi.


Apa Anang harus ngomong Begitu?


Bisa-bisa Anang ditampar ayah Santi, dengan keras diwajahnya, dan Anang akan diusir saat itu juga.


"Begini saja. Kapan kamu bertemu dengan Santi? Apa kamu tahu semua kelakuan Santi? Terus apa yang membuatmu mau menikah dengannya?" kata ayah Santi lagi, yang mungkin merasa, kalau Anang kesulitan mengatakan sesuatu, tentang Santi.


Anang menghela nafas panjang.


"Saya mengenal Santi sudah cukup lama, sejak setahun pindah ke kostan tempat Santi tinggal,


Apa saja kekurangan dan kelebihan Santi, saya sudah tahu, karena beberapa waktu belakangan ini, saya sering menghabiskan waktu dengannya,


Santi membantuku mengurus jadwal bernyanyi saya,


Saya jatuh cinta dengan Santi, sejak kami sering bersama-sama. Santi sudah jadi bagian dalam hidupku, dan rasanya itu alasan yang cukup untuk memintanya jadi istriku," kata Anang menjelaskan panjang lebar.


Ayah Santi yang mendengarkan perkataan Anang, tidak merespon atau bereaksi apa-apa.


Diruangan itu jadi hening untuk sementara waktu, sampai suara ketukan dipintu, membuat Anang dan ayah Santi melihat kesitu.


"Masuk saja, mbok! Santi mana?" tanya ayah Santi kepada seorang wanita paruh baya, yang memegang baki berisi dua gelas minuman.

__ADS_1


__ADS_2