SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 94


__ADS_3

Setibanya di studio rekaman pak Robi, laki-laki paruh baya itu sudah menunggu Anang dan Santi, dibagian depan studio, sambil duduk disofa.


"Maafkan saya, Pak! Waktu Pak Robi menghubungiku tadi, kami berdua sedang tertidur, diperjalanan pulang kesini," kata Santi sambil menyalami Pak Robi.


"Nggak apa-apa. Kita langsung ke inti masalahnya saja ya?!" kata pak Robi.


Anang dan Santi mengangguk bersamaan.


"Kalian sudah baca artikelnya 'kan? Apa Anang tahu sesuatu tentang tuduhan itu?" tanya pak Robi.


"Maaf, Pak! Saya sama sekali tidak tahu dasar tuduhan plagiat yang ditujukan kepada saya. Lagu itu saya buat begitu saja, waktu kami sedang dikost-kostan," sahut Anang.


"Apa Anang tidak pernah mendengar lagu ( judul lagu berbahasa Inggris )?" tanya pak Robi.


"Setahu saya, nggak pernah, Pak!" sahut Anang lagi.


"Kalau label Jordan and Henderson, apa Anang pernah mendengarnya?" tanya pak Robi.


Anang terdiam sebentar.


Jordan?


Apa mungkin Miss Jordan?


Tidak mungkin...


"Label itu yang menuntut label kami. Menurut mereka, pencipta dan penyanyi lagu itu, ada dalam naungan labelnya." kata pak Robi, memecah pikiran Anang.


"Sepertinya saya pernah mendengarnya, tapi saya kurang yakin Pak!" jawab Anang.


"Ya sudah... Begini saja, apa Anang ada bukti kalau lagu itu memang diciptakan Anang?" tanya pak Robi.


"Saya tidak menulis lirik ataupun nadanya. Saya hanya merekamnya begitu saja diponselku waktu itu... Pak Robi mau melihatnya?" tanya Anang.


"Coba saya lihat!" ujar pak Robi.


Anang kemudian mengeluarkan ponselnya, dan menyalakan layarnya.


Setelah menggeser-geser layar ponselnya, Anang lalu menyodorkan ponselnya kepada pak Robi.


"Ini, Pak!" ujar Anang.


Pak Robi mengambil ponsel dari tangan Anang dan melihatnya, dan sempat memutar rekaman lagu itu.


"Tunggu sebentar!" ujar pak Robi.


Pak Robi lalu mengeluarkan ponselnya, dan terlihat seperti sedang menghubungi seseorang.


Anang hanya bertatap-tatapan dengan Santi, sambil menunggu pak Robi, yang sedang berbicara diponselnya.

__ADS_1


Pak Robi tampak sangat serius bicara dengan seseorang diseberang, dan memakan waktu cukup lama, sebelum dia mengakhiri pembicaraannya.


"Anang, ponsel Anang saya tahan dulu ya?! Saya akan menemui pengacara dan membawa ponsel Anang bersamaku. Tidak masalah?" kata pak Robi.


Anang terdiam.


Bagaimana dengan pekerjaan Anang nanti?


Permintaan orang-orang untuk Anang bernyanyi, ada dikontak dan akun Anang yang ada diponsel itu.


Anang melihat kearah Santi, meminta pendapatnya lewat tatapan matanya saja.


"Iya, Pak! Pak Robi bisa memegang ponsel Anang sementara, tapi saya minta kartu SIM-nya saja dikeluarkan," ujar Santi.


"Oh, bisa!" kata Pak Robi, lalu mengembalikan ponsel Anang, untuk dikeluarkan kartunya oleh Santi.


"Terakhir kalian kesini terlalu terburu-buru. Nomor rekening Anang belum diberikan kepada kami. Sekalian sekarang, Anang menanda tangani kontrak ya?!


Mudah-mudahan tuntutan itu bisa teratasi, jadi single Anang tidak di-banned, dan royalti Anang sudah bisa Anang terima diawal bulan depan," kata pak Robi.


"Besok Anang kesini sekitar jam sepuluh, kita coba merekam single lain. Sambil jaga-jaga, kalau-kalau single Anang yang sudah rilis, harus ditarik dari bursa lagu, jadi ada single baru untuk penggantinya.


Tapi kali ini, kita tidak akan kecolongan lagi, saya akan meminta pengacara, sekalian mengurus hak ciptanya nanti." sambung pak Robi lagi.


Santi sudah selesai mengeluarkan kartu dari ponsel Anang, dan kembali menyodorkan ponsel Anang kepada pak Robi.


"Oke! Saya jalan dulu! Kalian datangi kantor disebelah sana ya?! Mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan nanti!" kata pak Robi yang kelihatannya tergesa-gesa, berjalan keluar dari gedung studio rekaman itu.


Didalam ruangan itu Anang disodorkan beberapa lembar kertas, yang tersusun rapi dalam sebuah map.


Anang membacanya sebentar bersama- sama dengan Santi.


"Bagaimana menurut mu?" tanya Anang.


"Hmm... Bagus-bagus saja sih perjanjiannya. Kalau kamu setuju, tinggal tanda tangani saja," sahut Santi.


Anang kemudian menanda tangani kontrak yang tertulis diberkas itu, sementara Santi, memberikan nomor rekening Anang kepada salah satu pekerja yang melayani mereka disitu.


"Sudah semua?" tanya Anang sambil melihat orang-orang yang melayani mereka diruangan itu, bergantian.


"Sudah!" sahut salah satu dari pegawai pak Robi itu.


Anang dan Santi kemudian berjalan keluar dari studio, sambil menunggu taksi yang akan menjemput mereka.


"Jordan and Henderson... Itu nama labelnya yang menuntut label Pak Robi dan aku kan?" tanya Anang memastikan ingatannya.


"Iya. Memangnya kenapa? Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Santi, yang terlihat penasaran.


"Bukan apa-apa. Hanya saja bos Peter itu biasa dipanggil Miss Jordan... Tapi rasanya tidak mungkin kalau Miss Jordan sampai setega itu," ujar Anang.

__ADS_1


"Bisa saja! Apalagi kalau dia dihasut Peter. Laki-laki itu benar-benar brengsek!" kata Santi yang terlihat sangat kesal bercampur gelisah.


"Ini semua salahku..." celetuk Santi.


Santi terlihat berjalan mondar-mandir, dengan raut wajahnya yang berubah-ubah.


Anang menahan gerakan Santi yang tidak beraturan, dan memeluknya erat-erat.


"Nggak apa-apa. Itu bukan salahmu..." kata Anang pelan, mencoba menenangkan Santi.


"Peter benar-benar mengganggu hidupmu... Ini semua karena aku... Maafkan aku..." kata Santi lemas.


Santi seakan tidak bisa membalas pelukan Anang, tangannya hanya bergantung lemah di sisi-sisi tubuhnya, seolah-olah Santi merasa sangat bersalah kepada Anang.


Anang bisa merasakan kegelisahan Santi, tetap memeluk Santi erat-erat, sambil mengusap-usap punggung Santi pelan-pelan.


"Jangan begini denganku...!" kata Anang.


"Aku nggak pernah, dan nggak akan pernah menyalahkanmu..." sambung Anang, lalu mengecup kepala Santi, barulah Santi mau memeluk Anang.


"Entah apa lagi yang akan diperbuat Peter kepadamu, kalau aku masih denganmu..." celetuk Santi.


"Biarkan saja... Nggak usah kamu pikirkan. Nanti kita sama-sama cari jalan keluar, kalau sampai ada lagi yang dilakukan Peter yang bisa mengganggu kita," kata Anang mantap.


Tak lama taksi yang akan membawa mereka kembali ke kost-kostan, sudah datang menjemput mereka disitu.


"Mau singgah makan siang dulu, atau nanti makan dikost saja? Aku mulai lapar!" ujar Anang, saat mobil yang mereka tumpangi, sudah mulai berjalan.


"Hmm... Kita makan di kost saja ya?! Mau?" tanya Santi.


"Iya," sahut Anang.


Santi masih terlihat tidak tenang.


Disepanjang perjalanan kembali ke kost-kostan, Santi lebih banyak menatap keluar jendela, meski dia menggenggam tangan Anang erat-erat.


Setibanya dikost, gelagat Santi masih sama.


Santi tampak tidak terlalu mau bicara dengan Anang.


Sampai makanan pesanan mereka diantar kekamar kost mereka, Santi tidak mau makan, dan hanya bertelungkup diatas ranjang.


"Kenapa? Aku 'kan sudah bilang nggak usah terlalu dipikirkan...?!" celetuk Anang, sambil duduk didekat Santi.


"Semestinya aku bisa menghancurkan Peter lebih dulu waktu itu, sebelum dia bisa mengganggumu," sahut Santi ketus.


"Sudahlah... Kalau kamu begini, malah hanya membuatku tertekan. Aku tidak terlalu memperdulikan tentang gangguan Peter, asalkan kamu baik-baik saja denganku," ujar Anang.


Santi kemudian duduk dan memeluk Anang.

__ADS_1


"Sudah ya?! Makan sama-sama denganku. Jangan membuatku khawatir denganmu...!" kata Anang.


Santi lalu menganggukkan kepalanya.


__ADS_2