
Anang tidak tertarik lagi untuk pergi kekolam renang.
Daripada panas-panasan, lebih baik Anang berbaring diranjang yang empuk, dengan pendingin udara yang membuat kamar itu adem dan nyaman.
Anang terlalu menikmati berbaring diranjang itu sampai akhirnya dia tertidur.
Entah berapa lama Anang tertidur, sampai ranjangnya bergoyang seolah ada yang ikut naik keatas situ, dan membangunkan Anang.
Ketika Anang membuka matanya, ada seorang wanita yang bertelungkup disampingnya, dengan wajahnya menghadap kesisi lain ranjang.
Dan Anang yakin kalau itu bukan Santi.
Kecuali Santi tiba-tiba mengubah cat rambutnya, atau berjemur sampai rambutnya berwarna kuning.
Tapi kalau ini wanita lain, kenapa dia bisa ada dikamar Anang?
Ah, Bodoh!
Anang tadi saking terburu-buru mengejar toilet, dia lupa mengunci pintu kamar yang memang hanya bisa dikunci dari dalam.
"Halo!" ujar Anang.
"Miss!" kata Anang lagi.
Wanita itu menoleh kearahnya, lalu mulai bicara.
Dan Anang tiba-tiba jadi bisu dan tuli.
Meski wanita itu sedang berbicara dengan Anang, tapi tidak ada yang bisa dipahaminya sama sekali.
Apa yang harus Anang lakukan? Atau katakan?
Wanita itu sudah berhenti bicara. Dan untuk beberapa waktu lamanya, kedua mata itu akhirnya hanya bertatapan.
Wanita itu lalu meloncat turun dari ranjang, sedangkan Anang yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba wanita itu, juga ikut beranjak turun dari ranjang.
Wanita itu hanya mengenakan bikini seperti Santi tadi.
Kalau saja dia tidak bergerak, Anang mungkin tidak akan tertarik meski dada wanita itu yang sebesar dua buah jeruk bali, menggantung ditahan kain kecil bertali yang terkait dibahunya.
Tapi kali ini, dua jeruk bali itu bergoyang-goyang sampai saling bertabrakan, saat wanita itu sibuk bergerak kesana kemari, seperti ada yang dia cari.
Anang jadi kasihan dengan tali bikini yang tertarik tegang, menahan beban yang berat.
Tali kecil itu seakan meminta tolong kepada tangan Anang, untuk ikut membantu menopang agar bisa mengurangi ketegangannya.
Hanya saja, sekarang Anang juga merasa ada yang tegang, jadi tangannya tidak bisa membantu mengangkat beban, melainkan harus menutupi kebahagiaan yang berlebihan diantara kedua kakinya.
Wanita itu berhenti bergerak lalu mulai bicara lagi dengan Anang, seperti orang yang sedang mengomel.
Apa Anang harus bilang, 'I No paham'. Begitu?
Kenapa perlu ada bahasa yang beragam?
Itu hanya mempersulit komunikasi.
Anang mau mengangkat kedua tangannya lurus didepan dada, untuk menenangkan wanita itu, tapi khawatir kalau-kalau remnya blong, lalu malah memegang dua jeruk bali itu erat-erat.
Wanita itu tiba-tiba berhenti bicara, lalu berbalik memunggungi Anang sambil berjalan.
__ADS_1
Penutup bagian belakang segitiga pengaman wanita itu terlalu kecil, sampai bisa masuk, dan terjepit diantara pipi montok yang tampak sangat kencang dan padat, meski masih sedikit terlihat berguncang saat wanita itu berjalan.
Apa maksudnya semua ini?
Menggoda Anang yang tidak bisa berbuat apa-apa disitu?
Anang hanya bisa melamun membayangkan apa yang bisa dia lakukan dengan semua itu.
Yang jelas Anang harus hati-hati, kalau sampai wajahnya terjebak diantara dua jeruk bali, maka Anang mungkin akan kehabisan nafas.
Begitu juga kalau Anang salah memasukkan gigi tongkat persneling, maka Anang akan terjepit sampai gepeng.
Eh, wanita itu berbalik lagi, lalu menghampiri Anang.
Apa Anang harus mundur atau tancap gas?
Wanita itu menjulurkan tangannya kepada Anang, sambil bicara sesuatu dengan suara pelan.
Kenapa seperti mengarah kebawah perut Anang?
Apa Anang pasrah atau membantu mengarahkan agar tepat sasaran?
Ooh, tampaknya dia hanya mau berjabat tangan.
Oke!
Anang akan menyambut jari-jari lentiknya di... Tangan Anang.
Saat berjabat tangan, wanita itu sedikit mengguncang tangan Anang, tapi membuat semuanya ikut berguncang.
Jantung Anang sepertinya yang paling terguncang.
Kecuali wanita itu bisa ikut bergoyang, berarti tidak ada yang salah. Anang hanya akan dituduh memanfaatkan kesempatan. Apalagi kalau wanita itu sampai minta lagi, pasti Anang tidak akan protes.
Ternyata gagal.
Setelah berjabat tangan, wanita itu keluar dari kamar, meninggalkan Anang yang menahan air mata yang hampir penuh dikelopak matanya.
Mimpi apa ini? Benar-benar mimpi buruk.
Anang mencuci wajahnya diwastafel dikamar mandi, agar bisa kembali fokus.
Jangan memikirkan wanita tadi lama-lama, lebih baik Anang lanjut belajar lagu Mister Grand.
Setelah cukup lama mengulang-ulang lagu itu, Anang sudah menghapal liriknya, begitu juga dengan nada lagu yang sedikit Anang modifikasi.
Anang melihat ponselnya, sudah hampir jam empat sore, tapi Santi belum kembali.
Eh, Panjang umurnya!
Baru saja Anang teringat dengan Santi, wanita itu sudah kembali kekamar.
Tapi, wajah Santi terlihat lesu.
Setelah melepas jubah mandi, dan hanya tertinggal bikini, Santi duduk disofa berdempetan dengan Anang yang masih duduk memegang gitar disitu.
Santi lalu bersandar dilengan Anang.
"Kenapa?" tanya Anang.
__ADS_1
"Ah, Capek," sahut Santi ketus.
"Nggak ada yang menarik? Atau terlalu menarik?" tanya Anang lagi.
"Nggak menarik. Letoy, Lemes. Ditungguin lama-lama, masih nggak mau juga," ujar Santi.
Ketika Santi sedang bicara, Anang kemudian merasa kalau ada sesuatu.
Benar saja, tangan Santi sudah membuka kancing celananya, dan memaksa masuk kedalam sana.
"Santi! Kalau kamu teruskan, jangan coba-coba bilang menyerah!" seru Anang.
Larangan Anang adalah perintah bagi Santi.
Gitar yang dipegang Anang akhirnya digeletakkan dilantai begitu saja, agar tangan Santi bebas bermain-main.
"Sebentar!" kata Santi.
Santi terlihat setengah berlari menghampiri tasnya lalu mengacak-acak isinya.
"Ada," kata Santi sambil tersenyum, dan memegang beberapa bungkusan permen ditangannya.
Segitu banyaknya?
Tidak masalah, lutut Anang tidak akan sakit kalau diranjang empuk begitu.
"Kamu sudah selesai belajar lagu Mister Grand,?" kata Santi yang sudah berlutut didepan Anang.
"Sudah!" sahut Anang.~
Anang dengan Santi sedang berdiri bersandar didinding, saat pintu kamar mereka diketuk.
Santi mendorong Anang menjauh, kemudian mengambil jubah mandi, lalu memakainya sebelum membuka pintu kamarnya.
Santi terdengar sedang bicara bersahut-sahutan, dengan orang yang ada diluar, lalu kembali menutup pintu.
"Mereka menanyakan ukuran Jas mu. Katanya kamu harus rapi saat bernyanyi nanti," ujar Santi yang kembali berdiri diantara Anang dengan dinding.
"Maksudnya?" tanya Anang sekedar, sambil mempersiapkan dirinya lagi.
"Nanti mereka antarkan jas untuk kamu pakai," ujar Santi sambil membantu Anang.~
Anang dan Santi bergantian mandi, meski mereka masih memakai pakaian mereka yang mereka pakai tadi.
"Sebentar lagi acaranya dimulai," ujar Santi sambil memoles bibirnya dengan lipstik merah menyala.
Baru saja Santi selesai bicara, pintu kamar mereka kembali diketuk.
Santi kembali menjadi penyambut tamu dikamar itu.
Anang memang butuh Santi berkeliaran disekitarnya. Kalau ketemu situasi seperti ini lagi, entah apa yang akan Anang lakukan.
Bukannya Anang tidak mau belajar bahasa asing, tapi 'kan belum tentu secepat itu Anang bisa paham.
"Mister Grand memberikan kita pakaian. Katanya ucapan terimakasih karena sudah mau datang diundangannya. Juga permintaan maaf, karena kita hanya bisa pulang besok sore," kata Santi.
Santi kemudian membuka pakaian yang digantung dengan gantungan baju, dan ditutupi plastik bening.
Satu setelan jas lengkap dengan dasi, dan satu gaun cantik.
__ADS_1