SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 101


__ADS_3

Dikantor Lia, Anang dan Santi disodorkan berkas yang sudah dimasukkan kedalam selembar amplop coklat bertali, dengan pesanan dari Lia,


'Urus secepatnya, kalau mau menikah secepatnya!'


Mungkin dikira Lia, Anang dan Santi lagi berlomba balapan lari, semua maunya cepat sampai finish, sedangkan perjalanan kekampung Anang butuh waktu kurang lebih dua setengah sampai tiga jam, menggunakan bus.


"Memangnya masih sempat pergi hari ini?" tanya Anang, ketika Santi dengannya sedang diperjalanan keterminal bus.


"Semestinya sempat kalau nggak ada halangan" sahut Santi.


Saking lamanya Anang tidak pernah mengunjungi kampungnya lagi, Anang tidak tahu jadwal perjalanan bus pergi dan pulang dari kampungnya itu.


Begitu juga Santi, yang tidak terpikir untuk bertanya dengan petugas karcis bus diterminal, tentang jadwal keberangkatan bus, dan ada tidaknya bus untuk kembali kekota siang itu.


Setelah buru-buru membeli tiket bus kekampung Anang, keduanya langsung naik dan duduk didalam bus tanpa mau berpikir lama-lama.


Alhasil ketika mereka tiba di terminal bus terdekat ke kampung Anang, barulah mereka tahu kalau hanya ada bus pagi, untuk kembali kekota.


Santi hanya bisa cengengesan ketika mengetahui kalau mau tidak mau, mereka harus menginap disana dan tidak bisa langsung kembali ke kota.


Anang tidak bisa menyalahkan Santi, begitu juga Santi tidak bisa menyalahkan Anang, karena sama-sama tidak ada yang mau bertanya, saking mau 'cepat' saja.


Keduanya hanya bisa tertawa bersama, menertawakan kebodohan keduanya disitu.


"Kita ke kantor kecamatan saja dulu, nggak usah memikirkan bagaimana kita kembali. Yang penting urusan kita selesai dulu." kata Santi sambil tersenyum.


Dengan menggunakan ojek motor, mereka mendatangi kantor kecamatan, yang tidak terlalu jauh dari terminal bus.


Rasanya tidak sebentar saja mereka berdua berada disitu.


Karena kantor kecamatan yang cenderung sepi pengunjung membuat urusan mereka bisa selesaikan dengan cepat, dan tidak perlu antri berlama-lama.


"Oke! Sudah beres. Sekarang kita kekampungmu saja. Aku mau jalan-jalan saja disana," ujar Santi lalu menggandeng Anang berjalan keluar dari kantor.


"Mau pakai ojek lagi? Atau mau jalan kaki saja?" tanya Anang.


"Jauh nggak?" Santi balik bertanya.


"Nggak terlalu jauh. Cuma sekarang pasti panas kalau berjalan kaki," sahut Anang.


Santi lalu terlihat celingak-celinguk kesana kemari.


"Kita jalan kaki saja," ujar Santi bersemangat.


"Yakin? Kalau sudah ditengah-tengah perjalanan nanti, nggak bakalan ada ojek lagi," ujar Anang.

__ADS_1


"Iya," sahut Santi.


"Ya sudah," sahut Anang.


Mereka kemudian berjalan kaki menuju kekampung Anang.


Banyaknya pohon yang masih rindang dipinggir jalan, seakan menjadi payung besar yang melindungi mereka dari teriknya matahari.


Anang yang sempat mengira kalau Santi akan mengeluh, ternyata dengan santainya berjalan bersamanya, menyusuri jalanan pedesaan.


Santi malah terlihat senang, saat melihat banyaknya sawah yang terhampar dikedua sisi jalan.


Wanita itu beberapa kali tersenyum lebar saat berpapasan dengan rombongan itik, yang sedang digiring untuk berpindah tempat.


"Sepertinya memang menyenangkan tinggal dikampung begini," celetuk Santi yang menggandeng lengan Anang.


"Heh? Masih mau jadi petani?" tanya Anang sambil merapikan poni Santi yang terjatuh diwajahnya.


"Baru jalan segini saja sudah mulai berkeringat, apalagi kalau diam ditengah-tengah sawah?!" sambung Anang yang melihat dahi Santi, yang agak basah dengan keringatnya.


"Wajar sajalah kalau aku berkeringat! Memangnya aku robot?!" ujar Santi ketus.


Anang hanya tertawa mendengar ocehan Santi.


"Padahal kalau pergi ke kampungku, malah bisa-bisa kita tidak bisa kembali hari ini. Kalau kita diluar tadi, mungkin kita bisa mendapat tumpangan," kata Anang.


"Bukan itu masalahnya. Yang aku pikirkan, gimana kita tidur nanti malam, kalau dikampung," sahut Anang.


"Disana mana ada penginapan. Apalagi hotel," sambung Anang.


Santi akhirnya seakan kehilangan semangatnya.


"Jadi kita tidak ada tempat untuk menginap?" tanya Santi yang kini terdengar cemas.


"Baru kamu tahu 'kan?" ujar Anang yang hampir tertawa.


"Ah, nggak apa-apa. Sudah terlanjur. 'Kan ada kamu temani aku, memangnya apa yang akan terjadi?!" ujar Santi yang terdengar masa bodo.


"Heh? Aku yang harus bertanggung jawab kalau begitu?" tanya Anang.


"Iya dong!" sahut Santi dengan entengnya.


Tidak lama mereka berjalan, mereka berdua kini sudah mulai memasuki pemukiman penduduk desa.


"Rumahmu dulu yang mana?" tanya Santi.

__ADS_1


Anang terdiam sambil meremas tangan Santi, dan membuat Santi mengangkat wajahnya untuk melihat Anang.


Sebenarnya tidak jauh dari tempat mereka berjalan sekarang, tapi Anang masih ragu untuk melihat rumah lamanya.


"Kita singgah minum disitu saja dulu ya?!" ujar Anang ketika melihat ada penjual es, yang berjualan dipondok kecil dipinggir jalan.


"Boleh. Aku juga haus," sahut Santi.


Mereka berdua singgah dipondok itu, lalu memesan dua gelas es sirup, berikut juga dua porsi mie instan, untuk mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan.


"Rumah mendiang orang tuaku dulu, digadaikan pamanku ke bank.


Karena pamanku tidak bisa membayar cicilannya, jadinya rumah kami disita bank. Begitu juga sepetak sawah peninggalan orang tuaku," kata Anang lalu menyeruput sedikit minumannya, yang sudah disajikan diatas meja.


"Jadi setelah itu, kamu langsung merantau kekota?" tanya Santi.


"Nggak. Aku masih sekolah, baru kelas satu SMA, hampir naik kekelas dua. Aku tinggal di masjid, jadi marbot sambil tetap bersekolah," sahut Anang.


Rasanya hati Anang saat ini, seperti digores-gores dengan pisau.


Bukan karena nilai uang dirumah atau petak sawah itu, melainkan karena nilai kenangannya dengan kedua orang tuanya, yang membuat Anang merasa sedih.


Santi tampaknya menyadari kesedihan Anang, karena Santi langsung memegang tangan Anang dan menggenggamnya erat.


Anang memaksa agar bisa tersenyum, sambil melihat Santi yang kini ikut terlihat sedih.


Anang tidak mau Santi merasa cemas dengannya.


Toh itu semua sudah berlalu, tidak ada yang bisa diputar kembali.


Semua hanya tinggal kenangan...


Anang menghela nafas panjang.


"Nanti selesai makan, aku ajak kamu melihat rumahku. Tapi dari luar saja. Kalau kita masuk, nanti dikira kita ini pencuri," ujar Anang sambil tertawa pelan.


Santi menganggukkan kepalanya.


"Oke!" jawab Santi singkat, lalu mulai memakan mie instan yang sudah kelewat mengembang karena terlalu lama terendam di kuah yang panas.


Sambil memakan mie instan, Anang melihat-melihat kesekitarnya.


Selama beberapa tahun belakangan, hanya ada sedikit perubahan didesa itu, yang bisa Anang lihat.


Sebagian besar, masih sama seperti waktu Anang pergi merantau ke kota.

__ADS_1


Nampaknya jamahan pemerintah belum maksimal sampai ke pelosok-pelosok, seperti kampung Anang itu.


Yang kelihatan jelas perubahannya, hanya jalanan yang sekarang sudah hampir merata disemenisasi, dan sudah bukan jalan tanah setapak, yang masih bercampur dengan rerumputan.


__ADS_2