
Siang ini dikantor Lia, situasinya sudah kelihatan seperti biasa.
Tidak ada lagi klien Lia yang menumpuk, dan tidak terlayani.
Ketika Anang dan Santi memasuki ruangan Lia, wanita itu meski masih memakai perban di lengannya, sudah bisa tersenyum dan bekerja seperti biasa.
"Tadinya kami mau menitip berkas kami di anak buahmu didepan. Tapi katanya kamu sudah kembali bekerja," kata Santi sambil meletakkan map berkas keatas meja kerja Lia.
Anang dan Santi lalu duduk disofa diruang kerja Lia, begitu juga Lia yang ikut berpindah ke sofa bersama mereka berdua.
"Iya. 'Kan aku sudah bilang kalau aku akan kembali bekerja hari ini. Lebih baik sibuk bekerja dari pada harus bengong sendirian." sahut Lia.
"Kalian bawa apa itu?" tanya Lia yang mungkin merasa heran, dengan kantong plastik besar yang ditenteng Anang.
"Oh... Ini buah nangka. Diberikan teman-temanku, waktu kami ke kampungku." sahut Anang sambil membuka kantong plastik, dan mengeluarkan sebungkus potongan buah dari dalam situ.
"Ini untukmu. Mau aja 'kan? Nggak bakalan habis semua ini, kalau cuma kami makan sendiri," sambung Anang lalu menyodorkan bungkusannya kepada Lia.
"Pergi kekampung, dapat oleh-olehnya nangka?" ujar Lia lalu tertawa lepas.
"Jangan tertawa! Tahu nggak beratnya aku bawa ini?!" canda Anang yang juga ikut tertawa pelan.
"Seru perjalanan dikampung?" tanya Lia sambil membuka bungkusan buah diatas meja.
"Seru!" sahut Santi bersemangat.
"Tempatnya enak. Teman-teman Anang juga rame," sambung Santi.
Anang membantu Lia melepaskan daging buah dari kulitnya.
"Getahnya banyak," celetuk Anang.
Lia terlihat senang memakan buah nangka yang berwarna kuning, dan memang terlihat manis.
"Kamu yang makan nangkanya, aku yang kena getahnya," sambung Anang.
Lia tertawa terbahak-bahak, sampai hampir tersedak dengan buah yang sedang dikunyahnya.
"Kalian nggak makan?" tanya Lia, sambil asyik mengambil buah lagi dan memakannya.
"Kami sudah makan tadi, malah ada juga disisakan untuk kami dikost," ujar Anang.
"Kami nggak bisa lama-lama disini..." celetuk Santi.
"Kami mau ke studio, tempat Anang merekam lagunya," sambung Santi.
"Oh... Begitu?!" ujar Lia sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Anang dan Santi lalu berdiri, diikuti Lia yang ikut berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Oke. Makasih buahnya ya?!" kata Lia, lalu mengelap tangannya dengan tissue, kemudian memeluk Santi.
"Hubungi kami kalau ada sesuatu ya?!" kata Santi.
"Siap, sayang!" sahut Lia, lalu tersenyum mengejek kearah Anang.
Anang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum.
Lia lalu memeluk Anang.
"Terimakasih banyak, Mas!" kata Lia yang mempererat pelukannya sebentar, ketika Anang balas memeluknya.
"Oke. Kalian hati-hati dijalan. Kalau semua berkas kalian sudah selesai, atau masih ada yang kurang, nanti aku hubungi lagi," kata Lia lalu berjalan, menemani Anang dan Santi yang berjalan keluar dari ruangan Lia.
Lia masih menemani Anang dan Santi berjalan, sampai mereka keluar dari gedung kantor Lia, sebelum dia masuk kembali, meninggalkan Anang dan Santi yang berjalan pergi kepinggir jalan raya.
"Kelihatannya Lia jadi makin akrab denganmu..." celetuk Santi lalu tersenyum lebar.
Anang menarik Santi yang dirangkulnya sejak tadi, sampai benar-benar rapat kebadannya.
"Bukannya bagus?! Jadi, dia nggak akan mencoba mengambilmu dariku," ujar Anang.
Santi tertawa, sambil menutup mulutnya.
Belum berapa lama mereka berdiri disitu, taksi pesanan Santi sudah tiba.
"Ada apa ya kira-kira? Sampai pak Robi meminta bertemu? Apa mungkin tentang tuntutan itu?" tanya Anang, ketika mobil yang mereka tumpangi sudah mulai berjalan.
"Mungkin saja. Kenapa?" tanya Santi.
Anang sebenarnya agak merasa cemas dengan hasilnya.
Kalau sampai pak Robi kalah, berarti sia-sia kerja kerasnya dengan pak Robi.
Terlebih lagi, Anang khawatir kalau-kalau pak Robi sampai menganggap Anang menipu, dengan mengatakan kalau lagu itu memang ciptaan Anang.
Dan kelihatannya kekhawatiran Anang memang terjadi, meski tidak semuanya.
"Maafkan saya... Saya tidak bisa mempertahankan lagumu," kata pak Robi, ketika Anang berjumpa dengannya didalam studio.
"Saya nggak mempermasalahkan itu Pak. Justru saya khawatir kalau-kalau saya sampai dianggap mengacau." sahut Anang.
"Tidak seperti itu. Kami yang kecolongan. Saya dan tim percaya kalau itu memang hasil gubahan Anang. Apalagi saat mendengar bukti dari label lawan," kata pak Robi
"Bagaimana bisa mereka membuktikan kalau Anang melakukan plagiat?" tanya Santi heran.
"Jordan and Henderson memakai label kecil gandengan, untuk menjadi bukti kalau lagu itu sudah pernah dirilis tapi tidak tenar dikala itu," sahut pak Robi.
"Rekaman kasar yang dibuat Anang, tidak bisa menjadi bukti yang cukup kuat untuk melawan bukti dari label gandengan Jordan and Henderson.
__ADS_1
Tapi memang sulit berlawanan dengan mereka. Penilai pasti diberikan bayaran yang cukup, untuk memberikan mereka kemenangan atas tuntutannya," kata pak Robi dengan nada penyesalan.
"Lalu bagaimana kelanjutannya?" sambung Anang penasaran.
"Singlemu harus ditarik dari bursa. Label ini tidak perlu membayar penalti...
Tapi, tuntutan kepada Anang belum dicabut, kecuali Anang mau bernyanyi untuk label mereka, dengan minimal kontrak satu album," sahut pak Robi, setelah menghela nafas panjang.
"Sebenarnya ada bagusnya kalau Anang meneken kontrak dengan label itu, supaya Anang bisa lebih dikenal luas di industri musik,
Tapi, yang Anang harus tahu, kontrak yang akan diberikan mereka, kemungkinan besar tidak akan sesuai dengan kerja keras Anang," sambung pak Robi.
Anang dan Santi bertatap-tatapan.
"Tidak ada pilihan lain?" tanya Santi.
Pak Robi menghela nafas panjang, lalu menggelengkan kepalanya.
"Anang harus menemui perwakilan label mereka. Kontaknya ada di adminstrasi," ujar pak Robi, sambil menunjuk ruangan, tempat Anang menanda tangani kontrak waktu itu.
"Kira-kira bagaimana nanti?" tanya Anang.
"Anang pasti keluar negeri, ke studio Jordan and Henderson." sahut pak Robi.
Anang hanya terdiam sejenak, lalu memandangi Santi yang berjalan masuk keruangan, yang ditunjuk pak Robi.
Keluar negeri?
Anang yang terkendala dengan bahasa untuk berkomunikasi, benar-benar akan kesulitan disana.
Kecuali Santi diijinkan ikut dengannya.
"Benar dugaanku! Peter memang brengsek!" celetuk Santi ketus, seakan lupa kalau pak Robi masih duduk bersama Anang disitu.
Pak Robi tampak mengerutkan alisnya.
"Maaf, Pak! Label Jordan and Henderson itu ternyata label milik bos kenalan kami," ujar Santi.
"Jadi kalian mengenal perwakilannya?" tanya Pak Robi.
"Iya. Malah kalau memang benar dugaan saya, saya sudah pernah bertemu dengan pemiliknya, Miss Jordan," sahut Anang.
Pak Robi kelihatan bingung.
"Saya sebenarnya diminta untuk menanda tangani kontrak dengan Miss Jordan, melalui Peter... Maksudku perwakilannya. Tapi kami menolaknya, karena waktu itu lagu saya sudah direkam disini," kata Anang menjelaskan.
"Berarti mereka memang sudah mengincarmu. Dasar brengsek!" ujar pak Robi ketus.
"Maafkan saya!" sambung pak Robi setelah berkata kasar.
__ADS_1