SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 172


__ADS_3

Pak handoko, bukan pergi membawa Anang mengambil mobilnya diparkiran hotel.


Dengan menumpang taksi, Pak Handoko justru membawa Anang mendatangi kantor polisi.


Anang tidak banyak berkomentar, dan hanya mengikuti pak Handoko saja.


Setelah pak Handoko berbicara dengan beberapa petugas kepolisian, pak Handoko dikawal salah satu petugas, berjalan masuk kedalam salah satu ruangan, dengan mengajak Anang agar ikut masuk dengannya.


Didalam ruangan itu, terlihat Peter dan Wina sedang di interogasi petugas berseragam, di meja yang berbeda.


Anang melihat tingkah Peter, yang masih bersikeras seolah-olah dia tidak bersalah, dan beberapa kali mendapat gebrakan meja, dari petugas yang bertanya kepadanya.


Dua petugas yang berbicara dengan Peter, tampak sangat kesal dengan laki-laki itu, sampai-sampai mereka mengeraskan rahang, dan mengertakan gigi-giginya.


Mungkin, kalau petugas-petugas itu bukan aparat negara, dan hanya orang biasa yang memakai hukum rimba, Anang yakin kalau Peter akan babak belur, dihajar petugas-petugas itu.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menghela nafas panjang.


Begitu juga dengan Wina, yang sedang diperiksa di meja, yang hampir berseberangan dengan meja tempat Peter duduk.


Wanita itu memang tidak adu ngotot dengan petugas yang berbicara dengannya, tapi, air matanya seolah-olah tidak bisa kering, dan terus-terusan menangis.


Berarti, sejak tadi siang, mereka berdua masih diperiksa, sedangkan sekarang, hari sudah gelap malam.


Ckckck...


Selama itu, tapi Peter sama sekali tidak memperlihatkan rasa penyesalannya.


Baik Peter atau Wina, keduanya seolah-olah tidak memperdulikan pak Handoko yang masuk ke ruangan itu.


Keduanya sama-sama brengseknya!


Anang melihat pak Handoko, yang tampak sangat kecewa melihat dua orang itu, tapi masih berusaha keras agar tetap kelihatan tegar.


"Ini, Pak!" kata salah satu petugas, yang sempat terlihat mengacak-acak tas wanita, dan mungkin saja itu adalah tas milik Wina.


Petugas itu menyodorkan sebuah kunci kepada pak Handoko, lalu pak Handoko menerimanya, dengan mengucapkan terimakasih.


"Ayo kita pergi...!" kata pak Handoko pelan.


Sesekali, Anang melirik pak Handoko yang terlihat sangat lemas, saat berjalan dengan Anang, keluar dari kantor polisi.


Kembali, Anang dan pak Handoko menumpang taksi, dan kali ini, mereka memang pergi keparkiran hotel, tempat mereka menangkap basah, perselingkuhan Wina dengan Peter.


"Anang masih ingat caranya mengemudikan mobil 'kan?" tanya pak Handoko.


"Eh!" Anang terkejut dengan pertanyaan pak Handoko.

__ADS_1


"Kenapa, Pak?" tanya Anang bingung.


"Anang yang membawa mobil Wina pulang," sahut pak Handoko.


"Kita pelan-pelan saja... Anang mengikuti mobil saya dari belakang," sambung pak Handoko.


Anang menggaruk-garuk kepalanya, dan tidak tahu harus berkata apa.


Jalanan memang kelihatannya tidak terlalu padat, tapi, Anang 'kan cuma belajar sebentar waktu itu.


Rasa ragu untuk mengemudi dijalan raya, jelas timbul dihati Anang.


Apa tidak ada orang lain yang bisa diminta pak Handoko, untuk membawa mobil itu pulang?


"Gimana? Berani nggak?" tanya pak Handoko sambil tersenyum.


Pak Handoko sepertinya tahu keraguan Anang, dan hanya sekedar bertanya saja.


"Saya takut, Pak! Kalau saya harus menyetir dijalan raya..." ujar Anang pelan.


Pak Handoko lalu tertawa.


"Saya hanya bercanda!" kata pak Handoko, sambil menepuk-nepuk punggung Anang.


"Tunggu disini sebentar!" sambung pak Handoko, lalu berjalan ke dalam hotel.


Kurang lebih lima belas menit kemudian, pak Handoko terlihat kembali dengan seseorang.


"Anang ikut dimobil Wina, dengan dia...!" kata pak Handoko, lalu berbicara dengan orang yang bersamanya tadi.


Anang lalu berjalan dengan orang itu, mendatangi tempat mobil Wina terparkir.


Dengan menggunakan mobil Wina, yang menyusul dibelakang mobil pak Handoko, Anang pergi kerumah pak Handoko.


Setibanya dirumah pak Handoko, Anang mengeluarkan tas berisi pakaiannya, lalu berjalan masuk dengan pak Handoko yang sudah mempersilahkan, orang yang membawa mobil Wina tadi itu pergi.


"Kopernya diletakkan disitu saja! Kita pergi makan dulu!" kata pak Handoko, menunjuk kaki tangga, lalu membawa Anang berjalan dengannya, terus sampai ke ruang makan.


"Gara-gara membantu saya, Anang pasti belum makan dari siang tadi... Maafkan saya, Nak Anang!" celetuk pak Handoko, lalu mempersilahkan Anang duduk dimeja makan.


"Nggak apa-apa, Pak! Nggak usah terlalu dipikirkan!" sahut Anang.


Meja makan kecil, yang seperti dibilang Santi, kalau dimeja itu, hanya untuk dipakai mereka sekeluarga, bukan meja panjang tempat Anang pernah ikut jamuan makan, dengan kenalan-kenalan pak Handoko waktu itu.


Asisten rumah tangga pak Handoko, sudah terlihat sibuk mempersiapkan makanan mereka diatas meja.


Tapi, Anang masih memperhatikan raut wajah pak Handoko, yang masih terlihat sedih.

__ADS_1


Ketika mereka makan disitu, pak Handoko tampak kesulitan memakan makanannya, dan seolah-olah hanya memaksakan saja untuk menelan makanannya, dengan dorongan air minum.


"Kalau Nak Anang sudah kembali ke kampung, maka saya tinggal sendirian saja makan disini..." celetuk pak Handoko pelan.


Pak Handoko yang sedari tadi menundukkan kepalanya, lalu mengangkat kepalanya, dan tersenyum kepada Anang meski tampak hanya dipaksa-paksakan.


"Jangan diambil hati...! Saya nggak berniat membebani Anang... Dimakan makanannya yaa...!" kata pak Handoko.


Anang menganggukkan kepalanya, dan lanjut memakan makanannya.


Sesekali Anang melihat pak Handoko, yang kembali tertunduk sambil makan.


Memang tidak menyenangkan, kalau membayangkan kehidupan seperti pak Handoko.


Memiliki ini itu, tapi kalau tidak ada keluarga yang menemani, makanan kesukaan yang ada pun, bisa terasa tidak enak untuk dimakan.


Wajar saja, kalau pak Handoko meminta Santi agar cepat-cepat berkeluarga, dan memberikannya cucu.


Kalau tidak ada perubahan didalam hidup Anang, bisa-bisa Anang juga jadi kesepian seperti pak Handoko.


Meski kebunnya berhasil, ada penghasilan pasti, tapi kalau Anang tidak memiliki keluarga, maka Anang akan duduk sendirian dimeja makan.


Mungkin seperti ini yang dirasakan ayah Anang, waktu ditinggal ibunya.


Makanya, ayahnya jatuh sakit, sampai akhirnya meninggal dunia.


Memang, ayah Anang masih ada Anang yang bisa menemaninya, tapi kalau Anang sudah dewasa, kemungkinan, Anang juga akan meninggalkannya.


Seperti pak Handoko, yang meski memiliki anak, tapi, Santi tetap memilih jalannya sendiri.


Sampai makanannya habis dimakan, pak Handoko tetap terlihat lesu, dengan matanya yang sayu.


"Bagaimana pembicaraan Anang dengan Pak Robi?" tanya pak Handoko, ketika mereka berjalan keluar, dan duduk diteras samping rumah pak Handoko.


"Rencananya, besok saya akan pergi ke studio Pak Robi...


Saya menyetujui permintaan Pak Robi, untuk merilis lagu yang sudah sempat direkam waktu itu," sahut Anang.


"Kalau begitu, nanti Anang bisa pergi bersama saya. Anang nggak perlu memakai taksi..." ujar pak Handoko.


"Bapak nggak sibuk?" tanya Anang.


"Hmmm... Ada yang akan saya urus. Tapi, masih sempat saja, setelah saya antarkan Anang kesana," sahut pak Handoko.


"Kata Anang, dikebun Anang menanam padi? Berarti, Anang menanam padi lahan kering? Atau Anang membuat sawah?" tanya pak Handoko.


"Padi lahan kering..." sahut Anang.

__ADS_1


Anang dan pak Handoko, lalu berbincang-bincang disitu tentang kebun Anang, sampai keduanya merasa lelah dan mengantuk.


__ADS_2