SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 22


__ADS_3

Anang merasa ada yang memperhatikan gerak-geriknya. Tapi, saat dia melihat kesana kemari, tidak ada satu pun yang terlihat aneh.


Setelah membayar harga bubur ayamnya, Anang buru-buru berjalan kembali kekamarnya. Dia masih harus berlatih lagu-lagu untuk nanti malam.


Baru saja Anang membuka pintu kamarnya, seseorang kemudian menepuk punggungnya.


Anang kemudian berbalik.


Santi.


Lagi?


Ckckck...


"Eh... Ada apa?" tanya Anang, sambil tersenyum terpaksa.


"Kamu nggak kerja hari ini?" tanya Santi yang langsung menerobos masuk kekamar Anang.


"Nggak. Pekerjaan kami dihentikan sementara. Ada apa?" kata Anang.


Anang sebenarnya sudah tahu niat dan tujuan Santi, tapi Anang sedang tidak terlalu berminat. Dia masih terbayang-bayang dengan Gita dipikirannya, jadi dia berpura-pura tidak tahu saja.


"Kamarmu panas. Ke tempatku saja," kata Santi, sambil menarik tangan Anang agar ikut dengannya.


"Aku harus belajar lagu-lagu baru. Nanti malam ada yang memintaku bernyanyi di acara pesta," ujar Anang, berusaha menahan langkahnya yang sedang ditarik Santi.


"Kamu mau kekamarku atau aku akan mengganggumu, sampai kamu tidak bisa berbuat apa-apa?" tanya Santi yang terdengar memaksa.


Ancaman Santi terlihat tidak main-main.


Kalau begitu, apa Anang harus memilih untuk 'bermain-main' saja dikamar Santi?


Anang melihat Santi yang sudah tampak tidak sabaran, sambil membesarkan matanya kepada Anang.


Oke, Anang memilih bermain ditempat Santi kalau begitu.


"Sebentar, aku kunci pintuku dulu!" kata Anang.


Santi tidak mau melepaskan tangan Anang, dan tetap memegangnya sambil menunggu Anang mengunci pintunya lagi.


Kemudian mereka berdua berjalan kekamar Santi.


Santi lalu menyalakan kipas angin untuk mengurangi panasnya ruangan kamarnya itu, dan seperti biasa menggoda Anang dengan tampilannya yang tanpa busana.


Perlahan tapi pasti Santi melepas satu persatu helaian benang dari tubuhnya.


Dan Anang kemudian...


Anang tidak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau begini terus. Apa lutut Anang akan kering?


Meski sudah melakukannya sampai keduanya puas, Santi masih tidak mengijinkan Anang untuk pergi.


"Temani aku dulu sebentar lagi. Aku masih mau sekali lagi, mumpung masih banyak waktu yang tersisa," kata Santi sambil tersenyum nakal kepada Anang.


Anang menikmatinya, bukan tidak!

__ADS_1


Siapa yang tidak menikmati celupan teh hangat?


Tapi, saat membuat teh dengan Santi, yang terbayang dikepala Anang adalah Gita yang ada disitu, jadi Anang tidak mau membuka matanya saat sedang menjalani pekerjaan tambahannya, ditempat Santi itu.


Untung Santi tidak perduli, yang penting Anang masih bisa bekerja dengan baik.


Yaa sudah... Tidak ada yang dirugikan kalau begitu.


"Aku dulu tinggal dengan orang tuaku di ( menyebut sebuah nama perumahan cukup elit )" celetuk Santi sambil memainkan tongkat persneling Anang yang masih lelah.


Santi berarti berasal dari orang berada, kenapa dia malah tinggal disini?


Anang melihat tangan Santi yang terlihat tidak mau berhenti bermain. Meski Anang merasa agak ngilu, tapi Anang tidak berani protes.


Bagaimana kalau Santi mematahkannya, hanya gara-gara Anang melarangnya?


Anang mau tidak mau, hanya bisa membiarkannya saja.


"Lalu kenapa kamu malah pindah kesini?" tanya Anang sambil menggigit sedikit, bibirnya sendiri.


"Aku diusir dari rumah karena aku membawa laki-laki kerumah, dan tanpa perduli dengan orang tuaku, aku melakukannya hampir setiap saat," sahut Santi.


"Orang tuaku tidak mau mengerti kalau aku memang membutuhkan itu. Aku hanya dianggap seperti wanita murahan," sambung Santi lalu memasukkan tongkat Anang kemulutnya, dan memperlakukannya seperti permen lolipop.


Hey!


Sudahlah... Terserah Santi saja,!


"Kamu memang tidak bisa menahannya?" tanya Anang, agar Santi terus bicara, dan mau melepaskannya dulu.


"Terus kalau kamu mau tapi kamu belum pergi 'bekerja' bagaimana biasanya?" tanya Anang. Dia harus membuat Santi tetap bicara.


"Coba kamu ambil kardus dibawah ranjangku," kata Santi.


Anang lalu berbaring menyamping, lalu meraba-raba dibawah ranjang. Dia sudah merasa kalau tangannya menyentuh kardus, tapi sengaja berlama-lama, biar Santi berhenti memegangnya biar sebentar.


"Belum ketemu?" tanya Santi.


"Sudah!" sahut Anang.


"Coba kamu lihat!" kata Santi.


Anang lalu menarik keatas ranjang, kardus yang sudah sejak tadi dia pegang.


Masih dengan posisi berbaring menyamping, memunggungi Santi, Anang lalu melihat didalam kardus kecil itu.


Mata Anang terbelalak.


Isinya ada beberapa mainan yang mirip seperti punya Anang.


Anang tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Kok bisa ada mainan dengan bentuk seperti itu?


"Kurang enak pakai itu. Tetap lebih enak kalau asli," celetuk Santi, sambil menarik Anang agar kembali terlentang, lalu setengah memaksa memakan es lolinya lagi.

__ADS_1


Astaga!


Anang rasanya mau berteriak, kejang, dan pingsan, gara-gara kelakuan Santi dengan mulut dan lidahnya itu.


Anang sudah siap. Lanjut ronde kedua!


Akhirnya keduanya terbantai, kelelahan sampai agak sesak nafas. Kipas angin yang masih menyala, tidak mampu mendinginkan suasana.


"Sudah?" tanya Anang.


"Kenapa? Kamu buru-buru? Memangnya jam berapa kamu kesana?" pertanyaan Santi membuat Anang tahu kalau bukan cuma dua ronde yang akan Santi minta.


"Sesudah maghrib," sahut Anang.


Santi kemdian terlihat memegang ponselnya, melihat layar ponsel sebentar, sebelum dia melepasnya lagi.


"Masih empat jam lagi. Sekali lagi ya?!" kata Santi.


Benar dugaan Anang.


Bisa-bisa Anang tidak bisa berjalan selesai melakukan semua pekerjaan dengan Santi ini.


Tapi, dituruti saja, paling-paling pegal doang.


Apalagi Santi sudah mulai memancing Anang lagi.


"Sekali saja ya?! Aku harus bersiap untuk mencari uang. Apalagi sekarang aku belum bisa dapat kerjaan baru," kata Anang.


"Iya," sahut Santi


"Besok siang kesini lagi ya. Kamu belum kerja lagi 'kan?" sambung Santi.


Anang tidak tahu harus menjawab apa.


"Jangan lupa kesini ya! Biar aku nggak perlu menyusul kekamarmu," kata Santi lagi.


Santi duduk diatas Anang yang terlentang. Kemudian Santi meletakkan kedua tangan Anang kedadanya, lalu meremasnya seolah-olah tangan Anang yang mau meremas benda itu.


Ehhemm... Siapa yang tidak mau?


Anang mau kok, hanya banyak menahan diri saja.


Ronde ketiga sudah selesai berlangsung.


Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Hasilnya seri, besok baru dilakukan pertandingan ulang. Sedangkan sekarang, Anang harus kembali kekamarnya.


Anang melihat layar ponselnya. Sudah sore.


Anang lalu turun kesungai untuk mencuci dan mandi. Nanti selesai mandi baru Anang berlatih lagu-lagunya lagi.


Keuntungan bekerja keras dengan Santi hari ini, adalah bisa membuat Anang merasa lebih dari puas.


Anang juga sudah merasa lebih santai, karena Santi juga mau bicara tentang kehidupannya. Jadi perasaan Anang saat melakukannya, sekarang sudah lebih tenang, tidak seperti kemarin yang masih gugup dan ragu.


Satu lagi keuntungannya, saat melakukan ronde kedua, dan ketiga, beban sakit hati Anang karena cintanya yang ditolak Gita, seakan berkurang.

__ADS_1


Nikmati saja kalau begitu...


__ADS_2