
Anang dan pak Handoko, menghabiskan waktu mereka di tenda terpal ditrotoar jalan, sampai malam cukup larut.
Pak Handoko bercerita, bagaimana mendiang Mama Santi yang kemungkinan sempat membenci pak Handoko, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Pak Handoko yang mencari kesempatan agar bisa jadi orang penting di firma, dianggap Mama Santi seolah-olah melupakan keluarganya dirumah.
Apalagi, mendiang Mama Santi pernah keguguran saat pak Handoko sedang diluar kota, dan hanya Santi kecil yang menemaninya dirumah sakit.
Menurut pak Handoko, kemungkinan mendiang Mama Santi kelelahan karena mengurus Santi yang masih kecil, tanpa ada yang menemani atau membantunya.
Atau bisa saja, karena Mama Santi memang hanya mau pak Handoko ada untuknya.
Karena, waktu-waktu itu, pak Handoko sudah mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah.
Tapi, tetap saja Mama Santi yang ingin memiliki anak lagi, selalu gagal dan berakhir dengan keguguran.
Hubungan Mama Santi dan pak Handoko membaik, saat Santi masuk di sekolah dasar, dan pak Handoko yang sudah jadi rekanan di firma, mulai bisa mengurangi kegiatannya diluar kota.
Tapi, semua seakan-akan sudah semakin terlambat.
Dokter sudah melarang mendiang Mama Santi, untuk mencoba memiliki anak lagi.
Mimpi untuk memiliki banyak keturunan, yang bisa meramaikan rumah tangganya, hanya bisa menjadi mimpi saja.
Keadaan jadi semakin memburuk, karena ternyata, Mama Santi sedang sakit didalamnya, dan baru ketahuan setelah Santi berangkat keluar negeri untuk berkuliah.
Belum sampai satu tahun Santi pergi, kondisi kesehatan Mama Santi menurun drastis.
Pak Handoko sudah mencoba membawa istrinya itu berobat kesana kemari, tapi, kondisi mama Santi tidak kunjung membaik.
Mendiang Mama Santi lalu meminta pak Handoko, agar membiarkannya dirawat dirumah saja, sampai akhirnya meninggal dunia, tidak sampai dua bulan setelah Santi pulang ke Indonesia.
Ketika menceritakan tentang semua itu, Pak Handoko tampak sangat menyesali waktu-waktu berharga baginya, yang terbuang dan hilang sia-sia begitu saja.
'Mengejar karir bagus-bagus saja, tapi tetap harus seimbang antara karir dan keluarga. Harta jadi nggak berarti, ketika semua orang yang disayangi pergi.'
Begitu kata pak Handoko, sebelum mereka berdua memasuki mobil, dan kembali pulang kerumah pak Handoko.
Kenyang dengan camilan pisang goreng tadi, membuat Anang dan pak Handoko, tidak ada lagi yang berselera untuk makan malam, dan memilih untuk langsung istirahat saja malam itu.~
Sejak pagi, pak Handoko yang sudah berpakaian rapi, terlihat sibuk dengan lembaran kertas, didalam ruang kerja dirumahnya.
Pak Handoko, hanya berhenti sebentar untuk sarapan bersama dengan Anang, lalu kembali sibuk membaca satu persatu helaian kertas, yang menumpuk diatas meja.
Anang hanya mengintip sekilas kedalam ruangan itu, dan berjalan pergi menjauh dari sana.
Hari ini, Anang tidak ada jadwal untuk rekaman, karena giliran musisi lain yang menggunakan ruang khusus distudio pak Robi itu.
Entah apa yang bisa Anang lakukan untuk menghabiskan waktunya.
Kalau menghubungi Santi, saat masih pagi seperti sekarang, di tempat Santi berarti masih tengah malam.
Anang tidak mau mengganggu jam istirahat wanita itu.
__ADS_1
Sedangkan, kenalan Anang yang ada dikota, pasti sibuk bekerja dijam-jam begini.
Jalan-jalan ditengah kota kalau hanya sendirian, juga pasti membosankan.
Anang berjalan-jalan dari halaman depan rumah pak Handoko, sampai ke halaman samping tempat bersantai biasanya.
Benar-benar seperti orang linglung, bolak-balik Anang berjalan dari halaman depan kesamping, lalu sebaliknya, tetap saja, waktu seakan terasa berjalan lambat.
Kalau Anang sedang dikebun, Anang malah bisa lupa waktu.
Tahu-tahu perut sudah keroncongan, dan Anang melewatkan jam makan siangnya.
Pekerjaan dirumah pak Handoko juga tidak banyak, bahkan tidak ada yang bisa Anang kerjakan.
Didalam rumah, sudah ada beberapa asisten rumah tangga yang bekerja.
Sedangkan, untuk bagian halaman, sudah ada tukang kebun yang membersihkan, dan merawat tanaman disitu.
Bingung-bingung mau berbuat apa, Anang lalu duduk diatas ayunan, sambil berayun-ayun pelan.
Padahal kalau Anang membawa gitar, diwaktu senggang seperti ini, mungkin Anang bisa mencoba menggubah lagu-lagu baru, dan seperti yang dibilang pak Robi, lagu ciptaan Anang bisa dinyanyikan musisi lain, nanti Anang bisa mendapatkan hasil tambahan dari situ.
Kalau Anang mau membeli gitar baru, sebenarnya bisa saja.
Ganti rugi dari label Miss Jordan, jumlahnya lumayan besar, dan baru terpakai tidak seberapa untuk Anang membeli pakaiannya waktu itu.
Tapi, rasanya sayang dan hanya membuang-buang uang, karena Anang sudah ada gitar yang menganggur dirumah Tejo.
Benar-benar membosankan.
Salah satu aplikasi permainan didalam situ, ternyata bisa menarik perhatian Anang.
Anang tenggelam dalam permainan, untuk waktu yang cukup lama, sampai ponselnya akhirnya hampir kehabisan daya.
Anang kemudian berjalan kembali masuk ke dalam rumah, lalu menaiki tangga menuju lantai atas.
Sepintas tadi, saat melewati ruang kerja pak Handoko, Anang sempat melihat pak Handoko, yang masih dengan kertas-kertas ditangannya.
Tapi, Anang tidak mau mengganggu orang tua itu.
Jadi, Anang terus saja berjalan menaiki tangga, berniat untuk mengisi daya ponsel, dengan charger yang ada didalam kamar.
Setelah mencolok ponselnya ke sambungan listrik, Anang duduk-duduk didekat jendela kamar, dan melihat-lihat keluar dari situ.
Dari lantai atas seperti itu, Anang bisa melihat halaman rumah tetangga, yang berbatas pagar tinggi.
Dihalaman tetangga, Anang melihat ada dua orang anak kecil yang sedang bermain sepeda roda tiga, berputar-putar disitu.
Sesekali, kedua anak itu seakan-akan hendak bertabrakan, dan seseorang yang berpakaian seperti perawat, menghentikan tingkah mereka yang berbahaya.
Kalau Anang perhatikan baik-baik, sepertinya dua anak kecil laki-laki itu, adalah sepasang anak kembar.
Siapa yang menyangka, melihat anak-anak yang bermain itu, bisa membuat Anang merasa senang dan jadi senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Tingkah lucu anak-anak itu, menarik perhatian Anang sangat lama, dan membuat Anang tidak mau untuk beranjak dari situ.
Sampai suara ponselnya, mengejutkan Anang, dan membuatnya buru-buru mengambil ponsel yang diletakkan di atas meja.
"Lagi ngapain?" tanya Santi dari seberang.
"Nggak ngapa-ngapain," sahut Anang.
"Aku cuma melihat-lihat ke halaman tetangga," sambung Anang.
"Heh? Lihat apaan?" tanya Santi dengan raut wajah heran.
Anang tertawa pelan.
"Sebentar...!" ujar Anang, lalu mencabut ponselnya dari sambungan listrik, dan membawa benda itu bersamanya, pergi ke dekat jendela kamar.
Anang mengganti kamera ponsel ke bagian belakang, agar Santi bisa melihat, apa yang dilihat Anang, meskipun gambarnya tidak terlalu jelas.
Santi tersenyum lebar, dan hampir tertawa.
"Aku kira kamu lagi ngintip istri orang lagi mandi," celetuk Santi.
Anang mengatur kamera ponsel, agar bisa menyorot wajahnya lagi.
"Nggak lah...! Aku bosan... Hari ini aku nggak ada jadwal rekaman...
Anak-anak bermain perang-perangan sambil bersepeda, kelihatannya seru. Jadi aku menonton mereka," ujar Anang enteng.
"Se-seru itu?" tanya Santi.
"Hmmm... Lumayan, bisa mengurangi rasa bosan..." sahut Anang.
Santi terdiam, dan menatap Anang sambil tersenyum.
"Kenapa...?" tanya Anang pelan.
Santi tetap terdiam, dan hanya tersenyum disitu.
"Ada apa?" tanya Anang lagi.
Meskipun hanya lewat ponsel, Anang tetap merasa grogi, kalau dilihat Santi sampai hampir tidak berkedip begitu.
"Nggak apa-apa..." sahut Santi pelan.
"Jadi, kamu lagi dikamarku?" tanya Santi.
"Iya," sahut Anang.
"Sendiri?" tanya Santi.
"Iya... Mau sama siapa lagi?" ujar Anang.
Santi lalu tersenyum nakal diseberang sana.
__ADS_1
Sudahlah...
Cukup Anang saja yang tahu apa yang dia lihat kali ini, yang membuat Anang harus mandi lagi, setelah panggilan video Santi berakhir.