
Memang tidak ada ruginya membawa Santi ikut dengan Anang.
Anang menyetujui tawaran dari orang asing itu, melalui Santi.
Tawaran imbalannya juga benar-benar fantastis, seperti yang dibilang Santi.
Santi membantu Anang berkomunikasi, dengan orang-orang asing yang ingin bicara dengan Anang.
Anang merasa kagum dengan Santi yang terdengar fasih berbahasa asing, bahkan Santi bisa dengan lancarnya bicara dengan bahasa yang tidak pernah didengar Anang.
"Bahasa apa itu?" tanya Anang yang penasaran.
Seumur-umuran, Anang tidak pernah mendengar bahasa seperti itu. Belibet sampai lidahnya mungkin akan terpelintir kalau mencoba bicara menggunakan bahasa itu.
"Ooh... Itu bahasa perancis. Tenang saja, aku nggak akan membicarakan yang jelek-jelek tentangmu. Oke?!" ujar Santi enteng, sambil tersenyum kepada Anang.
Santi dengan santainya bicara dengan laki-laki Perancis didepannya, tanpa terlihat kesulitan biar sedikit.
"Dia mau tahu hubungan kita berdua. Aku harus bilang apa? Kayaknya kalau aku bilang kita hanya berteman, aku mungkin bisa mencoba melakukan "itu' dengannya malam ini," ujar Santi, sambil senyum-senyum dengan lelaki asing yang masih berdiri didepannya.
Maklumi saja...
Kayaknya Santi mungkin seharian ini belum 'makan' apa-apa. Dengan Anang juga tadi 'kan nggak sempat, walau cuma icip-icip sedikit.
Melihat potongan daging segar didepannya seperti itu, jelas saja membuat Santi gelisah.
Anang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dasar Santi!
"Bilang kalau kita berdua pacaran. Kamu lupa dengan lebam dibadanmu?" ujar Anang ketus.
Raut wajah Santi langsung berubah drastis, setelah mendengar perkataan Anang.
Santi lalu terlihat bicara dengan laki-laki asing itu, dan laki-laki itu langsung berjalan menjauh.
Santi terlihat cemberut.
"Kenapa?" tanya Anang.
"Aaah... Padahal sudah lama aku nggak pernah ketemu laki-laki begitu. Rasanya beda... Ah, sudahlah. Ini semua juga gara-gara kamu,
Kalau kamu sudah berhenti melakukannya denganku kemarin, aku pasti masih sanggup melayani laki-laki tadi malam, jadi aku tidak akan dipukuli," kata Santi menggerutu.
Benar juga kata Santi.
__ADS_1
Kemarin Santi sudah meminta Anang untuk istirahat, tapi Anang masih saja menyiksanya.
Anang melihat Santi yang tampak sangat kecewa, karena tidak bisa menyantap laki-laki bule malam itu.
Tidak sempat berlama-lama lagi melihat Santi yang merengut, sudah giliran Anang lagi yang naik keatas panggung.
Meski dengan wajah cemberut, Santi masih membantu Anang dengan lirik lagunya.
Anang memberi tanda pada Santi untuk mendekat padanya sebentar.
"Kita pulang nanti aku puaskan kamu..." bisik Anang ditelinga Santi.
Bisikan Anang bisa membuat Santi tersenyum lebar.
Mungkin dipikiran Santi lumayan saja, meski nggak makan roti keras Perancis, lontong lokal saja juga nggak apa-apa, yang penting kenyang.
Daripada nggak ada sama sekali.
Benar atau tidak?
Sambil Anang bernyanyi, dia sesekali melirik Santi yang sudah tampak ceria lagi, dan mulai berbincang-bincang santai dengan tamu-tamu yang mengajaknya bicara.
Anang dengan Santi memukau tamu-tamu undangan dengan kelebihan mereka masing-masing.
Anang puas karena bisa tampil maksimal dan mendapat tepuk tangan meriah dari orang-orang yang hadir disitu.
Cocok?
Entahlah, kalau cuma dilihat malam ini saja mereka berdua memang pasangan lokal yang serasi, kalau dibandingkan dengan pasangan lokal lain yang jadi tamu disitu.
Apalagi mereka tampaknya sama-sama mendapat keuntungan saat bersama malam itu.
Meskipun Santi mengalami sedikit kerugian, tapi Anang berjanji akan membayar Santi malam itu.
Santi juga tidak terlihat terlalu menyesali kerugiannya yang batal mencicipi daging impor.
Mungkin saja, Santi berpikir kalau dia bisa mendapatkan kesempatan nanti waktu pergi dengan Anang di kapal pesiar, yang pasti banyak barang impornya disana.
Sedangkan Anang yang tidak sempat menghapal lirik, dibantu Santi sampai bisa bernyanyi tanpa kendala yang berarti.
Selesai Anang menyanyikan lagu-lagu pesanan orang yang mengundangnya, dan menerima amplop berisi imbalannya, Anang mengajak Santi makan sate dan gulai kambing diwarung makan dipinggir jalan.
"Kamu bisa berapa bahasa?" tanya Anang ketika menunggu pesanan makanan mereka datang.
"Hmm... Inggris, Perancis, Itali, bisa sedikit saja bahasa jepang," sahut Santi sambil menggulung rambut panjangnya sampai berbentuk konde.
__ADS_1
Saat Anang melihat Santi menggulung rambutnya, dia bisa melihat dengan ujung matanya, kalau beberapa orang laki-laki dibelakang Santi sedang menatap punggung Santi, dengan pandangan nakal dan bernafsu.
Anang baru ingat kalau gaun Santi terbuka dibagian belakang, dan memperlihatkan kulit punggungnya yang putih dan halus.
Anang lalu berdiri dan membuka jas yang dia pakai, lalu memakaikannya kepada Santi.
"Pakai ini, kalau kamu tidak mau ada lagi yang menerobos masuk kekamarmu!" kata Anang sambil berbisik ditelinga Santi.
Santi tampaknya mengerti maksud Anang, dan menurut saja, saat Anang membuatnya memakai jas milik Anang.
"Bagaimana kamu bisa tahu banyak bahasa?" tanya Anang menyambung percakapan mereka saat Santi sudah memakai jasnya, dan Anang sudah duduk lagi ditempatnya.
Seorang pelayan lalu menyajikan pesanan mereka diatas meja, kemudian berjalan pergi.
"Aku dulu sempat kuliah diluar negeri. Tapi nggak selesai. Hanya sampai semester empat. Aku pulang lagi kesini, karena mama ku sakit," ujar Santi sambil mulai memakan makanannya.
Santi tampak sedih, tapi tetap bicara dengan Anang.
"Nggak lama aku pulang, Mamaku meninggal, dan papaku menikah lagi. Kegila'anku dengan s*x, menjadi bahan istri baru papaku untuk membuatku diusir papa dari rumah," kata Santi.
"Padahal wanita brengsek itu mau juga dengan laki-laki yang aku bawa kerumah. Papaku sering bekerja keluar kota. Jadi waktu aku membawa teman s*x ku, pasti saat Papaku sedang tidak dirumah,
Waktu itu aku keluar pergi belanja. Saat aku kembali, wanita brengsek itu sudah telanjang bulat sambil menggoda temanku. Tapi temanku tidak tertarik, karena terlalu lelah melayaniku,
Wanita gila itu marah denganku. Kami berdua bertengkar hebat. Dia lalu melapor kepada Papa seolah-olah akulah yang buruk,
Dan bodohnya, Papaku mungkin saking cintanya pada wanita itu, malah percaya dengannya, dan mengusirku keluar dari rumah," kata Santi.
"Meski Papaku mengusirku dari rumah, Tapi papaku masih rutin mengirimkan uang direkeningku,
Kalau aku mau, aku bisa membeli rumah dengan uang yang dikirim papaku itu. Aku saja yang tidak pernah mengambilnya, karena masih kesal dengan cinta bodohnya itu," sambung Santi lagi.
Santi lalu terlihat menghela nafas panjang, tapi tampaknya dia tidak terlalu mau memikirkan hal itu. Santi tersenyum kepada Anang lalu kembali memakan makanannya.
Anang juga ikut memakan makanannya.
"Kenapa kamu malah memilih tinggal di pemukiman kumuh?" tanya Anang.
"Ah, dari pada saja. Kalau disitu 'kan tidak akan ada yang mengenaliku. Jadi aku bisa bebas berbuat sesuka aku,
Juga harga sewa'annya nggak mahal. Dari menjajakan s*x saja, aku sudah bisa membayarnya. Tidak perlu mengambil uang yang diberikan Papa," sahut Santi enteng.
Anang dan Santi lalu menghabiskan makan mereka disitu tanpa banyak bicara lagi.
Keduanya tampak tenggelam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
Anang memang tidak habis pikir dengan Santi. Wanita itu punya cerita yang tidak pernah disangka Anang sebelumnya.
Pantas saja Santi dengan entengnya membelikan Anang makan, tanpa meminta uang gantinya yang penting Anang memuaskan nafsu gilanya.