SENANDUNG LAGU CINTA

SENANDUNG LAGU CINTA
Part 46


__ADS_3

Untung saja supir mobil tadi belum pergi dari situ, dan masih membantu membawa koper Santi masuk, dan berniat mengantarkan sampai kekamar sewa'an Santi dan Anang.


Anang kemudian mengangkat tubuh Santi yang sudah seperti potongan kain tanpa tulang, lalu buru-buru membawanya kedalam mobil tadi, lalu dilarikan kerumah sakit terdekat.


Anang tidak habis pikir dengan Santi, yang memang terlihat memaksakan diri untuk mengurus semuanya.


Melihat Santi yang masih pingsan, dan terbaring diranjang rumah sakit sambil dipasang selang infus, membuat Anang merasa sangat khawatir.


Wajah Santi yang putih pucat pasi, sampai hampir tidak terlihat ada darah yang mengalir disitu.


Kata dokter tadi, Santi kelelahan dan butuh istirahat.


Anang memegang tangan Santi, sambil memandangi wajah Santi yang belum ada tanda-tanda akan segera sadar.


Kenapa Santi mau terus mengurus semua keperluan Anang meski sudah kelelahan?


Kalau begini keadaannya, Anang mungkin akan benar-benar jatuh hati dengan wanita itu.


Sekarang saja, rasanya Anang sudah tidak mau lagi kalau Santi menjauh darinya.


Santi lalu terlihat membuka matanya, dan berusaha untuk duduk, melihat tangannya yang terpasang selang infus, lalu melihat kesekelilingnya.


"Istirahat saja dulu!" kata Anang menahan Santi, tapi Santi tidak menggubrisnya, meski Anang sudah melarangnya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Santi.


"Hampir jam empat," sahut Anang setelah melihat jam dilayar ponselnya.


"Ayo kita pergi dari sini! Kamu akan terlambat ketempatmu bernyanyi," kata Santi, sambil menarik lepas jarum yang tertancap dipunggung tangannya sebelum Anang sempat berkata apa-apa.


"Santi! Kamu masih perlu istirahat! Kamu tadi sampai pingsan!" ujar Anang dengan suara tinggi.


Anang cemas dan tidak tahu kenapa Santi masih saja sibuk memikirkan pekerjaan Anang, sedangkan dirinya sendiri masih lemah.


"Ah... Nggak apa-apa. Nanti beli suplemen penambah darah saja. Paling-paling anemia ku saja yang kumat," ujar Santi enteng seakan tidak perduli meski Anang marah dengannya.


Santi beranjak turun dari ranjang, tapi Anang menahannya dengan berdiri tepat didepan Santi, yang sudah menjulurkan kaki dipinggir ranjang.


"Ah... Kamu berlebihan. Ayo kita pergi dari sini!" ujar Santi dengan santainya, dan terlihat masih memaksa turun dengan bergeser sedikit menjauh dari tempat Anang berdiri.


Anang menghadangnya lagi.


Santi memegang pinggang Anang dengan kedua tangannya.


"Nggak enak istirahat dirumah sakit. Aku mau istirahat dikamar kost saja," ujar Santi dengan wajah memelas.


Anang tidak mau bergerak dari tempatnya berdiri, meski rasanya Anang mau menggigit Santi saking gemasnya.


"Ya... Yaaaaa?!" kata Santi dengan suara yang dimanja-manjakan, sambil membuat wajahnya seolah-olah akan menangis.


Anang menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi akhirnya menyerah.

__ADS_1


"Ya sudah! Terserah kamu saja!" jawab Anang ketus.


Santi tersenyum lebar.


"Apa kamu lihat dimana ponselku?" tanya Santi.


"Ini," sahut Anang sambil mengeluarkan ponsel Santi dari kantong celananya.


Santi mengetik sesuatu disitu, kemudian berdiri sambil berpegangan pada Anang.


Anang lalu merangkul pinggang Santi, dan membantunya berjalan.


"Biaya dirumah sakit ini sudah kamu bayar?" tanya Santi, saat mereka berjalan keluar dari rumah sakit.


"Sudah," sahut Anang.


"Sini ponselmu! Biar aku ganti," ujar Santi.


Anang menghentikan langkahnya, yang membuat Santi juga berhenti berjalan.


"Nggak usah! Kenapa kamu begini denganku?" ujar Anang yang kesal dengan sikap Santi.


"Aku malah belum memberimu hasil kemarin. Kamu pikir aku mau, kalau kamu menanggung dirimu sendiri?" sambung Anang.


"Jangan marah-marah!" ujar Santi dengan nada mengejek.


Santi memang menguji kesabaran Anang.


Anang menghela nafas panjang, lalu lanjut berjalan.


Sudahlah, Anang bisa gila nanti, dan nggak bakalan bisa waras lagi.


Santi melihat ponselnya, lalu melihat kesana kemari.


"Tuh, jemputan kita sudah datang!" ujar Santi bersemangat.


Setibanya dikost'an, Anang langsung pergi mandi, sedangkan Santi setelah meminum suplemennya, kemudian berbaring diranjang.


Setelah Anang selesai mandi, Santi menggantikan Anang, masuk kedalam kamar mandi.


Setelah Anang berpakaian, Anang lalu mengambil sisa waktu untuk belajar lagu pesanan orang yang mengundangnya.


Anang masih memainkan gitarnya, dan menghapal lirik, Santi terlihat sudah selesai mandi, lalu seperti biasanya, dengan cueknya memakai baju didepan Anang.


Santi terlihat memakai pakaian yang cukup rapi.


"Kamu ngapain pakai baju begitu?" tanya Anang yang sudah rusak konsentrasinya.


"Aku ikut denganmu," ujar Santi enteng.


"Santi! Mestinya kamu istirahat. Kalau ada apa-apa denganmu, bagaimana?" ujar Anang dengan suara tinggi, karena menahan kekesalannya.

__ADS_1


"'Kan ada kamu!" sahut Santi enteng.


"Siapa tahu disana ada yang menarik," sambung Santi sambil mengedipkan sebelah matanya.


Astaga.


Anang memang hipertensi dibuat Santi.


Harus diapakan wanita ini?


Apa Anang antar saja Santi kerumah sakit jiwa?


Dari pada Anang nanti tertular gilanya.


"Aku sudah pesan taksi. Oh iya, pembagian hasil bernyanyi mu denganku berapa persen?" ujar Santi sambil menyisir rambut panjangnya.


"Bagi dua saja," ujar Anang sambil lanjut mendengarkan lagu disebelah telinganya.


"Kebanyakan. Dua puluh lima persen saja, cukup," sahut Santi.


"Bagi dua saja. Kamu juga capek. Apalagi taksi selalu kamu yang bayarin," kata Anang.


"Hmm... Oke, terserah kamu kalau gitu. Asal jangan ngeluh rugi saja nanti," ujar Santi lagi.


Anang tidak bisa konsentrasi sama sekali, setelah mendengar perkataan Santi.


Anang melepas earphone dari telinganya.


Santi... Kalau kamu tahu, Anang akan memberikan semua hasil kerjanya kalau kamu minta.


Sudah cukup banyak bantuan yang diterima Anang dari Santi selama ini, dan Anang belum membalas bantuannya meski sedikit.


Anang mungkin hanya bisa bermimpi memiliki uang yang banyak seperti sekarang didalam rekening bank barunya, kalau tidak ada campur tangan Santi disitu.


"Kamu sudah selesai belajarnya? Kita harus pergi sekarang, kalau kamu tidak mau terlambat," kata Santi sambil menjulurkan tangannya seolah-olah menyuruh Anang untuk memegang tangannya.


Anang memegang tangan Santi, kemudian berdiri dan berjalan keluar dari kamar.


"Ponselmu mana? Sambil menunggumu bernyanyi, aku bisa memeriksa tawaran baru yang belum masuk catatanku," kata Santi setelah mereka tiba dialamat tempat Anang diminta bernyanyi.


Anang menyodorkan ponselnya kepada Santi, kemudian berjalan menjauh, dan naik keatas panggung.


Sambil Anang bernyanyi, Anang melihat kearah Santi yang sibuk dengan dua ponsel ditangannya.


Tak lama, Santi sudah terlihat berbincang-bincang dengan beberapa orang yang hadir ditempat itu.


Santi terlihat santai, sambil tertawa kecil seolah-olah dia tidak pernah tertancap infus tadi sore.


Saat bernyanyi sambil sesekali melihat Santi, dari ujung matanya, Anang menangkap sosok seseorang yang dia kenali.


Anang mengalihkan pandangannya kearah sosok itu.

__ADS_1


Gita.


Wanita itu sedang memandangi Anang bernyanyi, dengan wajahnya yang tanpa ekspresi seperti malam itu, persis seperti ingatan yang tertinggal di pikiran Anang.


__ADS_2